
Chika tidak langsung mengikuti Defan. Dia memilih untuk mandi terlebih dulu. Chika merasa tenang, karena bisa melacak keberadaan Defan melalui gps yang dia pasang di motor Defan.
Chika terus memantau pergerakan motor Defan. Dia agak kecewa karena ternyata motor Defan bergerak ke komplek perumahan elite perempuan tadi.
"Sebenarnya siapa sih cewek itu?" gumam Chika dengan kesal.
Setelah mandi dan ganti baju. Chika kemudian mengikuti arah kemana perginya Defan. Tapi kali ini dia tidak naik ojek lagi. Tapi Chika lebih memilih memakai mobilnya sendiri.
"Loh, kemana tuh.." Chika sempat kaget saat gps bergerak.
Chika memperlambat laju mobilnya. Dia ingin tahu kemana Defan pergi bersama perempuan tadi. Chika sudah sangat kesal, tapi dia terus berusaha mengendalikan amarahnya.
Ternyata, tak lama kemudian gps itu berhenti di sebuah restoran mewah. Chika bertambah kesal, karena setahu Chika tempat tersebut restoran yang sering di kunjungi oleh para pasangan yang menginginkan suasana romantis.
"Kenapa kesana coba kalau nggak ada hubungan apa-apa?" gumam Chika semakin kesal.
"Lo tega banget sih, Def.." Chika tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
Meskipun dia sangat marah akibat kecewa. Tapi Chika masih sangat penasaran. Dia terus melajukan mobilnya menuju restoran tersebut.
Sebelum turun, Chika merubah penampilannya terlebih dulu. Dengan memakai jaket hitam dengan topi berwarna senada dan kaca mata hitam. Chika memasuki restoran tersebut.
Chika sengaja memilih tempat duduk yang tidak terlalu jauh dari tempat duduk Defan. Bahkan bisa dibilang cukup dekat karena Chika memilih tempat duduk tepat di belakang punggung Defan.
Defan tidak ngeh kalau ada Chika karena penampilannya yang sangat berbeda dan juga Defan memunggungi Chika. Tapi anehnya, di meja tersebut bukan hanya ada Defan dan juga perempuan itu. Tapi ada seorang pemuda juga yang ada di meja yang sama dengan mereka.
Chika semakin tidak bisa mengendalikan dirinya saat pemuda tersebut bertanya kepada Defan dan juga wanita tersebut.
"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya pemuda tersebut.
"Belum ada seminggu.." jawab Defan dengan yakin.
Hati Chika semakin hancur dibuatnya. Akan tetapi, Chika harus berusaha menahan kemarahannya karena dia tidak mau membuat keributan di restoran yang terlihat tenang tersebut.
Chika lebih memilih keluar dari tempat tersebut dan menunggu Defan di dalam mobil saja. Setelah dia membayar minuman yang dia pesan, Chika kemudian keluar dari restoran tersebut.
Di dalam mobil. Chika mengirim chat ke Defan. Dia pura-pura meminta Defan untuk mengantarkannya ke dokter. Dengan alasan asam lambungnya kumat.
Chika ingin tahu reaksi Defan. Apakah dia akan langsung ke rumahnya atau dia mencari alasan terlebih dulu.
Benar saja, ternyata tak lama kemudian Defan keluar dari restoran tersebut dengan terburu-buru diikuti oleh perempuan dan juga pemuda tadi.
__ADS_1
Chika kemudian turun dari mobilnya. Dia mendekat ke Defan yang sudah menaiki motornya dengan perempuan tadi di jok belakang motornya.
"Hai Def..." sapa Chika yang membuat Defan kaget bukan main.
"Kok lo disini? Katanya sakit?" tanya Defan masih dengan khawatir.
"Iya, gue emang sakit, sakit banget.. Tega banget lo ya bohongin gue.." ucap Chika dengan mata yang berkaca-kaca.
Defan buru-buru turun dari motornya. "Dengerin gue dulu!" pinta Defan menahan tangan Chika.
"Jelasin apa?" Chika menatap Defan dengan tajam.
"Jelasin kalau gue salah paham?" tanya Chika dengan marah.
"Gue masih belum budek! Def, kita putus aja!" imbuh Chika yang semakin membuat Defan tersentak.
"Nggak, gue nggak mau.."
