Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
59


__ADS_3

Akhirnya Vanka pergi ke Mall bersama Akila dan Ira. Hari ini entah kenapa Desi tidak masuk ke sekolah. Tanpa ijin dan tanpa memberitahu teman-temannya. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi.


Vanka melihat Gio yang masuk ke dalam mobil Arina. Hatinya sedikit berdenyut, tapi Vanka mencoba mengerti. Meskipun Vanka bisa melihat jelas jika Arina memiliki perasaan khusus untuk kekasihnya.


"Van, kok gue ngerasa tuh anak baru kayaknya demen deh sama kak Gio." ucap Akila yang juga memperhatikan gerak gerik Arina.


"Kayaknya sih,"


"Jelaslah, siapa coba yang nggak suka sama kak Gio, dia ganteng banget, apalagi wajah dinginnya, menawan banget. Coba aja dia bukan pacar Vanka udah gue embat tuh." sahut Ira dengan bergurau.


"Pertanyaannya, kak Gio mau nggak sama lo?" tanya Akila dengan terbahak yang membuat Ira mencak-mencak.


"Lo harus jaga dia beneran Van! Lo lihat sendiri seberapa banyak wanita yang mendambakan pacar lo." Ira memperingati Vanka supaya menjaga Gio dengan baik. Di luar sana banyak wanita yang ingin menjadi pacar Gio. Dan Vanka-lah pemenangnya, dia yang bisa mencairkan gunung es itu.


Selama jalan-jalan dan nongkrong di Mall, Vanka sengaja tidak mempedulikan chat dari Gio. Dia ingin tahu reaksi Gio saat dia hanya membaca chat-nya tanpa berniat membalasnya.


"Ponsel lo bunyi terus tuh.." Ira yang risi karena ponsel Vanka terus berbunyi. Vanka pun malah mematikan suara di ponselnya, dia mengubah menjadi mode getar saja.


"Siapa sih Van?" tanya Akila.


"Gio."


"Kenapa nggak lo angkat?"


"Biarin aja. Kita karoke yuk!" ajak Vanka. Dia sengaja mengajak teman-temannya karoke supaya Gio tidak bisa menemukannya.


Akila dan Ira dengan senang hati ikut bersama Vanka. Mereka memang suka nyanyi apalagi Akila, si penyanyi kafe yang sudah memiliki jam terbang.


.....


Benar saja, Gio kebingungan karena pesannya tidak ada yang dibalas sama sekali oleh Vanka. Sejak dari sekolah sampai pemakaman Gio tidaklah bisa fokus dengan orang sekitar. Fokusnya hanya ke ponsel saja.


Bahkan dia juga menelepon Vanka tapi tidak pernah diangkat, bahkan sering kali direject oleh Vanka. Gio benar-benar tidak bisa fokus sama sekali. Dia terlihat sangat kesal dan juga gelisah.


"Kita makan dulu ya, Gi?" ajak Arina.


"Anterin gue ke Mall aja," ucap Gio tidak sabar ingin bertemu dengan kekasihnya.


"Sekalian makan, ya!" Arina tidak menyerah.

__ADS_1


Gio menganggukan kepalanya, yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana bisa segera bertemu dengan Vanka. Dia benar-benar tidak memikirkan hal yang lain.


"Lo kenapa sih Gi, kayak gelisah gitu?" tanya Arina lagi.


"Vanka kenapa ya, dia nggak mau balas chat gue, juga nggak mau terima telepon dari gue." keluh Gio masih fokus ke ponselnya.


"Dia masih sibuk mungkin.."


"Nggak, dia nggak pernah gini sebelumnya, sesibuk apapun dia akan selalu kabarin gue.." Gio semakin gelisah dibuatnya.


"Apa mungkin marah karena gue nggak bisa temenin dia?" Gio bertanya-tanya.


"Ya, dia pasti marah. Gue harus temuin dia segera.. Bisa dipercepat nggak Rin!" pinta Gio yang tidak sabar ingin bertemu dengan kekasihnya.


Arina menatap Gio yang terlihat sangat gelisah. "Lo udah lama kenal sama Vanka?" tanyanya penasaran. Setahu Arina, dulu Gio tidak pernah dekat dengan wanita mana pun, selain dia dan Chika. Tapi kedekatan itu hanyalah kedekatan sebagai teman.


"Hmm, kita kenal lewat sosial media sampai akhirnya ketemu dan gue jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi kayaknya sebelum ketemu gue udah suka sama dia." jawab Gio mengingat awal mula perkenalannya dengan Vanka.


"Oh, dia pasti special banget buat lo."


