
Selain Gio yang mengajak Vanka menjenguk mamanya. Ernes juga mengajak Cintya untuk menjenguk mamanya. Itu pertama kalinya Cintya ke rumah Ernes. Dia dibuat takjub dengan kemegahan rumah Ernes. Cintya tidak menyangka jika ternyata Ernes anak orang kaya. Meskipun sebelumnya Cintya sudah berpikir bahwa Ernes memang anak orang kaya, tapi tidak sekaya itu juga.
"Ini rumah lo?" tanya Cintya sembari melayangkan pandangannya.
"Rumah orang tua gue." jawab Ernes yang memang tidak suka membanggakan harta orang tuanya.
"Ternyata lo anak konglomerat, tapi kenapa lo sembunyiin identitas lo?" tanya Cintya lagi.
"Nggak gue sembunyiin juga sih, hanya saja mereka kan nggak nanya. Gue juga nggak mau bilang." Ernes meminta Cintya untuk segera masuk.
Cintya melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah tersebut. Cintya melayangkan pandangan ke sekeliling rumah yang terdapat lift di dalamnya.
Cintya dulu pernah menghina Ernes hanya karena dia merasa papanya sudah sangat hebat, dan kekayaan papanya yang melimpah. Tapi siapa sangka jika kekayaan papa dan bahkan rumah Cintya tidak sebanding dengan rumah Ernes.
"Dulu, waktu gue hina lo, kenapa lo nggak bales?" Cintya diselimuti rasa bersalah dan juga malu.
"Gue nggak punya pulsa." jawab Ernes dengan konyol. Ernes hanya tidak mau Cintya merasa bersalah atas apa yang pernah dia lakukan ke Ernes.
Cintya yang sudah serius pun mulai tersenyum mendengar jawaban konyol dari Ernes. Dia merasa bersyukur bisa menjadi teman Ernes. Cintya mengakui jika Ernes memang orang yang sangat baik.
Seandainya Ernes menerima cintanya, mungkin Cintya akan menjadi wanita yang paling bahagia. Sayangnya, Ernes hanya menganggap Cintya sebagai teman. Meskipun begitu, Cintya juga sudah merasa sangat bersyukur.
"Malah bengong.." Ernes menjentik pelan kepala Cintya.
"Kaget banget gue, ternyata lo tajir banget.." ucap Cintya.
"Udahlah yuk masuk!" Ernes mengetuk pintu kamar mamanya sebanyak tiga kali. Kemudian dia membuka pintu tersebut dan mengajak Cintya masuk.
"Ma, temen aku mau jengukin mama.." kata Ernes.
Ines tersenyum melihat Ernes bersama dengan Cintya. Ines menyambut baik kedatangan Cintya. Begitu juga Shaka yang tidak meninggalkan Ines sama sekali selama Ines sakit. Bahkan Shaka juga tidak ke kantor selama beberapa hari. Shaka juga merasa senang melihat Cintya mau menjenguk istrinya.
__ADS_1
"Kamu temannya Ernes? Teman kuliah?" tanya Shaka.
"Iya om, teman kuliah.."
"Waktu itu kan pernah ketemu pa.." sahut Ernes mengingatkan papanya jika dia dan Cintya pernah ketemu beberapa waktu yang lalu.
"Oh iya, maaf papa lupa." jawab Shaka sembari tersenyum.
Ernes kemudian menanyakan dimana adiknya. Akan tetapi, pertanyaan Ernes itu malah membuat mamanya kesal kembali. Sampai sore ini, Gio masih belum juga pulang dari sekolah.
"Jangan tanyakan adik kamu, dia sama sekali tidak peduli dengan mama." ucap Ines merasa kesal.
"Jangan gitu ma, Gio kan bilang dia lagi latihan futsal. Papa yakin, Gio peduli kok sama mama, dia sayang banget sama mama." Shaka tidak ingin istri berpikiran yang tidak-tidak terhadap anaknya.
"Iya ma, Gio tuh sayang banget sama mama. Hanya saja Gio nggak tahu cara ngungkapinnya." sahut Ernes, dia juga tidak mau kalau sampai mamanya memiliki pikiran buruk kepada adiknya.
"Kalian udah makan belum? Ajak teman kamu makan, Nes!" ucap Ines kepada putra sulungnya.
Ernes pun nurut apa kata mamanya. Dia mengajak Cintya untuk makan dulu dirumahnya sebelum Ernes mengantar Cintya pulang. Tapi sebelum pulang, Cintya ingin berkeliling dulu di rumah Ernes.
