
Cinta yang begitu besar untuk Arina membuat Dhanu tidak ingin meninggalkan Arina dalam keadaan yang seperti ini. Dhanu rela dan ikhlas memberikan kasih sayangnya untuk Arina.
Setiap pulang dari sekolah. Dhanu akan selalu mampir ke rumah Arina untuk memberikan semangat padanya.
Kondisi Arina sudah ditahap memprihatinkan. Dia sudah susah untuk diajak bicara. Hanya diam dengan pandangan mata kosong. Sesekali dia tersenyum sendiri, dan detik kemudian dia menangis.
"Arina mau makan tan?" tanya Dhanu kepada Rania.
"Hari ini belum mau, dia masih sering nangis sembari memanggil nama Gio." hati Dhanu agak berdenyut, tapi Dhanu masih terus berusaha tersenyum.
"Besok aku usahain ajak Gio kesini untuk jenguk Arina, tante." ucap Dhanu sebagai seorang lelaki yang mencintai Arina tanpa pamrih.
"Iya," Rania menganggukan kepalanya.
Dhanu dengan sabar mengajak Arina untuk bicara. Meskipun sama sekali tidak direspon oleh Arina. Tapi Dhanu tidak mudah menyerah. Dan terus berusaha.
Cukup lama Dhanu bicara sendiri tanpa adanya respon dari Arina. Sampai pada akhirnya Dhanu tidak bisa menahan kesedihannya melihat kondisi Arina yang seperti itu.
Maka, meneteslah air mata Dhanu tanpa diinginkan. "Rin, jangan mikirin Gio terus! Lo harus bangkit, jangan kayak gini terus! Masih ada gue yang akan selalu menyayangi lo, nggak peduli seperti apa keadaan lo." ucap Dhanu dengan suara serak.
Dhanu lalu membujuk Arina agar mau makan dan minun obat. Arina pun akhirnya mau, meskipun dia masih belum mau bicara tapi setidaknya dia sudah merespon setiap suapan dari Dhanu.
Tak berapa lama setelah Arina makan dan minum obat. Arina mulai tertidur dan Dhanu pun pamit pulang.
Di depan rumah Dhanu dipanggil lagi oleh Rania yang mengucapkan terima kasih kepada Dhanu. Karena, dari sekian banyak teman Arina. Hanya Dhanu yang masih sangat peduli dengan keadaan Arina.
"Terima kasih ya nak, kamu masih sangat peduli dengan Arina meskipun kondisi Arina seperti ini."
"Iya tante. Sebenarnya teman-teman yang lain juga peduli sama Arina, hanya saja mereka masih pada sibuk dengan kegiatan masing-masing." jawab Dhanu tidak mau mengangkat dirinya sendiri dan menjatuhkan yang lain.
Rania menatap Dhanu yang begitu sangat tulus. Andai saja dia tidak menginginkan hidup yang mewah. Dia pasti akan sangat mendukung pemuda itu dengan Arina. Tapi sayang, Dhanu bukan mantu idamannya karena Dhanu tidak sekaya Gio.
Setelah Dhanu kembali pamitan pulang. Rania kembali melihat Arina yang terlelap. Dia merasa kasihan dengan kondisi Arina yang seperti itu.
Sebenarnya Lina menyarankan agar Arina di rawat lagi di rumah sakit. Akan tetapi, Rania masih binmbang. Karena dia tidak punya cukup uang untuk membayar semua keperluan rumah sakit.
Dan karena kebimbangan Arina tersebut. Tanpa sadar dia malah curhat ke Lina mengenai hidupnya yang kekurangan saat ini. Dia dan Arina hidup hanya dengan mengandalkan sisa-sisa uang yang masih mereka miliki setelah bangkrut, dan sebuah toko kelontong kecil.
Tanpa sadar Rania juga menceritakan niatnya menjodohkan Arina dengan Gio. Mendengar pengakuan Rania. Lina sempat kaget, dia pun sedikit marah dengan Rania. Karena Shaka dan Ines adalah teman baiknya.
"Rin, maafin tante.." lirih Rania sembari mengelus rambut Arina.
