Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
95


__ADS_3

Ines mendapat informasi dari assisten rumah tangganya jika Gio dan Vanka sedang ngobrol di teras samping kolam renang. Ines pun segera bergegas untuk melihat mereka berdua.


Saat Ines sampai, dia melihat Gio yang sedang berbaring dipangkuan Vanka. Dengan lembut Vanka mengelus rambut Gio. Terlihat Vanka sangat menyayangi dan lembut kepada Gio.


Sementara Gio sepertinya sudah tertidur di pangkuang ternyamannya. Ines juga tidak melewatkan saat Vanka menatap Gio dengan penuh cinta, dan juga mengecup kening Gio.


Bibir Ines mengembang melihat pemandangan romantis anak muda tersebut. Iya, dia bisa melihat dengan jelas betapa sayangnya Vanka ke anaknya.


"Van!" sapa Ines yang membuat Vanka kaget sekaligus gugup. Apalagi Gio masih tertidur di pangkuannya.


Vanka hendak membangunkan Gio, tapi Ines melarangnya. "Biarin dia tidur, kayaknya dia capek banget." ucap Ines.


"Iya tante." Vanka menganggukan kepalanya. Apa yang membuat dia canggung, karena Gio tertidur dipangkuannya. Vanka merasa tidak enak kepada Ines.


"Udah lama Van?" tanya Ines dengan lembut. Ines juga duduk di depan Vanka.


"Lumayan tante, dari pulang sekolah tadi, Gio ngajak main kesini." meskipun Vanka terlihat biasa saja, tapi sebenarnya dia gemetar juga.


"Udah makan?" Vanka menggelengkan kepalanya.


"Kalau gitu nanti sebelum pulang harus makan sini dulu, ya!" Vanka menganggukan kepalanya dengan ragu.


Vanka juga mengerutkan keningnya. Apa mungkin yang dikatakan Gio beberapa hari terakhir ini beneran. Kata Gio, mamanya sudah mau merestui hubungan mereka berdua.


Awalnya Vanka ragu. Tapi setelah melihat langsung perubahan Ines. Vanka menjadi yakin jika apa yang dikatakan Gio itu memang benar adanya.


"Van, tante minta maaf ya!" ucap Ines pelan. Dia menundukan kepalanya bukan karena tidak tulus meminta maaf kepada Vanka. Hanya saja, Ines merasa sangat bersalah karena telah membenci Vanka sebelumnya.


"Tante udah sakiti perasaan kamu. Tante minta maaf." imbuh Ines.


"Vanka udah maafin tante dari lama kok. Vanka paham, apa yang tante lakuin semata-mata hanya demi kebaikan Gio." ucap Vanka tidak mau membuat Ines terus-terusan merasa bersalah.


"Dan ternyata, kamulah yang terbaik untuk Gio." sahut Ines dengan tersenyum dan sembari menatap Vanka.


"Kamu tahu nggak. Dari SD, banyak banget wanita yang suka sama Gio. Tapi tidak ada satupun yang dia tanggepin. Gio tuh kan kayak papa dan kakaknya, cuek banget. Tante kaget waktu dia bilang suka sama kamu pas di rumah sakit itu." Ines mengenang kembali masa kecil Gio.


"Gio memang cuek dan dingin, tapi saat dia sudah suka sama cewek, dia pasti akan manja banget. Bener nggak?" imbuh Ines bertanya kepada Vanka.


Vanka tersenyum sembari menganggukan kepalanya. "Bener banget tante." jawab Vanka sembari menatap Gio yang masih terlelap dalam pangkuannya.


"Sama kayak papanya. Papanya dulu juga dingin banget, saking dinginnya, dia bahkan tidak pernah punya mantan." ucap Ines sembari tertawa.


"Serius tan?"

__ADS_1


"Iya. Jadi tante Ines itu pacar pertama dan terakhir." Ines tertawa ketika menceritakan masa mudanya kepada Vanka.


"Kalau tante?"


"Ah, kalau tante jangan ditanya, tante punya beberapa mantan, kan waktu muda tante tuh cantik." Ines semakin tertawa lebar ketika memuji dirinya sendiri.


"Nggak diragukan sih tan, udah berumur juga masih cantik banget." Vanka sudah mulai terbiasa bersendau gurau dengan Ines.


Sejatinya, Ines adalah seorang ibu yang cukup gaul. Dia bisa menjadi teman untuk anak seusia Gio dan Ernes. Dia juga cukup cerdas, karena sangat tahu bagaimana cara mengobrol dengan anak seusia anaknya.


"Iya dong.." ucap Ines dengan terbahak.


"Dulu kecantikan tante kurang lebih kayak kamu." Ines kembali terbahak.


"Percaya sih tante.." jawab Vanka yang semakin membuat Ines terbahak.


"Katanya, Rakha calon Aiko itu kakak kamu ya, Van?" Vanka menganggukan kepalanya.


"Cakep ya dia, kayak papanya Gio waktu muda." lanjut Ines kembali ngebanyol.


"Tapi masih cakepan Gio." ucap Vanka yang membuat Ines tersenyum lebar.


