
Sesampainya di rumah. Ines dan Gio terlibat perang mulut. Ines selalu meminta Gio untuk menjauhi Vanka. Sementara Gio selalu menolak permintaan mamanya.
"Kenapa mama mudah banget berubah-ubah sih?" protes Gio yang tidak ngerti dengan perilaku mamanya.
"Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu, nak." meskipun kesal karena Gio selalu menentangnya. Tapi Ines masih selalu bersikap lembut kepada anaknya. Kasih sayangnya juga tidak berubah.
"Vanka yang terbaik buat Gio."
"Dia bukan wanita baik-baik, Gio.. Tadi waktu di toilet dia berani lawan mama, padahal mama bicara baik-baik sama dia." ucap Ines tidak berkata yang sesungguhnya kepada Gio.
"Nggak mungkin. Vanka nggak mungkin seperti itu." Gio tidak percaya dengan apa yang mamanya katakan. Dia percaya Vanka bukan wanita yang seperti itu. Vanka selalu sopan kepada orang yang lebih tua.
"Jadi menurut kamu mama yang bohong, gitu?" tanya Ines yang membuat Gio bingung.
Setahu Gio, mamanya adalah orang yang baik. Dia tidak akan marah jika orang lain tidak keterlaluan. Tapi dia juga tidak percaya kalau Vanka melakukan apa yang mamanya katakan.
"Mama sayang sama kamu. Kamu anak mama, kalau kamu terluka, mama juga akan sakit, jika kamu bahagia, mama juga akan bahagia." Ines mendekati Gio dan memeluknya.
Sebagai orang tua, Ines hanya ingin anaknya bahagia. Tidak lebih dari itu. Tapi, tanpa sadar, Ines justru membuat Gio menjadi lelaki plin plan. Dengan menjelekan pacar anaknya, itu membuat Gio menjadi bingung. Bingung harus percaya kepada siapa.
Gio yakin mamanya tidak mungkin bohong. Tapi dia juga percaya, bahwa kekasih tidak seperti yang mamanya katakan.
"Tinggalkan Vanka, Gi!" ucap Ines.
"Nggak ma, Gio cinta sama dia, Gio nggak akan tinggalin dia." jawab Gio dengan cepat. Tanpa berpikir lagi Gio sangat yakin bahwa Vanka adalah pilihan yang tepat untuk dirinya.
"Jadi kamu lebih milih wanita itu daripada mama?" tanya Ines dengan air mata yang menetes membasahi pipinya.
"Bukan gitu. Kalian dua wanita yang paling berharga buat Gio. Gio sayang sama mama, tapi Gio juga cinta sama Vanka. Maafin Gio kalau Gio nggak bisa nuruti apa mau mama!" Gio beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju kamarnya di lantai paling atas.
"Oke Gio, mama tahu kamu nggak sayang mama." seru Ines dengan berurai air mata.
Akan tetapi, Gio tidak menoleh sama sekali. Dia terus berjalan menuju kamarnya tanpa mengindahkan teriakan dan tangisan mamanya. Bukan karena dia tidak sayang sama mamanya, tapi Gio hanya tidak mau memilih diantara kedua wanita yang berharga dalam hidupnya.
Gio pernah kehilangan Vanka karena keputusan yang sama sulitnya. Dia tidak mau kehilangan Vanka lagi karena pilihan yang sama konyolnya.
Shaka membawa Ines ke kamar. Shaka juga bingung kenapa istrinya bersikekeh untuk menjauhkan Gio dengan Vanka. Padahal dia tahu sendiri seberapa besar Gio mencintai Vanka.
"Kamu kenapa sih, Nes?" tanya Shaka yang sedari tadi memilih untuk bungkam.
"Pa, aku nggak suka sama wanita bernama Vanka itu, dia kurang ajar, dia bilang ke aku kalau di kota ini masih banyak orang yang lebih kaya dari kita." Ines bermaksud mengadu ke suaminya.
__ADS_1
"Lah emang bener kan? Di kota ini bukan cuma keluarga kita yang bisa disebut kaya. Lantas apa salahnya?" Shaka juga merasa apa yang Ines lakukan itu sangatlah konyol. Masa cuma gara-gara perkataan seperti itu dia marah lalu meminta Gio buat menjauhi kekasihnya.
"Kamu kenapa sih sebenarnya? Kamu lagi banyak yang dipikirkan?" tanya Shaka lagi.
"Pa, gimana kalau kita carikan Gio pacar? Temen papa kan banyak, kenalin Gio ke anak temen papa aja." Ines kembali memberi ide yang konyol kepada suaminya.
"Gio kan udah punya pacar. Papa nggak mau buat Gio sedih." Shaka menolak ide Ines tersebut.
"Ya udah, kalau papa nggak mau, biar mama yang cari sendiri." Ines memunggungi Shaka karena marah.
"Jangan buat permusuhan dengan anak ma, Gio udah dewasa, biarin dia menentukan apa yang menurut dia baik buat dia!" ucap Shaka memperingati Ines supaya lebih menghargai apa yang menjadi pilihan anak-anaknya.
"Pokoknya selama dengan wanita itu, mama nggak akan setuju." Ines sangat keras kepala. Dia tidak mau tahu, pokoknya dia harus segera mencari calon untuk putra bungsunya. Ines sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan anaknya. Yang penting Gio jauh dari wanita itu.
"Kalau Gio sampai marah, papa nggak mau ikut-ikutan ya." Shaka tidak mau membatasi kesenangan anaknya. Dia juga pernah muda, tahu betul apa yang Gio rasakan saat ini.
"Papa gitu, papa udah nggak sayang mama." ucap Ines dengan cemberut.