Ada rasa menyesal dan bersalah kepada Arina. Dia merasa gagal mengemban amanah dari kakaknya untuk menjaga Aleno dan Arina. Air mata Rania mengalir dengan cukup deras.
****
Riska ikut papanya Heksa meeting di kantor Alfarezi. Akan tetapi, Riska hanya diperbolehkan menunggu di ruangan Alfarezi bersama Ardila. Seolah tahu apa yang akan dilakukan Riska. Alfarezi meminta Ardila untuk menemani Riska sekalian mengawasi Riska. Takutnya dia akan melakukan hal yang tidak diinginkan.
Kenapa harus di ruangan Alfarezi, karena itu permintaan papanya Heksa. Dan Alfarezi juga sungkan menolak. Sampai sekarang papanya Heksa juga belum tahu kalau Riska pernah menggoda Alfarezi.
"Mbak mau minum apa?" tanya Ardila.
__ADS_1
"Apa aja."
"Kalau gitu mohon tunggu sebentar!" Ardila menelepon bagian office boy untuk menyiapkan minum untuk Riska.
Riska mengelilingi ruangan Alfarezi. Dia tidak peduli dengan larangan dari Ardila. Sebelumnya, Ardila sudah memperingati Riska agar tidak sembarang memegang barang dan masuk ke ruangan pribadi Alfarezi.
"Maaf mbak, jangan sembarangan pegang barang pak bos, karena pak bos tidak suka ada yang pegang barang pribadinya kecuali istrinya!" ucap Ardila masih dengan sangat sopan.
"Oh,"
Riska kembali duduk sembari mainan ponselnya. Dia sedikit kesal dengan sekretaris Alfarezi tersebut. Menurutnya, sebagai seorang sekretaris, Ardila terlalu cerewet.
Riska juga sengaja selfie di dalam ruangan Alfarezi dan mengirimnya ke Aiko. Riska memang sangat suka menggoda Aiko apalagi membuat Aiko marah.
Tapi, tiba-tiba Kimora datang ke kantor suaminya. Dia datang tanpa memberitahu suaminya terlebih dulu. Niatnya sih ingin bikin kejutan buat suaminya. Tapi siapa sangka malah dia yang terkejut melihat Riska di dalam ruangan suaminya.
"Maaf, adik nunggu siapa ya?" tanya Kimora.
Kimora tahu Riska, dia pernah bertemu sebelumnya. Tapi tidak tahu kenapa, dia sekarang ada di ruangan suaminya.
"Bu Kimora, eh, ini mbak Riska nunggu... ee..." Ardila juga terkejut melihat Kimora yang tiba-tiba muncul.
"Oh, pak Alfa lagi meeting?" Kimora sudah paham apa yang Ardila maksud. Ardila menganggukan kepalanya.
"Bu Kimora mau minum apa?" tanya Ardila lagi.
"Nggak usah Dil, aku cuma mampir sebentar kok."
"Eh, maaf dek, tolong jangan duduk disitu ya? Situ kursi khusus presiden." ucap Kimora menegur Riska yang sembarang duduk di kursi kerja Alfarezi.
"Elah kursi doang aja ribet, padahal suami kamu juga sudah aku pakai."
"Hati-hati ya kalau ngomong! Kamu bisa sopan nggak sama orang yang lebih tua?" Kimora agak meradang karena Riska terkesan tidak sopan. Bahkan juga memfitnah Alfarezi.
"Dimana pak Alfa?" tanya Kimora kepada Ardila.
"Panggil dia kesini!"
"Tapi bu... Iya saya panggilkan pak Alfarezi.." Ardila tidak berani menolak perintah Kimora.
"Kamu bukannya pacar papanya Heksa?" tanya Kimora.
"Bukan, aku pacar suami tante." jawab Riska dengan santai.
"Ya, aku sih tahu kalau suami aku tuh ganteng ya, makanya banyak yang ngaku-ngaku pacarnya. Tapi, mohon maaf ya dik, selera suami aku tuh tinggi, mana mau dia sama... ya gitu deh.." ucap Kimora dengan tersenyum smirk, seolah dia meremehkan Riska.
