
"Paman, tante, Gio ada?" tanya Defan yang membuat Shaka dan Ines kaget. Karena malam-malam datang mencari Gio.
"Malam ini aku tidur sini ya paman?" Defan meminta izin pamannya. Dia sangat tahu bahwa pamannya paling tidak bisa berkata tidak kepadanya.
"Iya," jawab Shaka.
"Aku juga mau minta maaf, kemarin aku sama Gio berantem, maaf aku ya tante, paman." Defan mengakui kesalahannya kepada paman dan tantenya.
"Enggak apa-apa Def, anak muda ribut itu hal yang biasa. Masuk gih, Gio ada di kamar sore belum mau keluar." ucap Ines juga sedih melihat anaknya yang seperti kurang bersemangat.
"Kamu udah makan belum? Ajak Gio makan sekalian gih! Dia belum makan dari siang." imbuh Ines.
"Iya tan, aku ke atas dulu ajak Gio makan!" Defan bergegas ke kamar Gio yang ada di lantai paling atas.
Defan mengetuk kamar Gio beberapa kali. Dengan malas-malasan Gio berjalan dan membuka pintu kamarnya. Gio pikir itu mamanya, karena mamanya sudah lima kali datang ke kamarnya mengajaknya makan.
Tapi, selama lima kali juga Gio menolak ajakan mamanya. Saat mamanya membawakan makanan ke kamar, Gio malah mengunci mamanya diluar.
"Gio udah bilang nggak laper ya nggak laper, kenapa mama ngeyel sih?" ucap Gio memarahi mamanya. Akan tetapi ketika membuka pintu kamarnya. Gio terkejut melihat Defan yang berdiri di depan kamarnya.
"Defan?" ucap Gio kaget.
"Gue mau numpang tidur, gue mau curhat, gue bahagia banget malam hari ini." tanpa izin, Defan main nyelonong aja masuk ke kamar Gio. Tapi kebiasaan itu sudah sering kali terjadi, dan Gio tidak mempermasalahkan itu.
Gio menutup pintu kamarnya kembali. Dia mengikuti Defan yang duduk di sofa di depan tivi yang ada di dalam kamar Gio. Defan menyalakan pembersih udara di kamar Gio, lalu dia menyalakan rokoknya.
Defan menawari Gio rokoknya. Tapi ternyata Gio juga sudah punya rokok sendiri. Gio duduk di samping Defan lalu menyalakan rokok juga.
"Bahagia kenapa lo?" tanya Gio sembari menghisap rokoknya dan mengeluarkan asap dari mulutnya. Gio berpikiran bahwa kebahagiaan Defan itu ada hubungannya dengan Vanka.
"Gi, gue minta maaf ya karena kemarin gue lepas kendali?" ucap Defan sembari memperhatikan bekas memar diwajah Gio.
"Nggak apa-apa." jawab Gio kembali menghisap rokok.
"Gue balikan sama Chika." ucap Defan yang membuat Gio menoleh dengan cepat. Hatinya merasa sangat lega mendengar perkataan Defan tersebut.
__ADS_1
"Thanks ya, karena lo dan yang lain udah rencanain supaya gue sama Chika punya waktu buat ngobrol." Defan memukul lengan Gio pelan.
"Tapi gue malah bikin lo putus sama Vanka." lanjut Defan dengan sedih.
"Udahlah, yang lalu biarkan berlalu. Yang penting lo bahagia, Def, itu lebih penting dari apapun." perkataan Gio tersebut membuat Defan merasa terharu.
Dia merasa sangat kejam kepada Gio. Padahal Gio sangat menyayanginya, tapi dia malah meminta Gio buat milih antara dia dengan pacarnya.
"Kenapa gue bisa begitu bodoh, gue cepat sekali termakan oleh amarah." ucap Defan kembali menyalahkan dirinya sendiri.
"Gi, gimana kalau gue bantu jelasin semuanya ke Vanka? Siapa tahu dia mau lo ajak balikan." Defan sangat bersemangat ingin menyatukan Gio dengan Vanka kembali.
"Percuma kayaknya, dia udah marah banget sama gue, dia bahkan nggak mau lihat gue atau kenal sama gue lagi." ucap Gio dengan tersenyum pahit.
"Lo harus kejar dia lagi! Gue yakin kalian masih saling mencintai, lo masih cinta kan sama Vanka?"
"Dari pertama ketemu dia sampai sekarang, cinta gue tetap sama, nggak ada yang berubah. Yang berubah sikap dia ke gue, dingin banget." jawab Gio sudah mulai leluasa mengutarakan perasaannya.
