
Cintya dan Ernes semakin dekat sekarang. Dan itu membuat teman-teman Cintya yang dulu jadi mencibirnya. Bahkan mereka sampai membully Cintya, dan mengatai Cintya sebagai seorang yang tidak tahu malu, karena menjilat ludahnya sendiri.
Dulu, Cintya pernah bilang kalau dia tidak akan pernah mau dengan lelaki cupu dan kere kayak Ernes. Tapi faktanya, Cintya justru semakin dekat dengan Ernes.
"Benar-benar tidak tahu malu." ucap salah seorang temannya dulu.
"Katanya nggak mau sama lelaki kere, tapi cuma omong doang." imbuhnya.
Cintya terpancing karena perkataan teman-temannya yang begitu keterlaluan kepada Ernes. Mereka belum tahu aja kalau Ernes anak seorang pengusaha kaya raya.
"Kalian..." Cintya hampir saja maju dan melawan mereka. Tapi dia dicegah oleh Ernes.
"Nggak usah pedulikan mereka!" ucap Ernes menarik tangan Cintya menjauh dari teman-temannya.
"Tapi mereka udah keterlaluan ngehina lo.." ucap Cintya masih tidak terima dengan hinaan teman-temannya.
"Biarin aja! Kalau itu bisa buat mereka seneng, biarin aja sih!" ucap Ernes terus menarik tangan Cintya menjauh.
Ernes tidak pernah menanggapi serius omongan orang terhadapnya. Dia terlalu malas menjelaskan yang sebenarnya kepada para pembencinya. Biarin aja mereka mengatakan apapun yang membuat mereka bahagia. Semua itu tidak bisa mengubah takdir hidupnya sebagai anak seorang pengusaha kaya.
Karena penampilan Ernes yang terlalu biasa. Banyak teman-temannya yang tidak tahu identitas Ernes sebenarnya. Tapi itu justru membuat Ernes senang, bukankah dia bisa lebih menilai, siapa yang tulus berteman dengan dia, siapa yang hanya memandang kekayaan.
"Kenapa sih lo baik banget?" tanya Cintya tidak ngerti lagi terbuat dari apa hati si Ernes. Dia bisa menerima semua penghinaan yang dia terima, tanpa mau membalas mereka.
"Bukankah kewajiban manusia seharusnya berbuat kebaikan?" tanya balik Ernes.
"Gue hanya menjalani hidup yang seharusnya." lanjut Ernes.
"Er, pernah nggak lo marah saat ada orang yang hina lo? Atau pernah nggak lo membenci mereka?" tanya Cintya lagi.
"Nggak. Selama mereka nggak hina papa sama mama gue, gue nggak akan marah, atau peduliin omongan mereka." jawab Ernes dengan tersenyum.
"Dan gue juga nggak pernah membenci orang yang hina gue. Mereka menghina kan karena merasa lebih baik dari gue, dan membenci itu perlu banyak tenaga dan pikiran, gue nggak mau, mending tenaga dan pikiran gue buat hal-hal yang bermanfaat." imbuh Ernes masih terus menarik tangan Cintya.
Cintya tidak lagi bisa berkata-kata. Baru kali ini dia bertemu seorang lelaki yang memiliki hati yang besar, yang tidak marah ketika dihina seperti apapun.
Tapi, orang seperti Ernes, sekali marah sangat mengerikan. Jadi sebisa mungkin jangan sampai buat dia benar-benar marah. Kalau tidak mau mendapat amukan yang mengerikan.
Ernes mengajak Cintya belajar di pondok kecil di belakang kampus mereka. Daripada ribut mending belajar, begitu kata Ernes.
Cintya dengan serius mendengarkan Ernes yang sedang menjelaskan pelajaran yang Cintya belum ngerti. Cintya menatap Ernes dengan lekat. Baru pertama kali dia dekat dengan seorang cowok yang berpenampilan cupu seperti Ernes.
__ADS_1
Cintya terus memperhatikan Ernes dengan senyum-senyum sendiri. "Er, lo cakep tauk kalau berpenampilan kayak waktu kita pergi sama adik lo itu." ucap Cintya. Malam itu Cintya benar-benar terpesona dengan penampilan badboy Ernes.
"Kenapa kalau ke kampus lo nggak berpenampilan kayak gitu sih?"
"Kalau penampilan gue kayak waktu itu, lo nggak mungkin bully gue kan?" tanya Ernes dengan tersenyum.
"...Iya maaf,.." ucap Cintya kembali teringat waktu dia membully Ernes tanpa perasaan dulu.
"Woi,,, pacaran mulu..." bentak Aiko yang tidak sengaja lewat dan melihat Ernes sedang berduaan dengan Cintya.
"Ai, kok bisa disini?" tanya Ernes kaget ketika melihat Aiko di tempat yang sama seperti dia.