"Boleh." Ernes menjawab dengan singkat sembari tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Cintya kembali dikejutkan dengan isi rumah Ernes. Dimana terdapat gym pribadi rumah tersebut, ada juga studio musik pribadi, dan beberapa koleksi mobil sport yang harganya selangit.
Cintya menatap Ernes, dia masih penasaran kenapa selama ini Ernes tidak menunjukan kesan bahwa ternyata dia anak sultan. Bahkan Ernes juga menyembunyikan ketampanannya dibalik penampilan cupunya.
"Kenapa? Nggak usah kayak gitu, semua ini hanya titipan kok." Ernes menebak apa yang ada di dalam pikiran Cintya.
Lagi, lagi, Cintya merasa kagum dengan kerendahan hati Ernes. Dia sama sekali tidak menyombongkan itu semua. Meskipun harta itu milik papanya, tapi kan dia, anaknya. Tentunya apa yang menjadi milik papanya, itu juga akan menjadi miliknya. Tapi Ernes sama sekali tidak menyombongkan itu semua.
"Nggak salah gue cinta sama dia." gumam Cintya yang hanya bisa dia dengar sendiri.
__ADS_1
****
Vanka dan Chika menunggu kekasih mereka yang sedang latihan futsal. Vanka menanyakan soal hubungan Arina dan Gio dulu. Karena Chika lebih mengenal keduanya sebelum Vanka.
"Gio belum bilang ke lo tentang kakaknya Arina?" Chika tidak langsung menjawab pertanyaan Vanka. Chika tahu, cerita itu adalah cerita yang paling menyakitkan untuk Gio. Jadi, kalau Gio tidak mau memberitahu, Chika pun tidak berani menceritakannya.
"Udah sih, kakaknya Arina yang meninggal karena nyelametin Gio itu kan?"
"Iya, jadi Gio udah ceritain semua." Chika tersenyum kecil.
"Van, lo harus bersyukur karena Gio cinta banget sama lo." lanjut Chika sembari meraih tangan Vanka.
"Kok lo bisa tahu?"
"Karena dia mau menceritakan semua kejadian yang menyakitkan itu ke lo." jawab Chika.
"Selama ini, gue dan yang lain tidak ada yang berani membuka kisah itu. Karena kita tahu, kejadian itu adalah kenangan yang menyakitkan untuk Gio. Setiap kali teringat masa lalu itu, Gio akan selalu emosional. Dia menyalahkan dirinya sendiri. Tapi dia mau menceritakan sendiri ke lo, gue yakin dia cinta banget sama lo, dan nggak mau kehilangan lo." imbuh Chika lagi.
"Iya sih, waktu dia cerita tempo hari, dia terus menangis dan sangat emosional. Mengenai pesan terakhir Aleno yang meminta Gio menjaga adiknya, itu benar?" tanya Vanka lagi sembari menatap Gio yang masih latihan.
Chika menganggukan kepalanya. "Tapi Gio hanya menganggap Arina sebagai adik kok." jawab Chika.
"Lo tahu kalau Arina dan Gio dijodohin?" ada kesedihan di mata Vanka ketika dia mengatakan Arina dan Gio dijodohkan oleh orang tua mereka.
"Gue nggak bisa komen apapun, yang bisa gue sampaiin ke lo, lo harus sabar! Gue yakin akan ada jalan kok buat cinta kalian. Gue juga ngalamin itu kok." Chika menyemangati Vanka supaya terus sabar.
"Kalau gue sih, selama Gio-nya masih cinta sama gue, mau mamanya ngelarang kek, siapapun yang ngelarang, gue nggak peduli. Kecuali Gio sendiri yang minta gue buat jauhin dia. Itu, baru gue akan mundur." Vanka menatap Gio masih bersemangat latihan.
"Bener, kan yang ngejalani kalian berdua. Tapi serius, gue baru lihat Gio suka sama cewek, mana bucin banget lagi." Chika terbahak, dia juga menatap Gio, kemudian dia tersenyum sembari menatap pacarnya sendiri.
"Masa sih?" Vanka ikutan tertawa.
__ADS_1
"Beneran. Dia kan orangnya dingin banget, tapi aslinya dia orang yang penyayang dan perhatian." Vanka setuju dengan apa yang Chika katakan.
Meskipun terlihat dingin dan cuek. Tapi Gio orangnya memang sangatlah perhatian dan penyayang. He is Tsundere.