
"Kak, kayaknya kak Heksa naksir deh sama kakak." ucap Defan ketika Aiko masuk ke dalam rumah setelah Heksa pulang.
"Mama lihatnya sih juga gitu, Ai.." sahut Kimora yang juga bisa melihat niat lain dari Heksa.
"Anak mama kan emang menarik, jadi wajar dong banyak yang tertarik.." tapi Aiko menanggapi itu dengan santai. Sebelumnya dia juga sudah kasih tahu ke Heksa jika dia sudah memiliki kekasih. Dan Heksa tidak masalah mengenai itu, karena dia hanya ingin berteman dengan Aiko.
"Kalau bisa, kamu jangan memberi harapan lebih ke Heksa, Ai!" papanya juga memperingatinya.
"Aiko biasa aja kok pa, Aiko juga sudah bilang kalau Aiko punya pacar, kak Heksa nggak keberatan, dia hanya ingin berteman dengan Aiko." Aiko berusaha menenangkan papa dan mamanya. Dia sudah dewasa susah bisa membedakan mana yang baik dan yang tidak. Dan menurut Aiko, dia sah sah aja punya teman baru.
"Tapi sebagai sesama lelaki, gue bisa lihat kalau dia naksir sama lo." ucap Defan lagi.
"Kakak lo kan emang gemesin," jawab Aiko lagi.
"Ish, PD amat jadi orang.." Defan yang kesal karena kakaknya sangat keras kepala, alhirnya bangkit lalu menjitak kepala kakaknya. Setelah itu dia berlari karena takut diamuk oleh kakaknya.
"Defan!!!!" teriak Aiko berusaha mengejar adiknya yang sudah lebih dulu berlari. Aiko mengejar Defan sampai ke depan kamar Defan. Karena Defan dengan cepat mengunci pintu kamarnya. Dia takut dimarahi kakaknya, Aiko nyeremin kalau lagi ngomel.
"Awas lo ya!" seru Aiko yang kesal karena tidak bisa menangkap adiknya. Aiko menendang pintu kamar Defan dengan cukup keras.
Sementara Defan hanya tertawa dari dalam kamar mendengar kakaknya kesal dan menendang pintu kamarnya. "Ngeri coy kakak gue.." gumamnya sembari tertawa.
****
Di tempat lain.
Gio ke ruang makan bersama dengan kakaknya. Mereka berdua kaget ketika melihat meja makan yang penuh dengan hidangan enak. Tumben-tumbenan mamanya masak makanan begitu banyak. Ada apakah gerangan.
"Ma, Defan dan keluarganya mau makan malam bareng kita ya?" tanya Gio sambil menarik kursi lalu kemudian duduk di kursi tersebut.
"Em, Defan sama mamanya udah lama ya nggak main sini? Tapi bukan mereka. Kita ada tamu malam ini." jawab Ines sembari meminta anak-anaknya untuk segera duduk.
"Tamu?" Ernes dan Gio semakin bingung siapa yang dimaksud oleh mamanya. Sementara papanya aja juga belum pulang.
"Tamu siapa?" tanya Gio penasaran.
__ADS_1
"Ada deh, temen mama. Kalian tunggu aja sebentar ya, mereka udah deket kok." jawab Ines masih sibuk menata meja makan dan menyiapkan hidangan untuk tamu undangannya.
Gio dan Ernes saling bertatapan, mereka tidak tahu apa yang mamanya rencanakan dan siapa yang mamanya tunggu.
Tak lama kemudian Shaka pulang dari kantor dan juga bertanya-tanya sama seperti Ernes dan Gio tadi. Tidak biasanya Ines masak banyak seperti itu. "Alfa mau makan malam bareng kita?" pertanyaan yang sama dengan Gio tadi.
"Bukan, bukan Alfa, tapi-"
Bim bim, terdengar suara mobil di depan rumahnya. "Nah itu dia datang.." Ines berlari keluar menyongsong tamu yang telah ia tunggu sedari tadi.
"Siapa sih ma?" tanya Shaka penasaran.
"Ada, temen aku." Ines menyambut Rania dan juga Arina yang masuk bersama assisten rumah tangganya.
Tentunya kedatangan Rania dan Arina itu membuat Gio membulatkan matanya. Jadi yang mamanya tunggu sedari tadi itu Arina dan tantenya. Gio juga memicingkan matanya tatkala melihat riasan Arina yang tak seperti biasa. Gio pun merasa curiga dengan itu semua. Tapi dia belum yakin mengenai kecirgaannya.
"Hallo jeng.." Ines nampak akrab sekali dengan Rania.
Sementara Shaka sudah bisa menebak apa yang terjadi. Tapi Shaka tidak menyangka jika Arina adalah orang yang dipilih Ines untuk dijodohkan dengan Gio. Dari awal Shaka juga menentang ide Ines tersebut. Shaka menolak mencarikan jodoh untuk anak bungsunya. Selain dia masih kecil, juga karena Shaka tidak mau memaksakan kehendaknya pada anak.
