Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
91


__ADS_3

Ines menemui Rania dan membahas mengenai perjodohan anak-anaknya. Awalnya Rania masih mengira jika Ines akan tetap menjodohkan anak-anak mereka. Rania yakin, pertemuan itu untuk mempercepat perjodohan keduanya secara resmi.


Akan tetapi, Rania kaget bukan main karena pada akhirnya Ines memutuskan untuk membatalkan perjodohan antara Arina dan juga Gio. "Maaf jeng, sebaiknya kita batalin aja perjodohan Arina dengan Gio. Aku ingin anakku bahagia." perkataan Ines tersebut membuat Rania marah.


"Jadi menurut jeng Ines, Gio tidak akan bahagia jika bersama dengan Arin?" tanya Rania dengan marah.


"Iya, karena Gio tidak mencintai Arina. Aku tidak mau memaksa dia lagi, hidup dan kebahagiaan Gio lebih penting dari apapun." jawab Ines dengan yakin. Ines seolah tidak peduli jika Rania marah karena keputusannya.


"Maaf jeng, Arina anak yang baik, aku yakin dia akan mendapat jodoh yang baik dan yang pasti mencintai dia." imbuh Ines.


Rania ingin sekali marah dan mengumpat Ines. Tapi dia tahu bahwa Ines orang yang terpandang. Jika dia melakukannya, dia akan benar-benar kehilangan kesempatan dekat dengan Ines. Kemudian Rania memilih untuk menahan amarahnya.


"Nggak apa-apa, aku paham kok jeng. Kebahagiaan anak emang yang paling utama." ucap Rania menelan rasa kecewanya. Selangkah lagi dia bisa menjadi besan seorang konglomerat, tapi ternyata semua itu hanyalah ilusinya.


Ines tidak mau lagi berlama-lama dengan Rania. Setelah mengatakan maksud dan tujuannya, Ines langsung berpamitan. "Kalau gitu aku duluan ya jeng!" ucap Ines bangkit dari tempat duduknya.


Setelah pergejolakan batin cukup lama. Ines akhirnya merasa lega telah melakukan sesuatu yang mampu membuat anaknya bahagia. Karena itulah keinginan anaknya dari dulu.


Setelah Ines pergi, barulah Rania mengumpat Ines. Dia menganggap Ines, orang yang tidak konsisten. Dia juga merasa Ines telah mempermainkannya.


"Kalau aja dia bukan istri konglomerat, udah aku jambak dan maki-maki dia." ucap Rania seorang diri.


Rania kemudian pulang. Dia meminta Arina untuk terus mendekati Gio dan Ines. Bahkan Rania menyuruh Arina mencari simpati Gio menggunakan nama saudara kembarnya. Dia tahu, Gio akan kembali merasa salah ketika teringat Aleno.


"Kamu harus cari simpati mereka! Pokoknya kamu harus buat mereka kembali bersalah atas kematian Aleno! Atau kamu mau kehilangan Gio untuk selamanya!" ucap Rania mempengaruhi Rania.


Akan tetapi, Arina hanya terdiam. Dia terlalu terpukul ketika tahu Ines yang telah membatalkan perjodohannya. Arina mengira jika Ines meyayangi dirinya. Tapi siapa sangka Ines malah yang membatalkan perjodohan yang dia atur sendiri.


"Tante Ines batalin perjodohan aku?" gumam Arina dengan tersenyum yang ambigu.


"Aku nggak percaya. Tante Ines sayang sama aku, nggak mungkin dia lakuin ini. Nggak mungkin!!" sesaat kemudian Arina menangis semabari memegangi kepalanya. Dia masih belum percaya jika Ines sendiri yang telah melakukan hal tersebut.


"Nggak mungkin!!" Arina menghancurkan barang-barang yang ada di kamarnya lagi.

__ADS_1


"Arin!" seru Rania mencoba menghentikan Arina yang semakin menggila.


Rania memanggil assisten rumah tangganya untuk meminta bantuan agar membantu memegangi Arina. Sementara Rania mencari obat yang selama ini di konsumsi oleh Arina.


"Pegangin dulu mbak!" ucap Rania.


Tak lama kemudian dia memaksa Arina membuka mulut dan memasukan obat ke dalam mulut Arina. Seketika Arina menjadi tenang. "Arin nggak mau kehilangan Gio, ma. Arin cinta sama Gio." lirih Arina di dalam pelukan Rania.


"Mama tahu, makanya kamu harus cari cara untuk menarik simpati Gio dan mamanya!" Rania memeluk kepokanan yang kini menjadi anak angkatnya itu sampai Arina tertidur dalam pelukan mamanya.


Rania menatap iba kepada anak angkatnya tersebut. "Aku harus cari cara lain.." gumamnya sembari menatap kasihan kepada Arina.


