
Meskipun Vanka masih bersikap dingin, Gio tidak menyerah untuk mendekatinya. Gio terus mengikuti Vanka, kemana Vanka pergi.
Siang itu sepulang sekolah, Gio tiba-tiba masuk ke dalam mobil Vanka begitu saja tanpa izin. Tentu saja itu membuat vanka kaget. Begitu juga Akila yang hendak masuk ke dalam mobil Vanka. Akila dan vanka akan pergi hangout setelah pulang dari sekolah.
"Kak Gio??" seru Akila yang kaget tiba-tiba Gio nyelonong gitu aja.
"Duduk belakang lo!" pinta Gio kepada Akila.
"Maaf, lo salah masuk." Vanka masih terus menggunakan bahasa baku kepada Gio.
"Jangan gitu lah sama gue. Kita kan udah kenal lama, dan saling jatuh cinta." ucap Gio dengan tersenyum sembari menatap Vanka.
Vanka menghirup nafas dalam-dalam, dia benar-benar tidak bisa menahan sabarnya menghadapi tingkah Gio yang konyol. Gio lebih leluasa merayu sekarang dibanding sikap dinginnya yang dulu. "Mau lo apa?" tanya Vanka yang benaran tidak bisa menahan sabarnya.
"Mau gue? Lo tanya mau gue?"
"Iya, buruan jawab!" ucap Vanka dengan kesal.
"Mau gue gampang, gue mau kita balikan lagi!" ucap Gio tanpa basa basi. Gio tidak malu mengatakan keinginannya di depan Vanka, bahkan di depan Akila juga.
"Van, gue cinta sama lo." imbuhnya.
"Cinta?" Vanka tersenyum sinis mendengar ungkapan cinta Gio kepadanya.
Masih jelas di telinganya waktu Gio memutuskan hubungan mereka. Bahkan meminta dia buat buka hatinya untuk Defan.
Sekarang dengan gampangnya Gio minta balikan, dan ngomong cinta ke Vanka. Apa Gio tidak mikir seperti apa sakit hati Vanka waktu itu.
"Lo pikir hati gue mainan? Waktu lo mau putus lo minta putus, waktu lo ingin balikan, lo minta balikan. Udah lupa, apa yang lo ucapkan waktu itu? Lo mutusin hubungan kita, dan minta gue buat buka hati gue buat cowok lain. Lo pernah nggak mikirin perasaan gue?" Vanka bertanya dengan marah. Matanya pun tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Mata Vanka berkaca-kaca.
Akila terjebak di dalam suasana yang sangat canggung. Dia tidak ingin ikut campur masalah Vanka dan Gio. Tapi dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa menyaksikan dan mendengar kesedihan sahabatnya.
"Gue minta maaf, gue nggak ada pilihan lain waktu itu."
"Lo memilih untuk jauhi gue dan tidak lagi punya hubungan sama gue, tapi kenapa lo datang minta balikan? Apa lo pikir gue akan terima lo lagi?"
"Iya. Karena gue yakin lo masih cinta sama gue." ucap Gio dengan cepat. Gio juga mengusap air mata Vanka yang sudah menetes.
Vanka menatap Gio dengan tajam. Cukup lama. Tapi dia memilih untuk tidak lagi berdebat dengan Gio. Vanka menepis tangan Gio, dan mengusap air matanya sendiri.
"Turun! Gue mau pulang." pinta Vanka kembali bersikap dingin.
"Gue juga mau pulang, gue nebeng lo!" jawab Gio dengan santai.
"Nggak bisa! Keluar nggak lo!" Vanka mendorong tubuh Gio supaya keluar dari mobilnya.
"Lo tega biarin gue pulang sendiri? Temen-temen gue udah pulang," Gio berakting menyedihkan di depan Vanka.
__ADS_1
"Lo kan bawa motor."
"Di bawa Dhanu." jawab Gio.
Itu memang rencana Gio sejak awal. Dia meminta Dhanu untuk membawa motornya, supaya Gio bisa nebeng Vanka pulangnya.
Vanka melihat ke kanan dan ke kiri. Benar saja di halaman parkir tersebut tidak nampak motor Gio yang tadi di parkir dekat mobilnya. Sekolah pun sudah terlihat sepi.
Vanka menghela nafasnya dalam-dalam. Setelah kemudian dia menjalankan mobilnya. "Gue anter lo sampai depan aja, gue mau pergi sama Akila." ucap Vanka dengan cemberut.
"Ikut. Gue ikut kalian." jawab Gio tidak mau pulang sendiri.
"Nggak bisa, apaan sih lo ngikutin gue mulu.." ucap Vanka merasa keberatan jika Gio ikut dengannya pergi.
"Kalau gitu gue juga nggak mau turun! Siapa tahu lo ternyata pergi dengan cowok lain." Gio melipat kedua tangannya di dada. Dia ngeyel ingin ikut Vanka dan Akila pergi. Gio curiga jika Vanka dan Akila akan pergi dengan laki-laki.
"Suka-suka gue dong, gue mau pergi sama cowok lain, apa hak lo curiga sama gue?"
"Karena gue pacar lo."
