
Defan dan Vanka bertemu di halaman belakang sekolah. Mereka berdiskusi bagaimana caranya agar Gio mau pulang ke rumah. Baik Defan maupun Vanka merasa kasihan kepada mamanya Gio, belum lagi kakek Gio dan Defan jatuh sakit ketika tahu Gio pergi dari rumah.
Vanka sudah berusaha membujuk Gio setiap saat, tapi Gio masih belum mau pulang. Defan juga sudah membujuk dan memberitahu jika kakeknya sakit. Tapi Gio tetap tidak mau pulang.
"Van, bujuk Gio dong supaya mau pulang!" ucap Defan.
"Lah gue baru aja mau bilang gitu ke lo. Gue udah bujuk dia tapi dia masih belum mau pulang." Vanka bahkan sudah hampir menyerah menghadapi keras kepalanya Gio.
"Semalem, papa dan mamanya Gio ke rumah gue. Mereka memohon ke gue agar bujuk Gio pulang. Lah gue juga udah bujuk dari kemarin-kemarin, tapi Gio-nya yang nggak mau. Gimana dong? Mana mamanya Gio sampai memohon-mohon ke gue.." Vanka kembali teringat kejadian semalam.
Shaka dan Ines mendatangi rumah Vanka dan memohon agar Vanka mau membujuk Gio agar mau pulang. Tapi dari kejadian semalam yang membuat Vanka benar-benar merasa kasihan kepada Ines karena Ines sangat memohon dan bahkan bersujud di depannya.
Melihat kasih sayang Ines yang begitu besar ke Gio membuat Vanka menjadi kasihan. Vanka menekan emosinya terhadap Ines, dan berubah simpati kepadanya.
Vanka menemui Defan supaya Defan membujuk Gio. Tapi tahunya Gio tetap keras kepala.
Sebenarnya Vanka juga pusing dengan masalahnya sendiri. Belum lagi masalah Ira dan Akila yang sekarang diam-diaman. Kalau permasalahan itu Vanka jadi kurang tidur. Dia harus mendengarkan curhatan dari Akila dan Ira sampai larut malam. Ditambah sebentar lagi juga akan test tengah semester.
Vanka memegangi kepalanya dan hampir saja jatuh. Beruntung Defan menahannya, sehingga Vanka tidak jadi terjatuh.
"Lo kenapa Van?" tanya Defan sembari memapah Vanka ke bangku yang ada di depan mereka.
"Nggak tahu Def, pusing banget gue. Beberapa hari ini masalah gue banyak banget, kurang tidur juga. Mungkin masuk angin aja gue." jawab Vanka masih memegangi kepalanya yang terasa berat.
"Gue anter ke UKS ya?" tanya Defan lagi. Defan tahu masalah yang dihadapi Vanka. Belum lama dia kehilangan sahabatnya, lalu masalah Gio yang pergi dari rumah. Sedikit banyaknya Vanka pasti juga kepikiran Gio.
"Lo harus jaga kesehatan lo, Van! Jangan terlalu memikirkan masalah orang lain, lo juga pikirin kesehatan lo!" Defan menasehati Vanka.
"Maunya gitu Def, tapi gue nggak bisa, pasti kepikiran terus. Apalagi kalau Akila dan Ira curhatnya suka malam-malam, gue harus dengerin mereka karena gue nggak mau kehilangan teman lagi." jawab Vanka yang membuat Defan benar-benar kagum.
"Baik banget sih lo, beruntung banget tahu nggak Gio dapetin lo." ucap Defan tapi sembari tersenyum.
"Chika juga baik banget, dia anak sultan tapi nggak sombong sama sekali. Beruntung lo dapetin dia." balas Vanka.
"Iyalah, udah baik, cantik lagi, kalau nggak mana mungkin gue cinta." ucap Defan dengan tertawa kecil.
"Jangan sampai lo sakiti dia! Awas aja lo.." Vanka memukul pelan lengan Defan.
__ADS_1
"Iya."
Vanka kemudian berusaha berdiri lagi. Tapi ternyata dia masih belum kuat, kepalanya terasa sangat pusing sekali. Vanka hampir terjatuh kembali, tapi lagi-lagi Defan berhasil menangkap. Hanya saja kali ini posisi mereka yang kurang baik. Defan menarik Vanka yang hampir terjatuh, dan posisi Vanka dalam pelukan Defan.
Defan dan Vanka sempat saling pandang beberapa detik. "Makasih.." ucap Vanka pelan kemudian mengalihkan pandangannya.
Tapi tiba-tiba...
Bukkk!
Bukkk!
Tiba-tiba Gio muncul dan langsung memukul Defan sebanyak dua kali. Pukulan itu tepat mengenai hidung Defan, maka muncratlah darah segar dari hidung Defan.
"Gue nggak nyangka ternyata lo khianati kepercayaan gue!" Gio hendak memukul Defan kembali. Tapi dengan cepat Vanka menahan tangan Gio.
