Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
75


__ADS_3

Vanka dalam keadaan yang kurang baik saat ini. Kepergian Desi yang begitu mendadak, membuat Vanka sedikit terguncang. Dia tidak berhenti menangis, meskipun sudah ada di rumah pun. Teringat kenangan indah yang pernah terjalin semakin membuat hatinya hancur.


Vanka membuka kembali galeri foto di ponselnya. Melihat kembali foto dia bersama dengan Almarhum. Air mat tak hentinya mengalir membasahi wajah cantiknya.


"Hiks.... kenapa lo begitu cepat pergi?" lirihnya dengan suara yang berat.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara lo dengan Febri? Sehingga lo bisa senekad ini." hati Vanka semakin hancur tatkala ingat apa penyebab kematian sahabatnya tersebut.


Vanka berpikir akan bertanya langsung kepada Febri, tapi nanti disaat kondisinya sudah memungkinkan. Sekarang, tidak mungkin karena duka kepergian Desi masih membuat semuanya kaget, termasuk Febri yang sepertinya sangat terpukul dengan kepergian Desi yang secara tiba-tiba ini.


Tok!


Tok!


Tok!


Pintu kamar Vanka diketuk tiga kali dari luar. Di depan pintu kamarnya terdengar suara salah seorang pembantu rumah tangganya. "Non, non Vanka!"


Vanka menghapus air matanya, kemudian berjalan dan membuka pintu kamarnya. "Ada apa mbak?" tanya Vanka dengan suara serak karena terlalu lama menangis.


"Ada mas Gio di bawah." jawab pembantu rumah tangga tersebut.


Vanka hanya menganggukan kepalanya. Setelah pembantunya pergi, dia pun turun untuk menemui kekasihnya.


Gio datang karena khawatir dengan pacarnya. Vanka tidak membalas chat-nya. Gio tahu Vanka pasti sangat sedih saat ini. Makanya Gio datang dengan maksud untuk menghibur Vanka. Kalau pun tidak bisa menghibur, setidaknya Gio bisa memberikan pelukan untuk menguatkan kekasihnya.


Gio juga pernah mengalami hal serupa. Dimana dia dulu harus kehilangan seorang sahabat secara tiba-tiba. Sama seperti Vanka, Gio merasa sangat terpukul sekali selama berhari-hari. Gio tahu betul apa yang Vanka rasakan saat ini.


Melihat wanita kesayangannya menuruni anak tangga, Gio tersenyum. Jelas sekali jika Vanka baru saja menangis. Matanya terlihak agak bengkak, dan wajahnya terlihat sayu. Tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali.


Begitu dekat dengan Gio, Vanka langsung memeluk Gio sembari menangis. "Yang sabar, yang kuat!" ucap Gio membalas pelukan kekasihnya.

__ADS_1


Dengan penuh kasih sayang Gio mengelus rambut belakang Vanka. Sementara Vanka masih tersedu di dalam pelukan Gio. Mungkin pelukan lembut dan penuh kasih sayang dari kekasihnya inilah yang Vanka butuhkan saat ini.


Gio menangkup wajah Vanka, dengan ibu jarinya dia mengusap air mata Vanka yang membasahi pipinya. "Udah makan?" tanya Gio dengan lembut. Sementara Vanka hanya menggelengkan kepalanya.


"Makan dong!"


"Nggak napsu.." terdengar jelas suara Vanka yang serak, saking lamanya nangis membuat Vanka sampai cegukan.


Gio menatap pacarnya dengan lembut, dia tersenyum kecil kepadanya. "Gue tahu apa yang lo rasain saat ini, karena gue juga pernah ngalamin. Tapi, lo juga jangan siksa diri lo sendiri! karena itu tidak akan mengembalikan Desi lagi, hanya akan membuat lo sakit. Makan ya!" ucap Gio dengan penuh kasih sayang.


Harus diakui bahwa Gio benar-benar sangat mencintai wanita yang ada di depannya itu. Oleh sebab itu, Gio tidak mau Vanka sakit karena terus memikirkan kepergian Desi yang mendadak.


"Gue nggak lap-"


"Kita keluar cari makan!" Gio menarik tangan Vanka. Dia memaksa Vanka untuk makan dan tidak lagi merasa terpuruk. Vanka sempat tidak mau pergi bersama Gio. Tapi, Gio terus memaksanya sampai akhirnya Vanka ikut dengan Gio.


Gio membawa Vanka keliling kota. Gio membawa Vanka ke pujasera terdekat. Gio tahu jika kekasihnya sangat suka jajanan kaki lima. "Mau jajan apa?" tanya Gio sembari menggandeng tangan kekasihnya setelah turun dari motor sportnya.


"Tuh ada seblak kesukaan lo." sebelum Vanka menjawab, Gio sudah menarik tangan Vanka dan membawa Vanka ke sebuah outlet seblak.


"Masih ada temen-temen lo yang lain, kakak lo, orang tua lo, dan gue." Gio menggenggam tangan Vanka.


