
Vanka dan ketiga temannya beneran datang ke basecamp Defan. Mereka berangkat bersama menggunakan mobil Desi. Karena hanya Desi yang sudah diperbolehkan memakai mobil oleh orang tuanya.
"Van!" Defan melambaikan tangannya.
Vanka juga tak menyangka sih jika basecamp tersebut ada banyak orang bahkan dari luar sekolah mereka juga. Vanka kira hanya teman-teman satu sekolahnya saja. Tapi tidak masalah, justru Vanka seneng bisa nambah temen.
Defan memperkenalkan Vanka kepada teman-temannya yang lain. Sepertinya mereka teman Defan di bangku menengah pertama.
Akila merasa antusias ketika teman-teman Defan memainkan musik dan bernyanyi. Akila sangat suka menyanyi, tapi masih canggung untuk ikut serta.
Akhirnya, Gio yang menarik Akila mendekat ke temannya yang sedang bernyanyi dan bermain musik. "Bro, temen gue mau gabung katanya, dia seorang penyanyi di salah satu kafe." ucap Gio sekaligus memperkenalkan Akila kepada teman-temannya.
"Bagus dong, yuk kita duet!" ajak salah satu teman Gio.
Akila pun menyanyikan sebuah lagu pop diiringi alunan gitar. Suara Akila yang memang merdu dan enak di dengar membuat semua orang kagum kepadanya.
"Suara Akila enak juga." ucap Defan juga mengagumi suara indah Akila.
"Bisa nyanyi juga dia, gue kira cuma bisa ngomel aja." gumam Reza yang juga terpesona dengan kemerduan suara Akila.
"Gio, gue baper." Marisa mendekati Gio kemudian melingkarkan tangannya dilengan Gio.
Marisa tetap tidak mau menyerah mendekati Gio. Padahal tadi di sekolah, Gio sudah sangat marah kepadanya. Tapi Marisa tetap aja terus nempelin Gio.
"Lepasin!" Gio mendorong Marisa menjauh.
"Jangan jadi wanita yang tidak tahu malu!" ucap Gio lalu meninggalkan Marisa.
"Lo kenapa sih bikin Gio marah mulu?" protes Dhanu karena Marisa selalu membuat Gio hilang mood.
"Tolong deh jangan ganggu Gio lagi! Dia udah punya pacar." sahut Reza yang membuat Dhanu dan Marisa jadi terkejut.
"Jadi bener Gio udah punya pacar? Siapa? Siapa pacarnya Gio? Gue harus bikin perhitungan sama dia, berani-beraninya rebut Gio dari gue." Marisa tidak menyerah malah justru semakin membara.
Dhanu menarik Reza sedikit menjauh. "Emang bener Gio udah punya pacar?" tanyannya juga penasaran.
Reza terdiam sesaat, dia sempat melirik Vanka yang sedang ngobrol dengan Defan. Ada Gio di sebelah Defan juga ngobrol dengan Vanka dan teman-temannya.
"Heh, malah bengong.." Dhanu tidak sabar mendengar penjelasan Reza.
"Nggak, gue cuma bohongin Marisa aja, kasihan kan Gio, tiap kali ketemu Marisa dia selalu emosi." ingin sekali Reza kasih tahu kabar gembira itu ke Dhanu. Tapi Reza ingat kalau dia harus menyembunyikan rahasia itu dulu sebelum Defan dan Chika punya kesempatan ngobrol berdua.
"Gue cuma mau Marisa menyerah terhadap Gio." imbuh Reza.
__ADS_1
"Iya juga sih, kasihan Gio kalau harus emosi mulu." sahut Dhanu.
"Eh, menurut lo, Defan tuh suka nggak sama Vanka?" tanya Reza.
Seketika menolehlah Dhanu ke Defan yang sedang berbincang dengan Vanka dan juga Gio. "Kayaknya sih cuma sekedar suka aja. Gue yakin dia masih cinta sama Chika. Kita tahu sendiri seperti apa cerita cinta mereka." sama seperti Reza dan Gio. Dhanu juga berpendapat sama.
"Nah, gue sama Gio juga mikir gitu. Kita berdua punya rencana,"
"Rencana apa?"
"Kita ingin ciptain moment untuk Chika ngobrol empat mata sama Defan. Biarin mereka ngobrol dari hati ke hati. Yang mereka butuhkan hanya ngobrol berdua dari hati ke hati.."
"Terus apa yang harus kita lakuin?" tanya Dhanu lagi.
"Tunggu perintah Gio dulu. Dia lagi mikirin caranya,"
"Jangan lupa kasih tahu gue!"
"Beres.."
Tapi tiba-tiba kegaduhan terjadi. Di depan, banyak motor dibleyer-bleyer. Motor itu tidak jalan, tapi hanya berputar-putar saja diarea basecamp.
Tentu saja semua orang yang ada di basecamp tersebut penasaran apa yang terjadi. Mereka berhamburan untuk melihat apa yang terjadi.
"Ngapain sih mereka." gumam Reza dengan marah.
