
Saat Aiko pulang sembari menangis, Kimora sedang menyiapkan makan siang di dapur. Aiko tidak ingin mamanya sedih, jadinya dia masuk rumah tanpa memberi salam. Langsung berlari menuju kamarnya.
Bibi yang sedang membersihkan kamarnya pun terkejut, melihat Aiko pulang dengan menangis. "Non Aiko kenapa?" tanya bibi terkejut.
"Nggak kenapa-napa bi," jawab Aiko dengan tersedu.
"Tapi kok nangis?" tanya bibi lagi dengan sedih.
Bibi itu sudah lama ikut Alfarezi. Sudah dekat dengan semua anggota keluarga juga. Dan juga sudah seperti keluarga sendiri. Melihat Aiko menangis membuat bibi itu sedih. Yang dia tahu Aiko biasanya ceria, selalu tersenyum dan ramah.
"Nggak apa-apa bi, jangan bilang mama sama papa kalau aku nangis, aku nggak mau mereka khawatir, aku nggak apa-apa kok." ucap Aiko.
Bibi itu menganggukan kepalanya, kemudian keluar dari kamar anak majikannya.
Rakha ke rumah Aiko selang lima belas menit Aiko sampai di rumah. Rakha datang karena ingin menjelaskan kembali serta minta maaf.
"Eh Rakha, masuk nak!" ucap Kimora yang belum tahu apa yang terjadi.
"Tan, Aiko ada tan? Aiko udah pulang?" pertanyaan Rakha tersebut membuat Kimora bingung. Bukankah setiap harinya Aiko selalu bareng Rakha. Kenapa Rakha justru mencari Aiko.
"Aiko?? Bukannya dia bareng sama kamu tadi pagi?" tanya Kimora bingung.
"Aiko kemana? Kenapa kamu malah cari dia?" Kimora semakin bingung. Di pikirannya muncul hal-hal yang mengerikan.
"Aiko kemana Rakha? Aiko kemana?" tanya Kimora yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Maafin aku, tan.. Aiko tadi marah lalu dia pulang duluan. Apa dia belum sampai rumah?" Kimora menggelengkan kepalanya dengan lemas. Kimora terduduk sembari menangis.
"Tante harus hubungi papanya Aiko. Iya harus hubungi papanya Aiko." Kimora mencari dimana ponselnya berada. Kimora menghubungi Alfarezi dan mengatakan apa yang terjadi.
"Cari Aiko pa! Cari Aiko!" ucap Kimora sembari menangis.
"Kamu tenang dulu! Aku segera pulang!" ucap Alfarezi dari seberang telepon. Padahal dia lagi meeting penting, tapi dia meninggalkan meeting itu begitu aja. Bagi Alfarezi, keluarga yang paling penting. Apalagi menyangkut anaknya, Alfarezi tidak bisa tenang.
"Tante tenang dulu, kita cari Aiko bersama!"
"Gimana bisa tenang? Aiko pergi entah kemana, ponselnya juga mati. Gimana bisa tenang?" seru Kimora sudah memikirkan hal yang tidak-tidak. Seketika ingatannya kembali ke masa silam. Kimora takut Aiko akan mengalami hal yang sama seperti dirinya dulu, disakiti oleh musuh papanya.
Mengingat hal itu, Kimora menjadi histeris. Bahkan teriakannya sampai terdengar di kamar Defan. Seketika larilah Defan ketika mendengar teriakan mamanya.
"Mama kenapa?" tanya Defan dari depan kamarnya, tepatnya di balkon. Defan buru-buru turun menghampiri mamanya yang histeris.
__ADS_1
Bahkan para pembantunya juga mendengar teriakan Kimora. Tapi hanya Aiko yang tidak mendengar teriakan mamanya. Karena Aiko menangis sambil menutup kepalanya dengan bantal.
"Aiko Def,"
"Kak Aiko kenapa ma?" tanya Defan juga bingung.
"Aiko hilang." jawab Kimora.
"Hilang? Hilang dimana?" tanya Defan lagi.
"Bukannya kak Aiko selalu bareng sama kak Rakha?" tanya Defan ke Rakha.
"Tadi dia pulang duluan, terus aku kesini, kata tante Kimora, Aiko belum pulang." jawab Rakha merasa bersalah. Dia sudah dipercaya oleh orang tua Aiko tapi malah menyiakan kepercayaan itu.
"Non Aiko sudah pulang kok bu. Sekarang ada di kamarnya." sahut bibi yang ketemu dengan Aiko tadi.
Seketika Kimora menatap bibi itu. Kimora benar-benar merasa lega. Tanpa berkata lagi, Kimora langsung berlari menuju kamar anak perempuannya.
"Pelan-pelan ma!" seru Defan merasa ngeri melihat mamanya berlari tanpa memikirkan usia.
Defan dan Rakha pun merasa lega. Mereka berdua menyusul Kimora ke kamar Aiko. Saat Rakha masuk ke kamar Aiko bersama Defan. Aiko langsung mengusir Rakha.
Akhirnya Kimora paham jika Aiko dan Rakha sedang bertengkar. Kimora memeluk Aiko yang histeris. "Kamu kenapa nak? Rakha kesini cari kamu." tanya Kimora dengan lembut.
