Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
70


__ADS_3

"Rakha...." Aiko mengejar Rakha yang berjalan dengan begitu cepat. Aiko juga tidak tahu sejak kapan Rakha ada di mall tersebut. Rakha bilang sebelumnya jika dia masih sibuk, makanya Aiko pergi bersama kedua sahabatnya.


"Rakha dengerin aku dulu!!" Aiko mengetuk-ngetuk jendela mobil Rakha.


Akan tetapi Rakha tidak mau mempedulikan Aiko. Dia malah melajukan mobilnya meninggalkan Aiko yang berusaha mengejarnya.


Aiko berlari mengejar mobil Rakha. Aiko lupa jika dia sedang menunggu temannya. Dia terus berlari mengejar mobil Rakha yang tidak mungkin bisa dia kejar. Tapi Aiko terus saja mengejar.


Rakha melihat kekasihnya yang masih berusaha mengejarnya. Meskipun dia masih marah, tapi Rakha tidak tega melihat Aiko terus mengejar mobilnya. Maka, Rakha pun menghentikan mobilnya, menunggu sampai Aiko mendekati mobilnya.


Begitu Aiko sudah ada disamping mobilnya, Rakha keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Aiko. Dia meminta Aiko untuk segera masuk ke mobilnya. "Masuk! Aku anter pulang.." ucap Rakha dengan cuek.


Aiko nurut apa kata Rakha. Dia tahu Rakha sedang marah saat ini. Tanpa membantah dan berkata apa-apa, Aiko masuk ke dalam mobil Rakha. Aiko meraih tangan Rakha tapi Rakha selalu menghindar.


"Kapan kamu datang? Katanya sibuk." tanya Aiko membuka percakapan.


"Ya, harusnya aku nggak datang ya, jadi kamu bisa leluasa pelukan sama lelaki lain." ucap Rakha sarkas.


"Itu nggak seperti yang kamu bayangin." Aiko berusaha menahan emosinya, dia tidak mau memperkeruh suasana.


"Kak Heksa tadi mergoki papanya lagi jalan sama pacar mudanya, dan kamu tahu nggak siapa pacar muda papanya kak Heksa?"


"Nggak tahu dan nggak mau tahu. Nggak kenal juga sama yang namanya Heksa." jawab Rakha cepat. Dia bahkan tidak melihat Aiko sekalipun, pandangannya lurus aja ke depan.


"Yank, aku minta maaf kalau emang aku salah. Tapi jangan diemin aku kayak gini dong!" pinta Aiko.


"Ai, aku tahu akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan kegiatan aku, sampai nggak ada waktu buat temenin kamu. Tapi bukan berarti kamu harus jalan sama lelaki lain, hargai perasaan aku, hargai hubungan kita!" Rakha sempat memarahi Aiko karena kesalahpahamannya tersebut.


"Aku nggak pergi sama kak Heksa, kita nggak sengaja ketemu, aku pergi sama Sita dan Laila." Aiko tentu saja tidak terima dituduh oleh Rakha. Aiko berusaha menjelaskan kepada Rakha.


Rakha tersenyum sinis. Dia ragu dengan apa yang Aiko bilang. Faktanya dia tidak melihat kedua sahabat Aiko tersebut. "Terus kemana mereka? Aku bahkan nggak lihat mereka sama kamu." tanya Rakha dengan sinis.


"Mereka ke toilet." jawab Aiko mengatakan yang sebenarnya.


"Nggak usah banyak alibi, bilang aja kalau kamu udah mulai bosen sama aku."


"Rakha!!!"


"Kamu boleh marah dan salah paham, tapi jangan pernah bilang yang tidak-tidak! Aku cinta sama kamu, aku nggak pernah bosan sama kamu." seru Aiko merasa kecewa dengan apa yang Rakha tuduhkan.


"Mungkin kita perlu intropeksi diri masing-masing aja dulu!" ucap Rakha ketika telah sampai di depan rumah Aiko.


