
Gio datang ke rumah Arina bersama Dhanu dan juga Vanka. Melihat kondisi Arina, Vanka merasa sangat iba kepada Arina. Dimana Arina sudah tidak bisa diajak bicara. Dia hanya akan diam ketika diajak bicara tanpa merespon apapun.
"Tan, gimana keadaan Arin?" tanya Gio ke Rania yang menyambut kedatangan mereka dengan baik.
"Ya begitulah Gi, kamu coba bujuk dia makan siapa tahu dia mau!" pinta Rania.
Gio sempat menatap Vanka terlebih dahulu sebelum akhirnya mendekati Arina setelah Vanka menganggukan kepalanya.
Gio mendekati Arina yang hanya diam saja sedari tadi. Mungkin saja Arina sudah tidak mengenali teman-temannya lagi. "Rin!" panggilnya dengan lembut.
"Rin, gimana kabar lo? Masih inget gue nggak?" tanya Gio lagi karena Arina tidak merespon panggilannya.
Tapi, lagi lagi Arina tidak merespon perkataan Gio. Gio hampir menyerah, tapi Vanka memintanya untuk terus melakukan hal itu.
"Rin, lo inget nggak, dulu lo pernah hampir ilang, sampai Aleno nyariin lo seharian karena takut lo kenapa-napa. Eh, tahunya lo ternyata tidur di dalam almari. Aleno udah panik banget waktu itu. Dia beneran sayang banget sama lo." Gio mencoba mengingatkan memori lama.
"Aleno bener-bener kakak yang baik. Dia satu-satunya orang yang mencintai lo tanpa tapi.." imbuh Gio.
Arina sempat merespon perkataan Gio. Meskipun dia tetap diam. Tapi, pandangan matanya mulai berubah. Dia juga sempat menoleh, menatap Gio.
"Gio?" gumamnya.
"Iya, gue Gio.. Lo masih inget gue?" Gio merasa sangat senang karena Arina mengenalinya dengan cepat.
"Rin, makan yuk! Lo belum makan kan?" Gio bermaksud menyuapi Arina. Akan tetapi Arina malah menepis piring yang dipegang oleh Gio.
Pyarr!
Piring tersebut terlempar dan pada akhirnya pecah. Tentu saja makanannya juga tumpah.
"Gio, lo jahat! Andai saja Aleno nggak lindungin lo, dia pasti masih hidup sampai sekarang! Harusnya yang mati itu lo, bukan Aleno!!" Arina mulai menggila lagi. Dia meneriaki Gio dan marah kepada Gio.
"Iya, maafin gue, harusnya gue yang mati waktu itu." seketika Vanka dan Dhanu mendekati Gio. Mereka berdua tahu seperti apa terpuruknya Gio waktu Aleno meninggal, terutama Dhanu.
"Gi," Vanka dan Dhanu menepuk pundak Gio yang terlihat sangat sedih.
Vanka bahkan langsung memeluk Gio supaya Gio tidak lagi terpuruk. "Bukan salah lo sayank! Semua sudah takdir.." ucap Vanka sembari memeluk Gio.
Gio pun menangis dalam pelukan Vanka. Gio memeluk Vanka dengan erat. "Gue jahat Van, gue jahat.." Gio berkata sembari menangis.
"Enggak. Lo nggak jahat. Lo baik makanya gue cinta sama lo.." ucap Vanka masih dengan memeluk Gio.
"Pergi!!! Pergi!!!" Arina menggila lagi, dia melempar sesuatu ke arah Vanka dan Gio.
"Awas!!" Vanka menarik Gio yang ada di dalam pelukannya.
Dan Dhanu dengan cepat menahan Arina yang akan mengamuk. Sementara Rania berlari mencari obat penenang milik Arina. Dengan cepat Rania memaksa Arina menelan obat penenangnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian Arina lemas dan mulai tenang. Dhanu membantu menggendong Arina ke tempat tidur.
"Tidurlah nak!" lirih Rania sembari mengusap-usap rambut Arina yang terlihat kusut.
Dhanu, Gio dan Vanka keluar dari kamar Arina, sementara Arina mulai tenang dan tertidur.
"Mana yang sakit?" tanya Gio kepada kekasihnya.
Vanka mengangkat tangannya dan menunjukan sikunya yang terasa agak linu karena sempat jatuh dan terbentur lantai. "Nggak apa-apa kok cuma agak linu aja." jawab Vanka tidak mau membuat Gio cemas.
Tak lama kemudian Rania keluar dari kamar Arina. Dia meminta maaf pada Gio dan Vanka atas apa yang telah Arina lakukan kepada mereka. "Maafin Arina ya!"
"Nggak apa kok tante. Tapi maaf tan, kenapa Arina nggak dibawa berobat aja?" Vanka memberanikan diri untuk bertanya. Vanka takut Arina akan mencelakai orang lain karena Arina seperti sudah ditahap yang memprihatinkan.
"Dia sudah diobati kok." jawab Rania singkat.
Karena Vanka merasa tidak enak. Akhirnya dia mengajak Gio untuk pulang saja. Dan Gio pun langsung menyetujui permintaan kekasihnya.
Ternyata, mereka bertiga tidak langsung pulang ke rumah. Mereka memiliki janji dengan Chika di mall. Vanka sengaja meminta Chika untuk menemaninya belanja.
Tapi itu bukan tanpa sebab. Vanka dan Gio juga Dhanu telah merencanakan sesuatu untuk membantu Defan baikan dengan Chika.
