
"Ternyata lo kenal sama si brengs*k itu, kayaknya kalian juga pernah punya story.." ucap Reza.
"Aw... sakit woi..." erang Reza karena Akila terlalu keras ketika mengobati pipi Reza yang lebam.
"Sorry.." ucap Akila yang sepertinya di dalam hatinya sedang berkecambuk perasaan yang tak menentu.
"Pulang yuk Van!" ajak Akila yang mulai gusar.
Vanka mengangukan kepalanya. Dia tahu apa yang sedang dirasakan oleh Akila. Sudah lama Akila tidak bertemu Doni setelah putus. Tapi siapa sangka mereka bertemu lagi, dan Doni masih saja menyatakan cintanya. Itu yang membuat Akila gusar.
Vanka juga tak yakin apa Akila sudah beneran melupakan Doni atau belum. Setahu Vanka, Doni adalah cinta pertama Akila. Dan kata orang, cinta pertama itu susah dilupakan.
"Kita pulang dulu!" pamit Vanka kepada Defan dan teman-temannya.
"Malam ini gue nginep rumah lo ya?" ucap Akila. Entah kenapa dia tidak mau pulang ke rumah.
Vanka kembali hanya menganggukan kepalanya saja. Mungkin Akila butuh teman curhat.
Sesampainya di rumah Vanka.
Akila meminta izin ayah dan mamanya Vanka agar diperbolehkan menginap. Ayah dan mamanya Vanka tidak keberatan Akila menginap. Karena Akila juga sering menginap sebelumnya. Dan juga orang tua Akila, mereka juga berteman dengan orang tua Vanka.
Akila merebahkan tubuhnya diatas kasur Vanka. Pikirannya kembali teringat pertemuannya dengan mantan kekasihnya tersebut.
Akila menjalani hubungan saat Akila masih duduk di bangku kelas 8. Sementara Doni satu tahun lebih tua darinya. Mereka kenal secara tidak sengaja di sebuah taman. Setelah dekat beberapa bulan, akhirnya mereka jadian.
Tapi pada waktu itu Akila belum memperkenalkan Doni kepada Vanka. Hanya cerita saja jika dia dekat dengan seorang lelaki beda sekolah.
"Jadi dia itu yang namanya Donat?" tanya Vanka juga ikut membaringkan tubuhnya disamping Akila.
"Cakep juga." ucap Vanka lagi yang membuat Akila seketika menoleh.
Akila setuju dengan pujian Vanka. Doni memang lelaki yang cukup tampan, dia juga romantis. Hanya saja Doni seorang lelaki kasar.
Alasan kenapa Akila memutuskan Doni karena sifat kasarnya itu.
Suatu ketika, saat itu Akila sedang main di taman bersama Doni. Tapi tanpa sengaja mereka bertemu salah satu teman sekolah Akila, cowok. Lelaki itu menyapa Akila karena mereka memang kenal.
Tapi Doni dibutakan oleh kecemburuan. Doni tanpa alasan memukuli lelaki tersebut. Akila menahan Doni supaya jangan lagi memukuli temannya, karena Akila dan lelaki itu memang tidak melakukan apapun, lelaki itu hanya menyapa.
Doni merasa Akila lebih membela orang lain dibanding dirinya, yang berstatus pacarnya. Doni marah, kemudian dia menampar Akila di depan lelaki tersebut dan di depan umum.
Sejak saat itu, Akila sudah tidak mau lagi ketemu. Akila memutuskan hubungan mereka dan memblokir nomer Doni. Akila juga membohongi Doni dengan mengatakan kalau dia pindah sekolah keluar kota.
"Kayaknya dia juga masih cinta sama lo." imbuh Vanka.
"Nggak tahu lah Van," Akila sedang tidak bisa mikir.
"Kenapa lo nggak pulang?"
__ADS_1
"Dia pasti nunggu di rumah gue. Dulu gue bohong kalau gue pindah rumah dan sekolah ke luar kota. Makanya dia berhenti gangguin gue. Tapi setelah ini dia pasti gangguin gue lagi." Akila memijit pelipisnya.
"Kalau dia gangguin lo, lo bilang aja kalau lo udah punya cowok."
"Lo belum kenal dia, kalau gue bilang gitu, dia pasti minta bukti terus bakal ngajak ribut orang yang akan pura-pura jadi cowok gue."
"Posesif juga dia." Akila menganggukan kepalanya.
"Seperti itulah, dia nggak mau gue putusin tapi dia kasar, gue nggak suka cowok kasar." ucap Akila.
"Ya udah, gitu aja nangis." goda Vanka sembari menyenggol Akila.
"Nggak ada, siapa juga yang nangis." Akila memukul Vanka menggunakan guling, tepat diwajah Vanka. Untung saja Akila memukulnya pelan.
"Sialan lo," Vanka membalas Akila dengan menimpuknya dengan bantal. Maka kedua remaja itu saling pukul, tapi itu hanya bercanda.
Setelah capek, kedua remaja putri tersebut mulai memejamkan matanya. Tapi Akila masih aja terjaga. Dia belum bisa tidur.
"Gue harus berani hadapi dia. Gue udah nggak cinta sama dia. Ya, gue udah nggak cinta." gumam Akila seorang diri berulang kaki. Setelah akhirnya dia menutupi kepalanya menggunakan selimut.
Keesokan paginya.
Gio datang bersama dengan Reza ke rumah Vanka. Dia meminta Reza boncengin Akila karena semalam sudah tolongin Reza dari amukan Doni dan teman-temannya.
