
Waktu jam istirahat, Gio sengaja keluar duluan. Dia sudah ada janji dengan Vanka di halaman belakang sekolah.
"Lo mau kemana Gi?" tanya Dhanu ketika melihat Gio meninggalkan kelas duluan.
"Mau kemana sih dia?" tanya Dhanu ke Reza.
"Ke toilet." jawab Reza. Padahal Reza tahu kemana Gio akan pergi. Tapi demi kebaikan semua, Reza sengaja membohongi Dhanu.
"Kalau gitu kita duluan ke kantin yuk!" ajak Defan tanpa menaruh curiga sama sekali.
Di halaman belakang sekolah. Vanka dan Gio sedang bermesraan seperti biasa. "Katanya lo tadi dijegal Lika dan jatuh? Mana yang sakit?" tanya Gio khawatir.
Vanka menunjuk lutut dan juga lengannya yang masih agak linu karena sempat terbentur juga saat dia jatuh tadi. "Udah mendingan sih." ucapnya.
"Tadi lo tonjok muka si Icha?" tanya Gio lagi sembati tersenyum.
"Hmm, habisnya gue kesel.."
"Udah nggak usah dibahas lagi! Yang penting lo nggak kenapa-napa udah cukup.." Gio menarik Vanka ke dalam pelukannya.
"Yank, Reza udah tahu kalau kita pacaran.." Vanka mendongakan kepalanya dengan cemas.
"Lo yang kasih tahu dia?" tanya Vanka.
"Nggak. Dia pernah melihat kita dari sini. Terus dia curiga, karena dia terus mendesak, akhirnya gue jujur ke dia kalau kita pacaran." Gio mengatakan yang sejujurnya.
"Dia udah janji untuk rahasiain hubungan kita kok, bahkan dia juga mau membantu kita membuat moment untuk Defan dan Chika." imbuh Gio.
"Semoga Reza beneran bisa jaga rahasia." Gio menganggukan kepalanya kemudian kembali memeluk Vanka.
"Ke kantin yuk, nanti mereka curiga kalau kita kelamaan disini.." Gio kembali menganggukan kepalanya.
Akan tetapi ada sesuatu yang tidak terduga. Ternyata sedari tadi, Akila dan Reza itu ngintip Gio dan Vanka yang sedang pacaran.
Mereka juga sempat saling dorong dan berdebat. Sampai akhirnya mereka saling mengalah agar tidak ketahuan oleh Gio maupun Vanka kalau mereka sedang mengintip.
"Gawat mereka jalan kesini.." gumam Akila.
Lalu Akila pun berusaha melarikan diri. Tapi karena sama-sama kaget, tanpa sadar Akila dan Reza saling bertabrakan dan jatuh.
Jadinya mereka berdua ketahuan oleh Gio dan Vanka. "Kalian kenapa disini?" tanya Vanka dengan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Kalian ngintip kita?" melihat gelagat keduanya, Gio bisa menebak apa yang mereka lakukan.
Akila dan Reza yang tidak bisa mengelak pun hanya cengar cengir tanpa merasa berdosa sama sekali. "Abisnya gue penasaran.." ucap Akila dengan tersenyum beg*.
"Gue juga. Gue pengen lihat si gunung es ini gimana gaya pacarannya. Ternyata sama aja, gitu-gitu aja." timpal Reza juga cengar cengir seperti tanpa dosa.
"Gitu-gitu aja? Emang lo pernah pacaran bisa tahu gaya pacaran gitu-gitu aja?" tanya Gio sekaligus ejekan ke Reza yang juga belum pernah sama sekali pacaran.
"Gue lihat di tv, anj*r, bilang aja kalau lo mau ledek gue karena jomblo terus.." Reza menendang Gio tapi dengan cepat Gio menghindar.
"Mau nggak jomblo lagi?" tanya Gio dan dengan cepat Reza menganggukan kepalanya.
"Pacarin tuh yang ada di sebelah lo, dia juga jomblo, kalian kayaknya cocok. Setuju nggak yank?" ucap Gio menggoda Akila dan juga Reza.
"Setuju.." jawab Vanka cepat.
"Nggak...." seru Akila dan Reza bersamaan.
"Ih, kompak banget, memamg pasangan idaman banget." ucap Vanka juga menggoda Akila dan Reza.
"Nggak usah banyak omong lo! Buruan ke kantin, sebelum mereka curiga sama kalian." Akila menarik tangan Vanka.
"Nggak usah belagu kalian, rahasia kalian ada ditangan kita.." sahut Reza dengan tersenyum. Dia menjadikan rahasia Gio dan Vanka untuk mengancam Gio dan Vanka. Tapi mereka tahu bahwa Reza hanya bercanda doang.
Lima menit setelah Gio sampai dikantin. Vamka dan Akila juga di kantin. Sebelumnya Ira dan Desi sudah memesankan makanan untuk Akila dan Vanka.