****


Disisi lain. Ernes yang mendengar kabar jika Aiko akan segera menikah mulai menjadi galau. Antara rela atau enggak. Benar, dia memang telah mencoba melupakan perasaannya ke Aiko. Tapi mendengar Aiko akan menikah, perasaannya menjadi kacau.


Ernes menyendiri di teras samping rumahnya yang berbatasan langsung dengan kolam renang. Kaki Ernes di masukan ke dalam kolam renang, sementara dia sepertinya memikirkan banyak hal.


Sesekali dia akan terjun ke kolam renang. Kemudian dia akan kembali menepi, dan melamun kembali.


"Apaan sih lo. Lo harusnya bahagia lihat dia bahagia." gumam Ernes lagi seorang diri.


Sudah dua jam lebih Ernes hanya seperti itu-itu terus. Sampai akhirnya Gio melihatnya ketika dia hendak ke dapur karena lapar.


Melihat kakaknya berenang sendiri dan melamun. Gio pun mulai mendekati kakaknya. "Woiiii, ngalamun aja lo.." Gio mengagetkan Ernes yang melamun.


"Nj*r, bikin kaget aja."


"Lo kenapa kak, kayak galau gitu? Lo ditolak kak Cintya, ya?" tanya Gio yang malah mendapat pukulan dilengannya.


"Cintya apaan, nggak, gue yang malah nolak dia." Ernes baru ingat, setelah dia menolak cinta Cintya. Cintya mulai berubah, dan sepertinya Cintya sedang dekat dengan cowok lain. Beberapa hari lalu Ernes melihat Cintya dijemput oleh salah satu teman kelas Cintya.


"Lo tolak dia? Cewek yang lo suka tuh kayak siapa sih? Semuanya lo tolak, heran.." Gio yang jadi kesal sendiri karena kakaknya kembali menolak cinta seorang wanita yang cantik dan baik kayak Cintya.

__ADS_1


"Dia udah punya cowok baru kayaknya."


"Iyalah, lo kan udah tolak dia, dia pasti cari cowok lagi yang mau sama dia, ngapain nungguin lo yang udah tolak dia."


"Gue nggak suka sama dia. Masa iya gue terima dia."


"Cewek seperti apa sih yang lo suka?" Gio ikutan memasukan kakinya ke dalam air dan kemudian duduk di sebelah kakaknya.


Ernes terdiam. Dia tidak menjawab pertanyaan adiknya. Selama ini, yang tahu tentang perasaannya hanya Aiko dan juga Cintya. Gio dan orang tuanya tidak tahu kalau dia sempat memiliki perasaan lebih ke Aiko.


"Kak Aiko udah mau nikah, lo boro-boro nikah, cewek aja belum punya, ntar keduluan sama gue!" ucap Gio lagi karena kakaknya tidak menjawab pertanyaan sebelumnya.


"Lo mau nikah?"


"Iyalah, masa nggak nikah."


"Sekolah dulu yang bener! Punya penghasilan sendiri, setelah itu baru mikirin nikah! Sekolah aja masih berantakan mikirin nikah." Ernes yang gemes dengan adiknya pun mendorong adiknya sampai terjungkal di kolam renang.


Byurr!!!


Gio kaget karena kakaknya mendorongnya ke air. Gio yang kesal pun kemudian menarik kaki kakaknya dan mereka pada akhirnya ribut di dalam kolam renang. Tapi bukan berantem, hanya ribut dan saling tarik menarik.


"Lomba renang yuk kak! Kalau gue kalah, gue traktir lo, kalau gue menang, lo harus traktir gue sama Vanka." tantang Gio.


"Kok curang? Masa kalau gue kalah gue harus traktir kalian berdua,"


"Terima aja nasib jomblo!" ledek Gio yang membuat Ernes sedikit kesal karena diledek oleh adiknya.


"Ya hina aja terus, yang penting kan nggak nangis waktu putus.." giliran Ernes menyindir adiknya.


"Nj*r, lo belum tahu sih rasanya kehilangan seseorang yang lo cinta." ucap Gio yang sebenarnya agak malu diledek kakaknya seperti itu.


"Gue pernah, dan sebentar lagi gue harus ikhlasin dia dengan cowok lain." lirih Ernes yang sepertinya hanya mampu dia dengar sendiri. Karena setelah itu Gio bertanya apa yang kakaknya katakan.

__ADS_1


"Pernah apa sih kak, kok nggak jelas lo ngomong apa?" tanya Gio penasaran.


"Nggak apa-apa, yuk, katanya mau lomba renang!" Ernes masih belum siap menceritakan kegelisahan hatinya kepada adiknya.


__ADS_2