Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
104


__ADS_3

Vanka ke kelas Gio yang sedang jam kosong. Karena dia juga sedang malas mengikuti pelajaran. Dia malah pacaran di dalam kelas Gio. Tentu saja itu membuat Marisa kesal. Setelah sekian lama, Marisa masih belum bisa melupakan perasaan cintanya untuk Gio.


"Ngapain sih lo disini?" tanya Marisa sembari mendorong Vanka pelan.


"Apaan sih lo.." tapi bukannya Vanka yang marah melainkan Gio yang tidak terima kekasihnya di dorong. Gio juga menepis tangan Marisa dengan kasar.


"Jangan berani sentuh dia!" ancam Gio.


"Kenapa sih Gi lo belain dia terus? Apa bagusnya dia coba?" Marisa sangat kesal karena Gio sangat bucin kepada Vanka.


"Ada masalah? Dia pacar gue, kalau ada yang berani sakiti dia, akan berhadapan dengan gue!" Vanka hanya tersenyum kecil sembari melirik Marisa yang merasa sangat kesal.


"Ngapain lo senyum gitu? Mau pamer lo?" Marisa hendak meraih rambut Vanka tapi Gio lebih cepat menepis tangan Marisa.


"Sepertinya ucapan aja tidak cukup, gue perlu kasih lo tindakan!!" Gio berdiri sembari menggebrak meja.


"Gio!" Vanka jadi panik sendiri karena sepertinya Gio beneran marah. Bahkan dia seperti ingin memukul Marisa. Vanka ikut berdiri dan menarik Gio.


Reza dan Dhanu juga kaget melihat Gio yang sangat marah. Bahkan ingin memukul Marisa. Reza lalu meminta Marisa untuk kembali ke tempat duduknya.


"Lo tahu kan Gio cinta banget sama Vanka? Jadi gue harap lo sadar diri!" ucap Reza.


Hati Marisa kembali merasakan sakit. Kenapa tak sekalipun Gio memandangnya. Kenapa tak sekalipun Gio ngertiin perasaannya. Sudah sangat lama dia mencintai lelaki dingin itu. Tapi kenapa justru orang lain yang bisa mendapatkannya.


Tanpa berkata dan hanya menatap Gio saja. Marisa kembali ke tempat duduknya dengan hati perih. Apalagi saat Vanka memeluk Gio untuk meredakan amarah Gio.


"Kenapa bukan gue? Kenapa bukan gue yang mampu meredakan amarah lo?" gumam Marisa seorang diri.


Tak lama kemudian, karena merasa kasihan kepada Marisa. Teman-teman Marisa berniat mengadukan Vanka kepada guru piket. Mereka sengaja melaporkan Vanka yang main ke kelas mereka saat jam pelajaran.


Dan guru piket pun langsung bergegas ke kelas Gio. Vanka pun dimarahin guru karena main ke kelas Gio sewaktu jam pelajaran. Vanka tidak menduga jika guru piket akan mendatangi kelas Gio yang tidak ada guru alias jam kosong.


"Kamu kelas mana? Kenapa main kesini?" tanya guru piket.


"Kembali ke kelas kamu! Tapi sebelum kembali ke kelas, kamu harus lari keliling lapangan basket sebanyak 10 kali!" Vanka mendapat hukuman dari guru piket.


"Jangan hukum Jovanka, bu! Biar saya aja yang gantiin dia!" Gio tidak mau Vanka dihukum lari keliling lapangan basket sebanyak 10 kali.


"Biarin Jovanka kembali ke kelas! Saya aja yang akan lari." mohon Gio.

__ADS_1


"Kamu mau jadi sok pahlawan? Dia yang salah, dia yang harus dihukum."


"Saya yang salah, saya yang paksa dia untuk kesini." karena kengeyelan Gio akhirnya guru piket itu menyerah. Guru piket itu membiarkan Gio menggantikan hukuman Vanka.


"Gue juga akan lari bareng lo!" Vanka tidak mau Gio menggantikannya menjalani hukumannya seorang diri.


"Nggak! Lo kembali ke kelas!" perintah Gio. Dia tidak mau Vanka dihukum makanya dia rela menggantikannya.


"Tapi-"


"Nggak apa-apa, lo balik ke kelas aja! Atau kalau nggak lo tunggu gue di kantin aja!" Gio menyentuh lembut wajah Vanka.


Sementara Gio menjalani hukumannya dengan berlari mengelilingi lapangan basket sebanyak 10 kali. Vanka menunggu di tempat yang agak jauh dari lapangan tapi bisa dilihat oleh Gio. Dia tidak mau meninggalkan Gio sendiri saat menjalani hukumannya.