"Banget.. Untuk pertama kalinya gue jatuh cinta, dia bukan hanya special, tapi dia udah kayak hidup gue.."


"Tapi, semua rasa itu tidak ada artinya dibanding dengan kehilangan saudara untuk selama-lamanya.." imbuh Arina masih sedih setelah menjenguk makam kakaknya.


Seketika Gio menoleh dan menatap Arina yang meneteskan air matanya. Entah dia menangis karena kangen kakaknya, atau karena kenyataan bahwa lelaki yang dia cintai telah mencintai wanita lain.


Gio menundukan kepalanya. Dia benar-benar tidak bisa melupakan kejadian di malam yang naas itu. Gio mengulurkan tangannya, dia menghapus air mata Arina.


"...Maafin gue." lirihnya.


Arina seketika tersadar jika dia telah membuka luka lama di hati Gio. Arina tersenyum dan menatap Gio balik sambil sesekali fokus dengan jalanan. "Its ok.." ucapnya juga tidak tega melihat Gio bersedih.


Tak lama mereka sampai di Mall. Gio langsung keluar dari mobil begitu saja. Sementara Arina harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Dia hanya menghela nafasnya saat Gio keluar dari mobil begitu saja.


Gio terus mencari dimana kekasihnya. Tapi tidak dia temukan. Bahkan semua toko sudah dia kunjungi tapi belum juga menemukan Vanka. "Apa lo udah pulang?" gumam Gio seorang diri.


Gio lalu turun melalui tangga eskalator. Sementara Arina juga kebingungan mencari dimana Gio. Dia juga mengelilingi Mall tersebut. Kemudian memutuskan untuk menelepon Gio.


Gio bilang dia sudah keluar dari Mall. Dia ada di parkiran sekarang. Tadi secara tidak sengaja dia melihat Vanka masih terparkir di depan Mall. Jadi Gio memutuskan untuk menunggu Vanka di depan mobilnya.

__ADS_1


"Gi, kita tunggu di kafe depan aja sekalian makan dulu!" ajak Arina. Akan tetapi Gio menolak. Dia masih kekeh menunggi Vanka di samping mobilnya.


Arina tidak bisa memaksa Gio lagi. Dia memilih untuk menemani Gio yang masih terlihat gelisah. Arina pergi sebentar membeli minuman untuk mereka berdua.


"Nih.. Vanka masih belum balas chat lo?" tanya Arina.


"Belum.." jawab Gio sembari menerima minuman yang disodorkan Arina.


Cukup lama Gio menunggu sampai akhirnya Vanka terkejut melihat Gio sudah berdiri di samping mobilnya. Gio terus menatapnya dengan tajam. Tanpa berkata hanya menatapnya saja.


"Lo kok disini?" tanya Vanka dengan gugup.


Akan tetapi, Gio masih tidak menjawab dia terus menatap Vanka dengan tajam. Begitu Vanka semakin mendekat barulah dia bertanya, "kenapa nggak balas chat gue? seneng banget bikin gue khawatir.." omel Gio.


"Gue nggak denger tadi ada chat masuk."


"Tapi lo read chat gue.." alibi Vanka terbantahkan oleh Gio.


"Gue fokus cari kado tadi.."


"Gue keliling mall.."


"Gue di tempat karoke."


"Lo kenapa sih sebenarnya? Lo marah karena gue nggak temenin lo cari kado buat mama lo?" tanya Gio yang bingung dengan sikap Vanka.


"Nggak. Minggir, gue mau pulang!"


Akan tetapi, tiba-tiba Gio menarik Vanka ke dalam pelukan. "Jangan lagi kayak gini, jangan buat gue khawatir kayak gini lagi! Gue bisa bener-bener gila." lirihnya mempererat pelukannya.


Vanka terdiam. Dia merasa sangat bersalah. Vanka tidak bermaksud membuat Gio khawatir sebenarnya. Hanya saja hatinya merasa tidak enak ketika teringat Gio pergi dengan wanita lain.


Perasaan wanita memang sering kali sulit di tebak. Di mulut dia mengizinkan kekasihnya menemani wanita lain. Tapi dalam hatinya dia merasa tidak senang.


Vanka membalas pelukan Gio. "Maafin gue ya! Gue nggak kenapa-napa kok, cuma mau menikmati kebersamaan dengan temen-temen gue aja.." ucap Vanka pelan.


"Jangan kayak gini lagi, oke! Jangan buat gue gila!" pinta Gio masih enggan melepaskan pelukannya.


"Iya. Maaf.." Gio menganggukan kepalanya tanpa mau melepaskan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2