Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
87


__ADS_3

"Gi, lo kenapa sih?" tanya Reza. Dia tidak tahan melihat persahabatannya jadi kacau seperti itu.


"Kenapa emangnya? Gue nggak kenapa-kenapa tuh." jawab Gio dengan santai.


Reza menatap Gio dengan sedikit kesal. Sudah jelas-jelas dia menusuk Dhanu dari belakang. Masih aja bilang kalau dia nggak kenapa-napa.


"Kenapa lo tusuk Dhanu dari belakang?" Reza seperti sudah tidak bisa menahannya lagi. Akhirnya dia bertanya langsung kepada Gio. Karena Gio tidak tahu apa itu basa-basi.


"Gue nggak tusuk dia." Gio masih berkata dengan santai.


Brakkk!


Reza menggebrak meja saking kesalnya dengan Gio. "Gue nggak reti lagi sama lo!" ucap Reza kemudian meninggalkan Gio sendiri di dalam kelas. Sementara Reza pergi ke kantin menyusul Dhanu dan juga Defan.


Reza benar-benar merasa sangat kesal kepada Gio. Dia bukan seperti Gio yang pernah Reza kenal. Dulu, Gio tidak akan pernah mau menyakiti sedikit saja perasaan temannya. Tapi sekarang, jelas-jelas dia menusuk Dhanu dari belakang yang mengakibatkan terancam bubarnya persahabatan mereka.


Reza benar-benar sangat kecewa dengan apa yang Gio lakukan. Bahkan dia terkesan tidak peduli dengan persahabatan mereka.


Reza ke kantin dengan wajah kesal. Dia juga terlihat ngedumel. Sesampainya di kantin, Reza langsung meminum minuman milik Dhanu. Dengan sekali tenggak, minuman Dhanu sudah habis diminum Reza.


"Eh kampret, minuman gue itu." protes Dhanu sembari memukul lengan Reza. Mana Dhanu baru saja selesai makan bakso yang sangat pedas.


"Huh, hah, ganti pokoknya ganti!" Dhanu masih kepedasan.


"Iya, nanti gue ganti. Gue lagi kesel banget sama Gio, dia kayaknya udah nggak peduli dengan persahabatan kita lagi." ucap Reza dengan kesal.


"Biarin aja sih, gue mah udah nggak peduli lagi sama dia." seketika Dhanu sudah tidak merasakan kepedasan lagi.


"Jangan gitu dong Dhan, gue yakin Gio nggak bermaksud tusuk lo kok." sahut Defan. Dia masih percaya bahwa sepupunya itu adalah orang baik. Defan yakin Gio tidak akan melakukan hal seperti itu.


"Belain aja terus dia kan sepupu lo."


"Tapi lo sahabat gue. Kalian sama-sama penting buat gue. Tapi gue yakin, Gio punya sesuatu yang kita tidak tahu."


"Iya Dhan, gue yakin Gio tidak bermaksud tikung lo, tapi memang dia dan Arin dijodohin oleh orang tua masing-masing. Tapi gue bisa lihat sih jika Gio nggak beneran suka sama Arin." timpal Chika juga masih berpikiran positif terhadap Gio.


"Itu lebih kelewatan lagi. Kalau bener dia hanya mainin Arin, berarti dia memang brengs*k." Dhanu semakin tidak terima dengan penjelasan Chika.


"Kalau emang nggak suka, ngapain harus nyakitin?" imbuh Dhanu yang terlihat sangat marah. Jika seandainya Gio memang melakukan hal tersebut, Dhanu tidak akan bisa memaafkan Gio.


Yang membuat Dhanu semakin kecewa karena Gio sama sekali tidak menjelaskan apapun ke dia. Gio malah seperti menjauhi teman-temannya.

__ADS_1


"Ganti, pokoknya lo ganti minuman gue!" Dhanu kembali teringat minumannya yang dihabiskan oleh Reza.


"Inget aja lo.." gumam Reza, kemudian pergi untuk memesan minuman lagi untuk Dhanu.


