Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
24


__ADS_3

"Untung aja," gumam Akila juga khawatir jika Defan akan tahu yang sebenarnya.


"Awas aja lo!" Marisa masih enggan melepaskan Vanka begitu aja. Marisa masih yakin jika Vanka dan Gio memang memiliki hubungan.


Marisa ke kelasnya bersama Gio. "Gi, awas aja kalau lo memang punya hubungan sama cewek jal*ng itu!" ucap Marisa masih belum terima jika lelaki yang dia cintai itu dimiliki orang lain.


"Gue mau pacaran sama siapa aja itu nggak ada urusannya sama lo, lo bukan siapa-siapa gue, jadi jangan sok ngatur hidup gue." ucap Gio kemudian mempercepat langkahnya.


"Gue nggak akan biarin siapapun miliki lo Gio!!" seru Marisa yang terdengar oleh banyak siswa.


Sudah bukan rahasia umum lagi jika Marisa sangat tergila-gila dengan Gio. Dia bahkan menganggap dirinya sebagai pacar Gio. Padahal Gio sudah sering banget menolaknya. Bahkan kemarin, Gio sampai marah besar karena hal tersebut.


"Heran deh, kayak lelaki di dunia ini cuma Gio doang." sindir Akila yang tidak mengerti kemana urat malu Marisa. Jelas-jelas Gio sudah menolaknya berkali-kali. Tapi Marisa tetap saja tidak mau berhenti.


"Nggak usah banyak bac*t.." ucap Marisa agak geram.


....


Chika berpikir keras setelah melihat foto yang ada di ponsel Lika tersebut. Chika juga berpikir sama seperti Marisa. Dari senyumannya keduanya, Chika mereka hubungan mereka tidak sesederhana itu.


Chika memutuskan menyelidiki hubungan Gio dengan Vanka tanpa sepengetahuan yang lain. Semua orang beranggapan bahwa Chika masa bodoh dengan kasus itu.


Tapi sebenarnya Chika sedang memikirkan bahagia menangkap basah Gio dan Vanka di depan Defan. Supaya Defan bisa melupakan Vanka dan kembali kepadanya.


"Chik, lusa ada acara nggak?" tanya Reza sembari duduk di bangku samping Chika yang kosong.


"Nggak ada, emang kenapa?"


"Kita kan lama nggak nongkrong, gue mau curhat banyak hal sama lo." ucap Reza lagi. Dulu Reza suka sekali curhat sama Chika. Karena mereka juga sangat deket.


"Cuma mau curhat kenapa harus lusa sih? Ntar malam kan bisa."


"Ntar malam gue ada janji. Besok juga ada acara keluarga, waktu luang gue cuma lusa. Gimana? Mau ya!" Reza agak sedikit memaksa. Karena dia berencana membuat moment untuk Chika dan Defan.


"Oke." jawab Chika menyetujui ajakan Reza.


"Yes,, akhirnya gue nggak lagi punya banyak beban." ucap Reza merasa sangat bahagia.


Reza sudah memesan tempat dan mengatur semua. Hanya tinggal membujuk Chika dan juga Defan. Untuk sementara Chika aman lah, karena dia sudah mau datang. Tinggal membujuk Defan saja.


Reza kembali ke tempat duduknya sembari memberi kode kepada Dhanu dan Gio bahwa Chika sudah setuju untuk datang. Tinggal pikirin cara membuat Defan mau datang ke kafe itu juga.

__ADS_1


Gio mengacungkan dua jempolnya untuk Reza. Setelah kejadian tadi pagi, Gio berpikir untuk segera melancarkan rencananya. Dia tidak bisa menunggu sampai Defan mengetahui hubungannya dengan Vanka.


Gio tidak mau hubungan persaudaraan mereka akan hancur. Juga tidak mau kehilangan wanita yang sangat dia cintai.


"Def, lusa ada acara nggak?" tanya Dhanu. Kini giliran Dhanu yang beraksi.


"Nggak ada kayaknya, kenapa?" tanya Defan.


"Kalau nggak ada gue mau kenalin lo sama cewek gue."


"Cewek lo? Lo udah punya cewek?" tanya Defan kaget. Selama ini Defan belum pernah melihat Dhanu dekat dengan wanita manapun.


"Yoi, baru kemarin jadian sih, temen rumah gue. Gimana bisa nggak? Sama anak-anak juga kok." ucap Dhanu sangat meyakinkan.


"Kalian tahu kalau Dhanu punya cewek?" Defan menoleh ke belakang dan bertanya kepada Gio dan Reza.


"Iya, katanya mau dikenalin ke kita, lusa." jawab Reza sesuai rencana.


"Wiuss, anj*r, si Dhanu punya cewek juga." ucap Defan merasa bahagia.


"Oke, lusa gue kosongin jadwal buat lo."


Defan tidak curiga sama sekali. Dia terlalu bahagia mengetahui bahwa Dhanu sudah memiliki kekasih. Temannya bahagia, sudah pasti Defan ikutan bahagia.


