Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
94


__ADS_3

"Cin," sapa Ernes ketika Cintya berjalan seorang diri memasuki kelasnya.


"Hai, Nes.." sapa balik Cintya. Dia berusaha biasa saja tapi tetap terlihat canggung.


Senyum Ernes mengembang. Dia tahu jika Cintya merasa canggung dengan sapaannya. Akan tetapi, Ernes berusaha menahan rasa gelinya. Ernes tidak ingin membuat Cintya merasa malu kepadanya.


"Gimana kabar lo?" tanya Ernes.


"Ba..baik.." terdengar jelas suara Cintya yang gugup.


"Tadi cowok lo?" Cintya hanya menganggukan kepalanya saja.


"Bukan anak sini?"


"Anak kampus sebelah."


"Oh.. semoga langgeng ya.." doa Ernes untuk kelanggengan hubungan Cintya dengan pacarnya.


"Ma... makasih." Cintya menjawab dengan gugup.


"Em,, gue dengar-dengar Aiko mau nikah?" Cintya mensejajarkan langkahnya dengan langkah Ernes.


"Hmm," Ernes hanya bersenandung.


"Lo...?"


"Gue? Biasa aja. Asalkan dia bahagia gue juga ikut bahagia." Ernes tersenyum kecil.


Hati Cintya berdebar kembali setelah cukup lama dia tidak melihat senyuman lelaki berkacamata tersebut. Entah kenapa hatinya masih berdebar saja setiap kali lelaki dingin itu tersenyum kepadanya. Anehnya, karena dia sudah memiliki kekasih tapi debaran itu masih sama seperti dulu.


"Gue duluan.." Cintya mempercepat langkahnya. Dia meninggalkan Ernes karena hatinya semakin berdebar tidak karuan.


Ernes tersenyum kembali melihat Cintya yang salah tingkah. Tapi senyuman itu cepat sekali berubah menjadi dingin kembali.


Ernes meneruskan langkahnya, tapi dari kejauhan dia melihat Aiko yang sedang ngobrol dengan Riska. Ernes mendekati mereka karena Ernes tahu ada yang tidak beres. Dari raut wajah Aiko bisa dipastikan jika Riska sedang memprovokasi Aiko.


Sepertinya benar, karena mereka terlibat saling dorong. Ernes pun segera berlari mendekat, dia tidak mau terjadi apa-apa dengan Aiko dan calon anaknya.


Saat dia hampir dekat, Riska mendorong Aiko dengan cukup keras mengakibatkan Aiko hampir terjatuh. Beruntungnya, Ernes datang tepat waktu.


"Ai, lo nggak kenapa-napa kan?" tanya Ernes yang menangkap Aiko sebelum dia terjatuh.


"Ernes?" Aiko tidak menduga jika ada seseorang yang menangkapnya. Padahal dia sudah sangat khawatir jika dia terjatuh akan membahayakan calon anaknya.


"Nggak kok, thanks ya.." imbuh Aiko kemudian berdiri kembali dengan bantuan Ernes.


"Kenapa lo sendirian? Rakha mana?" tanya Ernes lagi dengan agak marah. Seharusnya Rakha menjaga Aiko, karena usia kandungan yang masih muda sangatlah rawan.


"Dia sedang konsultasi dengan dosen mengenai skripsi."

__ADS_1


"Kenapa lo dorong Aiko? Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Aiko dan bayinya, gue nggak akan lepasin lo." ucap Ernes dengan melotot dan sangat mengerikan.


Riska mulai menciut. Baru pertama kalinya dia melihat Ernes marah seperti itu dan sangat mengerikan. Beda banget dengan kesannya sebagai seorang cupu seperti yang lain katakan.


"Siapa suruh dia labrak gue duluan." jawab Riska berusaha untuk biasa saja. Padahal sebenarnya dia takut melihat ekspresi mengerikan Ernes.


"Kalau lo nggak godain papa gue terus, gue nggak akan labrak lo! Males banget tahu nggak.." sahut Aiko.


"Dia godain papa gue, minta papa buat selingkuh.." Aiko memberitahu Ernes alasan kenapa dia melabrak Riska.


Ernes bukannya marah tapi dia malah tersenyum kecil. "Udah jangan khawatir! Om Alfa tuh standar-nya tinggi, mana mau sama wanita yang... ah lo tahu sendiri-lah." ucap Ernes sembari melirik Riska dan tersenyum. Seolah dia sedang meremehkan Riska.


Aiko yang tadinya kesal, kini menjadi tersenyum mendengar perkataan sepupunya. "Bener juga, bukan kelas papa gue yak?" ucapnya dengan tertawa.


"Nah. Ya udah yuk, gue anter ke kelas lo." Ernes menarik tangan Aiko meninggalkan Riska yang kesal karena merasa dihina oleh kedua bersaudara tersebut.


"Awas aja lo, gue bakal bikin papa lo jadi milik gue!" saking kesalnya, Riska sampai berteriak dan tentunya itu mengundang perhatian dari teman-temannya yang lain.


Begitu sadar, Riska langsung meninggalkan tempat tersebut dengan kesal. Apalagi saat teman-temannya menatapnya dengan aneh.


Sesampainya di kelas Aiko, Ernes hendak kembali ke kelasnya. Tapi tidak sengaja fia bertemu dengan Rakha. Ernes sempat memperingati Rakha untuk baik-baik menjaga Aiko.


"Jangan tinggalin Aiko sendirian apalagi dengan Riska, tadi Aiko hampir jatuh karena berantem sama Riska." ucap Ernes.


"Terus Aiko gimana? Dia terluka nggak?" tentu saja Rakha khawatir setelah mendengar perkataan Ernes.


"Dia baik, tapi gue mohon lo bisa jaga dia baik-baik!" imbuh Ernes.