"Pokoknya lo kejar dia! Gue dukung hubungan kalian!" Gio tersenyum menatap Defan lalu memukul lengan Defan pelan.
Defan tersenyum kecil dengan menganggukan kepalanya. Sebenarnya Defan dan Gio itu sama. Mereka sama-sama pemarah, hanya saja Gio lebih bisa mengendalikan amarahnya dan lebih bisa berpikiran dewasa.
"Lo udah bilang papa sama mama lo kalau mau tidur di rumah gue?" tanya Gio.
"Udah, orang mama yang minta gue buat kesini, minta maaf sama lo." jawab Defan dengan manyun.
"Oh iya, makan yuk Gi, gue laper banget, kata nyokap lo, lo juga belum makan dari siang? Kenapa? Galau?" goda Defan.
"Nggak usah galau lagi, yang penting kita makan dulu, besok supaya lo bisa kejar Vanka lagi! Hidup tuh butuh makan, nggak cuma harapan." ucap Defan yang disambut tawa oleh Gio.
"Udah mirip Reza lo, raja galau.." ucap Gio kemudian turun ke bawah untuk makan bersama Defan.
Ines merasa lega karena akhirnya anaknya mau turun makan juga. Ines yang sebenarnya hendak ke kamar jadi mengurungkan niatnya. Dia menyusul anak dan keponakan yang berjalan ke dapur.
"Makan yang banyak, Def!" ucap Ines.
__ADS_1
"Iya makan yang banyak, mama lo nggak masak kan, makanya lo numpang makan ke rumah gue." sahut Gio dengan tertawa.
"Sialan lo." Defan terbahak mendengar perkataan Gio.
Sementara Ines menegur anaknya supaya jangan berkata seperti kepada Defan, meskipun itu hanya candaan. Ines senang jika Defan mau makan dirumahnya. Dia juga menyayangi Defan seperti anaknya sendiri.
Melihat Gio dan Defan yang kembali akrab membuat Ines merasa sangat bahagia.
****
Karena Defan sudah balikan sama Chika. Gio pun kembali berusaha mendekati Vanka lagi. Gio sengaja menunggu Vanka di parkiran sekolah. Gio mendapat informasi dari Aiko, dan tentunya Aiko dapat info dari Rakha. Hari ini Vanka ke sekolah naik mobil.
Jadi Gio sengaja menunggu diparkiran. Dengan mainan hape, Gio duduk di motornya. Sementara Defan sudah duluan ke kelas bersama Chika.
Lima belas menit kemudian, Vanka tiba di sekolah dengan naik mobil. Tepat seperti informasi yang dia dapat dari Aiko.
Gio tersenyum dan menghampiri Vanka yang baru saja turun dari mobilnya. "Tumben bawa mobil?" tanyanya memulai percakapan.
Vanka yang sangat familiar dengan suara tersebut, berusaha keras untuk pura-pura tidak mendengar.
"Tumben bawa mobil?" Gio menghadap Vanka dan kembali menanyakan pertanyaan yang sama seperti tadi.
"Permisi.." Vanka masih tidak mau menjawab pertanyaan Gio. Dia bahkan berpura-pura tidak kenal Gio.
"Yank, gue kangen." ucap Gio tanpa mau menyingkir dari depan Vanka.
"Maaf lo salah orang, gue nggak kenal sama lo, jadi jangan sembarang manggil!" ucap Vanka dengan sangat dingin kepada Gio.
Gio menarik Vanka kemudian memeluk Vanka. "Gue kangen sama lo." ucap Gio dengan lembut.
Tapi Vanka yang marah, mendorong Gio menjauh darinya. Vanka menatap Gio dengan tatapan marah. Apa maksudnya coba peluk dia di depan umum. Bukannya dia sudah memutuskan hubungan mereka.
"Lo pikir gue wanita apaan? Kita nggak kenal jadi jangan kurang ajar sama gue, atau kalau nggak gue pukul lo supaya bisa mikir!" ucap Vanka dengan marah.
Vanka kemudian merapikan baju seragamnya lagi. Dia lalu berjalan melewati Gio begitu aja. Bahkan tidak melirik sama sekali. Wajahnya terlihat kesal dan marah.
__ADS_1
"Sedingin apapun lo ke gue, cinta gue tetap buat lo. Dan gue yakin di hati lo juga masih merasakan hal yang sama. " saat Vanka berjalan tepat disamping Gio. Gio mengatakan hal yang membuat Vanka termenung. Tapi itu tidak lama, sesaat kemudian Vanka meneruskan langkahnya tanpa mengatakan apapun, dan juga tanpa menoleh.