
Riska magang di perusahaan Alfarezi. Dia juga berusaha mencari perhatian Alfarezi. Bahkan secara sengaja menabrakan diri ke mobil Alfarezi. Karena dia sudah tidak memiliki cara lain lagi untuk mendekati Alfarezi.
Pasalnya, Alfarezi bersikap sangat dingin kepadanya. Padahal terhadap karyawannya yang lain, Alfarezi juga seperti itu. Tapi, bagi Riska itu dianggap sebagai tantangan. Dia menggunakan kecantikannya untuk memikat hati Alfarezi.
Ivan tiba-tiba menginjak rem karena seseorang berlari ke arah mobil yang dia kemudikan.
Ciiittt!
"Kamu bisa hati-hati nggak?" tanya Alfarezi dengan marah.
"Maaf bos, tapi ada seseorang yang berlari ke arah mobil." ucap Ivan dengan panik.
Alfarezi membulatkan matanya mendengar perkataan Ivan. Kemudian dia meminta Ivan keluar dari mobil untuk melihat orang tersebut. "Coba lihat keluar!" perintahnya.
Tanpa membantah, Ivan pun keluar untuk melihat seseorang tersebut. Tapi ternyata Riska memang sangatlah pintar. Dia tahu jika Alfarezi tidak akan mempedulikan dia. Jadi, Riska berpura-pura pingsan. Dengan begitu, mau tidak mau Alfarezi akan membawanya ke masuk ke mobilnya.
Ivan kaget melihat Riska yang pingsan di depan mobilnya. Supaya tidak menimbulkan keributan yang tidak perlu. Ivan mengangkat Riska dan membawanya ke dalam mobil.
Alfarezi kembali terkejut saat melihat Ivan membopong seorang perempuan dan memintanya untuk membuka pintu. "Maaf bos, tapi kita harus membawa dia ke rumah sakit terdekat, nona ini pingsan di depan mobil kita." ucap Ivan berusaha memasukan Riska ke dalam mobil.
Kemudian Alfarezi keluar dari mobil. Dia pindah tempat duduk disebelah Ivan. Dan Riska dibiarkan terbaring sendiri di belakang. Karena Ivan juga menolak untuk menemani Riska. Ivan lebih memilih tetap pada tugasnya, yaitu menjadi sopir.
"Dia bukannya temannya Aiko yang magang di kantor?" tanya Alfarezi melirik Riska yang terbaring sendiri di kursi belakang.
"Iya bos." Alfarezi hanya tersenyum kecil. Dia paham trik yang Riska gunakan.
Sebelumnya, sudah ada lebih dari lima wanita yang melakukan hal yang sama untuk memikat hatinya. Akan tetapi, tidak ada satu wanita pun yang mampu menerobos ke dalam hati Alfarezi. Karena dia sangat mencintai istri dan keluarganya.
Mengingat anak-anaknya yang sudah dewasa. Alfarezi tidak mau main-main dengan perempuan muda diluar rumah. Dia takut anak-anaknya akan kecewa dan lebih parahnya akan membencinya.
Ivan sebenarnya juga paham trik seperti itu. Dia sudah lama ikut dengan Alfarezi. Dia tahu beberapa wanita yang berusaha mendekati Alfarezi. Apalagi Ivan juga tahu jika Riska adalah pacar dari salah satu klien Alfarezi.
Sebelum sampai di rumah sakit terdekat. Riska pura-pura tersadar. Dia berlagak kaget karena berada di dalam mobil Alfarezi.
__ADS_1
"Uh.." Riska membuka matanya kemudian berakting linglung.
"Aku dimana?" gumam Riska berusaha bangkit.
Hanya saja, Alfarezi dan Ivan sudah sangat hafal dengan trik seperti itu. Mereka berdua saling melirik dan tersenyum geli. "Kamu sudah sadar?" tanya Ivan yang masih terlihat geli.
"Kok aku bisa ada di mobil pak Alfarezi kan ini?" tanya Riska berpura-pura tidak kaget.
"Iya, tadi kamu hampir tertabrak mobil bos Alfa, lalu kamu pingsan, kita lagi mau bawa kamu ke rumah sakit." Ivan yang terus bicara, seperti dia adalah juru bicara Alfarezi.
"Huh, tidak usah. Aku udah nggak kenapa-napa kok. Mungkin aku pingsan karena aku lapar, dari pagi belum makan." jawab Riska dengan maksud tersirat.
"Berhenti di kafe depan, Van! Kita makan siang dulu!" sahut Alfarezi.
"Baik bos."
Mendengar itu, diam-diam Riska tersenyum. Dia merasa rencana pertamanya berhasil. Dia tidak tahu aja kalau Alfarezi sudah menebak semua rencananya. Istilah yang tepat mungkin kalau Riska pemain, Alfarezi pelatihnya.