Ketika Gio berlari, banyak sekali wanita yang melihat Gio dengan histeris. Gio memang idola disekolah itu. Selain karena ketampanannya juga karena status sosialnya.


Meski Gio tidak pernah menyombongkan dirinya sebagai anak orang kaya. Tapi banyak dari teman-teman sekolahnya yang tahu siapa Gio sebenarnya.


"Gio...." seru segerombolan siswi.


"Perlu gue lappin keringet lo nggak Gi?"


"Ah pengen deh temenin Gio lari..."


Vanka sempat menggelengkan kepalanya saat banyak siswi di sekolahnya histeris melihat Gio yang sedang menjalani hukuman. Vanka baru menyadari jika pesona kegantengan Gio itu sangat kuat. Dan dia patus bersyukur karena dia wanita yang dipilih oleh Gio dari sekian banyak wanita cantik yang mendambakan Gio.


Vanka pun berinisiatif untuk membelikan minuman untuk Gio karena masa hukuman Guo sudah hampir selesai. Vanka kemudian meninggalkan tempat dan menuju kantin sekolah.


Tapi ternyata Gio melakukan hal yang membuat para wanita-wanita yang melihatnya semakin histeris. Gio membuka bajunya dan hanya memakai pakaian dalamnya saja. Karena saat itu baju Gio udah hampir basah karena keringat.


Tubuh Gio yang bagus membuat para siswi itu menjerit. Ditambah kulit Gio yang terlihat putih bersih dan juga perutnya yang indah.


"Awww Gio...."


"Pengen deh peluk Gio.."


Gio sebenarnya tidak bermaksud membuat oara wanita itu histeris. Itu dia lakukan karena tidak mau seragamnya basah karena keringat saja.


Dan saat Vanka kembali. Dia kaget melihat Gio yang hanya memakai pakaian dalam saja. Apalagi melihat para wanita yang kesenengan melihat tubuh indah Gio.

__ADS_1


Vanka pun merasa kesal karenanya. Ingin rasanya dia melempar es yang dia pegang kepada Gio yang sengaja pamer tubuhnya.


Setelah selesai menjalani hukumannya. Gio pun berlari kecil menuju ke Vanka yang menunggunya. Tapi entah kenapa Gio merasa aneh dengan tatapan Vanka yang tajam.


"Ini buat gue pastinya kan?" tanya Gio menunjuk minuman yang ada di sebelah Vanka.


Akan tetapi Vanka tidak menjawab. Dia hanya terus terdiam dengan wajah cemberut.


"Kenapa sih?" tanya Gio sembari menyeruput minuman kesukaannya yang dibelikan oleh Vanka.


"Kenapa hmm?" Gio menarik dagu Vanka karena Vanka masih saja diam.


"Sengaja kan pamer tubuh lo?" tanya Vanka masih dengan cemberut.


"Sengaja gimana sih?" Gio masih belum tahu maksud Vanka.


"Lo sengaja kan buka baju supaya para cewek-cewek itu heboh. Demen banget lo kasih harapan palsu ke cewek-cewek." mendengar omelan Vanka, Gio pun tertawa kecil.


Gio kemudian memakai bajunya kembali. Dia tidak mau membuat Vanka semakin overthinking kepadanya. "Tadi tuh gue keringetan makanya gue lepas supaya nggak basah. Tenang aja, cuma lo kok yang bisa pegang dan lihat tubuh indah gue.." ucap Gio sembari tersenyum dan merapikan pakaiannya.


"Halah alasan!"


"Beneran sayank, ngapain juga gue kasih lihat tubuh gue ke mereka. Mendingan kan kasih lihat ke lo." ucap Gio lagi yang membuat wajah Vanka menjadi merah.


"Buktinya mereka bisa lihat gratis." Vanka masih merasa kesal.


"Cuma lihat ketek gue aja. Kalau lo kan bisa lihat semuanya." Gio semakin menggebu menggoda Vanka yang wajahnya semakin memerah.


"Dasar mesum!"


"Tapi lo suka kan?" Vanka pun mulai bangkit dan meninggalkan Gio yang tersenyum penuh kemenangan. Dia berhasil membuat Vanka salah tingkah.


"Mau kemana sayank? Jadi lihat semuanya nggak?" seru Gio.


"Lo gila...." seru Vanka semakin mempercepat langkahnya.


Gio hanya tersenyum melihat Vanka yang kabur dengan cepat dan wajah yang seperti tomat. "Nggak tahu kenapa gue bisa sayang banget sama cewek konyol itu.." gumam Gio sambil terus memperhatikan Vanka yang semakin mempercepat langkahnya.


#jangan lupa like, coment and rate untuk judul baru ya kak, makasih🤗#

__ADS_1


__ADS_2