"Gue relain dia sama lo, gue harap lo bisa jaga dia dengan baik.." gumam Ernes yang hanya bisa di dengar oleh dia sendiri.


Ernes kembali ke kelasnya dengan wajah seperti biasa. Dingin.


****


"Van, ke rumah yuk!" ajak Gio saat dia dan Vanka masuk ke mobil setelah pulang sekolah.


"Ke rumah lo?" tanya Vanka dengan ragu. Gio hanya menganggukkan kepalanya saja.


Vanka terdiam. Bukannya dia tidak mau main ke rumah Gio. Hanya saja, Vanka tidak mau membuat mamanya Gio kesal, ketika melihatnya.


Gio tahu apa yang membuat Vanka ragu. Gio pun menjalankan mobilnya. Tak lama kemudian dia meraih tangan Vanka. Dengan lembut Gio mencium tangan kekasihnya tersebut.


"Mama nggak akan marah kok." ucap Gio.


Vanka masih terdiam. Dia menatap Gio yang sedang fokus dengan jalan di depannya sembari terus menggenggam tangannya. Vanka berpikir, sudah lama juga dia tidak main ke rumah Gio.


Kemudian, demi membuat pacarnya senang. Vanka akhirnya mau juga main ke rumah Gio. "Iya deh," ucap Vanka sembari membuka seragamnya di dalam mobil.


Tentu saja, melihat Vanka membuka bajunya. Gio menjadi kaget. Dia bahkan sampai tidak sengaja menginjak rem saking gugupnya.

__ADS_1


"Lo mau ngapain?" tanya Gio dengan gugup dan dengan wajah merah seperti udang rebus.


Ternyata, Vanka memakai kaos oblong biasa sebagai dalaman. "Ganti bajulah, ntar seragam gue kotor." jawab Vanka dengan santai sembari memasukan baju seragamnya ke dalam tas.


"Kenapa muka lo merah gitu? Mes*m lo ya mikirnya?" tuduh Vanka yang membuat Gio menjadi gelagapan.


"Nggak, nggak merah kok cuma.. e... e... gerah aja, iya gerah banget." Gio menjadi gagap seketika.


"Masa sih? Orang ac-nya nyala, gue juga nggak gerah. Ngaku aja deh kalau emang otak lo mes*m kan?" Vanka sengaja menggoda Gio, membuat Gio semakin memerah wajahnya.


"Enggak." bantah Gio tapi beneran, wajahnya terlihat sangat merah.


Sesampainya di rumah Gio. Vanka ragu untuk turun dari mobil. Tapi karena Gio terus memaksanya, akhirnya Vanka turun juga. Tapi masih tetap dag dig dug der. Berkali-kali dia menghela nafas dalam-dalam, mengatur perasaan supaya tidak gugup.


Gio pun dengan bangga menggandeng tangan Vanka, membawanya masuk ke dalam rumahnya. "Mbak, tolong siapin minum dan camilan buat kita!" perintah Gio kepada assisten rumah tangganya.


"Gue ganti baju bentar, lo mau ikut atau disini aja?"


"Disini aja." tentu saja Vanka menolak ketika Gio mengajaknya ke kamar.


Bagi Vanka, kamar adalah privasi seseorang. Vanka juga merasa tidak pantas jika dia masuk ke dalam kamar Gio meskipun mereka pacaran tapi bagi Vanka itu sangatlah tidak pantas.


Gio segera kembali setelah selesai ganti baju. Dia tidak mau lama-lama meninggalkan kekasihnya sendiri di ruang tamu.


"Pindah kesana yuk!" Gio mengajak Vanka ke ruang tamu yang ada di samping kolam renang.


Disana mereka akan lebih leluasa bermesraan karena tempatnya ada di luar rumah.


Gio terus bermanja ke Vanka. Dia memeluk Vanka dan juga tiduran dengan paha Vanka sebagai bantalnya. Gio mengungkapkan kebahagiaannya karena bisa kembali menjalin hubungan dengan Vanka. Dan yang paling membuat Gio bahagia, karena mamanya juga telah memberikan restu kepada hubungan mereka.


"Van, nikah yuk!"


"Nikah?" mendengar perkataan Gio, tentunya Vanka menjadi terkejut.


Nih anak kesambet apaan sih?


Dikiranya nikah itu gampang.


"Iya. Nikah yuk! Jadi gue bisa miliki lo seutuhnya." alasan yang sangat tidak masuk akal, menurut Vanka.


"Ogah ah, kita masih kecil belum saatnya mikirin hal seperti itu." tentu saja Vanka menolak ajakan konyol Gio.


"Lo nggak mau nikah sama gue? Lo kok gitu sih, gue kan cinta banget sama lo." Gio tidak terima dengan penolakan Vanka.


"Iya gue tahu. Gue juga cinta sama lo. Tapi nikah itu bukan perkara gampang, sayank. Nikah tuh tanggung jawabnya lebih besar, karena lo harus gantiin tanggung jawab orang tua gue. Sedangkan lo masih suka ngambek kayak gini.." Vanka mencoba memberi pengertian kepada Gio.


"Tapi janji lo jangan pernah tinggalin gue hanya karena rasa bosan?" tanya Gio.


"Harusnya gue yang tanya kayak gitu."

__ADS_1


"Gue nggak akan pernah bosan sama lo. Lo cinta pertama dan gue harap lo juga cinta terakhir gue." Gio menatap Vanka sembari menggenggam tangan Vanka.


Tahu kenapa, hati Vanka berdetak dengan sangat cepat saat itu juga. Vanka sama sekali tidak menyangka, jika lelaki dingin yang dia kenal melalui jejaring sosial itu akan sebucin itu kepadanya. Yes, he is tsundere.


__ADS_2