"Terserah, lo mau atau nggak, yang jelas gue udah nggak sama lo... Lo kejam.." Chika mengibaskan tangan Defan lalu berlari ke mobilnya.
Tentu saja Defan berusaha mengejar Chika. Dia mengetuk-ngetuk pintu mobil Chika tapi Chika tidak mengindahkan Defan sama sekali. Dia terus melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
"Chika!!!" seru Defan.
Pemuda tadi pun mendekati wanita tersebut. "Jadi pacar lo udah punya cewek sebenarnya?" tanya pemuda tersebut.
Wanita bernama Tasya tersebut hanya diam saja. Dia juga tidak tahu jika sebenarnya Defan sudah punya pacar. "Nggak tahu.." Tasya kemudian berjalan sembari memesan taksi online.
"Bareng gue aja yuk!" ajak pemuda tadi.
"Nggak usah, makasih.." Tasya menolak ajakan pemuda tersebut.
.....
Chika tetap tidak mau menemui Defan yang mengejarnya sampai ke rumah. Chika sudah terlalu sangat kecewa dengan Defan.
Sementara Defan terus berusaha menelepon Chika. Tapi ponsel Chika dimatikan. Chika juga mengintip dari jendela kamarnya. Dari sana dia bisa melihat Defan yang masih mondar mandir di depan rumah neneknya.
Keesokan harinya, Chika berangkat sendiri ke sekolah. Dia naik mobil yang sudah jarang sekali dia pakai setelah balikan sama Defan. Karena setiap hari dia dijemput oleh Defan.
Bimm!
__ADS_1
Bimm!
Gio mengelakson Chika yang baru saja keluar dari mobilnya. Membuat Chika kaget, dan secara refleks memukul mobil Gio bagian depan.
"Heh, kampret lo, bikin kaget aja! Keluar kalau berani!!" omel Chika. Dia tahu itu mobil milik sahabatnya.
"Buset galak amat neng?" tanya Vanka yang baru keluar dari mobil Gio.
"Tau tuh, galak banget kayak emak-emak yang diselingkuhi suaminya." sahut Gio sembari menutup pintu mobilnya.
"Tumben bawa mobil? Nggak bareng sama Defan?" tanya Vanka. Dia belum tahu apa yang terjadi antara Chika dan Defan kemarin malam.
"Nggak, emang kenapa gue harus bareng dia?" sahut Chika yang membuat Vanka dan Gio bertanya-tanya.
"Lah cowok lo, oneng!" Gio menoyor kepala Chika saking kesalnya.
"Udah nggak lagi.."
"Ha? Maksudnya apa sih kok gue nggak ngerti?" Vanka mengerutkan keningnya.
Chika berjalan dengan diikuti Vanka yang penasaran apa yang sebenarnya terjadi antara Defan dan Chika. Kenapa Chika bilang seperti itu.
"Kenapa sih Chik?"
"Gue putus sama Defan.." jawab Chika tanpa menghentikan langkahnya.
"Kok.. kok bisa?" tentu saja jawaban Chika tersebut membuat Vanka semakin penasaran.
"Dia selingkuh. Brengs*k banget dia." Chika menjawab dengan ekpresi biasa saja. Seolah dia tidak merasa kecewa sama sekali.
"Siapa yang selingkuh? Defan?" Gio juga tidak yakin jika sepupunya selingkuh.
"Siapa lagi.. Udahlah, nggak usah ngomongin si brengs*k itu lagi!!" Chika masih malas membahas tentang Defan.
"Oh ya Van, jangan gampang percaya sama omongan lelaki. Iya bilangnya cuma kita satu-satunya, eh tahunya satu disini satu disana.." ucap Chika yang justru membuat Vanka tertawa mendengar jokes Chika.
"Lah itu kan pacar lo. Kalau gue enggak. Bagi gue tetap cuma Vanka satu-satunya wanita dalam hati gue." sahut Gio yang tidak setuju dengan apa Chika katakan.
"Iya di depan Vanka lo bilang gitu. Coba di depan cewek lain.."
"Jangan ngadi-ngadi deh!" Gio kesal sendiri karena Chika memprovokasi Vanka.
__ADS_1
"Jangan dengerin orang yang lagi patah hati yank, dia cuma mau cari temen jomblo.."
"Anj*r lo, tau aja.." sahut Chika dengan terbahak. Setidaknya, rasa sakit hatinya bisa sedikit terobati karena bisa bercanda dengan teman-temannya.