Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
54


__ADS_3

Gio pulang ke rumah dengan wajah lesu. Tentunya itu membuat mamanya kembali khawatir. Apalagi dia baru aja dapat telepon dari Alfarezi yang memberitahu kondisi Gio saat ini.


"Gi, kata om Alfa, kepala kamu sakit lagi?" tanya Ines panik.


"Iya ma, tapi udah diobati kok." jawab Gio dengan tersenyum. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu kepada mamanya.


"Syukurlah, mama kan udah bilang kamu harus banyak istirahat, jangan ke sekolah dulu!" Ines kembali menegur anaknya yang terlalu bandel, tidak mau mendengarkan nasehat mamanya.


"Kamu udah makan belum? Makan yuk!" ajak Ines sembari menggandeng anaknya ke meja dapur.


Ines melayani anaknya dengan mengambilkan makanan untuk putra bungsunya itu. Melihat Gio yang tersenyum kepadanya, membuat Ines menjadi ikut bahagia. Dia yakin Gio sudah melupakan amarahnya tadi pagi.


"Makan yang banyak ya!" ucap Ines dengan bahagia.


"Ma, aku tadi berantem sama Vanka." ucap Gio yang membuat Ines merasa senang.


"Berantem kenapa?" tapi Ines berpura-pura seolah simpati kepada anaknya. Padahal dia sebenarnya senang.


"Aku marahin dia karena udah berani sama mama." jawab Gio semakin membuat mamanya senang.


"Kamu marahin Vanka demi mama?" Ines sangat senang sekali. Akhirnya anaknya mau mengerti perasaannya.


"Iya, biar bagaimanapun mama kan orang tua aku. Dia harus bisa hormati mama, kalau dia nggak mau, ya udah aku marahin aja dia, aku juga putusin dia." ucap Gio dengan sangat meyakinkan.


"Bener itu nak, wanita yang tidak bisa hormat sama orang tua memang tidak pantas untuk kamu. Uh, mama seneng banget deh, akhirnya kamu sadar juga. Nggak perlu sedih ya, masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih baik dari dia." ucap Ines merasa sangat bahagia sekali.

__ADS_1


"Bener ma, kayaknya dia juga punya maksud tersembunyi pacarin aku." Gio terus memancing mamanya. Dia ingin denger sendiri dari mulut mamanya, apakah yang dikatakan Defan dan Vanka itu beneran.


Karena jujur, Gio masih agak nggak oercaya dengan apa yang dia denger tentang mamanya. Makanya Gio sengaja melakukan sandiwara ini.


"Em, itu sih mama udah tahu dari awal. Mama juga udah tegur dia, eh, malah dia bilang kalau di kota ini bukan hanya keluarga kita aja yang kaya, kan nyebelin banget ya?" Ines nyerocos gitu aja tanpa terkontrol.


"Jadi mama udah tahu?"


"Iya, mama juga suruh dia jauhin kamu, mama nggak mau lah kamu bersama wanita yang hanya ngincer harta kita aja.." jawab Ines tanpa sadar jika Gio hanya memancingnya untuk mengakui apa yang telah dia perbuat ke Vanka sehingga membuat Vanka sampai murka.


Brakkkk..


Gio menggebrak meja dengan cukup keras dan apa yang dia lakukan itu cukup mengagetkan mamanya. Ines menatap wajah Gio yang sudah sangat marah.


"Gio nggak nyangka mama jadi kayak gini sekarang. Mana mamanya Gio yang paling baik, paling pengertian, dan paling sayang sama Gio?" tanya Gio dengan ekspresi wajah kecewa.


"Mama lakuin ini karena mama sayang sama kamu, Gio.."


Ines mendekati Gio dan mencoba meraih wajah anaknya untuk menenangkannya. Tapi Gio menghindar dengan menjauhkan wajahnya dari jangkauan mamanya.


"Mama belum kenal siapa Vanka, jadi tolong jangan berasumsi yang berlebihan terhadap Vanka. Dia gadis yang baik." ucap Gio masih menahan amarahnya.


"Dia bahkan bisa buat kamu lawan mama, kamu bilang dia gadis yang baik? Dia sengaja cerita ke kamu supaya kamu marah ke mama, mama tahu itu." Ines masih saja tidak mau mengakui kesalahan. Dia terus memojokan Vanka dan menganggap semua adalah salah Vanka.


