
ON
Vanka memeluk Gio yang sudah berlinang air mata ketika mengingat kejadian di masa lalu. Vanka akhirnya tahu kenapa Gio bisa sedekat itu dengan Arina. Akan tetapi, sebagai sesama wanita. Vanka bisa melihat rasa yang tak biasa dari Arina ke Gio. Apakah Arina baper dengan kebaikan Gio untuknya.
"Jangan sedih lagi! Bukan salah lo kok, karena semua yang terjadi di dunia ini sudah diatur sedemikian rupa oleh Pencipta kita." Vanka terus memeluk Gio dan mengelus punggung Gio dengan lembut supaya Gio tidak terbawa emosi.
"Tapi Gi, meskipun begitu, lo sama Arina tetap bukanlah saudara kandung, jadi jangan terlalu deket, gue cemburu tauk.." ucap Vanka yang membuat Gio tersenyum walau dengan air mata yang masih membasahi pipinya.
"Gue udah bilangin Arin tadi supaya dia tahu batasannya sebagai temen. Nggak perlu khawatir ya! Meskipun gue janji akan jagain Arin tapi gue juga nggak mau kehilangan lo." Gio menangkup kedua pipi Vanka, menatapnya dengan lekat.
"Van, gue pertama kalinya jatuh cinta itu sama lo." imbuh Gio.
"Sejak kapan?" tanya Vanka.
"Nggak tahu. Mungkin sejak kita kenal lewat sosial media waktu itu. Arau kalau nggak waktu kita sering chattingan. Pokoknya setiap kali chat-an sama lo, gue merasa seneng banget, nyaman aja gitu rasanya." jawab Gio yang juga tidak tahu pasti kapan dia mulai jatuh cinta dengan Vanka.
"Jadi gue cinta pertama lo?" Gio dengan cepat menganggukan kepalanya.
"Dan gue berharap lo juga cinta terakhir gue." jawab Gio.
"Jalan kita masih panjang Gi. Kita jalani dulu aja, kita nikmati yang ada di depan kita saat ini, nggak usah memikirkan hal yang belum pasti!" Gio menganggukan kepalanya, dia kemudian memeluk Vanka dan dibalas pelukan oleh Vanka juga.
Vanka meminta Gio untuk makan terlebih dulu sebelum Vanka mengantar Gio pulang. Tapi Gio masih belum mau pulang. Dia masih ingin berduaan dengan Vanka.
Vanka mengajak Gio ke taman samping ruang tamu. Disana lah tempat favorit mereka ketika berduaan di rumah Vanka. Gio berbaring dipangkuan Vanka, sementara Vanka mengelus rambut Gio dengan lembut.
"Nanti mama lo nyariin."
"Mama pasti juga udah tahu kalau gue di rumah lo, Arin pasti juga udah ngomong ke mama." jawab Gio dengan santai.
"Yank, mama ingin cariin jodoh buat gue."
"Bagus dong, jadi lo nggak usah ribet cari jodoh, kenapa malah manyun?" tanya Vanka yang membuat Gio menjadi kesal. Bukannya cemburu tapi malah mendukung. Gio pun semakin manyun dibuatnya.
"Lo rela?" tanyanya masih dengan manyun.
"Kalau lo-nya mau, gue bisa apa?" Gio mencium Vanka dengan tiba-tiba.
"Hah..."
"Cuma lo yang gue mau.." ucap Gio lagi.
Vanka memukul lengan Gio dengan cukup keras. "Sakit yank.." erang Gio.
"Biarin aja!"
__ADS_1
Tak lama kemudian Gio kembali berbaring di pangkuan Vanka. Dia memejamkan matanya, ngantuk katanya. Vanka menatap Gio yang tertidur di pangkuannya. Tak pernah menyangka jika kekasihnya itu sangatlah tampan. Tidak heran jika banyak sekali wanita yang mendambakannya.
Gio terbangun saat menjelang sore tiba. Vanka menyuruh Gio untuk segera pulang, takutnya dia dicari mamanya. Tapi tetap saja Gio masih enggan pulang. "Bisa nggak sih nginep sini aja!" ucapnya.
"Nggak boleh dong, pulang ya! Gue anterin!" ucap Vanka membujuk Gio supaya mau pulang ke rumahnya sendiri.
Gio menganggukan kepalanya, meskipun sebenarnya dia masih mau dirumah Vanka. Tapi Gio juga tidak mau membuat mamanya khawatir.
Vanka hanya mengantar Gio sampai ke depan komplek perumahannya. Vanka kekeh tidak mau menganter lebih dari itu. Apalagi harus mampir ke rumah Gio terlebih dahulu.
"Masih takut sama mama?" tanya Gio sebelum keluar dari mobil Vanka.
"Bukan takut sih, tapi nggak mau ribut aja sama mama lo, ntar lo bingung harus bela siapa." canda Vanka.
"Gue nggak bela siapa-siapa sih, hanya gue lihatin aja, siapa yang menang itu yang gue dukung." jawab Gio tak kalah konyol.
"Sialan lo! Dosa lo kayak gitu sama mama lo." Vanka terbahak mendengar jawaban konyol Gio.
"Gue pulang dulu, jangan kangen!" ucap Gio membuka pintu mobil Vanka.
"Nggak, masih banyak cowok cakep ntar di jalan.." mendengar jawaban Vanka, Gio urung untuk keluar dari mobil. Dia kembali masuk ke dalam mobil Vanka dengan wajah yang manyun.