****


Setelah pertemuan tak terduga itu. Ernes dan Cintya menjadi semakin dekat. Cintya juga berubah menjadi lebih baik. Dia sudah bukan Cintya yang dulu, yang sombong dan angkuh.


Kini, Cintya berubah menjadi Cintya yang lembut dan rendah hati. Dia menjadi seorang yang ramah sekarang. Meskipun tetap saja banyak orang yang menghinanya.


"Nggak usah dengerin omongan orang! Jadilah pribadi yang lebih baik!" pesan Ernes untuk Cintya.


Cintya semakin kuat setelah mendapat nasehat dari Ernes setiap harinya. Dia berubah menjadi ceria karena matanya telah terbuka. Dia mampu membedakan mana orang yang benar-benar peduli. Mana orang yang hanya cari muka saja.


Siang itu seperti biasa, Ernes dan Cintya sedang belajar bersama di halaman belakang kampus mereka. Disana ada banyak pohon yang cukup rindang dan teduh.


Ernes dan Cintya duduk di bawah pohon tersebut sembari belajar. Kebetulan kelas mereka juga sudah selesai dan masih enggan pulang ke rumah.


"Er, kenapa sih lo masih mau berteman sama gue? Padahal kan dulu gue udah jahat banget sama lo." tanya Cintya yang masih merasa bersalah ketika teringat masa-masa itu. Masa dimana dia dengan congkaknya merendahkan orang, membully orang semaunya.


"Karena gue yakin, setiap orang punya sisi baik dan jahatnya. Dan gue yakin, lo juga punya sisi baik." jawab Ernes.

__ADS_1


Cintya terus memperhatikan Ernes yang kembali fokus dengan tugasnya. Cintya berpikir jika Ernes membuka kacamatanya, pasti dia akan terlihat lebih cakep.


"Mau belajar atau mau lihatin gue mulu?" tanya Ernes tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya.


"Er, lo pernah nggak punya pacar? Atau seenggaknya, pernah suka sama cewek?" tanya Cintya lagi.


"Pernah." jawab Ernes singkat saja.


Ernes mulai mengangkat kepalanya. Dia memandang jauh ke depan diantara pepohonan yang rindang tersebut. "Dulu waktu gue masih kecil, gue belum tahu apa itu saudara, jadi gue selalu menganggap Aiko sebagai pacar gue, waktu kecil kita kan deket banget." ucap Ernes sembari mengingat-ingat masa kecilnya yang sangat indah.


"Gue merasa sedih saat Aiko menangis, gue kemudian bertekad buat jagain dia, dan rasa itu berubah menjadi rasa ingin memiliki Aiko seutuhnya." Cintya mendengarkan cerita Ernes dengan seksama. Meskipun dia agak terkejut, ternyata Ernes pernah menyukai sepupunya sendiri.


"Pada akhirnya kita semakin bertumbuh, gue tembak dia, tapi ditolak." lanjut Ernes sembari tersenyum kecil mengingat moment-moment terbodoh dalam hidupnya tersebut.


"Waktu itu kalau nggak salah gue kelas 2 SMP, dia kelas 3."


"Aiko bilang apa waktu dia nolak lo?" Cintya semakin penasaran dengan cerita masa kecil Ernes.


"Dia bilang. Kita tidak mungkin bersama, karena kita adalah saudara. Di darah kita mengalir darah yang sama."


"Gue tanya ke mama gue, dia juga bilang hal yang sama. Akhirnya gue lupain perasaan cinta gue ke Aiko, dan hanya menyisakan rasa sayang seorang kakak."


"Meskipun dia lebih tua dari gue, tapi dia anaknya adik papa gue, jadi seharusnya dia panggil gue kakak." pungkas Ernes sembari tersenyum.


"Apakah itu sebabnya, lo jadi cowok yang dingin banget?" tanya Cintya.


"Nggak sih. Gue ngerasa nggak dingin-dingin amat. Tapi mungkin itu turunan dari papa gue. Kata banyak orang papa gue itu orangnya dingin banget, di dunia bisnis, papa gue dijuluki orang bertangan dingin."


"Mama gue juga membenarkan. Dulu sebelum mereka menikah, mama gue yang kejar-kejar papa gue dari kecil sampai dewasa."


"Papa lo pasti waktu muda cakep banget kayak lo." seketika menolehlah Ernes saat tanpa sadar Cintya memujinya cakep.


"Sampai sekarang papa gue juga masih cakep, kalau gue sih biasa aja. Lo belum ketemu adik gue, dia jauh lebih cakep dari gue, mirip banget sama papa gue."


"Kapan-kapan boleh dikenalin dong?"


"Boleh." jawab Ernes sembari menganggukan kepalanya.


Setelah berteman dengan Cintya. Ernes menjadi lebih banyak bicara. Mungkin Ernes hanya ingin mengimbangi Cintya yang juga banyak bicara.


Dan setelah kenal lebih dekat dengan Ernes. Cintya tidak lagi merasa kesepian. Setiap kali dia terpuruk, Ernes ada dengan nasehat-nasehatnya. Dan itu membuat Cintya benar-benar lebih bahagia.

__ADS_1


__ADS_2