"Gue diundang makan malam sama mama lo." ucap Arina berusaha menjelaskan kepada Gio. Karena Gio terus menatapnya dengan tajam.
"Nes, ajak kakek makan malam sekarang!" Ines meminta anak sulungnya untuk memanggil papa mertuanya.
Setelah semuanya ada di meja makan. Mereka mulai menikmati hidangan yang telah disediakan. Ines lalu menyinggung mengenai perjodohan Gio dengan Arina. "Makasih ya jeng udah mau datang ke rumah aku, semoga ke depannya kita bisa jadi besan yang selalu akur." ucapan Ines tersebut mengagetkan suami, mertua dan juga kedua anaknya.
Terutama Gio yang langsung berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Dia menoleh menatap Ines dan Rania yang ngobrol dengan bahagia. "Maksudnya gimana, ma?" tanyanya dengan masih berusaha tenang. Siapa tahu Arina akan dijodohkan dengan kakaknya, karena dulu Arina sempat suka sama kakaknya.
"Mama mau jodohin Arin sama kak Ernes?" imbuhnya.
"Uhuk.." Ernes menjadi tersedak karena mendengar pertanyaan Gio.
"Ngaco aja lo.." sahut Ernes menegur adiknya.
"Ehem.. Jadi gini, mama sama tante Rania sudah sepakat, kita akan menjodohkan kamu dengan Arina." jawab Ines yang membuat Gio semakin terkejut.
__ADS_1
"Iya Gi, kami tahu kalau kalian masih kecil, tapi setidaknya kami memberitahu kalian dulu supaya kalian bisa mempersiapkan diri kalau kalian sudah dijodohkan." sahut Rania.
"Gio keberatan! Maaf tante, bukannya Gio mau menghina tante, tapi Gio udah punya pilihan sendiri, Arin juga kenal sama pacar Gio, aku yakin Arin juga menentang perjodohan ini. Ya kan Rin?" Gio langsung menjawab pernyataan Rania tersebut. Dengan yakin dia menolak perjodohan tersebut.
"Arin setuju Gio, dia mau dijodohin sama kamu, makanya kita kesini. Kalau dia nggak mau, kita nggak akan makan malam disini malam ini." jawab Rania yang membuat Gio kaget bukan main.
Gio menatap Arina yang bahkan tidak berani mengangkat kepalanya. "Itu bener Rin?" tanya Gio.
"Itu bener Gio, Arina setuju dijodohin sama kamu, dan alasan dia kembali juga karena kamu." giliran Ines yang berbicara. Dan lagi-lagi perkataan itu membuat menjadi terkejut.
"Itu bener? Jawab!!" Gio menggebrak meja karena saking kesalnya. Arina tahu jika Gio sudah punya pacar, tapi kenapa dia masih mau untuk dijodohkan dengan Gio.
"Gio jaga sikap kamu!!" bentak Ines.
"Jawab pertanyaan gue! Apa yang diucapkan tante Rania itu benar? Lo tahu gue udah punya pacar, tapi lo masih mau dijodohin sama gue?" tanya Gio lagi sembari menahan amarahnya.
"Gi, maafin gue!" ucap Arina, dan sampai disitu Gio tahu, apa yang mama dan tantenya Arina bilang itu memang benar.
Gio tersenyun sinis. "Maafin aku tante. Aku nggak mau dijodohin, aku sudah punya pacar." Gio meninggalkan meja makan dengan hati yang marah.
"Gio kamu mau kemana?" tanya Ines.
"Meskipun kamu menolak, kamu tetap harus nikah sama Arina, kelak. Kalau bukan Arina, mama tidak akan merestui hubungan kalian!" seru Ines tapi sama sekali tidak digubris oleh Gio.
Gio merasa sangat kecewa karena mamanya bisa bertindak sejauh itu. Dia mengira mamanya adalah orang yang paling mengerti dan menyayangi dia. Tapi ternyata mamanya bisa bertindak sekejam itu kepadanya.
"Maafin Gio ya Rin! Tante yakin Gio hanya kaget aja, besok kalau dia sudah bisa mikir jernih dia pasti nggak marah lagi kok." Ines memeluk Arina yang menangis, bukan karena penolakan Gio tapi karena Gio membentak dia tadi.
"Maafin Gio ya jeng!" Rania tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Pokoknya kita harus terus lanjutin perjodohan ini, aku akan buat Gio menerima perjodohan ini!" Rania kembali hanya menganggukan kepalanya.
Sementara Shaka, Virsha dan Ernes sudah menahan untuk tidak marah di depan Rania dan Arina. Mereka masih ingin memberi muka untuk Ines di depan Rania. Meskipun sebenarnya Shaka merasa sangat kesal dengan istrinya tersebut.
Shaka sudah memperingati sebelumnya supaya Ines tidak melakukan hal tersebut kepada anak bungsu mereka. Tapi Ines tetap saja tidak mau mendengarkan peringatannya. Akibatnya, Ines membuat Gio merasa sangat sedih dan kecewa dengan apa yang mamanya lakukan.
__ADS_1