Bukan hanya Dhanu, tapi Defan juga merasa aneh dengan sikap Gio. Padahal jelas-jelas Defan lihat, Gio masih sangat mencintai Vanka. Tapi kenapa dia menerima perjodohannya.


Defan kembali teringat story wa Arina kemarin juga. Dimana Gio dan Arina sedang liburan bersama. Sebelumnya orang tua Gio mengajak keluarganya, tapi Defan dan keluarga tidak bisa. Tetapi, Defan juga tidak menyangka jika keluarga pamannya akan mengajak Arina.


"Bukan om Shaka, pasti tante Ines yang sengaja lakuin itu." gumam Defan seorang diri.


Tantenya memang sangat berambisi buat misahin Gio dengan Vanka. Dan lagi, Defan masih sangat marah karena Arina memprovokasi Gio dan Chika pada waktu, yang mengakibatkan dia berantem dengan Gio. Untung saja, Chika tidak mudah terprovokasi.


....


"Kerjakan halaman 32, pertemuan selanjutnya kumpulkan!" ucap guru sebelum keluar dari kelas Vanka.


"Baik bu.." jawab mereka serentak.


"Van, ke toilet yuk!" ajak Akila yang sudah ngempet daritadi.


"Lo ikut nggak, Ra?" tanya Akila.


Seperti biasa, setiap jam pergantian guru. Para siswa sering pergi ke toilet atau ke kantin dulu hanya sekedar cari camilan sebelum guru mereka datang.


"Lo sama Gio beneran udah putus?" Vanka hanya menganggukan kepalanya saja.


"Semalam, Gio datang ke tongkrongan Donat, Gio ikut mabuk sama temen-temen Donat." Akila tahu informasi tersebut dari kekasihnya, Doni.


"Biarin aja Kil, bukan urusan gue. Dia udah punya calon sekarang, biarin diurus sama calon dia." jawab Vanka.


Tapi dari suara Vanka jelas terdengar jika dia sebenarnya khawatir dengan Gio. Dia sebenarnya juga sedih, Akila bisa lihat itu. Akila sudah lama berteman dengan Vanka, dan baru lihat Vanka jatuh cinta, ya kepada Gio.


"Awas Van!" seru Akila.


Saat mereka berdua melewati lapangan basket. Vanka hampir saja terkena bola basket yang dimainkan oleh kakak kelas mereka. Beruntung salah satu kakak kelas mereka yang berada di dekat Vanka, menepis bola tersebut sehingga tidak sampai mengenai Vanka.


Vanka menutupi kepalanya, karena takut bola tersebut akan mengenai kepalanya. Saat Vanka membuka matanya, ternyata salah seorang kakak kelasnya menepis bola tersebut.


"Lo nggak kenapa-napa?" tanya kakak kelas tersebut.


"Enggak kak, thanks ya."

__ADS_1


"Makasih ya kak, untung ada kakak kalau nggak Vanka pasti udah kena tuh bola." kakak kelas itu hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.


Sebelum pergi, kakak kelas itu memperingati teman-temannya supaya hati-hati saat main basket. "Lain kali hati-hati!" serunya kepada teman-temannya.


Dari kejauhan, Gio yang hendak ke kantin melihat kejadian tersebut. Tanpa sengaja tangan Gio mengepal, seperti menahan marah.


Gio tidak sendiri. Dia berdama dengan Arina yang juga melihat kejadian tersebut. Arina terheran, kenapa begitu banyak lelaki yang suka mendekati Vanka. Tapi, melihat Gio yang seperti kesal karena kejadian itu. Arina pun mempercepat langkahnya supaya bisa berjalan di dekat Vanka.


"Bener kata tante Ines, lo emang bukan wanita baik-baik, baru aja putus udah deketin laki-laki lain." ucap Ines yang memancing kemarahan Akila.