"Bukannya nggak sayang, tapi mama sendiri yang cari gara-gara." Shaka keluar dari kamarnya, dia tidak mau berantem dengan istrinya hanya karena masalah sepele.
****
Defan dan Chika juga Dhanu mengawal Vanka sampai ke rumahnya. Mereka mengantar sampai di depan pintu gerbang rumah Vanka. Defan juga kembali meminta Vanka supaya tenang dan tidak berpikiran berlebih. Defan janji akan membantu menjelaskan semuanya kepada tantenya atau mamanya Gio.
"Mungkin dia cuma tidak ingin anaknya terluka lagi." jawab Vanka.
"Jangan menyerah untuk mempertahankan cinta kalian, please! Gio cinta banget sama lo. Gue yakin kalian akan mampu lewati ini semua." ucap Defan meminta supaya Vanka jangan menyerah untuk hubungannya dengan Gio.
"Iya Van, gue yakin Gio juga sedang cari cara supaya bisa kembali membujuk mamanya. Dia cinta banget sama lo." sahut Dhanu yang juga tidak rela jika Gio dan Vanka akan kembali terpisah.
Dia melihat seberapa menderitanya Gio ketika dia putus dengan Vanka beberapa waktu lalu. Sebagai seorang sahabat, dia tidak mau melihat sahabatnya sedih lagi.
"Iya, asalkan dia nggak nyerah, gue juga nggak akan nyerah kok." jawab Vanka. Yang penting bagi Vanka itu Gio. Selama Gio tidak menyerah untuk mempertahankan hubungan mereka. Vanka juga akan berjuang untuk mempertahankan hubungan mereka. Jadi mereka sama-sama berjuang.
Mereka lalu berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Tapi Chika masih saja kepikiran masalah Vanka dan Gio. Sehingga di dalam mobil dia hanya diam saja sejak pulang dari rumah Vanka.
"Kenapa sih?" tanya Defan meraih tangan Chika.
"Gue masih kepikiran masalah Vanka dengan Gio. Kasihan mereka, gue tahu betul rasanya jadi Gio sekarang. Karena itu juga yang gue rasain saat papa meminta gue buat tinggalin lo." jawab Chika dengan nada sedih.
"Gue juga kasihan sama Gio. Dia pasti sedih banget sekarang. Nanti setelah anterin lo, gue mau ke rumah dia." ucap Defan juga terus kepikiran sepupunya yang tumbuh dewasa bersama dengannya itu.
__ADS_1
"Iya, hibur dia. Gue yakin dia sedang kalut saat ini. Temenin dia ngobrol biar dia nggak punya pikiran yang sama seperti gue dulu!" apa yang Chika takutkan adalah Gio akan nekat seperti dirinya dulu.
"Gue rasa enggak. Gio tuh punya pikiran yang sangat dewasa, dia juga punya kakak yang bisa setiap saat diajak curhat. Gue yakin Gio nggak akan sampai nekat." itu harapan Defan. Dia berharap Gio tidak akan pernah melakukan hal yang semacam itu.
"Lagipula dia kan juga masih bisa saling kabar-kabaran dengan Vanka. Gue yakin mereka sedang teleponan sekarang, mereka saling menguatkan sembari menangis." tebak Defan.
Dan, benar saja apa yang Defan katakan. Gio dan Vanka sedang video call sembari menangis. Mereka berusaha untuk saling menguatkan.
"Jangan nangis! Nanti nggak cantik lagi." ucap Gio juga tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Biarin." Vanka semakin tersedu di seberang telepon.
"Janji untuk terus bergandengan tangan apapun yang terjadi ya!" pinta Gio sudah meneteskan air matanya juga.
Vanka menganggukan kepalanya dengan cepat.
Gio sebenarnya ingin menanyakan sesuatu yang mengganjal dipikirannya. Tapi Gio mengurungkannya, dia akan bertanya besok aja saat bertemu langsung dengan Vanka.
"Jangan menyerah ya, tetap berjuang demi cinta kita!" ucap Gio lagi.
"Asalkan lo nggak menyerah, gue juga nggak akan menyerah." Gio tersenyum mendengar perkataan Vanka.
"Gue cinta banget sama lo."
"Gue juga."
Meskipun tidak bertemu secara langsung. Tapi video call itu cukup membuat hati keduanya tenang.
"Buruan tidur! Supaya kepala lo segera sembuh. Dokter kan juga udah bilang, lo nggak boleh mikirin hal yang terlalu berat." Vanka mengingatkan kekasihnya untuk memperhatikan luka di kepalanya.
"Iya gue bobok, tapi lo harus dongengin gue!" pinta Gio seperti anak kecil.
"Lo bukan anak kecil lagi Gio..." ucap Vanka yang pastinya menolak permintaan konyol itu.
"Pokoknya dongengin! Anggap aja itu hadiah yang lo janjiin ke gue!" rengek Gio seperti layaknya anak kecil yang meminta ibunya buat membacakan dongen sebelum tidur.
Vanka menyesal kenapa menjanjikan sesuatu kepada Gio kemarin-kemarin. Akibatnya dia sendiri yang kewalahan menghadapi permintaan yang aneh-aneh dari kekasihnya itu.
"Yaudah gue dongengin!" setelah menghela nafas berkali-kali, akhirnya Vanka mau juga membacakan Gio sebuah cerita.
Vanka membaca dongen tersebut degan lumayan lembut dan menghayati. Gio pun mulai memejamkan matanya sampai tertidur cukup pulas. Setelah memanggil-manggil beberapa kali, tapi tidak ada sahutan. Vanka pun mematikan telepon itu.
__ADS_1
Tapi, sebelum Vanka menutup telepon. Dia sempat mengatakan cinta kepada Gio. "Good night my lovely, i love you so much.." ucapnya dengan penuh kasih sayang.