
Rakha dengan ditemani Aiko menghadap Alfarezi dan Kimora. Tubuhnya bergetar ketika Alfarezi menatapnya tajam. Begitu juga dengan Aiko yang menangis terus-menerus.
Sebagai seorang lelaki, Rakha berusaha untuk menegakan kepalanya. Rakha dan Aiko menggenggam tangan satu sama lain, berusaha saling menguatkan.
Kimora terus menerus mengelus lengan suaminya yang terlihat sangat marah atau kecewa. Akan tetapi, Alfarezi tidak tahu bagaimana caranya untuk meluapkan amarahnya. Dia hanya diam dengan wajah membeku.
"Maafin kita om, kita salah, tapi aku mau tanggung jawab." ucap Rakha setelah sekian lama mengunci mulutnya. Juga karena menghadapi kebisuan Alfarezi.
"Maafin Aiko pa!" ucap Aiko dengan suara serak.
"Maafin aku juga om.. Kita saling mencintai, hanya tidak bisa menahan godaan.." ucap Rakha kembali meminta maaf.
"Pa.." Kimora masih mengelus lengan Alfarezi yang sepertinya sangat terpukul.
"Nggak apa-apa.." ucap Alfarezi tanpa bersuara hanya gerakan bibir saja sembari menganggukan kepalanya.
Aiko mendekati papa dan mamanya, Aiko berlutut di depan papa dan mamanya untuk meminta ampun. "Maafin Aiko pa, ma.." ucap Aiko sembari menangis.
Kimora meminta anaknya untuk bangun. Dia sama sekali tidak menyalahkan Aiko atas insiden yang terjadi. Setiap orang pernah melakukan kesalahan, hanya saja, jangan pernah diulangi.
Untuk masalah Aiko tersebut, sebagai seorang ibu, Kimora tidak mau menghakimi atau menyalahkan anaknya. Kimora memilih untuk memberikan semangat untuk anaknya.
"Aku juga minta maaf, tante, om." Rakha juga ikutan berlutut di depan Kimora dan Alfarezi.
"Bangun!" Alfarezi membuka mulutnya setelah sekian lama terdiam.
"Besok bawa orang tua kamu kesini, kita bahas pernikahan kalian!" pinta Alfarezi.
"Siap om." jawab Rakha dengan cepat.
Sudah lama dia ingin mempersunting Aiko. Hanya saja Aiko masih belum siap katanya. Dan terjadilah insiden ini.
Aiko kemudian memeluk papanya. Aiko kembali meminta maaf. Dan Alfarezi memaafkan. Karena seperti apapun kesalahan Aiko, dia tetaplah putri cantik kesayangannya.
Alfarezi memberi isyarat kepada Rakha agar mendekat. Setelah Rakha mendekat, Alfarezi kemudian memeluk keduanya. Rakha juga kembali meminta maaf.
"Iya, tapi kamu harus janji jangan sakiti anak om, kalau kamu sudah tidak mencintai dia, kembalikan ke om!" ucap Alfarezi yang membuat Aiko semakin tersedu.
__ADS_1
Aiko tahu papanya sangat menyayangi dirinya. Dia merasa sangat bersalah karena telah mengecewakan papa dan mamanya. Tapi, dia juga mencintai Rakha.
"Iya om, aku janji om. Aku janji nggak akan sakiti Aiko, aku cinta banget sama Aiko." jawab Rakha dengan yakin. Faktanya memang dia sangat mencintai Aiko.
Tak lama kemudian, Rakha pamit pulang. Dan Aiko mengantarnya sampai ke mobilnya. "Aku pulang dulu!" pamit Rakha.
"Aku minta maaf ya, karena kamu harus terpaksa nikahin aku!" ucap Aiko pelan.
Rakha tidak jadi membuka pintu mobilnya. Dia kembali berbalik dan menatap Aiko. "Hei," Rakha mengangkat dagu Aiko yang tertunduk.
Mata bertemu mata. Rakha mengusap air mata Aiko yang kembali mengalir. Menatap dalam pada wanita yang saat ini telah mengandung calon anaknya. "Kenapa bilang gitu?" tanya Rakha masih dengan menatap mata kekasihnya.
"Jangan salahin diri kamu sendiri! Kita sama-sama mau karena kita saling mencintai. Aku juga tidak terpaksa menikahi kamu. Sudah lama kan aku ingin nikahin kamu, tapi kamunya masih belum mau?" ucap Rakha dengan lembut.
"Jadi, jangan salahin diri kamu. Ini cinta kita, dan ini pilihan kita." imbuh Rakha.
Aiko tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa memeluk Rakha dengan erat. Benar apa kata Rakha, ini cinta mereka dan juga pilihan mereka.
"Jangan salahin diri sendiri! Jaga kesehatan kamu, karena kamu nggak sendirian, anak buah cinta kita yang harus kamu jaga." Rakha menyentuh perut Aiko dengan lembut pula.
Aiko menganggukan kepalanya. Bener juga, daripada terus menyalahkan diri sendiri. Lebih baik jika dia mulai sekarang menjaga kesehatannya. Karena di dalam tubuhnya, ada calon anaknya.
