Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
36


__ADS_3

Vanka beneran membawa Gio pulang ke rumahnya. Bukan hanya main, tapi juga makan di rumahnya. Selesai makan, Gio masih belum mau pulang. Dia masih ingin main di rumah Vanka.


Vanka mengajak Gio duduk di halaman samping rumah Vanka, tempat biasa mereka ngobrol waktu dekat kemarin.


"Tapi gue ngantuk, Gio.." ucap Vanka sambil menguap. Biasanya setelah pulang sekolah dan makan siang, Vanka akan segera tidur siang, jika tidak kemana-mana.


"Tidur aja!" jawab Gio tanpa dengan santainya.


"Emang kenapa sih lo nggak mau pulang?" tanya Vanka kembali menguap.


"Gue masih kangen sama lo tauk." Gio menarik hidung Vanka pelan.


"Seterah, gue ngantuk.." Vanka tidak bisa menahan matanya lebih lama lagi. Dia beneran sudah mengantuk, bahkan Vanka sampai tertidur di kursi.


Menatap wanita yang sangat dia cintai, membuat Gio tersenyum senang. Pemandangan yang indah itu sangat sayang jika dilewatkan. Netranya terus menatap wanita yang memiliki tubuh putih dengan berat badan ideal.


Gio mengulurkan tangannya menyentuh pipi tembem dan mulus itu. Bibir yang kecil dan merah terlihat sedikit manyun ketika tidur. Bulu matanya panjang dan indah, hidungnya kecil dan mancung.


Benar-benar pemandangan yang sangat indah dan enak di pandang.


"Lucu banget sih.." ucap Gio sembari terus menatap Vanka yang tertidur sangat nyenyak.


Sedangkan Gio terus menatapnya dengan penuh kasih sayang. Gio juga memfoto Vanka yang sedang tidur. Meskipun sedang tidur tapi tidak mengurangi sama sekali kecantikan Vanka.


Gio tersenyum seorang diri ketika melihat hasil jepretannya. Bahkan Gio menjadikan foto Vanka yang tertidur itu sebagai wallpaper di hapenya.


Gio juga menghalau lalat dan nyamuk yang hendak hinggap ditubuh Vanka. Dia tidak membiarkan Vanka terganggu sedikit pun.


Cukup lama Vanka tertidur, tapi Gio sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia tetap berada di sebelah vanka.


Gio menelepon Dhanu. "Ntar kalau gue wa, lo nggak usah balas, kalau gue telepon jangan diangkat!" ucap Gio dengan pelan.


"Kenapa?" tanya Dhanu dari balik telepon.


"Pokoknya lo nurut aja apa kata gue!"


"Oke, gue tahu sekarang, biar lo dianter Vanka kan?"


"Hmm.." Gio buru-buru mematikan teleponnya. Dia tidak mau Vanka mendengar rencana yang telah dia susun.


Tak lama setelah itu Vanka ngulet, meregangkan tubuhnya yang sepertinya tidak nyaman karena tertidur dengan posisi duduk. Tanpa sengaja tangan Vanka mengenai kepala Gio. Vanka pun menjerit karena kaget Gio masih ada di rumahnya.


"Lo masih disini?" tanya Vanka dengan kaget.

__ADS_1


"Kenapa lo nggak pulang? Lo ntar dicariin mama lo.." imbuh Vanka.


"Iya nih, mama udah nanyain mulu daritadi, tapi Dhanu nggak bisa dihubungi,"


"Terus gimana?" Vanka memiliki perasaan tak enak.


"Anterin.." jawab Gio dengan manja.


"Nggak mau gue, tadi udah dianterin siapa suruh minta ikut kesini? Naik ojek aja kalau mau." Vanka langsung menolak permintaan Gio.


"Please! Atau sebenarnya lo maunya gue tetep disini kan? Lo nggak mau gue pulang kan? Hayo ngaku!" goda Gio yang membuat Vanka kesal jadinya.


Vanka terpaksa kembali mengantar Gio pulang ke rumahnya lagi. Meskipun dengan terus mengomel, tapi Vanka mengantar Gio pulang juga. Karena mamanya Gio juga sudah telepon terus. hari juga semakin sore.


Tapi kali ini Vanka tidak naik mobil, tapi naik motor matic-nya. Gio yang disuruh jadi sopirnya. Takutnya jika Gio di belakang, dia akan melakukan hal-hal yang aneh-aneh.


Di jalan Gio terus meminta Vanka supaya mau pegangan. Tapi Vanka terus-terusan menolak. Sampai akhirnya Gio menarik tangannya dan meletakan tangan Vanka diperutnya.