"Om, eh pak, makasih karena udah ajak aku makan siang." ucap Riska.
"Iya, salah sopir saya juga yang nggak berhati-hati. Anggap aja ini sebagai ucapan minta maaf saya." jawab Alfarezi.
"Kamu temannya Aiko kan ya? Dan kalau nggak salah, kamu juga pacar papanya Heksa kan?" Riska terdiam, dia hanya menganggukan kepalanya saja.
"Kenapa nggak magang di perusahaan pacar kamu?"
"Sebenarnya aku sangat tertekan om pacaran sama dia. Dia orangnya sangat pemarah, suka main tangan."
"Tapi kan uangnya banyak." Alfarezi sudah merasa loss. Dia udah tidak menahan lagi seperti pertama.
"Benar. Tapi aku nggak bahagia."
"Kalau nggak bahagia kenapa kamu lakuin? Kamu seusia anak saya, masa depan kamu masih panjang, kamu juga cantik, kenapa nggak cari yang pacar yang lebih muda?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Alfarezi tersebut, Riska menjadi menangis. Tidak tahu, tiba-tiba air mata Riska mengalir begitu aja. Riska sampai tersedu-sedu, seperti dia sedang merasakan kesakitan yang terlalu dalam.
Tangisan Riska tersebut membuat Alfarezi menjadi kasihan. Alfarezi bisa melihat jika tangisan itu tidaklah dibuat-buat. Alfarezi melihat emosional yang sangat dalam di dalam tangisan Riska. Seperti dia menyimpan sesuatu yang hanya bisa dia pendam sendiri.
Alfarezi juga terdiam. Dia sengaja membiarkan Riska menangis, menuangkan amarahnya dalam tangisan, menumpahkan semua hal yang dia pendam melalui air mata.
Karena, disaat mulut tidak bisa berkata. Maka hanya air matalah yang menjelaskan semuanya. Segala kesedihan, kepahitan tertuang dalam air mata.
Setelah cukup menangisnya dan lebih tenang. Riska meminta maaf kepada Alfarezi karena menangis di depan Alfarezi.
"Its ok." ucap Alfarezi.
"Aku emang seumuran dengan anak om. Tapi aku nggak seberuntung anak om." ucap Riska dengan tersenyum kecil.
"Aiko memiliki orang tua yang utuh, dan juga kaya raya. Sedangkan aku? Aku nggak seberuntung dia. Aku sudah tidak punya orang tua lagi, aku pacarin orang tua itu karena aku butuh biaya untuk menghidupi diri aku sendiri." Riska terdengar sangat emosional ketika mengungkapkan unek-uneknya.
"Ya kamu kerja, kamu kan masih muda. Begitu orang sering bilang ke aku. Tapi pernah nggak kalian mikir, pekerjaan apa yang cocok untuk aku yang harus menghidupi diri sendiri dan masih kuliah?"
"Aku tahu apa yang aku lakuin ini salah, tapi aku juga harus realistis, kalau bukan dengan cara ini, gimana aku bisa menghidupi diri aku sendiri? Sedang orang lain hanya bisa mengomentari dan nyinyir tanpa memberi solusi?" lanjut Riska.
Alfarezi menatap wanita muda yang seumuran dengan anak perempuan tersebut dengan iba. Dia tidak membenarkan apa yang Riska lakukan. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Riska, karena apa yang Riska pikirkan memang realistis.
"Maafin om kalau nyinggung perasaan kamu." ucap Alfarezi mulai bersimpati kepada Riska.
Alfarezi melihat amarah yang dalam ketika Riska bercerita. Dia bisa memastikan jika Riska memang berbicara apa adanya, dan bukan sebuah trik.
"Nggak apa kok om, aku sudah bisa mendengar kritikan seperti itu, tapi aku anggap aja angin lalu. Karena mereka tidak tahu apa yang aku rasakan, dan tidak mengalami seperti aku." jawab Riska kembali menghapus air matanya. Riska sendiri juga bingung, kenapa dia bisa mengungkapkan begitu banyak unek-unek kepada Alfarezi.
"Meskipun banyak diluar sana yang kayak aku dan lebih memilih mempertahankan harga diri mereka. Ya biarin aja, itu pilihan mereka dan ini pilihan aku." imbuh Riska.
Tidak ada yang bisa mengatur kehidupan seseorang. Karena kebahagiaan itu hanya diri kita sendiri yang menciptakan. Dan semua orang tidak sama dalam menanggapi kehidupan. Mereka punya cara sendiri untuk menikmati hidup. Kita hanya perlu menghargai apapun yang mereka lakukan tanpa menghakimi. Karena kita mungkin tidak lebih baik dari mereka. Dan juga, kita mungkin tidak bisa sekuat mereka jika di dalam posisi mereka.
So, hargai orang karena itu tahta tertinggi dalam sebuah kehidupan.
__ADS_1