Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
68


__ADS_3

"Gi, gue minta maaf masalah semalam." Arina tidak bisa di diamkan Gio terlalu lama. Dia mulai mendekati Gio ke mejanya. Akan tetapi Gio masih belum mau bicara dengan Arina.


Setelah berpikir semalaman, Gio akhirnya sadar bahwa ternyata Arina memiliki perasaan kepadanya. Buktinya dia mau menerima perjodohan tersebut, padahal sudah tahu kalau Gio punya pacar.


Jadi, kecemburuan Vanka selama ini tidaklah tanpa alasan. Dia sudah tahu dari awal bahwa Arina memiliki perasaan khusus untuknya. Bukan sebagai teman atau kakak, melainkan perasaan cinta.


"Gi, tolong jangan marah ke gue! Gue udah kehilangan kakak gue, gue nggak punya siapa-siapa selain tante Rania dan lo." ucap Arina dengan sedih.


Gio mulai tersentuh dan merasa kasihan kepada Arina. "Gue bukannya marah, tapi cuma kecewa aja sama lo." jawab Gio mulai luluh.


"Lo bilang ke mama ya kalau lo nggak mau dijodohin!" pinta Gio kepada Arina.


"Iya, nanti gue bilang ke tante Ines." Arina memilih untuk menuruti kemauan Gio terlebih dulu. Yang terpenting Gio tidak marah dan benci padanya. Itu akan lebih mudah untuk menarik perhatian Gio.


"Beneran?" Arina menganggukan kepalanya.


"Makasih ya Rin. Oh ya, maaf, semalam gue bentak lo." ucap Gio kegirangan. Dalam pikiran Gio, karena Arina menolak perjodohan itu, maka mamanya akan segera menyerah.


Akan tetapi Gio tidak tahu apa yang telah Arina rencanakan dengan tantenya.


"Rin, ntar pulang sekolah jalan yuk!" ajak Dhanu. Dia sudah dari dulu memang menyukai Arina. Tapi sampai sekarang belum berani mengungkapkan.


"Kemana?" tanya Arina.


"Kemana gitu yang penting sama lo." ucap Dhanu lagi.


Arina tersenyum sembari menganggukan kepalanya, tanda dia mau diajak jalan oleh Dhanu. Dan itu membuat Dhanu jadi kegirangan. Akhirnya dia berhasil ajak Arina jalan berdua.


"Wuih, kalian mau ngedate? Kayaknya usaha lo selangkah lebih maju." sambut Gio yang merasa bahagia karena usaha Dhanu untuk mendekati Arina tidaklah sia-sia.


"Apaan sih Gi, kita cuma mau jalan-jalan kan Dhan?" tanya Arina yang membuyarkan lamunan Dhanu.

__ADS_1


"Eh,, iya cuma jalan-jalan aja kok." jawab Dhanu merasa gugup.


"Eh, cieee..." Reza menjitak kepala Dhanu sembari tertawa. Dan itu semakin membuat Dhanu merasa malu.


Sedangkan Defan berpikiran berbeda dengan yang lain. Dia seperti melihat ada sesuatu yang aneh. Defan sudah tahu, sedari dulu Dhanu memang menyukai Arina. Dan Dhanu juga bahkan sudah berusaha mendekati Arina, meskipun tidak mengungkap secara langsung. Tapi Defan ingat betul, Arina selalu aja menolak ajakan Dhanu waktu itu.


Tapi kenapa sekarang dia berubah. Apakah setelah kepergiaannya beberapa waktu lalu, dia memikirkan tentang perasaan Dhanu kepadanya.


"Kenapa sih yank?" tanya Chika yang tahu betul jika kekasihnya tersebut sedang memikirkan sesuatu hal.


"Lo merasa aneh nggak sih yank? Dulu Arina selalu menolak ajakan Dhanu, tapi sekarang kenapa dia langsung mau begitu aja ketika diajak Dhanu." ucapnya masih merasa aneh.


"Mungkin waktu dia pergi, dia memikirkan tentang perasaan Dhanu." jawab Chika masih berpikiran positif, karena biar bagaimana pun dia dan Arina sangat akrab dulu.


"Tapi pandangan matanya ke Gio tuh beda loh yank. Setiap kali melihat Gio dia seperti orang yang jatuh cinta. Lihat aja sendiri!" Defan meminta Chika untuk melihat Arina yang sedang memandangi Gio dengan kagum.