"Yank?" Aiko terkejut dengan apa yang Rakha katakan.


"Kamu bisa tanya sendiri ke Sita ataupun Laila, kalau kita memang pergi bersama. Jangan gini dong!" pinta Aiko tidak mau hubungannya berakhir dengan kesalahpahaman.

__ADS_1


"Aku masih ada urusan lain.." ucap Rakha tidak mengindahkan sama sekali permintaan Aiko yang ingin mempertahankan hubungan mereka.


"Oh, iya." Aiko tahu apa maksud dari perkataan Rakha tersebut. Dia membuka sabuk pengamannya, dan Aiko masih bisa tersenyum di depan Rakha. "Jangan terlalu capek, jaga kesehatan kamu!" pesan Aiko sebelum keluar dari mobil Rakha.


Rakha hanya menganggukan kepalanya. Setelah kemudian dia melajukan mobilnya. Rakha sengaja menyusul ke mall, kebetulan dia sedang ada waktu sebentar dan ingin dia habiskan dengan pacarnya. Akan tetapi tidak menyangka jika dia malah akan melihat sesuatu yang membuatnya kecewa.


****


Hari Minggu hari yang paling menyenangkan bagi para pelajar. Karena hari itu mereka bisa bebas seharian tidur tanpa harus memikirkan tugas yang memenuhi otak.


Vanka baru saja membuka matanya. Setelah selesai mandi, dia ke meja makan. Dan tumben-tumbenan melihat kakaknya jam segini masih di rumah. Vanka menyomot tahu sebelum duduk.


"Minggu-minggu tumben nggak keluar kak?" tanya Vanka. Akan tetapi Rakha tidak menjawab pertanyaan adiknya. Dia tetap santai memakan makanannya, dan pandangannya seakan kosong.


"Woi..." Vanka menggebrak meja pelan dan itu mengagetkan Rakha.


"Apa sih dek?" tanya Rakha dengan kesal.


"Kenapa tumben hari minggu di rumah? Lo nggak pergi sama kak Aiko?" tanya Vanka mengulangi pertanyaannya lagi.


Rakha bukannya menjawab malah main pergi begitu saja. Membuat Vanka menjadi bertanya-tanya, kenapa dengan kakaknya. Dia juga melihat sejak kemarin, Rakha lebih banyak diam dan sering ngelamun.


"Mau kemana Kha? Nggak dihabisin dulu sarapannya?" ketika Rakha meninggalkan meja makan, dia berpapasan dengan mamanya.


"Nggak ma, digangguin mulu sama tuh anak, jadi nggak selera makan." ucapan Rakha tersebut membuat mamanya melotot ke arah Vanka.


"Udah jangan berantem mulu! Dihabisin dulu makannya!" pinta mamanya, akan tetapi Rakha berkata kalau dia sudah kenyang. Rakha lalu kembali ke kamarnya.


Vanka melanjutkan sarapannya seorang diri karena ayah dan mamanya sudah duluan sarapan. Dan juga, ayah dan mamanya hari ini ada acara di luar, katanya.


"Mama udah mau berangkat?" tanya Vanka.


"Iya, nungguin ayah lagi mandi." jawab mamanya.


"Kamu sama kakak kamu jangan berantem loh ya saat ayah dan mama pergi! Awas aja kalau kalian sampai berantem kayak tadi." pesan mamanya.


"Nggaklah, mama kan tahu kalau aku sama kakak emang seperti itu tiap hari. Tapi meskipun kita sering nggak akur, kita tuh sebenarnya saling menyayangi."


"Iya mama tahu kok." mamanya menyentuh pipi Vanka dengan lembut.


Tapi tiba-tiba assisten rumah tangganya memberitahu kalau Gio datang. Eh, belum juga Vanka menjawab, Gio sudah nongol aja di belakang assisten rumah tangga Vanka.


"Pagi ma.." sapa Gio kepada mamanya Vanka.