"Kita mau tantang kalian balapan lagi." jawab seorang pemuda dengan tindik banyak di telinganya. Sepertinya dia pentolan dari sekelompok orang tersebut.
"Kita nggak akan mau balapan sama orang yang suka berbuat curang. Tempo hari kalian kan yang udah sabotase motor Gio?" tanya Reza dengan marah.
"Ha ha ha,, bilang aja kalau kalian takut. Kalian nggak bisa kalahkan kita." ucapnya lagi dengan tertawa dan diikuti tawa temannya yang lain.
"Iya kita memang nggak bisa kalahin lo, lo yang paling jago. Udah puas kan?" sahut Gio yang sebenarnya malas meladeni mereka. Setiap kali datang hanya ngajakin ribut terus.
"Lihat kan, seorang Gio Arshaka Nagatha ternyata adalah seorang pecundang." seru pentolan geng tersebut. Lalu disambut tawa oleh teman-temannya yang lain.
"Jaga ya mulut lo!" Reza yang sudah kesal sejak tadi, menjadi tersulut amarahnya.
"Apa? Lo mau apa, cupu?" tanya salah satu anggota geng tersebut.
Reza yang sudah tidak bisa menahan amarahnya, kemudian menendang orang tersebut. "Sabar gue juga ada batasnya!" ucap Reza dengan marah.
"Woi,," para anggota geng tersebut tidak terima salah seorang temannya ditendang oleh Reza.
__ADS_1
Saat mereka hendak maju untuk menyerang Reza. Tiba-tiba pentolan geng tersebut menahan teman-temannya. Matanya fokus kepada seorang wanita yang sejak lama dia rindukan.
"Kila??" gumamnya.
"Apa kabar?" tanyanya sembari mendekati Akila yang baru aja tiba.
Akila membulatkan matanya. Dia kenal dengan lelaki tersebut. Bukan hanya kenal, tapi sangat kenal.
"Doni?" gumam Akila.
Vanka yang berada disebelah Akila pun membulatkan matanya. Dulu dia pernah mendengar cerita Akila tentang lelaki bernama Doni tersebut.
Setahu Vanka, lelaki bernama Doni itu adalah mantan pacar Akila yang jadian hanya beberapa bulan aja karena lelaki itu cukup kasar. Bahkan Akila belum sempat memperkenalkan Doni kepada Vanka secara langsung. Hanya setiap hari Akila selalu menceritakan tentang Doni tersebut. Jadi Vanka hanya tahu namanya tapi belum pernah ketemu secara langsung.
"Jadi dia Donat?" tanya Vanka. Dulu Akila menjuluki Doni dengan sebutan Donat.
"Iya." jawab Akila sembari menganggukan kepalanya.
"Setelah sekian lama ternyata lo masih aja kayak dulu." ucap Akila sembari tersenyum sinis.
"Kil, gue minta maaf karena gue kasar. Tapi asal lo tahu, sampai saat ini, gue masih belum bisa lupain lo." ucap Doni meraih tangan Akila.
"Kalian kenal?" tanya Reza yang juga terkejut. Tidak menyangka jika Akila kenal dengan musuhnya.
"Terserah jika kalian kenal. Dia musuh kita, jadi gue harap lo jangan deket-deket sama dia." ucap Reza yang membuat Doni merasa geram.
Tanpa peringatan Doni meninju Reza tepat diwajahnya. "Hubungan gue sama Akila, tidak ada sangkut pautnya dengan masalah kita. Jadi jangan pernah lo larang dia deket sama gue!" ucap Doni merasa tidak terima Reza ikut campur urusannya dengan Akila.
"Heh, brengs*k berani lo bikin kacau disini!" seru Defan yang sudah tidak tahan lagi menahan amarahnya.
Defan maju, tapi Gio lebih cepat menahan tangannya. Vanka juga menahannya, karena Defan terus saja meronta.
Sementara Akila merasa marah karena Doni memukul Reza. Akila meminta Doni untuk meninggalkan tempat tersebut. Sementara Akila sendiri membantu Reza berdiri.
"Sampai kapanpun, lo nggak akan pernah berubah." ucap Akila sembari membantu Reza berdiri.
"Kil, gue akan berubah, asal lo mau deket lagi sama gue! Gue janji akan berubah." ucap Doni.
"Pergi Don! Maaf gue nggak bisa, gue udah suka sama orang lain. Gue udah lupain lo sejak lama."
"Kil, please!!"
"Kalau lo nggak mau pergi dari sini, ke depannya nggak usah sapa gue lagi, anggep kita nggak pernah kenal!" ucap Akila yang langsung dituruti oleh Doni.
__ADS_1
"Sampai kapanpun, gue nggak akan lupain lo." ucap Doni sebelum dia pergi. Sedangkan Akila tidak berkata lagi ataupun menoleh ke arah Doni.
Senakal apapun seorang lelaki. Dia akan nurut dengan orang yang dia sayangi. Doni contohnya. Hanya dengan beberapa kata dari Akila. Dia kemudian memilih untuk menarik pasukannya pergi dari basecamp tersebut.