
Gio mengurung diri di kamar. Dia tidak mengizinkan siapapun masuk ke kamarnya termasuk papa dan kakaknya. Dia masih sangat kecewa dengan apa yang mamanya lakukan. Dia juga meyakinkan dalam hatinya jika Vanka bukanlah wanita seperti yang mamanya pikirkan.
Di saat menjelang makan malam. Keluarga Gio kedatangan tamu yang tidak terduga. Tamu tersebut adalah orang yang pernah mereka kenal dulu.
"Arina? Ini Arina kan, adiknya Aleno?" tanya Ines yang sangat terkejut dengan kedatangan teman sekolah anaknya dulu.
Ya, Ines memang mengenal Arina dan juga Aleno karena sebuah insiden di masa lalu. Ines tidak menyangka akan bertemu dengan Arina kembali setelah dua tahun Arina pindah rumah.
"Iya jeng.. Ini Arina. Gimana kabar jeng Ines?" tanya tantenya Arina yang ikut bersama dengan Arina ke rumah Gio.
"Baik jeng.. Kabar jeng Rania sendiri gimana?" tanya Ines balik. Ines tahu, wanita paruh baya itu adalah pengganti orang tua Arina dan juga Aleno yang meninggal karena kecelakaan sewaktu mereka masih kecil.
Rania sendiri tidak menikah. Dia memilih fokus merawat keponakan kembarnya, dan mengurus perusahaan kakaknya yang telah meninggal.
"Aku juga baik jeng. Lama sekali ya kita tidak ketemu, sampai kangen aku-nya." dulu Rania dan Ines juga lumayan dekat. Karena anak-anak mereka juga berteman.
"Gio??" tanya Rania sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Eh, Gio ada di kamarnya, tapi dia agak sedikit kurang sehat, beberapa hari lalu kepalanya tak sengaja terbentur benda tajam, jadi harus di jahit dan sekarang masih masa pemulihan." jawab Ines menjelaskan terlebih dulu sebelum Rania bertanya dengan khawatir.
Ines tahu, dulunya Gio juga dekat dengan Rania. Gio sering main ke rumah Aleno.
"Masalah Aleno??" Ines bertanya dengan gugup, dia takut pertanyaannya akan membuka luka lama di hati Rania dan juga Arina.
"Kita kesini juga mau jengukin dia. Arin rindu sama kakaknya katanya." terlihat sekali raut wajah yang sedih di wajah Rania maupun Arina.
"Maaf.." ucap Ines menahan tangisnya juga.
"Its ok tante. Arin boleh ke kamar Gio nggak tan? Arin mau kasih kejutan buat Gio." Arina meminta izin Ines karena dia ingin pergi ke kamar Gio.
"Boleh.." jawab Ines dengan cepat.
Ines berharap dengan melihat Arina kembali. Kesedihan dan kemarahan Gio bisa sedikit surut. Mereka dulu pernah sangat dekat, dan Ines yakin kehadiran Arina ini akan membuat Gio kembali bahagia dan ceria.
Arina lalu bergegas menuju kamar Gio di lantai paling atas. Arina merasa gugup karena sudah lama dia tidak bertemu dengan Gio. Tapi dia ingin memberi kejutan untuk Gio.
__ADS_1
Arina melihat kesekeliling dan tersenyum kecil. Tidak ada yang berubah dari dua tahun yang lalu. Arina masih hafal dimana kamar Gio berada.
Dengan hati berdebar dan gugup Arina mengetuk pintu kamar Gio berulang kali. Tapi tidak ada sahutan sama sekali. Arina mengulanginya lagi, dia tidak menyerah sama sekali. Sampai akhirnya Gio mau membuka pintu kamarnya. Mungkin karena dia risi pintu kamarnya di ketuk terus menerus.
"Apa sih ma, aku bilang nggak lap,,,per..."
"Arin?" Gio benar-benar terkejut melihat sosok yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Wanita itu tersenyum lebar ketika tahu ternyata Gio masih ingat dengan dirinya. "Lo masih ingat gue?" tanyanya dengan tersenyum.
"Kapan lo balik?" tanya Gio masih tercengang dengan kehadiran wanita itu.
"Tadi sore, terus langsung kesini.." jawab Arina sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Gio tanpa meminta izin terlebih dulu.
"Lo mau stay atau cuma liburan?" tanya Gio menyusul Arina yang sudah masuk ke kamarnya terlebih dulu.
"Stay. Gue juga udah daftar di sekolah yang sama kayak lo," jawab Arina yang kembali membuat Gio terkejut.
"Kamar ini masih sama seperti dulu ya?" ucap Arina sembari melihat ke sekeliling kamar Gio.
****
"Yank, kemarin kamu pergi ke mall ketemu sama Riska?" tanya Rakha sembari mengemudikan mobilnya.
