Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
41


__ADS_3

Defan mengatur waktu untuk bertemu dengan Vanka sekalian makan malam. Sudah lama juga mereka tidak keluar berdua. Awalnya Vanka menolak, karena tidak mau membuat Chika salah paham. Tapi Defan berhasil meyakinkan Vanka bahwa Chika tahu rencana itu. Jadi, Chika tak akan salah paham.


Defan sudah duluan sampai di kafe tempat Akila perform. Vanka berjaga-jaga jika seandainya Chika akan salah paham kepadanya, ada Akila yang bisa jadi saksi nantinya.


Vanka datang bersama dengan Akila. Sebenarnya Akila tidak ada jadwal perform. Hanya saja dia mengganti temannya yang tidak bisa perform karena sesuatu hal.


"Gue kesana dulu yak." ucap Akila memberikan waktu untuk Vanka dan Defan ngobrol berdua.


"Gue request lagu seventeen memikirkan dia ya!" ucap Defan.


"Boleh, yang penting ada.." Akila mengisyatkan uang bayaran untuk request lagu menggunakan jarinya.


"Beres, ntar gue beliin seblak." ucap Defan yang membuat Akila memonyongkan bibirnya. Lalu kemudian berjalan menuju panggung yang ada di depan para pengunjung.


"Lo mau pesen apa Van?" tanya Defan ketika Akila sudah meninggalkan mereka.


"Jus lemon aja." jawab Vanka.


Defan lalu memesan jus lemon untuk Vanka, dan kopi panas untuk dirinya sendiri, juga beberapa camilan sebagai pelengkap.


"Kenapa lo ingin ketemu gue? Kalau mau ngomong kan bisa di sekolah." ucap Vanka.


"Ya... kan kita lama nggak pergi berdua kayak gini."


"Def, jangan bermain api! Gue nggak mau Chika marah ke gue dan menganggap gue sebagai pengkhianat." ucap Vanka memperingati Defan.


"Gue mau lo ajak keluar karena lo maksa terus. Lain kali kalau mau ngobrol kayak gini, lo ajak Chika! Supaya dia tidak salah paham." lanjut Vanka yang sebenarnya takut Chika akan salah paham kepadanya.


"Dan juga kasih tahu Gio! Gue nggak mau kalian bertengkar lagi hanya karena gue." imbuh Vanka.

__ADS_1


Dia takut kejadian beberapa waktu lalu terulang kembali.


"Justru gue mau minta maaf masalah waktu itu. Gue terlalu marah, jadi nggak pikir panjang lagi. Gue paksa Gio milih antara lo sama gue." nada bicara Defan jelas terdengar dia sangat menyesal. Karena keegoisannya, dia membuat sepupunya kehilangan wanita yang dicintai.


"Yang berlalu biarkanlah berlalu. Def, lo nggak salah, Gio juga nggak salah, hanya saja gue masih nggak bisa terima saat Gio meminta gue buka hati untuk orang lain, padahal dia jelas tahu gue cinta sama dia. Itu yang nggak bisa gue terima sampai sekarang." ucap Vanka tidak mau menyalahkan siapapun. Tapi, saat teringat perkataan Gio itu, hati Vanka akan kembali terasa sakit.


"Mungkin Gio terpaksa bilang kayak gitu ke lo. Dia juga terluka Van, dia juga sangat sedih." ucap Defan lagi.


"Lo masih cinta sama dia?" tanya Defan sembari menatap Vanka dengan lekat. Dia ingin melihat reaksi Vanka dengan jelas.


Defan bisa memastikan kalau Vanka masih mencintai Gio. Sama seperti Gio, Vanka sebenarnya juga masih sangat mencintainya. Terlihat jelas dalam ekspresi wajah Vanka.


"Masih kan?" desak Defan. Dia ingin mendengar jawaban jujur dari mulut Vanka sendiri.


"Sampai saat ini gue belum bisa lupain dia. Kenangan bersama dia terlalu indah untuk dilupakan." Vanka tidak langsung mengatakan bahwa dia masih mencintai Gio. Dia hanya mengatakan belum bisa lupa.


Defan tersenyum senang mendengar jawaban Vanka. Meskipun tidak mengatakan secara langsung jika dia masih mencintai Gio. Tapi perkataan Vanka itu juga sudah sangat jelas jika dirinya memang masih mencintai Gio.