"Lo apa-apaan sih?" Vanka menahan tangan Gio.
Pada saat yang sama Chika juga muncul lalu menolong Defan yang berdarah hidungnya. "Lo nggak kenapa-napa Def?" tanya Chika.
Gio yang pikirannya kacau selama beberapa hari, akhirnya terprovokasi oleh perkataan Arina yang sangat menyakinkan. Itu sebabnya dia langsung marah tanpa bertanya, ditambah lagi saat melihat Vanka dalam pelukan Defan.
Akan tetapi berbeda dengan Gio. Respon Chika tidak terlalu berlebih. Dia sangat percaya kepada pacarnya dan juga Vanka yang sudah semakin akrab juga dengannya.
"Nggak apa kok, yank. Nanti gue jelasin semua ke lo.." Chika menganggukan kepalanya, dia memilih percaya kepada Defan. Dia yakin Defan tidak akan macam-macam di belakangnya, apalagi dengan pacar sepupunya.
"Lo belain dia? Lo suka sama dia? Oh gue tahu, mungkin lo nyesel tolak dia, karena sekarang gue kayak gini, lo nyesel milih gue?" tanya Gio dengan marah kepada Vanka.
"Apaan sih lo? Lo jadi aneh tahu nggak, Defan sepupu lo, nggak mungkin gue selingkuh sama dia." Vanka tentu membela dirinya. Dia merasa tidak aneh-aneh dengan Defan.
"Bener kata mama, lo bukan wanita baik-baik, lo sengaja mau hancurin persaudaraan gue dengan Defan."
Plakk!
Vanka sangat marah mendengar penilaian Gio terhadapnya. Apalagi Gio mengatakan bahwa Vanka bukanlah wanita baik-baik dan sengaja ingin menghancurkan persaudaraan Gio dengan Defan.
"Jadi itu penilaian lo terhadap gue?" tanya Vanka dengan melotot. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa marahnya.
__ADS_1
"Lebih baik kita jalani hidup masing-masing! Kita putus!" ucap Vanka yang membuat Gio sangat kaget dan terpukul.
"Van, kok jadi gini?" Defan juga kaget dengan keputusan Vanka. Dia tidak mau Gio dan Vanka putus.
"Van, mikirin lagi keputusan lo!" Chika juga berusaha menenangkan Vanka.
"Gue udah pikirin kok, Chik. Gue bukan wanita baik-baik, gue nggak pantes buat dia." sangat mengatakan itu hati Vanka terasa sakit. Suaranya juga terdengar emosi.
"Gue pergi dari rumah demi lo, demi perjuangin lo, gue rela lawan mama gue. Tapi ini balasan lo? Lo mau putus supaya lo bisa leluasa selingkuh dengan dia?" Gio semakin menggila, dia kembali menghajar Defan yang justru berusaha membelanya.
"Gio stop!!" Chika menghalangi Gio yang hendak memukul Defan.
"Jadi pulanglah, gue nggak pantes lo perjuangin! Carilah wanita yang baik menurut lo dan mama lo, yang pasti itu bukan gue!" Vanka menahan air matanya yang hampir jatuh.
"Ini balasan lo? Gue korbanin semua demi lo." Gio tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Sekarang nggak perlu lagi berkorban demi gue! Lo pulang saja, gue bukan lagi pacar lo.." ucap Vanka yang membuat hati Gio kembali tertusuk.
"Lo salah tapi nggak mau ngakuin salah, malah kayak gini. Lo pikir akan ngemis cinta lo? Nggak akan! Gue nggak akan ngemis cinta dari pengkhianat." sama seperti Gio, hati Vanka sangat tertusuk dengan perkataan Gio.
Tapi Vanka memilih untu tidak menjawab, dia berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Gio lagi. Hanya saja Vanka sempat meminta maaf kepada Defan dan Chika.
Gio terpaku ditempat dengan hati yang sangat terpukul. Dia berkorban segalanya demi Vanka, tapi pada akhirnya Vanka mutusin dia. Gio tidak mengejar Vanka karena hatinya terasa sakit sekali. Juga karena dia marah kepada Vanka yang memutuskan hubungan mereka begitu saja.
"Akh, brengs*k..." Gio memukul pohon yang ada tidak jauh dari dia. Pukulannya sangat keras sampai membuat tangannya berdarah.
"Gi, tangan lo.." Defan melihat tangan Gio yang berdarah.
"Pergi lo, gue nggak mau lagi punya saudara pengkhianat kayak lo!" Gio mengusir Defan yang berniat baik mengobati tangannya.
"Bawa pacar lo pergi dari sini Chik! Kalau nggak gue hajar lagi dia." ucap Gio ke Chika.
Karena Chika tidak mau melihat Defan dipukul lagi oleh Gio. Chika kemudian menarik tangan Defan, pergi dari tempat itu.
"Tapi Gio??" Defan masih tidak mau pergi tapi Chika terus menariknya.
"Udah biarin aja, dia perlu waktu sendiri.."
__ADS_1