"Aiko.. Nggak pacaran kok, kan cuma belajar." sanggah Cintya dengan malu-malu.
"Iya, gue lewat aja tadi, terus lihat kalian. Kapan dibawa pulang, dikenalin sama om Erlan dan tante Ines?" goda Aiko sembari tersenyum. Disebelahnya ada Rakha yang juga tersenyum melihat wajah Ernes dan Cintya yang memerah.
"Apaan sih lo. Mau pulang?" Ernes mengalihkan topik pembicaraan.
"Hmm, tapi mau makan dulu, ikut yuk kita double date!" ajak Aiko.
"Apaan sih, Ai.." Cintya semakin memerah karena Aiko terus menggodanya.
"Iya deh, demi kakak gue yang baru punya pacar, gue traktir deh." ucap Aiko yang membuat Ernes terbahak.
"Bisa aja lo."
****
Vanka ke kantin bersama Akila dan Ira. Karena Desi sedang menunggu Febri di kelas. Ketika Vanka hendak duduk, tiba-tiba Gio mendahuluinya.
"Maaf, bisa pindah nggak ya!" ucap Vanka masih belum mau bersikap biasa ke Gio.
"Pindah kemana? Ke hati lo?" tanya Gio dengan tersenyum.
"Anj*r, si Gio bisa ngegombal juga." seru Reza terus memperhatikan Gio yang sedang berusaha mendekati Vanka lagi.
Sementara Vanka memutar bola matanya mendengar gombalan receh Gio. Karena tempat duduk juga sudah tidak ada, mau tidak mau Vanka harus duduk satu meja dengan Gio.
Ketika Vanka duduk, Gio sempat melirik ke arah Akila dan Ira. Mereka berdua pun paham apa maksud lirikan itu. "Kita pesenin makanan dulu ya, Van. Lo pesen seperti biasa kan?" tanya Akila buru-buru menarik Ira menjauh dari meja itu.
Gio menatap Vanka yang cuek kepadanya. Dengan menopang dagunya, Gio terus memperhatikan Vanka. Sedangkan Vanka malah asyik dengan ponselnya.
__ADS_1
"Van, nanti malam ada acara nggak?" tanya Gio masih dengan menatap Vanka.
"Nggak." jawab Vanka tanpa mengangkat kepalanya.
Sebenarnya Vanka sengaja fokus ke ponselnya karena tidak mau Gio melihatnya salah tingkah karena tatapannya. Bahkan Vanka tidak berani menatap balik Gio.
"Boleh dong gue main ke rumah?"
"Nggak." jawab Vanka masih dengan ketus.
"Van, gue minta maaf karena gue udah -"
"Gio..." belum sempat Gio meneruskan perkataannya. Tiba-tiba Marisa memanggilnya. Bukan hanya itu, Marisa juga ikut duduk di meja yang sama dengan Gio dan Vanka.
"Ngapain lo kesini?" tanya Gio dengan geram. Gio sangat kesal karena Marisa benar-benar merusak suasana.
"Gue mau makan bareng lo." ucap Marisa tanpa menganggap Vanka sama sekali.
"Pergi nggak lo!"
"Nggak mau." Marisa malah semakin mendekat dan melingkarkan tangannya di lengan Gio.
Vanka meliriknya dengan kesal. Dia merasa sangat kesal melihat Marisa bermanja-manja dengan Gio. Meskipun Gio nampak risi, berulang kali Gio menepis tangan Marisa.
"Gi, lo jomblo kan, berarti gue boleh deketin lo." Marisa memang sudah kehilangan urat malunya jika di depan Gio.
"Siapa bilang gue jomblo? Gue udah punya pacar." Gio menatap Vanka yang masih fokus dengan ponselnya.
"Dia maksud lo?" Marisa menunjuk Vanka yang ada di depannya.
"Dia aja bilang kalian udah putus, dan kalau gue mau, gue boleh miliki lo." lanjut Marisa mengatakan apa yang Vanka katakan tadi pagi.
Brakkk..
Gio menggebrak meja dengan marah, sampai membuat Marisa dan Vanka terkejut. Bahkan Vanka hampir saja melempar ponselnya karena kaget.
"Mau dia bilang kita udah putus, atau orang lain bilang apa kek, gue cuma mau tegasin ke lo, cinta gue cuma buat dia, nggak ada orang lain yang bisa buat gue bahagia selain dia." ucap Gio sembari menatap Marisa, sekaligus memberitahu Vanka kalau dia masih mencintai Vanka.
"Mar, carilah lelaki yang mencintai lo! Jangan gue, karena hati gue sudah ada orang lain, dia akan selalu ada di dalam hati gue." imbuh Gio gantian menatap Vanka dengan lekat.
Sementara Vanka memilih untuk diam adalah emas. Lagipula dia tidak berani menatap Gio karena takut salah tingkah ketika mereka saling bertatapan.
__ADS_1