Vanka menatap Gio cukup lama. Senyuman manis Gio pada akhirnya membuatnya sadar jika hidup memang harus terus berjalan. Dia sendiri yang meminta Akila dan Ira untuk kuat, tapi kenapa dia sendiri yang malah menjadi lemah.


"Maaf kalau gue lemah. Gue hanya kaget aja dengan kepergian Desi yang mendadak apalagi dia meninggal karena bunuh diri." ucap Vanka yang membuat Gio terbelalak.


Gio tidak tahu sebelumnya penyebab kematian Desi. Dia baru denger dari mulut Vanka ini. "Bu... bunuh diri?" Gio mengkonfirmasi apa yang dia dengar kembali.


Vanka menghirup nafas dalam, lalu kemudian menghembuskannya bersama dengan anggukan kepalanya. Dadanya kembali terasa sesak.


"Alasannya?" tanya Gio lagi.

__ADS_1


Vanka mengangkat bahunya. Dia sendiri juga penasaran, apa yang membuat Desi sampai nekad mengakhiri hiduonya sendiri. "Nggak tahu, tapi katanya sebelumnya dia sempat depresi. Tapi nggak tahu apa yang membuat dia depresi. Mungkin karena putus dari Febri." Vanka menduga jika semua itu ada kaitannya dengan Febri. Karena sebelum meninggal, Desi sempat menulis surat untuk Febri.


"Lo harus tanya ke Febri, gue rasa ada alasan lain lagi!" ucap Gio.


Meskipun Gio tersenyum, tapi sebenarnya di dalam hatinya merasa sangat cemas. Dia teringat mamanya yang berulang kali hampir melukai dirinya sendiri. Gio berpikir apakah mamanya juga akan melakukan hal yang sama seperti Desi. Pikiran Gio mulai kacau dibuatnya.


Meskipun begitu, tapi Gio tetap berusaha senyum dan tenang di depan Vanka. Gio tidak ingin Vanka juga akan kepikiran dan itu sangat tidak baik untuk kesehatan Vanka. Dia masih sedih karena kehilangan sahabatnya secara tiba-tiba, jika seandainya Gio kasih tahu keadaan mamanya yang semakin memburuk, Gio takut Vanka akan berpikiran yang tidak-tidak.


Mungkin ada bagusnya, untuk saat ini Gio menyimpannya sendiri dulu. Gio tidak ingin Vanka akan semakin kepikiran.


Selesai makan seblak, Vanka ingin makan es krim. Gio dengan sigap langsung membelikan es krim untuk kekasihnya. Asalkan bisa melihat senyum pacarnya lagi, Gio akan berikan apa yang Vanka inginkan.


Dan, tanpa sengaja mereka berdua bertemu dengan Arina dan juga Dhanu yang ada di tempat yang sama. "Hai, Dhan.." sapa Vanka.


"Wuih, kayaknya ada yang jadian nih.." imbuh Vanka.


"Makan-makan dong!" sahut Gio juga merasa senang melihat Dhanu bersama dengan Arina.


"Nggak kok, kita masih temenan aja." jawab Dhanu dengan gugup. Sebenarnya yang Dhanu inginkan memang bisa memacari Arina. Tapi sepertinya Arina hanya menganggapnya sebagai teman.


"Gi, gue beli makanan kesukaan kita, dulu kita sering banget beli ini kan?" Arina membuka kotak plastik yang berisi pancake durian.


Arina mengambil satu kue dan menyodorkannya ke mulut Gio. Tapi refleks Gio cukup bagus. Dia memundurkan kepalanya ketika Arina mendekatkan pancake durian itu ke mulut Gio.


"Lo makan sendiri aja, gue baru aja makan, udah kenyang banget gue.." Gio menolak secara halus suapan Arina. Gio tidak mau membuat pacarnya marah, dan juga tidak membuat Dhanu berpikiran yang tidak-tidak.


Arina terlihat begitu sangat kecewa karena penolakan Gio. Demi supaya tidak membuat Arina malu, Dhanu dengan cepat menyambar pancake tersebut. "Uch.. enak banget ini pancake-nya." ucap Dhanu sembari menghabiskan satu kue tersebut.


Arina hanya tersenyum kaku, hatinya masih sangat kecewa dengan penolakan Gio. Apalagi Vanka meliriknya dengan tersenyum kecil. Hati Arina semakin membara karenanya.


"Enak banget loh Gi, lo nggak mau?" Dhanu berusaha membuat Gio supaya mau makan pancake yang dibeli oleh Arina itu, setidaknya satu saja.

__ADS_1


"Udah lo makan aja, gue baru aja makan, udah kenyang.." sebenarnya bukan karena itu alasan Gio menolak makanan yang dibeli oleh Arina. Gio hanya ingin menjaga perasaan kekasihnya saja.


Dhanu akhirnya berhenti memaksa Gio. Dia juga harus menjaga perasaan Vanka selaku pacarnya Gio. Meskipun sebenarnya itu sudah biasa diantara mereka yang sudah berteman lama. Tapi bagi Vanka, itu bukan hal yang wajar dilakukan oleh seorang teman, apalagi Gio dan Arina adalah lawan jenis. Belum lagi perasaan Arina yang beda untuk Gio.


__ADS_2