
Vanka ragu saat hendak melangkahkan kakinya memasuki rumah Gio. Bukan karena takut, tapi Vanka khawatir tidak bisa menahan emosi jika Ines memancing amarahnya. Akan tetapi, karena Gio terus menggenggam tangannya, Vanka akhirnya meyakinkan dirinya untuk melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah nan megah itu.
Gio langsung mengajak Vanka masuk ke dalam kamar mamanya. Di sana ada papanya Gio yang berusaha membujuk istrinya supaya mau makan. Dan juga berusaha menasehati istrinya supaya berpikiran santai. "Jangan selalu memikirkan masa lalu!" kata Shaka ke istrinya.
"Aku maunya juga gitu pa, tapi tiap kali aku memejamkan mata, kejadian itu muncul dipikiran aku." ucap Ines dengan menangis.
Shaka memeluk Ines sembari mengelus punggung Ines dengan lembut. Vanka bisa melihat, betapa papanya Gio sangat menyayangi istrinya. Vanka pun tersenyum haru.
"Ma, Vanka datang menjenguk mama.." ucap Gio mengagetkan papa dan mamanya.
"Ngapain bawa dia kesini?" Ines masih belum mau menerima Vanka.
"Vanka ingin menjenguk mama." jawab Gio sembari mendekat ke ranjang mamanya. Tanpa melepaskan genggamannya juga.
"Hallo tante, gimana kabar tante? Katanya tante sakit, semoga lekas sembuh ya!" ucap Vanka. Sebagai seorang yang lebih muda, Vanka tidak mau mengeraskan hatinya. Dia memilih untuk menyapa Ines duluan.
"Baik. Jauh lebih baik kalau kamu nggak kesini." jawaban Ines tersebut tentunya membuat Vanka terluka. Tapi dia terus berusaha menahan amarahnya.
"Ma! Vanka kesini dengan niat baik ingin menjenguk mama, jadi tolonglah mama hargai dia." Gio masih terus menggenggam tangan Vanka. Dia bahkan tidak mau melepaskan tangan Vanka sama sekali.
Ines terdiam, dia hanya tersenyum sinis. Sepertinya masih sulit untuk Ines menerima Vanka.
Sedangkan Shaka merasa senang karena Vanka mau meluluhkan hatinya dan menjenguk mamanya Gio. Shaka memang yakin jika sebenarnya Vanka adalah wanita yang baik. Dia tidak akan melawan jika bukan karena keterlaluan.
"Oh ya Van, kebetulan kamu disini, bisa tolongin om nggak? Bujukin tante Ines supaya mau makan dan minum obat." Shaka mencoba cara agar supaya Vanka bisa lebih dekat dengan Ines.
Vanka menganggukan kepalanya. Kemudian dia mendekati Ines yang masih manyun diatas ranjang. "Tante makan ya! Biar cepet sembuh!" ucap Vanka.
"Jangan sok baik sama aku! Kenapa? Mau cari perhatian Gio sama suami tante?" Ines malah marah kepada Vanka.
"Sampai kapan pun aku nggak akan setuju Gio sama kamu. Gio akan bertunangan dengan Arina." lanjut Ines yang membuat Vanka harus lebih sabar lagi.
__ADS_1
"Kalau tante ingin lihat Gio tunangan sama Arina, tante harus makan dan minum obat supaya cepat sembuh. Kalau tante nggak sembuh ya rencana itu tidak akan terlaksana." Vanka memakai cara yang tak biasa untuk merangsang emosional Ines.
"Aku bisa makan sendiri!" Ines merebut makanan yang Vanka bawa. Lalu kemudian Ines dengan lahap menghabiskan makanannya.
Vanka tersenyum kecil melihat Ines makan dengan lahapnya. Begitu juga Shaka dan Gio, papa dan anak itu merasa lega karena akhirnya Vanka bisa membujuk Ines untuk makan, meskipun dengan kata-kata yang tak biasa.
"Pelan-pelan, ma!" Shaka mendekati Ines yang makan dengan lahap, sampai membuat Shaka khawatir kalau-kalau istrinya akan tersedak.
"Obat aku, pa!" Ines meminta obatnya.
Setelah Ines meminun obatnya, dia memperingati Vanka supaya menjauhi Gio. "Gio akan tunangan dengan Arina setelah aku sembuh.." ucap Ines lagi.
"Kalau gitu semangat untuk sembuh, tante Ines." Vanka menanggapi biasa saja peringatan mamanya Gio.
Vanka selalu yakin pada perasaan Gio. Dia yang menjalani hidup, dia juga yang akan memilih. Jika memang Gio memilih untuk nuruti permintaan mamanya. Berarti Gio tidak serius dengan Vanka.