Sesuai rencana, Chika menemani Vanka belanja. Nanti Defan akan datang bersama wanita bernama Tasya untuk menjelaskan semuanya kepada Chika. Karena sudah hampir seminggu Chika masih belum mau mempercayai penjelasan Defan. Bahwa Defan dan Tasya hanyalah berpura-pura pacaran di depan mantan pacar Tasya.
Chika sudah menunggu di tempat dia janjian dengan Vanka. Sesuai rencana, Vanka dan Chika jalan-jalan dan belanja. Setelah itu mereka makan bersama juga.
"Hmm.. laki-laki tuh semua cuma manis dimulut aja." jawab Chika sembari mengaduk minumannya dengan sedotan, setelah itu meminumnya.
"Dia punya cewek lain dibelakang gue, b*ngk* nggak tuh?" imbuh Chika yang terlihat masih sangat kesal.
"Lo yakin?"
"Yakin lah, orang gue ikuti dia seharian. Dia pamitnya keluar sama temen-temennya futsal, eh tahunya malah sama tuh cewek. Anj*r banget emang.."
"Lo pasti juga udah denger penjelasan dia kan? Dia pasti bilangnya enggak, padahal gue denger pakai kuping gue sendiri, anj*r masih ngelak juga." Vanka bisa menangkap jika apa yang dikatakan oleh Chika itu memang terjadi. Karena Chika terlihat sangat emosi.
Tapi tiba-tiba Defan muncul bersama Tasya. Mereka mendekat ke meja Vanka dan Chika. "Yank.." sapa Defan yang masih saja memanggil Chika dengan panggilan yank meskipun mereka sudah putus.
Chika pun langsung menoleh karena dia sangat familiar dengan suara cowok tersebut. Tapi begitu dia melihat cewek yang datang bersama Defan. Chika pun langsung membuang muka dan memutar bola matanya.
"Hai Def," Vanka yang menyapa balik Defan.
"Hai Van, Gio mana?"
"Ada, lagi cari sepatu sama Dhanu. Eh, gue cari mereka dulu ya, kalian silahkan ngobrol.." Vanka bangkit dan pamit mencari pacarnya.
"Thank.." bisik Defan ketika Vanka lewat.
__ADS_1
Vanka tersenyum kecil sembari mengedipkan satu matanya.
"Yank, kenalin ini Tasya."
"Sya, ini cewek gue, Chika." Defan memperkenalkan Tasya kepada Chika, pacarnya.
"Hallo, gue Tasya.." Tasya mengulurkan tangannya.
"Chika. Tapi bukan pacarnya Defan. Tapi mantan pacarnya." Chika menyambut tangan Tasya.
"Yank, ah..." Defan merajuk.
"Gue udah denger masalah kalian berdua. Waduh gue jadi nggak enak nih. Gue sama Defan tuh kenal baru 2 minggu kalau nggak salah, iya kan?"
"Iya, 2 mingguan.." sahut Defan.
"Jadi waktu itu gue nggak sengaja lihat Defan hampir melompat dari atas jembatan, terus gue tarik dia, gue marahin dia karena ingin menyia-nyiakan hidupnya." mendengar penjelasan Tasya, Chika pun terkejut.
"Jadi setelah itu kita kenal. Dan untuk membalas budi. Defan bantuin gue untuk berpura-pura jadi pacar gue di depan mantan gue yang freak."
"Jadi apa yang lo dengar itu hanya pura-pura, Defan cuma bantuin gue." imbuh Tasya.
Tapi pada saat itu Chika sudah menatap Defan dengan berkaca-kaca. Bukan karena dia telah menyesal karena salah paham. Tapi karena dia merasa kecewa, kenapa Defan tidak pernah menceritakan masalah yang membuatnya ingin b*nuh diri kepada Chika.
"Apa lo masih anggep gue wanita istimewa?"
"Kenapa gue bahkan tidak tahu masalah yang lo hadapi, sedangkan orang lain tahu..." imbuh Chika dengan marah.
"Gue.. gue malu yank.."
"Malu? Lo bisa cerita ke dia tapi malu cerita sama gue? apa lo pikir gue akan olok-olok lo setelah gue tahu masalah lo?" Chika semakin marah.
"Maafin gue.. Gue cerita sekarang, tapi please dengerin gue!" Defan menahan tangan Chika yang hendak pergi dari tempat itu.
"Kalau gitu kalian ngobrol berdua, gue pamit dulu." Tasya tahu jika tugasnya telah selesai. Dia pun pamit undur diri dan membiarkan Defan dan Chika ngobrol berdua.
"Yank, gue sebenarnya malu cerita ini ke lo. Alasan kenapa gue ingin bunuh diri karena papa dan mama gue sedang diuji, mama menuduh papa main belakang dengan temennya kak Aiko. Mama dan papa saling perang dingin, bahkan mama berkata ingin ceraiin papa." Defan membuka ceritanya sembari menangis.
"Lo tahu orang tua gue selalu harmonis, terus tiba-tiba ada masalah seperti ini. Gue nggak kuat mental, gue nggak kuat.." Defan semakin tersedu.
Chika yang awalnya marah. Akhirnya memeluk Defan yang sedang menangis. "Maafin gue yang nggak peka sama sekali mengenai perasaan lo. Maafin gue.." ucapnya.
"Lo nggak salah yank, gue yang seharusnya berbagi beban sama lo. Maafin gue.." Defan membalas pelukan Chika.
"Mulai sekarang jangan pernah pendam semuanya sendiri! Ada gue, Gio, dan temen-temen lo yang lain. Lo nggak sendirian." imbuh Chika.
"Makasih ya yank..."
__ADS_1