"Dia bahkan tidak mau menjawab apa yang telah mama perbuat waktu Gio tanya ke dia. Gio justru tahu itu dari Defan, bahkan Defan juga kaget, mama bisa hina orang seperti itu. Kata Defan itu bukan tante Ines." Gio tidak bisa marah meskipun dia ingin. Dia masih ingin menghargai dan menghormati mamanya, meskipun dia sudah sangat geram dengan perubahan mamanya.

__ADS_1


"Mama... mama hanya nggak mau kamu terluka. Lihat kepala kamu, kamu juga harusnya masih ingat pertengkaran kamu dengan Defan beberapa waktu lalu. Itu semua terjadi karena wanita itu." Ines bahkan terbata-bata saat menjelaskan apa maksudnya melakukan semua itu.


"Antara aku sama Defan itu hanyalah salah paham, dan masalah luka di kepala ini, itu bukan salah Vanka. Gio yang ingin melindungi dia." ucap Gio sebenarnya udah capek ngejelasin semuanya kepada mamanya. Karena berapa kalipun dia menjelaskan, hasilnya akan tetap sama.


"Sebenarnya kenapa sih mama nggak suka sama Vanka? Gio ingat banget, pertama ketemu dengan Vanka, mama terlihat sangat menyukai dia, beberapa waktu yang lalu juga, mama bilang restuin hubungan kita, kenapa mama begitu cepat berubah." Gio yakin bukan hanya masalah itu saja, alasan mamanya tidak menyukai Vanka. Gio merasa ada hal yang lainnya, yang mamanya sembunyikan.


Ines terdiam dengan pertanyaan Gio itu. Tidak mungkin kan Ines akan jelasin ke anaknya mengenai ketakutan atau traumanya dia pada dirinya sendiri. Yang menurut Ines, Vanka bisa menjadi seperti dirinya waktu masih muda. Yaitu membuat persaudaraan Alfarezi dan Shaka sempat tidak akur.


Tidak mungkin juga Ines menceritakan masa lalunya yang silam kepada anaknya. Karena masa lalu itu berkaitan dengan papanya dan juga om-nya. Ines tidak mau luka yang sudah lama terobati itu akan kembali tergores lagi.


Kedua keluarga itu sudah bahagia dengan keluarga masing-masing, dan telah menjadi sebuah keluarga yang saling menyayangi dan mendukung satu sama lain.


"Udahlah, Gio juga nggak butuh jawaban mama. Yang pasti Gio akan selalu mencintai Vanka, karena dia yang bisa buat Gio bahagia." ucap Gio kemudian meninggalkan mamanya yang masih melamun, sepertinya dia ingat masa lalunya yang kelam.


Karena sejujurnya, Ines sangat membenci dirinya yang dulu. Meskipun dulu dia melakukan itu juga karena terpaksa. Tapi tetap saja itu membekas di dalam hatinya.


Seperti itu yang Ines takutkan. Dia takut Vanka akan menjadi Ines kedua untuk anaknya maupun keponakannya. Dia tidak ingin keluarga yang harmonis itu akan hancur karena permasalahan orang luar.


"Maafin mama, mama nggak mau lihat kamu dan Defan musuhan seperti papa dan om kamu dulu." gumam Ines sembari mengusap wajahnya. Sepertinya Ines juga menyesal telah melakukan hal seperti itu kepada anaknya.


Tapi dia juga tidak ingin melihat permusuhan yang kedua kalinya. Suaminya dan Alfarezi baru saja bisa menerima satu sama lain setelah anak-anak mereka besar.


Karena tidak mau anak-anak mereka mengikuti jejak papanya, Alfarezi dan Shaka memutuskan untuk melupakan yang terjadi masa lalu. Supaya keluarga mereka bisa menjadi keluarga yang harmonis, dan anak-anak mereka bisa dekat layaknya keluarga.


"Maafin mama.." gumamnya lagi dengan sedih. Sebenarnya, sebagai seorang ibu, Ines tidak tega melihat anaknya bersedih. Sebagai seorang ibu dia ingin melihat anaknya bahagia. Tapi ketakutan di dalam hatinya membuat dia menutup akal sehatnya.

__ADS_1


__ADS_2