Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
52


__ADS_3

Setelah urusannya dengan Alfarezi selesai. Heksa kembali menemui Aiko yang ada di ruangan papanya. Heksa kembali meminta maaf kepada Aiko karena telah berbuat hal yang tidak pantas.


Aiko dengan senang hati memaafkan Heksa. Dia juga bukan orang yang pendendam.


"Jadi, maukah kamu berteman dengan aku?" tanya Heksa kepada Aiko di depan papanya langsung.


"Boleh," Aiko menerima ajakan pertemanan dari Heksa. Lagipula cuma berteman kan, kenapa tidak.


"Beneran?" Heksa merasa sangat senang ketika Aiko menganggukan kepalanya.


"Gimana kalau kita makan siang bareng?" ajak Heksa lagi.


Melihat Aiko kebingungan menjawab. Alfarezi pun turun tangan. Dia mengajak Aiko dan Heksa untuk makan siang bersamanya. Karena sungkan untuk menolak. Alfarezi akhirnya memutuskan untuk menemani anaknya. Agar nanti saat Rakha tahu Aiko makan bersama lelaki lain. Rakha tidak akan marah, karena ada Alfarezi disitu.


Istilahnya menjaga perasaan satu dan lainnya juga.


Haksa tidak menolak, karena takut menyinggung perasaan Alfarezi. Mereka bertiga lalu makan siang di kafe yang tidak jauh dari kantor Alfarezi.


Saat makan itu, Alfarezi bisa melihat jelas jika anak dari klien-nya itu memiliki ketertarikan kepada putrinya. Terlihat jelas Heksa sangat perhatian kepada Aiko.


Seandainya saja Aiko belum punya pacar. Mungkin Alfarezi akan menjodohkan Aiko dengan Heksa. Seorang pemuda yang hebat dalam duania bisnis. Melihat Heksa mengingatkannya pada dirinya sendiri waktu masih muda.


Akan tetapi, Alfarezi ingin menghargai perasaan anaknya. Dia juga tidak mau memaksa anaknya untuk menuruti keinginannya. Alfarezi dan Kimora berjanji untuk tidak memaksakan keinginan mereka terhadap anak-anaknya.


Mereka membebaskan anak-anak mereka memilih pasangan sesuai keinginan mereka. Karena mereka tahu betul rasa sakitnya perjodohan. Meskipun pada akhirnya berakhir dengan bahagia. Tapi mereka juga tidak tahu, apakah itu akan sama dengan kehidupan anaknya.


"Pa, setelah ini temenin aku ke jalan-jalan ke mall yuk! Aku bosen.." pinta Aiko kepada papanya.


"Lagi pula kan, kita udah lama nggak jalan bareng, mama sibuk sama temen-temen arisannya." keluh Aiko lagi.


"Iya, papa temenin kamu jalan-jalan. Nanti suruh Defan nyusul!" jawab Alfarezi.


"Dia mana mau nongkrong bareng kita, dia pacaran kayaknya." Aiko ragu apakah adiknya itu mau jalan-jalan bareng kakak dan papanya.


"Nanti Aiko kasih tahu dia." meskipun ragu, tapi Aiko berusaha menghubungi adiknya juga. Akan lebih menyenangkan jika mereka bisa pergi bersama.


"Saya boleh ikut nggak, pak?" sahut Heksa yang ingin ikut jalan-jalan juga bersama Aiko dan keluarganya. Heksa ingin sekali dekat dengan Aiko dan keluarganya.


Aiko saling pandang dengan papanya. Setelah akhirnya Alfarezi memperbolehkan Heksa untuk ikut jalan-jalan bersama mereka.

__ADS_1


Setengah jam kemudian, mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di kota itu. Aiko menggandeng tangan papanya layaknya menggandeng kekasihnya.


Sementara Heksa berjalan di sebelah anak dan ayah itu.


"Kamu mau beli apa?" tanya Alfarezi ke Aiko.


"Aku mau es krim." jawab Aiko yang membuat Alfarezi tertawa.


"Kamu kan udah gede, masa minta es krim?" Alfarezi menarik hidung Aiko yang terus menggandeng lengannya.


"Emang nggak boleh gitu?" tanyannya dengan manyun.


Heksa terus memperhatikan Aiko dengan senyum sendirian. Dia merasa Aiko sangatlah lucu. Apalagi saat dia hanya minta es krim kepada papanya. Tanpa disadari Aiko dan Alfarezi, Heksa melipir ke outlet es krim. Kemudian membelikan Aiko es krim.


"Nih." ucapnya sembari memberikan es krim itu ke Aiko.


"Eh, kak Heksa, makasih..." Aiko menerima es krim tersebut dengan bahagia.


Melihat Aiko tersenyum senang, Heksa pun juga ikutan tersenyum.


Tiba-tiba tanpa mereka ketahui, Defan muncul dan merebut es krim milik kakaknya. "Udah gede nggak boleh makan es krim." katanya.