Sedangkan Vanka masih terus mengelus rambut Gio ketika dia mulai tidak nyaman dengan kehebohan yang disebabkan oleh dirinya dan Ines. Gio mengubah posisinya dari terlentang menjadi miring sembari memeluk pinggang Vanka. Tapi tanpa membuka matanya sama sekali.


"Kasihan Vanka tuh, kamu gerak-gerak sembarangan gitu.." Ines melihat Vanka yang berulang kali berusaha menyingkirkan tangan Gio yang hampir saja menyentuh dadanya.


"Gio!!" Ines mencubit lengan Gio membuat Gio berteriak kesakitan.


"Akh... apaan sih?" Gio bangkit sembari mengomel.


Dia sempat kaget melihat mamanya yang ada di tempat itu juga. "Mama? Sejak kapan mama disini?" tanyanya.


"Sejak iler kamu netes." Gio pun sontak mengelap mulutnya. Tapi ternyata mamanya hanya menggodanya saja.


"Mana ada Gio ileran, sorry dori stoberi dong." ucap Gio yang membuat mamanya terbahak.


"Gue nggak ngiler kan yank?" Gio gantian bertanya kepada Vanka yang ada di sebelahnya.


"Ada tuh, ih, jijik.." sama seperti Ines, Vanka juga menggoda Gio bahkan dengan ekspresi menjijikan.


"Mana sih yank, nggak ada ya?" Gio mulai bangkit dan berdiri di depan pintu kaca yang ada di dekatnya.


"Nggak ada yank, ah.. Lo mah gitu..." Gio bertingkah manja kemudian kembali mendekat ke Vanka dan memeluk Vanka seperti layaknya anak kecil yang minta peluk ibunya.

__ADS_1


"Eh, eh, eh, wah nggak bener kalian. Masa mesra-mesraan di depan mama, kan mama jadi pengen, mana papa belum pulang lagi..." gerutu Ines dengan tingkah lucu membuat Vanka dan Gio tertawa karena kelucuan mamanya Gio.


"Lagian mama.. Mama tahu nggak, kalau orang lagi dua-duaan yang ketiganya-"


"Setan, gitu maksud kamu?" Ines memotong perkataan Gio sembari berpura marah.


"Itu tahu..." Gio terbahak sembari mengolok mamanya.


"Gio nggak boleh gitu sama tante Ines!" Vanka mencubit lengan Gio. Memperingati Gio supaya jangan seperti itu ke mamanya.


"Enggak yank, kita cuma bercanda, ya kan ma?" Ines tersenyum sembari menganggukan kepalanya.


"Kalau gitu kalian lanjut aja pacarannya, mama mau bikin kue, Vanka jangan pulang dulu, kamu harus rasain kue buatan tante yang dibuat dengan penuh rasa kasih dan sayang kepada calon menantu." ucap Ines yang membuat Vanka tersipu malu.


"Ciee calaon mantu nggak tuh, ahayy.." Gio menggoda Vanka sembari menyenggol Vanka pelan.


"Iya, tante.." jawab Vanka dengan malu-malu.


Setelah itu Ines meninggalkan sejoli itu berduaan di tempat itu. Tidak lupa, Ines meminta assisten rumah tangganya untuk menambah minuman dan camilan buat Gio dan Vanka.


"Ciee calon mantu.." Gio terus menggoda Vanka dengan mengatakan calon mantu terus ke Vanka.


"Apaan sih..."


"Gi, Arina kemana sih kok nggak pernah masuk?" tanya Vanka yang membuat Gio seketika terdiam.


"Kenapa?" tanya Vanka menjadi bingung karena Gio seketika terdiam.


"Yank, ternyata... selama ini Arina terkena gangguan jiwa.." Vanka membulatkan matanya mendengar perkataan Gio.


"Gangguan jiwa? Maksudnya,, maaf, gila gitu?" Gio menganggukan kepalanya.


"Kok bisa?"


"Kata tante Lina, psikiater yang nanganin mama, ternyata dia juga nanganin mama, dulu Arina sempat dirawat di rumah sakit jiwa."


"Sebenarnya sih udah sejak lama Arina punya gangguan seperti itu, tapi diperparah dengan kematian Aleno."


Vanka memeluk Gio dengan erat. Vanka seolah tahu apa yang dipikirkan oleh Gio. Ya, dia menyalahkan dirinya sendiri lagi karena kematian saudara kembar Arina.


"Jangan terlalu memikirkan masa lalu! Pikirin gue, pikirin masa depan lo!" ucap Vanka yang mampu menenangkan hati Gio.


Gio lalu memeluk Vanka dengan erat pula. Mencium pipi Vanka kanan dan kiri, kening Vanka, sampai ke bibir Vanka. "Jangan pernah tinggalin gue!" lirih Gio setelah kemudian dia mencium bibir Vanka dengan cukup ganas.

__ADS_1


Sementara Vanka hanya menganggukan kepalanya sembari menikmati ciuman yang mendominasi dari kekasihnya. Lama dan cukup lama, sampai banyak sekali air liur keduanya membasahi pipi keduanya.


__ADS_2