"Mantan pacar.." Vanka tidak mau kalah ngeyel dari Gio.
"Sama aja, ada kata pacarnya." ucap Gio dengan konyolnya.
"Ish, nyebelin banget.." ucap Vanka dengan geram. Tidak mau lagi meladeni Gio yang benar-benar kekanakan.
"Van, hari ini nggak jadi pergi aja, perut gue sakit, kayaknya gue harus istirahat deh." ucap Akila yang sedari tadi hanya diam melihat pasangan tersebut berdebat.
"Nggak perlu, istirahat bentar juga sembuh kok." jawab Akila.
Vanka kemudian melajukan arah mobilnya ke rumah Akila. Karena sepertinya Akila menahan sakit, jadi Vanka terlebih dulu anterin Akila pulang.
Setelah Akila turun dari mobilnya. Di dalam mobil hanya tinggal Gio dengan Vanka saja. Tapi Vanka memilih untuk tidak mempedulikan Gio.
"Van," panggil Gio dengan lembut.
"Jovanka.." panggil Gio lagi dengan lebih keras.
"Apa sih?" tanya Vanka sambil tetap fokus dengan jalan di depannya.
"Lo cantik banget sih, gemesin banget gitu, apalagi pipi lo yang chubby ini." Gio menarik pipi sebelah kiri Vanka.
"Apaan sih." Vanka tidak bisa menepis tangan Gio karena dia sedang fokus memutar balik arah mobilnya.
"Makan dulu yuk!" ajak Gio.
"Gue traktir deh, lo mau makan apa? Apapun gue turuti.." lanjut Gio.
__ADS_1
"Nggak, gue mau makan dirumah aja."
"Di rumah gue? Gass dong skuy..."
"Ish,.." Vanka melirik sinis Gio yang kepedean sekali.
Vanka menghentikan laju mobilnya di depan komplek perumahan elite tempat tinggal Gio. Vanka memamg belum pernah diajak pulang Gio ke rumah. Tapi Vanka tahu dimana tempat tinggal Gio. Dulu dia pernah tanya waktu pertama kenal.
"Sudah sampai mas, jangan lupa bayar dan kasih bintang lima." ucap Vanka bak seorang sopir taksi online.
Gio pun tersenyum mendengar perkataan Vanka tersebut. "Jangankan cuma lima bintang, semua bintang yang lo mau pun akan gue kasih ke lo." ucap Gio dengan tersenyum.
Menurut Vanka, Gio memang berbeda dari pertama kali mereka bertemu. Waktu itu Gio masih terlalu kaku dan dingin. Tapi sekarang, dia lebih banyak tersenyum dan suka ngebanyol juga ngegombal.
"Ish, buruan turun!" ucap Vanka lagi. Dia masih belum mau bersikap lembut kepada Gio.
"Buru-buru mau kemana sih?"
"Kencan lah sama cowok gue.." entah kenapa Vanka tertarik untuk menggoda Gio. Dia mengatakan akan kencan dengan cowok barunya, dan ingin melihat reaksi Gio.
Gio yang sebenarnya sudah membuka pintu mobil dan hendak keluar, kembali masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil Vanka lagi, ketika mendengar jawaban Vanka. "Gue ikut." ucapnya dengan cemberut.
"Nggak bisa, lo akan ganggu kencan gue."
"Nggak peduli, pokoknya gue ikut! Atau kalau nggak, gue nggak akan mau turun, biarin aja tidur sini." ucap Gio masih dengan cemberut.
"Siapa cowok baru lo? Anak mana? Bilang ke dia, gue tantang dia balapan nanti malam!" Gio diselimuti rasa cemburu.
"Nggak ada balapan-balapan."
"Kenapa? Lo takut cowok baru lo kalah dari mantan pacar lo?" tanya Gio sembari menatap Vanka tajam.
"Terserah lo mau ngomong apa. Buruan turun, gue udah telat!"
"Nggak. Sebelum cowok baru lo bisa kalahin gue di balapan, gue nggak akan pernah rela lo dimiliki dia." reaksi Gio sangat mengerikan.
"Nggak ada. Gue nggak punya cowok, puas? Sekarang lo bisa turun kan dari mobil gue?" Vanka akhirnya mengalah, dia tidak mau lagi memancing amarah Gio. Vanka takut Gio akan melakukan hal yang tidak-tidak saat marah.
"Beneran nggak punya cowok lain?"
"Iya.." Gio kembali tersenyum dan tentunya bernafas lega.
"Tapi gue kangen sama ayah dan mama lo, gue ikut pulang lo ke rumah!"
"Nanti gue biar dijemput Dhanu jadi nggak ngerepotin lo." lanjut Gio sebelum Vanka menolak dan mengusirnya lagi.
"Hah, bukannya dari tadi udah ngerepotin." ucap Vanka dengan kesal, tapi tetap melajukan mobilnya juga menuju rumahnya.
__ADS_1
Menolak permintaan Gio pun sama aja. Dia tetap tidak mau turun dari mobilnya. Akhirnya Vanka membawa Gio pulang ke rumahnya.
Gio pun tersenyum penuh kemenangan.