Sebenarnya Akila sudah berada di kantin bareng Ira dan Desi. Tapi karena rasa penasarannya, Akila pamit ke toilet juga. Dan dia pun kemudian melancarkan aksinya mengintip Gio dan Vanka yang sedang bermesraan.
"Van, nanti malam ikut nongkrong di basecamp kita yuk!" ajak Defan menghampiri Vanka.
"Ajak temen-temen lo sekalian, biar makin rame!" imbuh Defan.
Vanka melihat ke teman-temannya terlebih dulu. Dia juga harus minta persetujuan teman-temannya. Tidak bisa dia langsung ambil keputusan.
Baik Akila, Ira maupun Desi. Semua menganggukan kepala mereka, tanda mereka setuju pergi bareng.
"Boleh deh, share lokasinya aja nanti!" Defan menganggukan kepalanya. Dia kembali ke mejanya dengan bahagia.
"Ngapain lo senyum-senyum gitu?" tanya Dhanu.
"Vanka nanti malam mau ikut nongkrong sama kita." jawab Defan dengan nada bicara bahagia.
__ADS_1
Akan tetapi kebahagiaan itu membuat luka di dalam hati Chika. Dulu, dia yang sering main ke tempat biasa Defan dan teman-temannya nongkrong. Defan selalu mengajaknya, tapi sekarang, Defan justru mengajak wanita lain. Itu membuat hati Chika serasa tertusuk. Sakit sekali.
"Lo nanti ada acara nggak?" tanya Gio ke Chika.
"Ikut nongkrong juga yuk!" lanjut Gio.
Chika menatap Gio dengan tersenyum kecil. "Emang boleh?" tanyanya.
"Boleh dong, lo kan juga temen kita. Ya nggak Def?" tapi Defan tidak menjawab. Dia tidak melarang juga tidak mengajak Chika.
"Langsung aja dateng ke tempat biasa!" sahut Reza yang juga paham apa maksud Gio mengajak Chika ikut serta.
"Gue juga ikut!" seru Marisa tidak mau ketinggalan.
"Gue boleh ikut kan, Gi?" Marisa mendekati Gio dan memegangi tangan Gio.
"Iya, tapi tolong lepasin tangan gue!" pinta Gio dengan wajah dingin.
"Oke kalau nggak boleh pegang tangan, gue bakal peluk lo." Marisa langsung memeluk Gio begitu saja. Tentu saja itu membuat Gio menjadi terkejut.
Bukan hanya Gio. Tapi teman-teman yang lain juga ikutan terkejut melihat Marisa yang semakin hari semakin berani aja. Termasuk Vanka.
Sementara Akila dan Reza seketika menoleh ke arah Vanka yang menundukan kepalanya. Mereka tahu Vanka sedang cemburu saat ini.
"Lepasin!!" dengan kasar Gio mendorong Marisa menjauh. Marisa bahkan hampir terjatuh kalau tidak ada murid yang ada di belakangnya.
"Gio, kenapa lo kasar banget sih?" tanya Marisa dengan menangis. Entah itu air mata beneran atau air mata buaya.
"Karena lo jadi wanita, nggak tahu malu!" seru Gio yang benar-benar marah pada saat itu.
"Berkali-kali gue udah ngomong kalau gue nggak suka sama lo. Lo masih aja manja-manjaan dan nempel gue mulu. Gue risi tahu nggak?" Gio beneran marah. Dia bahkan sampai menggebrak meja dan melototi Marisa.
"Selama gue belum melihat dengan mata kepala gue sendiri kalau lo beneran punya pacar. Gue akan terus nempelin lo, nggak peduli lo mau tolak gue berkali-kali, lo risi atau nggak." ucap Marisa sambil menatap Gio tajam.
"Asal lo tahu, cinta gue ke lo nggak main-main. Sejak ketemu sama lo sampai saat ini, cinta dan hatiku hanya ada lo." Marisa mengutarakan perasaannya ke Gio di depan khalayak umum. Marisa bahkan tidak peduli apa kata orang nantinya terhadapnya.
Sementara Vanka menatap Marisa dengan rasa simpati. Segitunya wanita angkuh itu mencintai kekasihnya. Tapi rasa itu hanya simpati belaka. Vanka tetao tidak akan mau berbagi lelaki yang sama dengan wanita lain.
Ya, cintanya memang egois. Kekasihnya hanya boleh menjadi miliknya. Dia tidak mau berbagi dan tidak mau terbagi.
"Itu hak lo suka siapa. Tapi gue tegasin lagi, gue nggak suka sama lo, baik sekarang ataupun nanti, nggak akan pernah." Gio harus tegas. Dia juga harus menjaga perasaan Vanka, karena dia pacarnya sekarang.
__ADS_1
Gio kemudian meninggalkan kantin dengan marah. Padahal dia belum sempat makan apapun. Karena juga baru tiba di kantin.