"Pagi Gio, udah sarapan belum? Sarapan bareng Vanka gih!" ucap mamanya Vanka yang juga sudah akrab dengan Gio. Bahkan juga tidak melarang Gio memanggilnya dengan sebutan mama.

__ADS_1


"Iya ma." Gio duduk di sebelah Vanka yang sedang makan.


"Kalian mau pergi?"


"Nggak kok ma, Gio cuma kangen aja sama Vanka." ucap Gio tanpa basa basi di depan orang tua Vanka.


"Kebetulan kalau gitu. Mama sama ayah ada acara, kamu temenin Vanka ya! Rakha ada sih, tapi kalau cuma berdua aja nanti Vanka sama Rakha berantem terus, tahu sendiri mereka kayak tom and jerry."


"Iya ma, beres.."


Tak lama setelah itu, ayah dan mamanya Vanka pergi untuk menghadiri acara bersama teman-teman kantor mereka. Sedangkan Vanka dan Gio menonton tivi setelah selesai sarapan.


"Kak Rakha dirumah?" Vanka menganggukan kepalanya.


"Tumben nggak pergi sama kak Aiko?" Vanka hanya mengangkat bahunya. Dia sendiri juga merasa aneh dengan perilaku kakaknya akhir-akhir ini.


"Yank, mama sakit.." Vanka mulai menatap Gio.


"Sakit apa? Dimana?" tanya Vanka dengan khawatir.


"Di rumah sih, tapi kata papa, mama nggak pernah bisa tidur, dia selalu merasa cemas, entah apa yang dicemaskan." jawab Gio dengan sedih.


"Sudah dibawa konsultasi ke psikiater? Siapa tahu mama lo punya sesuatu hal yang nggak bisa diungkapin."


"Belum sih, ntar coba gue bilang ke papa." Gio kembali mendekap Vanka.


"Mama lo masih kekeh mau jodohin lo sama Arina?" Gio menganggukan kepalanya.


"Kenapa nggak lo jomblangin aja Arina sama Dhanu, katanya Dhanu suka sama Arina. Dengan begitu kan Arina nggak akan ganggu hubungan kita." Gio mengernyitkan dahinya. Benar juga apa kata Vanka. Kalau Arina bisa sama Dhanu, Arina tidak akan lagi menjadi penghalang hubungannya dengan Vanka. Masalah mamanya kan dia bisa jelasin pelan-pelan ke mamanya.


"Bener kata lo. Kita pikirin rencana supaya Arina bisa sama Dhanu, kita buat banyak moment untuk mereka!"


"Siap bos.." dulu mereka bisa buat Defan dan Chika bersama, kali ini mereka yakin juga bisa buat Dhanu dan Arina bersama.


Setidaknya Vanka bisa merasa lega jika Arina bersama Dhanu. Dia tidak akan menjadi duri di dalam daging untuk hubungannya dengan Gio.


"Yank, jangan tinggalin gue hanya karena bosan!" ucap Gio lebih erat mendekap Vanka.


"Biasanya sih cowok yang mudah bosan."


"Gue nggak, gue nggak pernah bosan sama lo. Kalau papa ngebolehin sih gue pengen lamar lo." Gio memang sudah tidak sabar ingin mengikat Vanka dengan sebuah hubungan yang resmi.


"Jalan kita masih panjang untuk melangkah kesana Gi," Vanka masih belum mau memikirkan terlalu jauh mengenai hubungannya.


"Lo nggak mau nikah sama gue?" Gio kesal karena Vanka pesimis mengenai hubungan mereka berdua.

__ADS_1


"Mau, tapi kan masih lama! Kita jalani dulu aja apa yang ada di depan kita saat ini, kalau kita memang ditakdirkan bersama, kita pasti akan bersama, yakinlah, jodoh tidak akan pernah tertukar." ucap Vanka meyakinkan Gio tentang perasaannya.


Gio hanya menganggukan kepalanya saja.


__ADS_2