Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
47


__ADS_3

Akila merasa senang akhirnya bisa mendamaikan kedua kelompok yang selalu bermusuhan tersebut. Tapi Akila yakin bukan karena dia sepenuhnya. Dia tahu sebenarnya ada sisi baik di dalam diri Doni.


Vanka yang tidak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba keluar dari mobil dan mrnghampiri mereka. Vanka mengira jika mereka akan bertengkar. Karena Gio masih belum pulih, Vanka menjadi khawatir.


"Stop!!" seru Vanka sembari berlari menyongsong Gio.


Tentu saja teriakannya itu mengnudang perhatian dari semua orang, termasuk teman-teman Doni. Vanka menarik Gio dan berusaha melindunginya.


"Kalau kalian berani macem-macem sama Gio, gue hajar lo semua!" ucapnya sembari meindungi Gio di belakangnya.


Tentunya apa yang Vanka lakukan itu membuat Gio senang bukan main. Dia tersenyum menatap Vanka yang sepertinya sangat khawatir kepadanya.


Senyuman juga tersungging di bibir semuanya. "Lo Jovanka kan? Temennya Akila?" tanya Doni dengan tersenyum.


"Hmm.." jawab Vanka singkat.


"Lo juga ceweknya Gio?" tanya Doni lagi.


"Hmm.." Vanka masih merentangkan tangannya, berusaha melindungi Gio.


"Kita nggak mau berantem kok, Doni kesini ajakin kita damai." Gio meraih tangan Vanka. Menenangkan Vanka supaya tidak terlalu khawatir.


Vanka menoleh dan menatap Gio. Saat Gio tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan. Vanka barulah merasa lega, dia membuang nafas karena merasa lega.


"Takut banget gue terluka? Sayang banget sama gue?" tanya Gio yang membuat Vanka malu. Apalagi banyak orang yang mendengarnya.


"Nggak.." Vanka yang malu hendak melarikan diri, tapi dengan cepat Gio menahan tangannya.


Vanka meronta tapi Gio tetap tidak mau melepaskan tangan Vanka. Dan pemandangan itu sempat membuat semuanya tertawa kecil.


"Kil??" Doni menyadari keberadaan Akila. Dia pun mendekati Akila.


"Gue udah baikan sama Gio dan teman-temannya." ucap Doni dengan lembut.


"Gue udah lihat kok,"


"Jadi, apakah kita bisa kembali dekat?"


"Lo mau berdamai dengan Gio itu karena gue atau karena emang lo mikir jika permusuhan kalian itu tidak ada manfaatnya?"


"Karena gue nggak mau ketika kita nanti ada masalah, lo akan kembali musuhi Gio lagi." imbuh Akila.


"Awalnya memang karena lo. Tapi gue akhirnya sadar jika memang permusuhan gue sama Gio itu nggak ada manfaatnya sama sekali, hanya membuat hati semakin kotor." jawab Doni sembari meraih tangan Akila.


Seberingas apa seorang lelaki. Dia tidak akan berdaya di depan wanita yang dia sayangi. Doni adalah bukti yang nyata. Di luar dia boleh kejam, dan beringas. Tapi ketika berhadapan dengan Akila, dia bisa menjadi lelaki yang lemah lembut.

__ADS_1


"Udah sih terima aja! Katanya lo juga masih belum bisa lupain Donat?" seru Vanka yang membuat Doni menoleh dan tersenyum kecil.


Sementara Akila agak tersipu, dia malu karena banyak orang yang menatapnya. Akila menoleh ke arah Reza yang menatapnya tajam. Sebelumnya, di depan Doni, Akila mengakui Reza sebagai pacarnya. Tapi karena takut Doni akan membuat masalah dengan Reza. Akila mengaku jika dia dan Reza sudah putus. Akan tetapi, Reza tidak tahu menahu soal itu.


Reza menatap Akila karena siapa tahu Akila butuh bantuannya lagi. Tapi ketika Akila tersenyum dengan menggelengkan kepalanya, Reza sadar jika sandiwara mereka telah berakhir.


Reza menganggukan kepalanya, tanda dia tahu jika dia tidak perlu berpura-pura lagi menjadi pacar Akila.


"Kil?" Doni sudah tak sabar mendengar jawaban Akila.


"Iya, kita coba ulang dari awal, tapi bukan berarti gue terima lo jadi pacar gue lagi. Gue masih mau lihat seberapa seriusnya lo." jawaban Akila tersebut cukup untuk Doni. Dia tahu, sulit untuk kembali mendapatkan hati Akila. Tapi dia tidak akan menyerah begitu saja. Doni akan buktikan jika dia memang telah berubah dan menyesali perbuatannya dulu.


"Ih, ciee, udah nggak jomblo lagi nih.." ucap Vanka menggoda Akila.


"Apaan sih," Akila tertawa kecil mendengar olokan Vanka.


"Lo bareng gue atau bareng Donat? Gue mau anterin Gio pulang dulu, tapi.." tanya Vanka.


"Akila biar bareng gue aja, Van." sahut Doni sembari memegang tangan Akila.


"Oke kalau gitu, nitip Akila ya!"


"Pasti gue jagain dia, tenang aja!" jawab Doni yang membuat Akila tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya.


****


Kedekatan Ernes dengan Cintya membuat Cintya memiliki perasaan terhadap Ernes. Dia merasa nyaman dan senang di dekat Ernes. Dia ingin menjadi lebih dari sekedar teman.


Mungkin, sejak Ernes menolongnya waktu itu. Cintya sudah mulai jatuh hati kepada Ernes.


Cintya memberani diri untuk menyatakan cinta duluan. Dia tidak sabar menunggu Ernes yang menyatakan terlebih dulu. Lelaki dingin seperti Ernes mungkin tidak akan mau mengatakan perasaan meskipun dia suka pada gadis itu.