"Gue mau emang sengaja, biar dia bisa mikir lebih dewasa ketika mengambil keputusan, dan nggak mudah bilang putus." tanpa sadar Vanka malah curhat kepada Defan secara tidak langsung.


"Lagi pula.. Gue sebenarnya kasihan sama Marisa, dia kelihatannya cinta banget sama Gio."


"Cinta nggak bisa dipaksa Van. Marisa memang sudah lama suka sama Gio, berkali-kali dia menyatakan perasaannya ke Gio. Tapi selalu ditolak oleh Gio." ucap Defan.


"Selama ini gue baru lihat Gio deket sama cewek ya cuma lo. Untuk pertama kalinya dia jatuh cinta pada seorang wanita." imbuh Defan meyakinkan Vanka jika cinta Gio kepadanya sangatlah tulus.


"Lo beneran cewek murah*n ya. Setelah goda Gio, lo sekarang goda Defan, mau lo apa sih? Apa lo pikir lo tuh cantik, jadi bisa caper kesana kemari?" tiba-tiba Marisa datang dan membuat keributan di meja Vanka dan Defan.


Vanka yang kaget pun menoleh. Dia menatap Marisa yang melihatnya dengan sengit. Sepertinya Marisa marah karena Vanka keluar berdua dengan Defan. Marisa pasti punya pikiran yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Kalau Chika sampai tahu, habis lo.." ucap Marisa dengan geram.


Marisa mengira Vanka adalah wanita yang suka menggoda cowok. Dan lebih parahnya, Marisa menganggap Vanka wanita murah*n yang suka rebut cowok orang.


Marisa mengeluarkan ponselnya. Dia memvideo Vanka yang sedang makan bersama Defan. "Gue bakal kirim video ini ke Gio. Biar dia tahu, wanita seperti apa yang dia cintai." Marisa masih sangat geram.


Dia tidak memikirkan apapun lagi, yang dia pikirkan hanya perasaan Gio. Marisa tidak tega melihat Gio dilukai, tapi dia juga harus kasih bukti ke Gio kalau Vanka bukanlah wanita yang baik untuk dia.


"Lo jangan gila.." Vanka tidak mau ada pertengkaran lagi antara Defan dengan Gio. Vanka mencoba merebut ponsel Marisa, tapi Marisa lebih cepat menghindar.


"Hapus nggak!" pinta Vanka dengan marah, bahkan hampir membuat keributan di kafe tersebut.


"Nggak akan. Gio biar lihat siapa lo sebenarnya." Marisa tidak mau menghapus video tersebut.


"Hapus nggak, jangan kacauin hubungan gue sama Gio, atau lo akan tahu akibatnya." Defan juga tidak mau Marisa mengirim video itu ke Gio. Defan tidak mau Gio akan salah paham nantinya, karena Marisa pasti akan menambahi bumbu supaya mereka bertengkar.


"Lagian lo udah punya Chika, masih aja sama cewek murah*n ini."


"Jaga ucapan lo!" Defan tidak terima Marisa mengatai Vanka dengan sebutan cewek murah*n.


"Lihat, sampai segitunya lo belain dia. Atau jangan-jangan lo masih suka sama dia?" Marisa tersenyum sinis. Dia bertanya pada dirinya sendiri, kenapa Vanka bisa banyak banget yang suka, termasuk Gio. Lelaki yang selalu dingin kepada wanita, tapi bisa jatuh hati kepada Vanka.


"Mau lo apa? Gue bakal turutin, asal lo jangan kirim video itu ke Gio!" Vanka mau tidak mau hanya bisa bernegosiasi dengan Marisa.


"Mau gue gampang, lo tahu betul apa mau gue. Jauhin Gio!" ucap Marisa yang menginginkan Vanka menjauhi Gio.


"Bukankah gue juga udah jauhin dia, tapi dia-nya yang masih tetep kejar-kejar gue?"


"Kalau gitu biar gue kirim aja video ini, ini salah satu cara supaya Gio jauhin lo. Gue tahu banget, dia paling nggak suka dikhianati.." Marisa bersiap mengirim video itu ke Gio.

__ADS_1


"Nggak perlu lo kirim, gue udah lihat sendiri." tiba-tiba tanpa di duga, Gio juga ada di tempat tersebut.


Gio menatap Vanka dan Defan dengan tajam. "Gio?" gumam Vanka tidak menyangka sama sekali ternyata Gio sudah ada di tempat itu juga.


__ADS_2