Chika pun menoleh, dia setuju dengan apa yang Defan katakan. Tatapan mata Arina ke Gio itu sangatlah dalam, seperti tatapan seseorang yang sangat mencintai atau mengagumi seseorang.


"Tapi bukankah dulu dia suka sama kakaknya Gio yak?" tanya Chika kembali mengingat masa lalu mereka.


"Jangan sampai Vanka tahu masalah ini, nanti akan mempengaruhi hubungan dia dengan Gio!" Defan mewanti-wanti supaya Vanka tidak tahu mengetahui masalah tersebut.


"Vanka udah tahu, dia pernah tanya ke gue." ternyata Defan kalah cepat dengan ketajaman Vanka.


"Terus lo bilang apa?"


"Gue bilang gue nggak tahu, gue suruh dia tanya sendiri ke Gio karena itu bukanlah ranah gue, gue takut akan membuat hubungan mereka renggang." jawab Chika yang membuat Defan tersenyum lebar.


"Pinter banget, pacar siapa sih?" Defan mencubit pipi Chika dengan gemas.


"Pacar ini nih, si cowok pemarah tapi bikin gue cinta.." jawab Chika juga membalas mencubit pipi Defan.

__ADS_1


Chika dan Defan saling berpandangan dengan mesra tanpa mempedulikan teman-temannya yang lain. "I love you.." ucal Defan.


"I love you too.." balas Chika.


****


Ines pergi ke psikiater karena dia merasa akhir-akhir ini dia sangat sulit tidur. Terkadang dia akan merasa gelisah yang tidak menentu, dan kecemasan yang hebat. Dia juga sering mimpi buruk tentang kejadian buruk di masa lalu. Akibatnya itu membuat Ines menjadi stres.


Kebetulan Ines mengenal seorang psikiater yang cukup terkenal. Dia teman sekolah Shaka dulu. Ines kenal dengan dia sejak diajak Shaka reunian sekolah. Sejak saat itu mereka menjalin hubungan yang baik. Ines pun mengatur janji untuk konsultasi.


Ines memilih ketemu di luar kantor psikiater tersebut. Sekalian hangout dan makan siang bareng.


Ines menceritakan semua yang dia rasakan akhir-akhir ini. Mengenai kecemasan dan kegelisahannya yang berlebih. Juga tentang mimipi buruk yang sering kali didapatkan.


"Istirahat Nes! Kamu perlu istirahat dan merileks-kan pikiran kamu!" psikiater bernama Lina tersebut menasehati Ines untuk beristirahat.


"Aku kan nggak kerja, otomatis kan aku sering istirahat." ucap Ines.


"Bukan itu maksud aku. Kamu perlu mengistirahatkan pikiran kamu! Kamu harus merasa bahagia dan mencoba menghadapi segala kondisi!" hanya mendengar cerita Ines, Lina bisa menyimpulkan apa yang terjadi kepada Ines.


"Aku resepkan obat ya!" ucapnya lagi.


"Aku kenapa Lin? Apa penyakitku serius?" tanya Ines penasaran.


"Kamu menderita post traumatic stress disorder. Jadi penyakit itu, bukan penyakit ya tapi kamu trauma dengan kejadian buruk di masa lalu kamu. Kamu merasa curiga dan gelisah yang beelebihan. Itu sebabnya kamu sering mimpi buruk dan stress yang mengakibatkan kamu susah untuk tidur." jelas Lina.


Jadi bukan tanpa alasan kenapa Ines cepat sekali berubah. Itu semua dipicu dari penyakit yang dia derita. Gangguan mental yang membuatnya merasakan kecemasan yang berlebih yang berhubungan dengan masa lalu yang buruk.


"Apakah itu berbahaya? Apa masih bisa sembuh?" tanya Ines panik.


"Kita berusaha ya! Selama kamu nurut sama saran aku, dan dengan dibantu obat-obatan, aku yakin kamu bisa sembuh." Lina menyemangati Ines supaya mau menjalani perawatan sesuai dengan metode-nya.

__ADS_1


"Aku akan kerja sama.." Ines juga ingin sembuh dari trauma tersebut. Supaya dia bisa tidur dengan nyenyak seperti dulu lagi. Dan juga bisa menjalani hidup biasa seperti dulu. Tidak selalu dibayangi oleh kecemasan dan kegelisahan masa lalu yang buruk.


"Semangat.."


__ADS_2