"Tumben serius banget, ada apa sih? Emang udah nggak ada kelas?" tanya Ernes yang tidak menyadari keanehan Cintya sebelumnya.


"Er, jika lo suka sama seseorang, sebaiknya lo simpan perasaan lo, atau lo ungkapin?" tanya Cintya masih belum siap mengatakan secara langsung.


Ernes memicingkan matanya. Tumben-tumbenan Cintya bertanya seperti itu. Apa mungkin dia sedang jatuh cinta, pikir Ernes.


"Lo jatuh cinta?" tanya Ernes dengan tersenyum. Dia belum kepikiran jika lelaki itu adalah dirinya sendiri. Makanya Ernes masih bersikap biasa saja, bahkan masih menganggap lucu dengan pertanyaan Cintya tersebut.


"...Iya, gue sudah jatuh cinta sama seseorang yang entah dia suka sama gue atau nggak." jawab Cintya.


"Siapa? Anak mana? Cerita dong!" Ernes masih belum tahu siapa lelaki yang dimaksud oleh Cintya.


Cintya terdiam, dia menatap Ernes dengan lekat. Apakah Ernes sama sekali tidak merasakannya. Apa karena hatinya terlalu dingin sehingga dia tidak bisa melihat dan merasakan kasih sayang dari Cintya.

__ADS_1


"Siapa sih? Kok gue jadi penasaran. Cerita dong!" desak Ernes memang sangat penasaran siapa lelaki yang bisa membuat temannya jatuh cinta.


"Dia... Dia..." Cintya ragu untuk meneruskan perkataannya.


Sementara Ernes sudah tidak sabar ingin tahu siapa lelaki itu. Ernes memasang wajah penasaran.


"Lelaki itu..."


"Iya siapa? Siapa tahu gue bisa bantu supaya lo bisa lebih deket sama dia." ucap Ernes masih belum sadar siapa yang dimaksud oleh Cintya.


Cintya menghela nafas berkali-kali, mengatur hati dan nafasnya supaya bisa lebih tenang. Dia sudah memikirkannya, dia harus mengungkapnya sekarang juga. Mumpung ada moment.


"Lelaki itu... Lo.." akhirnya Cintya mengatakan juga siapa lelaki yang dia cintai itu.


Ernes kaget bukan main mengetahui jika lelaki yang Cintya sukai adalah dirinya. Dia tidak memikirkannya sama sekali sebelumnya. "G-Gue???" Ernes menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Gue suka sama lo, Er. Entah sejak kapan gue mulai suka sama lo, mungkin sejak lo tolongin gue waktu itu." setelah memberanikan diri, Cintya mulai menyingkirkan ketakutannya. Dia bahkan bisa bicara dengan lancar setelahnya.


Ernes terdiam. Dia sama sekali tidak memiliki perasaan kepada Cintya. Selama ini dia hanya menganggap Cintya sebagai teman. Tidak lebih dari itu.


"Cin, maafin gue-"


"Gue tahu kok. Lo nggak suka kan sama gue?" Cintya tersenyum pahit mendengar permintaan maaf Ernes.


"Gue suka, gue suka sama lo, tapi sebagai temen." ucap Ernes yang membuat hati Cintya sedikit tertusuk.


Tapi meskipun begitu, Cintya sudah merasa sangat lega. Karena dia telah berani mengutarakan perasaannya kepada Ernes. Selama seminggu dia perang batin, apakah akan menyimpan perasaannya atau mengungkapkannya. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengatakannya kepada Ernes. Setidaknya itu bisa membuat hatinya merasa lega.


"Kita temenan aja ya! Gue juga masih harus fokus kuliah, gue nggak mau kecewain papa dan mama gue." itu cara Ernes menolak cinta Cintya secara baik.


Cintya tersenyum pahit sembari menganggukan kepalanya. Dia juga tahu jika cinta tidak bisa dipaksakan. Yang terpenting dia sudah mengungkapkannya.


Untuk Ernes, dia berharap penolakannya itu tidak membuat hubungan keduanya jadi bubar. Ernes bener-bener tidak mencintai Cintya. Dia hanya menganggap Cintya sebagai teman.


Ernes juga tidak mau membohongi perasaannya sendiri. Itu justru akan semakin membuat Cintya terluka jika tahu dia tidak pernah mencintainya.


"Gue nggak nyalahin lo karena suka sama gue. Tapi gue benar-benar minta maaf, gue nggak bisa terima cinta lo.." ucap Ernes lagi.


"Iya, gue tahu kok, cinta juga nggak bisa dipaksa kan?" jawab Cintya, meskipun hatinya agak sakit tapi dia tetap berusaha untuk tersenyum dan menerima apapun jawaban Ernes.


"Oh gue lupa masih ada kelas, gue ke kelas dulu ya!" Cintya meninggalkan tempat tersebut dengan hati yang sakit. Tapi dia tidak mau memperlihatkannya di depan Ernes.


Sementara Ernes tahu, Cintya butuh waktu sendiri. Dia pun tidak berusaha mengejar Cintya. Tapi membiarkan Cintya pergi begitu saja. Mungkin Cintya butuh waktu sendiri untuk mengatur dan menenangkan perasaannya.


Ernes tahu betul rasanya ditolak. Dia juga pernah merasakannya, waktu dia mengatakan cinta kepada Aiko. Jadi Ernes tidak mau menganggu Cintya lebih dulu. Memberi waktu untuk Cintya menenangkan hati dan pikirannya. Ernes bisa lihat, Cintya sangat kecewa dengan jawabannya. Tapi dia bisa apa. Cinta tidak bisa diatur dan dipaksa.

__ADS_1


__ADS_2