"Aku nggak mau ketemu dia ma, suruh dia pergi ma!" Aiko kembali menangis dalam pelukan mamanya.
Karena Rakha masih tidak bergeming. Aiko akhirnya turun dari ranjang dan mendorong Rakha keluar dari kamarnya. Aiko beneran tidak mau melihat Rakha untuk saat ini.
"Aku lega banget, kamu sampai rumah dengan selamat, aku udah takut aja." ucap Rakha dengan lembut.
"Pergi! Tolong pergi!" mohon Aiko sembari menangis.
"Nak Rakha, mungkin sebaiknya nak Rakha pulang dulu, biarin Aiko nenangin diri dulu!" Kimora tidak tega melihat Rakha, lebih tidak tega lagi melihat anaknya yang menangis dengan sangat menyedihkan.
"Seberapa sering kamu usir aku, seberapa jauh kamu, aku akan terus kejar kamu, aku akan terus pertahanin kamu, aku cinta kamu sayank." ucap Rakha sebelum akhirnya dia pulang ke rumahnya sendiri.
"Ma.." selepas kepergian Rakha, Aiko memeluk mamanya dengan sedih.
"Kamu tenangin diri kamu dulu! Setelah tenang baru ambil keputusan." Kimora memeluk putrinya dan mengelus rambut panjang Aiko.
Meskipun umur Aiko sudah mencapai 22 tahun. Tapi bagi Kimora, dia tetap putri kecilnya yang sangat dia sayangi.
__ADS_1
"Kakak kamu gimana Def?" tanya Alfarezi yang baru saja sampai di rumah. Di depan dia sempat bertemu dengan Rakha. Kemudian Rakha memberitahunya jika Aiko baik-baik saja.
Alfarezi melihat istri dan anak perempuannya saling berpelukan. Kedua wanita yang paling dia cintai di dunia ini. Alfarezi menghela nafas lega, dia tersenyum lalu memeluk anak lelakinya yang ada disebelahnya.
"Tetap tersenyum! Kalian adalah harta yang paling berharga untuk papa." ucap Alfarezi sembari memeluk Defan dengan erat. Lalu maju untuk memeluk anak perempuannya dan juga istrinya.
"Kamu kenapa?" tanya Alfarezi saat melihat Aiko menangis.
"Nggak apa-apa kok pa." jawab Aiko masih terisak.
"Ngomong sama papa, siapa yang buat kamu nangis? Siapa yang berani sakiti kamu? Papa akan suruh om Boy buat singkirkan dia." semakin bertambahnya usia, tidak membuat sifat pemarah Alfarezi berubah.
"Jangan pa, Ai.. Aiko nggak kenapa-napa kok pa."
"Pa, tenang! Ini bukan masalah serius, wajar jika pasangan muda sering bertengkar." Kimora menenangkan suaminya. Kimora sangat tahu bahwa suaminya orang yang pemarah, apalagi ketika orang yang dia sayang tersakiti.
Alfarezi menatap Aiko dengan penuh kasih sayang. "Kamu bertengkar dengan Rakha?" tanyanya lembut sembari menangkup wajah Aiko.
Aiko tidak berkata hanya menganggukan kepalanya saja. Alfarezi kemudian memeluk Aiko dengan erat. "Lupain Rakha! Berani-beraninya bikin anak papa yang cantik ini menangis." ucap Alfarezi dengan sangat lembut.
Alfarezi tidak mau mencampuri urusan percintaan anak-anaknya. Dia selalu membebaskan anak-anaknya untuk memilih pasangan mereka sendiri. Karena Alfarezi tahu rasa tidak enaknya dijodohkan.
Meskipun pada akhirnya dia jatuh cinta dengan wanita yang pernah dijodohkan dengannya. Tapi tetapi saja, awalannya terasa pahit.
"Jangan suruh om Boy mempersulit Rakha!" pinta Aiko.
"Enggak. Om Boy sekarang udah nggak ada waktu buat urusin kita. Dia udah nggak peduli sama kita."
"Nggak siapa bilang? Om Boy masih peduli sama kita, om Boy nggak akan pernah begitu sama kita." sahut Defan yang selalu saja membela Boy.
"Om Boy selalu sayang dan peduli sama kita." seperti itulah yang Boy dulu katakan ke Defan. Bahwa apapun yang terjadi, Boy akan mengutamakan keselamatan Alfarezi dengan keluarganya.
"Kamu bangga Boy, anak aku belain kamu terus." ucap Alfarezi dengan sengit.
Pada saat yang sama, Boy tiba-tiba sudah berdiri dan bersandar dikusen pintu kamar Aiko. Dengan melipat kedua tangannya di dada dan tersenyum menatap keluarga tersebut.
"Kamu mau cuci otak anak aku kayak gimana lagi?" tanya Alfarezi lagi.
"Om Boy?" Defan sangat senang bisa melihat Boy lagi. Sudah lama dia tidak bertemu dengan pamannya itu.
Dan penampilan Boy juga masih sama. Selalu misterius.
__ADS_1