"Iya, hati-hati!"
"Ayah pulang dulu ya sayank!" tiba-tiba Rakha berjongkok dan mengelus perut Aiko kemuďian menciumnya.
"Aku pulang dulu! Jangan nangis terus! Love you.." Rakha berpamitan lagi tapi kali ini dengan mencium kening Aiko.
"Love you too..." jawab Aiko.
****
Rakha sampai di rumah.
Rakha mendekati ayahnya yang masih sibuk kerja di ruang kerjanya. Hatinya sedikit takut untuk berterus terang kepada ayahnya. Tapi dia juga harus melakukannya demi anak dan Aiko.
"Yah," panggil Rakha.
__ADS_1
"Kenapa nak?" ayahnya selalu lembut kepada anak-anaknya.
Tiba-tiba Rakha berlutut sembari menangis. Tentunya apa yang Rakha lakukan itu membuat ayahnya terkejut. "Maafin aku yah. Aku udah bikin ayah kecewa." ucap Rakha yang membuat ayahnya menjadi bingung.
"Ada apa? Ngomong yang jelas!" ayahnya Rakha meminta Rakha untuk bangkit dan duduk di sebelah ayahnya.
"Tarik nafas dulu, lalu ngomong apa yang terjadi!" ucap ayahnya.
Rakha mengambil nafas lalu menghembuskannya perlahan. Setelah dirasa hatinya mulai tenang. Rakha mulai menjelaskan kepada ayahnya apa yang terjadi.
"Aiko hamil yah, aku harus tanggung jawab, itu anak Rakha." ucap Rakha yang jelas membuat ayahnya kaget.
Terlihat dari ekspresi wajah ayahnya, bahwa dia sangat kecewa dengan insiden yang terjadi antara Rakha dengan Aiko.
"Tolong besok ayah ke rumah Aiko ya, sekalian lamarin Aiko buat Rakha!" pinta Rakha ke ayahnya.
Akan tetapi, ayahnya hanya terdiam tanpa menjawab. Cukup lama dia terdiam. Sehingga membuat Rakha menjadi bingung. Apakah ayahnya mau menuruti apa maunya.
"Tolong yah! Anak Rakha harus memiliki keluarga yang utuh. Rakha harus tanggung jawab.. Ayah juga nggak perlu khawatir, pemghasilan dari toko baju milik Rakha pasti cukup kok buat menafkahi anak dan istri Rakha. Rakha nggak akan bebani ayah kok." ucap Rakha.
Ayahnya menatap Rakha dengan dalam. "Nak, ayah sama sekali tidak terbebani jika kamu memiliki istri. Ayah hanya sedikit kecewa aja kamu tergoda untuk melakukan hal yang belum waktunya." jawab ayahnya masih dengan kelembutan seperti biasa.
"Tapi, ayah juga bangga sama kamu. Kamu tahu kamu salah, tapi kamu memilih untuk bertanggung jawab, dan itu sangat gentle bagi ayah. Ayah bangga nak sama kamu." ayahnya menepuk pundak Rakha.
"Besok kita lamar Aiko. Ayah juga suka kok sama Aiko. Dia anaknya sopan, baik, dan yang pasti bisa buat anak ayah bahagia." Rakha tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Dia langsung memeluk ayahnya dan mengucapkan terima kasih.
Rakha lalu ngomong ke mamanya juga mengenai rencananya melamar Aiko. Tidak lupa Rakha juga terus terang kepada mamanya kenapa tiba-tiba dia ingin melamar Aiko.
Sama seperti ayahnya, awalnya mamanya agak kecewa. Tapi kemudian dia merasa salut kepada anak sulungnya tersebut. Jika banyak anak muda yang melakukan kesalahan seperti itu, tapi lebih memilih untuk melakukan ab*rs* dengan alasan belum siap. Tapi Rakha memilih untuk bertanggung jawab.
Kan itu karena Rakha cinta sama Aiko.
Diluar sana, para pemuda dan pemudi itu juga sama, saling mencintai. Tapi banyak juga yang melakukan ab*rs* dengan alasan belum siap.
Rakha memeluk mamanya dan meminta maaf karena telah mengecewakan mamanya. Dengan lembut mamanya mengelus punggung Rakha. "Mama akan lebih kecewa jika kamu jadi seorang pecundang yang tidak mau bertanggung jawab dan berlindung dibalik kata belum siap." ucapnya.
"Mama juga udah nggak sabar pengen menimang cucu, temen-temen mama udah pada punya cucu semua. Mama kan juga pengen." ucap mamanya lagi dengan sedikit bergurau supaya Rakha tidak terus-terus merasa bersalah.
__ADS_1
*Maaf kalau update-nya lama. Karena ada kerabat yang baru berduka karena anaknya meninggal di dalam perut. Jadi author sedikit agak sibuk dan tidak fokus. Terima kasih karena sudah setia menunggu up dafi novel ini.. Selamat membaca semua...*