Vanka pun kembali menolak dengan menarik tangannya. Tapi Gio tidak membiarkan itu. Dia terus memegang tangan Vanka supaya tidak ditarik lagi.


Sembari melirik Vanka, Gio pun tersenyum melihat Vanka yang akhirnya menyerah. Vanka berpegangan di perut Gio. Dan Gio terus menggenggam tangan itu.


"Gue berharap waktu akan berhenti didetik ini supaya kita bisa terus kayak gini." Gio mencium tangan Vanka dengan lembut.


"Cari aja cewek yang lebih baik dari gue, Marisa sangat mencintai lo." Vanka menarik tangannya lagi, tapi Gio tetap tidak mau melepaskan tangan Vanka.


"Cewek emang banyak, tapi yang bisa bikin gue jatuh cinta dan nyaman cuma lo." ucap Gio.


"Defan sama Chika sudah balikan," lanjut Gio.


"Udah tahu, tadi Chika temuin gue."


"Rencana kita berhasil, tapi cinta kita yang kandas. Lucu emang," ucap Gio dengan tersenyum kecil.


"Mungkin itu jawaban bahwa kita tidak bisa terus bersama."


"Kalau lo mau terima gue lagi, kita bisa patahin jawaban itu."


"Itu maunya lo.."


"Emang, gue masih cinta sama lo."


"Lo tahu nggak, sekarang lo tuh beda banget dari lo yang dulu." ucap Vanka lagi.

__ADS_1


"Bedanya?" tanya Gio cepat.


"Dulu lo cuek, dingin. Sekarang, gombal mulu kerjaannya."


"Nggak juga, tergantung dengan siapa gue bicara, kalau bukan sama lo, gue nggak mau jadi cowok bucin, orang beneran gue nggak bisa hidup tanpa lo." jawab Gio yang membuat Vanka tak bisa berkata-kata lagi. Debat dengan Gio, nggak ada habisnya.


"Stop.. stop.. stop..." Vanka tiba-tiba berteriak dan memukul pundak Gio dengan tangan yang bebas.


Seketika kagetlah Gio dan mengerem secara mendadak. Untung saja jalanan tidak terlalu rame kali ini. Kalau nggak, bisa sangat bahaya bagi mereka kalau ngerem mendadak seperti itu.


"Kenapa sih Van?" tanya Gio masih dengan kaget.


"Rumah lo kelewatan.." ucap Vanka yang membuat Gio meringis. Bisa-bisanya lupa rumahnya sendiri.


"Oh iya, elo sih gara-garanya." ucap Gio menyalahkan Vanka.


"Kok jadi gue?" Vanka tidak terima dengan tuduhan Gio.


"Iya, karena lo mengalihkan jalanan rumah gue." ucap Gio dengan konyol.


Vanka tidak bisa menahan tawanya mendengar banyolan Gio tersebut. Vanka tertawa mendengar kerecehan Gio. Baru akhir-akhir ini aja dia tahu kalau Gio ternyata orangnya tidak kaku-kaku banget. Malah lebih suka bercanda kayaknya.


Melihat Vanka tertawa membuat Gio semakin bahagia. Nggak apalah dia receh dan bucin. Yang penting dia bisa dekat dengan Vanka lagi.


"Nah gitu ketawa, kan cantik makin makin." ucap Gio yang membuat Vanka malu, kemudian berhenti tertawa.


"Van, kalau bisa jangan dingin-dingin ya ke gue! Gue nggak punya selimut soalnya." Gio kembali ngebanyol dan sukses membuat Vanka tersenyum lagi.


"Apaan sih lo."


Vanka ingin mengantar sampai depan perumahan saja. Tapi Gio malah terus masuk ke depan rumahnya. "Turun yuk!" ucap Gio.


Vanka menatap rumah Gio dengan kagum. Tidak pernah menyangka bahwa rumah Gio akan semewah itu. Halamannya saja luas sekali. Ada taman di tengah halaman tersebut dan ada juga kolam ikan lengkap dengan air mancur.


Tapi sesaat kemudian Vanka bisa maklum sih. Papanya Gio kan seorang pengusaha yang menguasai hampir 80 persen pasar modal.


"Gue langsung pulang aja." Vanka naik kembali ke motornya.


"Main bentar aja, lo belum pernah main ke rumah orang tua gue kan?" pinta Gio sembari menahan tangan Vanka.


"Lain kali aja.."


"Please!" Gio menatap Vanka dengan memohon. Akhirnya Vanka pun menganggukan kepalanya. Dia turun dari motornya dan masuk ke rumah itu bersama anak sang pemilik rumah.

__ADS_1


__ADS_2