Pagi itu, seperti biasa Rakha menjemput Aiko di rumahnya dan pergi ke kampus bersama.
"Oh dia udah ngadu ke kamu. Dia bilang apa lagi ke kamu?" tanya Aiko dengan santai.
"Nggak ngomong sih, cuma kirim foto kamu saat di mall bersama papa kamu. Dia bilang kalau om Alfarezi itu pacar kamu." jawaban Rakha itu membuat Aiko tertawa. Dia sudah menebak sih dari awal. Riska pasti mengira Aiko jual diri ke sugar daddy.
"Mantan kamu itu memang lucu, dia nggak tahu apa-apa tapi sok tahu." ucap Aiko masih dengan tertawa.
Aiko menduga jika sebelum Riska membuat perkara dengan dirinya. Terlebih dulu dia memfoto Aiko dan papanya lalu mengirimnya ke Rakha dengan kata-kata provokasi.
"Yang ingin aku tanyakan, laki-laki ini siapa? Kok kayaknya dia ada saat kamu dan papa kamu bersama? Dia assisten baru papa kamu?" itu yang membuat Rakha tidak tenang pikirannya. Dia terus memikirkan lelaki itu sepanjang malam.
__ADS_1
"Yang mana?" Rakha lalu menyodorkan hape-nya ke Aiko.
"Oh, ini namanya Heksa, anak dari klien papa." jawab Aiko masih dengan santai. Dia tidak tahu jika ternyata Rakha sedang menahan cemburunya.
"Anak klien papa kamu? Tapi kok bisa pergi sama kamu dan papa kamu? Atau jangan-jangan kamu mau dijodohin sama dia?" tanya Rakha dengan panik.
"Nggak boleh, aku harus segera lamar kamu sebelum kamu dijodohin sama lelaki lain. Aku akan bilang ke ayah untuk segera lamar kamu, secepatnya." Rakha jadi panik sendiri.
Melihat Rakha panik seperti itu, bukannya membuat Aiko khawatir. Tapi dia malah tertawa karenanya. Aiko terbahak-bahak melihat ekspresi panik Rakha.
Maka terlintaslah ide jail Aiko untuk ngerjain Rakha. Dia ingin semakin membuat Rakha panik. "Kayaknya sih iya, papa sama papanya kak Heksa kan juga udah lama jadi rekan kerja, kayaknya supaya hubungan mereka bisa semakin erat." ucap Aiko.
"Yank, serius ah..." ucap Rakha yang semakin panik.
"Ini juga serius, tapi aku juga kurang paham sih iya atau nggak. Aku cuma denger kalau pertunangannya dipercepat." jawab Aiko menahan tawanya.
"Kalau gitu nanti malam aku akan bilang ke ayah, supaya besok bisa langsung lamar kamu!" ucap Rakha.
"Kamu jangan pernah terima lamaran siapapun selain aku. Kamu harus janji!!" ucap Rakha sembari menggenggam tangan Aiko dengan erat. Sembari sesekali fokus dengan jalanan di depan.
"Tapi kalau papa nggak ngijinin kita nikah gimana? Aku kan nggak mau jadi anak durhaka."
Cittttt
Rakha dengan segera menginjak rem mobilnya. Dia mengerem secara mendadak dan membuat mobil di belakangnya hampir menabrak mobilnya.
"Rakha, kamu sembrono banget sih.. Kalau mobil di belakang tadi nabrak kita gimana?" Aiko menjadi panik karena Rakha menjadi tidak masuk akal.
"Biarin aja, biarin kita mati bersama, supaya tidak ada yang bisa miliki kamu." ucap Rakha dengan wajah tanpa senyum.
"Ai, aku serius sama kamu. Aku ingin kamu jadi istri aku suatu hari nanti. Jadi, kamu harus janji jaga cinta kamu hanya untuk aku. Dan jangan pernah terima lamaran siapapun selain aku!!" imbuh Rakha dengan wajah serius.
Aiko menatap Rakha sembari menahan tawa. "Kamu mau janji kan?" Rakha menarik tangan Aiko dan menatap Aiko dengan tajam.
Aiko tidak kuat menahan bengek. Dia kembali terbahak-bahak karena ekspresi Rakha yang sangat serius. "Aku bohong tadi. Papa nggak pernah mau ikut campur masalah percintaan aku maupun Defan. Papa tidak ingin memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya. Iya, aku janji akan tunggu lamaran kamu." ucap Aiko sembari menyentuh pipi Rakha.
__ADS_1
Matanya bertemu mata dengan Rakha. Tatapan penuh cinta dan kasih sayang itu terlihat sangat lembut. Seolah ingin mengatakan 'my eyes only on you'.