Aiko ingin marah tapi ketika melihat kalau ternyata itu adiknya, dia tidak jadi marah, hanya kesal aja. "Defan itu es krim gue! Kalau lo mau, lo beli sendiri!" Aiko berusaha merebut es krim-nya kembali. Tapi karena Defan lebih tinggi darinya, Aiko jadi kesulitan merebutnya kembali.


Kebahagiaannya sesederhana itu. Melihat anak-anaknya melakukan hal konyol, itu sudah membuat Alfarezi merasa sangat bahagia.


Ternyata Defan juga tidak datang sendiri. Dia bersama Chika dan juga teman-temannya, termasuk Gio dan Vanka.


"Jangan usil ah yank!" ucap Chika menepuk lengan Defan.


"Iya Defan, jangan usil!" Aiko masih kesal karena Defan masih belum mau mengembalikan es krimnya, malah dihabiskan.


"Yah dihabisin.." Aiko tambah kesal lagi.


"Udah, udah, nanti papa beliin yang banyak. Jangan rebutan ya?" Alfarezi menghibur Aiko yang sepertinya sangat kesal kepada adiknya.


"Mau aku beliin lagi?" tanya Heksa.


"Eh, nggak usah kak, aku udah cukup kok, nanti si rese ini rebut lagi." Aiko menjawab pertanyaan Heksa, tapi sembari memukul lengan adiknya pelan. Dan itu membuat Heksa tersenyum.

__ADS_1


"Ini adik kamu?" tanya Heksa lagi.


"Iya, ini adik aku yang paling rese. Kalau dia adik aku yang paling baik. Ini semua adik-adik aku." Aiko menunjuk Gio dan yang lainnya.


"Hallo Vanka.." tak lupa, Aiko juga menyapa Vanka, adik dari kekasihnya.


"Hallo kak," jawab Vanka yang juga semakin akrab aja dengan Aiko.


"Eh Gi, udah sembuh?" tanya Alfarezi kepada keponakannya.


"Udah mendingan, om.."


Setelah itu mereka kembali melanjutkan jalan-jalan mereka. Dan mereka juga berpisah, Chika dan Defan pergi sendiri. Juga Vanka dan Gio pergi sendiri bersama Reza dan Dhanu. Jadi mereka berpisah sendiri-sendiri.


Saat Aiko bersama papanya dan diikuti oleh Heksa keluar dari toko sepatu. Tiba-tiba seorang wanita mendekati Aiko.


"Oh, jadi gini kelakuan kamu sebenarnya?" ternyata itu Riska yang juga ada di tempat itu juga.


"Gini gimana maksud kamu?" tanya balik Aiko yang sebenarnya terkejut bisa bertemu dengan Riska di tempat itu juga.


"Ya gini, di belakang Rakha kamu tidak lebih dari seorang pel*c*r.." ucap Riska sembari melirik Heksa dan juga Alfarezi yang ada di sebelah Aiko.


Perkataan Riska tersebut tentunya membuat Alfarezi geram. Dia tidak terima anaknya di katain seperti itu. "Maksud adik apa ya?" tanya Alfarezi menahan amarahnya.


Riska menatap Alfarezi yang begitu gagah juga masih tampan meskipun tidak muda lagi. Riska berjalan mendekati Alfarezi dengan gaya centilnya. "Om kenapa mau sama dia sih? Gimana kalau sama aku aja.." ucap Riska yang membuat Aiko membulatkan matanya.


"Aku bisa lebih emm dari dia." imbuh Riska.


Aiko tidak terima papanya digoda oleh Riska. Dia langsung mendorong Riska menjauh dari papanya. "Kamu boleh cari om-om untuk main-main, tapi jangan pernah goda papa aku!!!" seru Aiko dengan marah.


"Papa??" Riska kaget bukan main saat tahu bahwa ternyata pria setengah baya itu adalah papanya Aiko.


"Iya, dia papa aku. Kenapa emangnya?" tanya Aiko dengan marah.


Aiko lalu menarik tangan papanya meninggalkan Riska yang masih tertegun di tempatnya. "Lain kali jaga perilaku ya mbak!" ucap Heksa sebelum menyusul Aiko dan papanya.


Heksa juga cukup kaget melihat tingkah laku Riska tadi. Meskipun Heksa sering sekali melihat hal seperti itu. Seorang gadis yang menggoda lelaki lebih tua atau istilahnya mencari sugar daddy.


Bukan hanya malu karena salah mengira. Riska juga malu karena tadi sempat memfoto Aiko bersama papanya dan Heksa, lalu mengirimnya ke Rakha. Pasti Rakha tambah ilfil kepadanya.

__ADS_1


"Brengs*k.." gumamnya dengan kesal.


#Btw, Author hari ulang tahun, doain semoga sehat selalu ya, agar bisa terus berkarya, terima kasih#


__ADS_2