
Gio kembali ke kelas dengan tangan yang berdarah. Bukan hanya tangannya yang sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit. Dia tidak mau didekati oleh siapapun. Marah-marah tidak jelas saat kembali ke kelasnya.
Di kelas, Marisa dan Arina saling berebut untuk mendekati Gio. Mereka berdua melihat tangan Gio yang terluka dan merasa khawatir.
"Gio tangan lo.." Marisa yang duluan mendekati Gio baru disusul oleh Arina.
"Gi gue obatin ya!" ucap Marisa dengan sangat khawatir.. Akan tetapi Gio tidak menjawabnya, dia hanya diam dengan tatapan yang kosong.
"Gi, gue obatin ya?!" giliran Arina yang membujuk Gio. Tapi sama saja, Gio tidak bergeming sama sekali. Malah membuat Arina dan Marisa bertengkar di depan Gio.
Brakkk!
Gio menggebrak meja dengan cukup keras. "Kalian bisa pergi nggak! Jangan ganggu gue!" seru Gio merasa sangat terganggu dengan kehadiran Arina dan juga Marisa.
Karena merasa terganggu, Gio pun memilih pergi ke kantin menyusul Reza dan Dhanu. Dia melewati kelas Vanka, dan melihat Vanka yang sedang termenung di tempat duduknya. Rasanya ingin sekali Gio mendekati wanita itu. Tapi, ketika ingat apa yang barusan terjadi, Gio menjadi emosi kembali.
Gio melanjutkan langkahnya. Dan ditengah perjalanan, dia bertemu dengan Defan dan Chika yang baru saja dari UKS. Akan tetapi, Gio melewati Defan dan Chika begitu saja. Sama sekali tidak mengindahkan Defan dan Chika.
"Gi tangan lo?" Chika mengejar dan menahan Gio. Awalnya Defan yang akan mengejar Gio. Tapi Chika menghentikannya kemudian, karena takut Gio akan menghajar Defan lagi.
"Gue obatin dulu yuk!" ucap Chika.
"Nggak perlu." jawab Gio singkat sembari mengibaskan tangan yang sempat dipegang oleh Chika. Kemudian Gio meninggalkan Defan dan Chika begitu saja.
"Udah biarin aja dulu, dia lagi emosi sekarang." Defan mengajak Chika untuk kembali ke kelas.
.....
Sepulang sekolah, Gio hanya diam terus saat pulang ke kost Dhanu. Putung rokok banyak tersebar di dalam kost Dhanu. Dua anak manusia saling diam tanpa berkata. Dhanu menatap Gio dengan lekat.
Dhanu sudah mendengar permasalahan Gio dengan Defan. Dia juga merasa bingung harus berpihak kepada siapa. Dua-duanya sama-sama adalah sahabatnya. Dan Dhanu memilih untuk tidak berpihak kepada siapa-siapa.
__ADS_1
Hanya saja Dhanu merasa tidak nyaman dengan situasi canggung tersebut. Dia memutuskan untuk ngomong dengan Gio secara baik-baik, mencari solusi untuk permasalahannya dengan Vanka.
"Kenapa sih kalian harus bertengkar dengan masalah yang sama. Vanka." Dhanu mulai membuka suara. Akan tetapi, Gio hanya diam saja.
"Bukannya gue mau bela Defan atau apa, tapi gue yakin Defan nggak mungkin tusuk lo dari belakang. Dia sudah punya Chika." imbuh Dhanu.
"Lo sahabat gue, Defan juga sahabat gue, gue nggak mau kita musuhan kayak gini!" Dhanu bahkan hampir menangis ketika mengatakan hal tersebut.
"Kita udah kenal lama, kenapa kita harus terpecah hanya karena wanita?"
"Gi, lupain Vanka! Dulu tanpa ada wanita kita bisa bahagia." Dhanu mencoba mengingatkan Gio tentang perjalanan persahabatan mereka.
"Kalau lupain Vanka itu pasti gue lakuin, tapi bukan untuk sekarang. Lo tahu seberapa besar cinta gue ke dia. Sulit buat gue lupain dia berikut dengan kenangannya." jawab Gio setelah sekian lama terdiam.
"Iya, pelan-pelan aja." Dhanu tidak yakin Gio bisa melupakan Vanka dengan mudah. Vanka adalah wanita pertama yang bisa membuat Gio jatuh cinta. Dia juga pacar pertama Gio.
"Sekarang lo pulang ya! Kasihan papa dan mama lo."