"Kok masuk lagi?" Vanka berusaha menahan tawanya.
"Gue nggak mau pulang. Gue mau sama lo terus, 24 jam!" ucap Gio dengan kesal.
"Janji dulu kalau lo nggak akan lirik cowok lain, mau dia cakep kayak Kim Taehyung atau kayak Lee Min Ho, lo nggak boleh lirik!" Vanka tertawa mendengar Gio menyebut artis Korea kesukaan Vanka. Mungkin karena saking seringnya Vanka melihat kedua aktor tersebut, Gio jadi hafal dengan kedua aktor favorit pacarnya tersebut.
"Iya bawel..." Vanka mencubit pipi Gio dengan gemas.
"Janji?" Vanka menganggukan kepalanya.
"Yaudah gue pulang dulu.. Hati-hati sayank." ucap Gio sembari mengecup pipi Vanka dengan tiba-tiba sebelum keluar dari mobil. Mulut Vanka ternganga menerima kecupan yang tak terduga dari Gio.
"Ih, dasar.." Vanka menyentuh pipi bekas kecupan Gio. Dia tersenyum senang setelah kemudian melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
****
Tanpa diduga, Heksa datang ke rumah Alfarezi. Tapi bukan untuk membahas kerja sama tapi hanya ingin main saja. Semenjak pertemuannya dengan Aiko waktu itu. Heksa tidak bisa melupakan Aiko. Dan sepertinya dia tertarik kepada Aiko.
Malam itu Alfarezi sedang makan malam bersama anak dan istrinya. Tapi tiba-tiba pembantunya memberitahu kalau ada tamu yang menunggu diluar. "Siapa mbak?" tanya Alfarezi.
"Pak Heksa katanya, tuan." Alfarezi memicingkan matanya. Tapi kemudian Alfarezi meminta pembantunya untuk membawa Heksa ke ruang makan. Alfarezi mengajak Heksa untuk makan sekalian sebelum membahas mengenai kerja sama mereka.
"Selamat malam pak Alfarezi, Ai, tante, hai dek." Heksa menyapa seluruh anggota keluarga Aiko.
__ADS_1
"Iya pak Heksa, mari ikut makan malam dengan kami!" Heksa ikut makan malam bersama dengan Alfarezi dan keluarganya.
"Makan yang banyak pak." ucap Kimora.
"Iya tante, tapi jangan panggil pak dong, panggil Heksa saja, kan diluar kantor." Heksa mencoba ingin lebih dekat dengan keluarga Aiko.
"Dek, aku dengar kamu suka olahraga, ini ada oleh-oleh buat kamu." Heksa memberi kotak bungkusan untuk Defan.
"Makasih kak." sahut Defan dengan senang.
"Ini buat kamu, Ai.. Kamu suka kpop kan.." Heksa juga memberi bingkisan untuk Aiko.
"Kak Heksa ah repot-repot, btw makasih ya kak.." ucap Aiko juga merasa senang.
"Aduh malah ngerepotin pak Heksa." ucap Alfarezi tidak enak hati.
"Enggak kok om, em, boleh kan aku panggil om kalau diluar kantor?" tanya Heksa kepada Alfarezi.
"Boleh.. Iya boleh.." jawab Alfarezi agak canggung sebenarnya dengan perkataan Heksa.
Setelah selesai makan malam, Alfarezi mengajak Heksa untuk membahas kerja sama mereka. Tapi ternyata kedatangan Heksa bukan karena ingin membahas kerja saja melainkan ingin bertemu dengan Aiko.
"Aiko?" Alfarezi dan Kimora sempat terkejut mendengar perkataan Heksa.
"Aku?" Aiko pun juga terkejut dibuatnya.
"Iya, aku pengen ngobrol aja sama kamu, boleh kan?"
"Bo... boleh sih.. kalau gitu kita ngobrol di taman depan aja!" Aiko mengajak Heksa untuk keluar.
Disana Heksa berkata kalau dia sangat senang bisa ngobrol dengan Aiko. Heksa juga menceritakan mengenai hubungannya dengan papa dan mamanya.
Mama dan papanya Heksa sudah lama berpisah. Mamanya pergi meninggalkan Heksa ketika Heksa masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Heksa adalah anak tunggal, tapi semenjak mamanya pergi, Heksa sudah tidak mendapat kasih sayang yang utuh dari papanya. Papanya sibuk bekerja dan jarang pulang ke rumah.
Ada yang bilang jika papanya sering gonta ganti wanita. Tapi Heksa tidak percaya kalau belum melihatnya langsung.
"Aku kangen sama mama." ucap Heksa dengan sedih.
"Yang sabar ya kak, semoga kak Heksa bisa cepat ketemu mamanya kak Heksa." ucap Aiko menyemangati Heksa.
"Lihat kamu sama keluarga kamu, aku jadi keinget mama aku, dia juga perhatian banget sama kayak mama kamu."
"Kak Heksa nggak coba cari mama kak Heksa?"
"Udah, tapi hasilnya nihil.. Mama nggak punya siapa-siapa disini, dia anak yatim piatu dan bukan asli orang sini."
__ADS_1
"Oh, yang sabar ya kak.." hanya itu yang bisa Aiko katakan untuk menyemangati Heksa. Tentunya Aiko bersyukur memiliki keluarga yang saling menyayangi, mama dan papa yang sangat perhatian ke anak-anaknya. Papa yang begitu sangat mencintai keluarga. Jadi dia dan adiknya tidak kekurangan kasih sayang keluarga.