"Maksudnya apa? Tante pikir lebih baik dari aku?" Riska yang berniat memancing amarah Kimora tapi malah dia sendiri yang terpancing.
"Ya, aku emang lebih baik dari kamu."
"Lebih baik dari segi apa? Lihat aja, tante udah tua, keriput, sebentar lagi udah jadi nenek karena anaknya hamil diluar nikah."
__ADS_1
Plakkk!!!
Tampar!!!
Kimora menampar Riska dengan cukup keras. Kimora sangat geram ketika anaknya dihina. Anaknya memang melakukan kesalahan, tapi paling tidak anaknya masih memiliki harga diri dengan tidak merusak hubungan siapapun dan lelaki itu juga mau bertanggung jawab tanpa paksaan.
"Kamu boleh hina aku tua, keriput, tapi jangan pernah kamu berani menghina anak aku!!" tatapan mata Kimora sungguh sangat mengerikan.
"Berani tante tampar aku?" Riska mendorong Kimora.
Pada saat yang sama pula. Aiko juga datang ke kantor papanya setelah dia menerima wa dari Riska. Aiko juga merasa kesal karena Riska masih saja mengganggu papanya.
"Mama.." Aiko menangkap mamanya yang hampir jatuh.
Aiko menatap Riska dengan tajam. Tanpa berkata apa-apa lagi Aiko mendekati Riska dan terjadi perkelahian diantara mereka berdua.
Tentu saja Kimora sangat panika karena dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon cucunya. "Ai, udah Ai!" Kimora mencoba melindungi Aiko.
Beruntung, Alfarezi segera datang. Begitu dia mendengar kalau istrinya datang, dan ada sedikit masalah. Alfarezi langsung mengakhiri meetingnya.
Alfarezi dan juga papanya Heksa melerai Aiko dan juga Riska.
"Om, tolong jagain dia jangan biarin dia terus-terusan godain papa aku!" ucap Aiko kepada Ardi.
Ardi pun menatap Riska dengan tajam. "Enggak, aku nggak godain, tapi emang pak Alfarezi sering ngajak aku keluar." Riska memutar balikan fakta.
"Kapan aku ngajak kamu keluar? Kita hanya kebetulan ketemu waktu itu, aku nggak pernah ngajak kamu." Alfarezi marah karena Riska berani memutar balikan fakta.
Faktanya, Riska sendiri yang sering ajak Alfarezi keluar. Alfarezi selalu menolak, tapi pernah waktu itu mereka tidak sengaja bertemu dan akhirnya makan siang bersama. Dan itu pun ada Ivan dan juga Boy.
Ardi yang merasa malu akhirnya menarik Riska keluar dari kantor Alfarezi secara paksa.
Sedangkan Kimora menatap Alfarezi dengan tajam. "Jadi kamu sering keluar sama dia?" tanya Kimora.
"Nggak sering, tapi pernah." Alfarezi tidak mau menyembunyikan apapun dari istrinya.
"Bagus, bagus banget..."
"Tapi itu nggak seperti yang kamu pikirkan sayank.."
"Jangan sentuh aku!" Kimora menepis tangan Alfarezi yang ingin memeluknya.
"Dari sekian banyak gadis, kenapa mesti dia sih pa?" Aiko juga sangat kecewa dengan papanya.
"Papa nggak sengaja ketemu, kamu bisa tanya sama om Ivan kalau nggak om Boy.."
"Ra, kamu percaya sama aku dong! Kita nikah udah lama, apa aku pernah main belakang? Aku cinta sama kamu, Kimora.."
Kimora tidak mau mendengarkan penjelasan Alfarezi. Dia menarik Aiko dan pergi dari kantor suaminya. Alfarezi berusaha mengejar Kimora dan juga anaknya sembari menjelaskan terus menerus.
"Van, batalan semua kerja sama dengan pak Ardi! Lalu minta Boy buat beresin tuh wanita si*l*n!! kalau perlu habisin dia!!"
__ADS_1
"Siap pak!!"