"Gue bukannya mau usir lo bukan, tapi kan sekarang lo udah nggak perjuangin siapapun. Mama sama papa lo pasti sangat sedih beberapa hari ini, minta maaf ke mereka!" sebagai sahabat, Dhanu tidak ingin Gio menjadi durhaka kepada orang tuanya. Dia mengingatkan agar Gio pulang ke rumah.
Gio kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia ingin meminta maaf kepada orang tuanya terutama mamanya. Karena dia telah menentang apa kata mamanya. Ternyata Vanka tidak sebaik yang dia pikirkan, begitulah pemikiran Gio.
Dengan menggunakan taksi online, Gio pulang ke rumahnya. Dia sedikit berlari setelah turun dari taksi online tersebut. Ingin rasanya cepat bertemu dengan mamanya, dan meminta ampun karena telah menjadi anak yang pembangkang.
Gio terus berlari sampai ke kamar orang tuanya. "Ma, pa!" ucapnya sembari berlari menerobos kamar mamanya tanpa mengetuk pintu.
"Gio??" ternyata Ines sedang melakukan pengecekan. Teman Shaka yang seorang psikiater datang ke rumah untuk melakukan pengecekan rutin.
"Ma..." Gio berlari dan langsung memeluk mamanya.
"Maafin Gio ya ma, maafin Gio karena udah bikin mama kecewa.." ucpa Gio dengan menangis.
__ADS_1
"Gio, mama seneng banget kamu mau pulang. Jangan diinget lagi ya, yang lalu biarkanlah berlalu." Ines mencium anaknya berulang kali. Meskipun dia sering memaksa Gio untuk nurut apa katanya yang tidak masuk akal. Tapi sebagai seorang ibu, Ines akan tetap mencintai dan menyayangi anaknya.
"Kamu sehat sayank? Mama bersyukur banget.." Ines tidak henti-hentinya memeluk dan mencium anak bungsunya.
Gio hanya bisa menangis sembari terus memeluk mamanya. Dia sebenarnya juga sangat merindukan mama dan papanya. Tapi egonya mengalahkan semua.
Gio juga memeluk papanya dan meminta maaf kepada papanya karena selalu mengabaikan chat dari papanya. Tentunya Shaka tidak mempermasalahkan itu, yang terpenting anaknya pulang dalam keadaan yang sehat wal'afiat.
"Nah Gio udah mau pulang, jadi kamu harus selalu sehat, dan jangan lupa minum obat ya!" pesan Lina sebelum dia berpamitan.
"Makasih tante.." ucap Gio.
"Sama-sama, ganteng.." setelah itu Lina pamit undur diri.
Dan, setelah Lina keluar dari rumah tersebut. Gio kembali memeluk mamanya dengan menangis. "Udah nak, jangan diingat-ingat lagi kejadian yang telah lalu." ucap Ines mengelus kepala belakang Gio dengan lembut.
"Mama juga putuskan untuk berusaha menerima hubungan kamu dengan Vanka." imbuh Ines yang justru membuat Gio semakin tersedu.
Seharian dia berusaha menahan air mata karena sakit hati telah diputus oleh Vanka. Kali ini Gio tidak bisa menahannya lagi. Gio menangis semakin terisak.
"Udah ya, jangan nangis lagi nanti mama ikutan sedih!"
"Aku putus sama Vanka, ma.." lirih Gio dengan suara yang serak.
"Putus?" Ines terkejut mendengar perkataan Gio, begitu juga Shaka.
"Apakah itu sebabnya kamu pulang?" mendengar pertanyaan mamanya Gio semakin menangis.
"Maafin Gio ma! Seharusnya Gio dengerin mama.." lirih Gio.
Ines tidak lagi berkata. Dia hanya memeluk anaknya lebih erat dan terus mengelus kepala dan juga punggung Gio. Dia tidak tahu apa yang terjadi antara Gio dengan Vanka. Tapi Ines tahu betul jika anaknya sangat terluka. Baru kali pertama dia melihat Gio menangis sampai segitunya.
__ADS_1
"Ya udah kamu makan dulu, lalu kemudian istirahat. Jangan nangis lagi, nanti mama sedih." Ines mengusap air mata anaknya.
"Kamu kan ganteng, mama yakin kamu akan dapat wanita yang lebih baik dan lebih cantik dari Vanka! Jangan sedih lagi, ya!" Gio menganggukan kepalanya. Tak lama kemudian Gio kembali ke kamar yang telah dia tinggal beberapa hari terakhir, tapi masih tetap bersih dan wangi. Karena papanya selalu meminta pembantunya untuk membersihkan kamarnya meskipun dia tidak ada.