"Yank, gue ajak Reza, dia nanti boncengin Akila." ucap Gio.
"Nggak usah, gue naik angkot aja." Akila sungkan karena dia belum lama kenal sama Reza.
"Nggak." Akila tidak mau naik. Dia tahu Reza terpaksa.
"Akila yang cantik, buruan naik nanti kita terlambat!" ucap Reza sedikit lebih lembut dari sebelumnya.
"Iya yuk buruan, nanti keburu telat!" ajak Vanka. Akhirnya Akila mau juga naik ke motor Reza.
Dan seperti biasa, mereka turun di gang depan. Tapi tanpa sengaja dan sepengetahuan mereka. Lika melihat Vanka turun dari boncengan Gio, dan Akila dari boncengan Reza.
Lika juga terkejut melihat apa yang tanpa sengaja dia lihat. Dia tidak menyangka jika selama ini ternyata Vanka dan Gio punya hubungan khusus.
"Gue harus kasih tahu Marisa." Lika mengeluarkan ponselnya lalu memfoto mereka berempat. Kemudian Lika buru-buru ke sekolah.
"Kita duluan ya!" pamit Gio.
Vanka dan Akila menganggukan kepalanya lalu kemudian berjalan menuju sekolah. Sementara Gio dan Reza sudah duluan sampai.
Ternyata Vanka sudah ditunggu oleh Marisa dan kawan-kawannya. "Jovanka!!" seru Marisa dengan marah.
Vanka menghela nafasnya lalu menghentikan langkahnya. "Kenapa lagi?" tanya Vanka yang malas ribut sebenarnya.
Marisa tidak bisa mengendalikan amarahnya. Dia langsung menampar Vanka dengan cukup keras.
__ADS_1
Plakkk..
"Dasar jal*ng, lo punya hubungan apa sama Gio?" tanyanya dengan marah.
"Gue peringatin ke lo, jauhin Gio! Dia milik gue.." imbuh Marisa dengan sorot mata tajam.
Vanka sempat kaget ketika Marisa tiba-tiba menamparnya. Tapi setelah mendengar perkataan Marisa. Vanka pun menjadi maklum kenapa Marisa tiba-tiba murka.
Pada saat bersamaan Gio dan Reza baru saja memarkirkan motor mereka. Gio melihat Marisa yang menampar Vanka. Makanya Gio langsung berlari menghampiri Vanka.
"Lo nggak kenapa-napa?" tanya Gio panik.
"Lo gila, Marisa!" seru Gio memarahi Marisa.
"Iya, gue memang gila. Tapi semua kegilaan gue karena lo, Gio!" seru Marisa juga marah ke Gio. Bukan marah, tapi lebih tepatnya dia kecewa.
Vanka masih memegangi pipinya. Disampingnya Akila menatap Marisa dengan tajam. "Lo nggak kenapa-napa Van?" tanya Akila juga panik.
"Nggak kok." jawab Vanka sembari tersenyum.
"Gue nggak tahu kesalahan apa yang gue perbuat ke lo sampai lo nampar gue. Hari ini gue lagi nggak mau ribut, gue bakal lepasin lo." ucap Vanka lalu melanjutkan langkahnya.
"Lo mau lepasin gue? Gue yang nggak bakal lepasin lo!!" Marisa menarik Vanka kembali lalu mendorongnya.
Untung saja Defan yang baru mendekat langsung menangkap Vanka yang hampir jatuh. "Lo nggak kenapa-napa?" tanya Defan.
"Marisa!!!" seru Gio dengan marah.
Vanka menggelengkan kepalanya. Vanka sudah berusaha menahan amarahnya karena rasa kasihannya kepada Marisa. Tapi Marisa semakin bertingkah dan membuat Vanka marah.
"Lo nggak bakal lepasin gue? Terus mau lo apa?" tanya Vanka berjalan mendekati Marisa.
"Jauhin Gio!" jawab Marisa tanpa basa basi.
"Maksud lo apa?" tanya Vanka pura-pura tidak paham apa yang dimaksud Marisa.
Marisa meminta ponsel Lika lalu menunjukan foto Vanka dan Gio yang terlihat akrab. "Masih mau ngelak? Kalian punya hubungan kan?" tanya Marisa lagi dengan marah.
Gio dan Vanka kaget karena Lika melihat Vanka yang berboncengan dengan Gio. Tapi baik Gio maupun Vanka berusaha tenang karena tidak mau membuat Defan curiga.
"Kenapa? Mau ngelak? Gue lihat pakai mata kepala gue sendiri." sahut Lika.
"Iya itu emang gue." jawab Vanka yang seketika membuat Defan dan Marisa membulatkan matanya.
"Gue ketemu sama Gio waktu jalan ke sekolah, terus dia nawarin gue buat bareng, emang salah?"
"Kalau nggak percaya tanya aja Reza, dia juga boncengin Akila tadi." imbuh Vanka.
"Iya, tadi kita nggak sengaja ketemu Vanka dan Akila, terus karena kita kasihan kita ajak bareng aja." sahut Reza yang merasa lega karena Vanka bisa menemukan jawaban yang pas.
__ADS_1
"Emang salah Def, kalau gue juga kenal sama sepupu lo?" tanya Vanka ke Defan.
Defan pun tersenyum lega. "Nggak kok, kita semua bebas berteman sama siapa aja kok." jawab Defan yang disambut lega oleh Gio dan juga Reza. Setidaknya rahasia mereka masih aman.