"Mata lo nggak lihat tadi, Vanka hampir kena bola? Lagian kalau Vanka deketin cowok lain kenapa? Dia single, hak dia dong mau deketin laki-laki lain. Emang situ yang nggak laku sampai rebut pacar orang.." bukan Vanka yang terpancing, tapi malah Akila yang marah.


"Gue rebut siapa? Gio? Jangan ngaco deh, Gio yang minta mamanya buat jodohin kita. Karena apa? Karena Gio dan orang tuanya tahu, siapa yang pantes buat Gio." ucap Arina dengan bangga.


"Iya, emang lo yang pantes buat dia. Gue juga bersyukur sih bisa lepas dari cowok plin plan kayak dia. Lo makan aja dia sampai kenyang!" sahut Vanka meskipun hatinya terasa nyeri.


Vanka menarik tangan Akila. Tidak mau meladeni Arina lagi. Tapi, Arina malah menarik rambut Vanka dengan paksa.


"Aw..." erang Vanka yang kaget karena perilaku Arina. Vanka sampai mundur ke belakang.


"Jangan sok deh jadi cewek. Jangan nyalahin Gio karena kalian putus, itu karena lo yang murah*n, mencok kesana kemari sampai bikin Gio dan Defan bertengkar."


Plakk!


Vanka menampar pipi Arina dengan sangat keras. Bukan karena Arina telah menarik rambutnya. Tapi karena perkataan Arina yang membuat Vanka menjadi marah.


"Lo bilang gue murah*n? Gue bikin Gio dan Defan bertengkar? Lo yang udah provokasi Gio supaya marah ke Defan. Lo juga provokasi Chika, untung saja Chika percaya seutuhnya kepada Defan, karena memang kita tidak pernah mengkhianati pasangan kita." Vanka berteriak karena marah.


"Dan lo sadar nggak? Sebenarnya lo yang udah bikin mereka bertengkar, bukan gue!!" lanjut Vanka dengan mata melotot.


Vanka marah karena selalu dituduh sebagai orang yang mengakibatkan Defan dan Gio bertengkar. "Kalau saja dia seperti Chika, tidak terprovokasi oleh mulut busuk lo, kita pasti akan baik-baik saja sampai hari ini. Hanya saja, cinta saja tidak cukup dalam menjalani sebuah hubungan, harus ada rasa percaya satu sama lain." imbuh Vanka sembari menatap Gio. Dan, karena saking kesalnya, Vanka sampai menunjuk-nunjuk Gio yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Vanka mengungkapkan unek-uneknya. Penjelasan yang sama sekali tidak pernah mau Gio dengar. Yang akhirnya memaksa Vanka untuk mengakhiri hubungan mereka, karena perkataan Gio yang sangat menyakitkan bagi Vanka.


"Udahlah, gue nggak mau bahas lagi masa lalu. Gue doain semoga kalian bahagia selalu." Vanka mulai menurunkan emosinya.


"Dengerin tuh, Vanka udah doain kalian. Jadi jika nanti kalian nggak bahagia, jangan salahin Vanka dan nuduh Vanka doain jelek buat kalian. Awas aja sampai gue denger itu." Akila mengacungkan tinjunya ke Arina. Sementara Vanka merangkulnya dan mengajaknya pergi.


Hati Vanka sudah merasa sangat lega. Selama ini dia menerima tuduhan bahwa dialah yang menyebabkan dua saudara, Gio dan Defan bertengkar terus-terusan.


Gio hanya terdiam. Dia menatap Vanka yang mulai menjauh. Hatinya bergejolak. Tidak tahu apa yang ingin dia lakukan setelah ini. Dia sudah tahu alasan Vanka memutuskan dia.

__ADS_1


"Kenapa diem? Masih ngarepin dia?" Arina bertanya dengan sengit kepada Gio.


"Apaan sih lo. Gue harap, lo bisa jaga mulut lo!" ucap Gio dengan sedikit marah. Gio kemudian meninggalkan Arina dengan berjalan lebih dulu.


__ADS_2