Begitu simple-nya pemikiran Vanka.
"Eh ada Vanka juga." ucap Arina basa basi.
Vanka adalah orang yang paling tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Vanka juga tipe orang yang bisa merasakan apakah orang itu tulus atau tidak. Wanita berzodiak capricorn tersebut hanya menganggukan kepalanya saja.
Vanka bisa melihat bahwa sebenarnya Arina merasa tidak suka melihat Vanka ada di tempat itu juga. Mungkin takut jika Vanka akan merebut hati dan perhatian mamanya Gio.
"Tante cepat sembuh ya, nanti kalau tante sembuh, kita jalan-jalan ke mall!" ucap Arina mendekati Ines yang masih duduk di ranjang.
"Iya sayank.." Ines meraih tangan Arina dengan lembut. Sikapnya ke Arina sungguh berbanding terbalik dengan sikapnya ke Vanka.
"Tante istirahat ya! Tante harus banyak istirahat supaya cepat sembuh." ucap Arina terlihat sangat perhatian kepada Ines.
"Sebaiknya orang yang tidak berkepentingan keluar dulu aja ya, biar tante Ines bisa istirahat dengan nyaman." lanjut Arina sembari melirik Vanka yang duduk bersebelahan dengan Gio dan masih saja berpegangan tangan.
__ADS_1
"Bener, jadi sebaiknya silahkan lo keluar!" sahut Vanka. Dia tahu jika perkataan Arina tersebut merujuk kepada dirinya. Tapi Vanka bukanlah orang yang mudah ditindas.
"Kok gue?" Arina menunjukan ekspresi yang menyedihkan.
"Terus siapa? Gio? Atau... om Erlan?" tanya Vanka yang membuat Arina gelagapan.
"Emang lo ada kepentingan disini?" tanya Vanka sembari menatap Arina dengan tajam.
"Arina sangat penting buat tante.." seru Ines tidak rela Arina dipojokan oleh Vanka.
"Kenapa nggak lo aja? Lo kan nggak ada kepentingan disini." Arina bertanya dengan tersenyum kecil. Merasa dia memiliki pendukung dibelakangnya.
"Gue? Gue kan temenin Gio, tapi kalau emang gue nggak penting disini, oke kalau gitu, gue keluar sekarang!" Vanka beranjak dari tempat duduknya.
"Karena gue nggak dibutuhin disini, jadi gue pulang aja!" ucap Vanka kepada Gio.
"Nggak boleh. Kalau lo pulang, gue ikut sama lo." Gio tidak membiarkan Vanka pergi begitu saja. Gio menahan tangan Vanka, dia tidak mau melepaskan tangan Vanka sama sekali.
"Tapi Gio, mama ingin kamu temenin mama. Kak Ernes lagi sibuk, mama ingin salah satu anaknya menemani dia." sahut Shaka melarang Gio pergi dari kamar mamanya.
"Ya kalau Vanka pulang, Gio juga pergi.. Pilih Vanka tetap disini atau Gio juga pergi.." ucap Gio mempertahankan kekasihnya di depan mama dan papanya.
"Kalian tetap tinggal disini! Nggak ada yang boleh pergi! Mama nggak mau ditinggal sendiri." Ines akhirnya mengalah, dia membiarkan Vanka tetap ada di dalam kamarnya. Ines juga tidak meminta Arina pergi.
Gio dan Vanka kembali duduk di sofa tempat semula. Vanka terlihat tersenyum kecil. Sebenarnya dia sudah tahu bahwa Gio tidak akan membiarkannya pergi. Makanya Vanka pura-pura mengalah supaya Gio membelanya di depan papa dan mamanya, juga Arina.
Vanka ingin menunjukan kepada Arina bahwa dialah orang yang paling penting untuk Gio. Secara tidak langsung, Vanka ingin menunjukan kepada Arina betapa besar Gio mencintai Vanka.
Gio juga tahu apa maksud Arina berkata seperti itu tadi. Makanya Gio kekeh tidak membiarkan Vanka pergi. Karena Gio tidak ingin kekasihnya dipermalukan.
Ines meminta Arina untuk sabar ketika melihat Vanka dan Gio sangat mesra, bahkan di depan papa dan mamanya. "Iya tante.." ucap Arina dengan wajah menyedihkan. Padahal di dalam hatinya, Arina mengutuk Vanka yang sengaja pamer kemesraan di depan dia.
__ADS_1
"Hargai moment ini, bentar lagi Gio bakal jadi milik gue.." ucap Arina dalam hati.