
Pagi itu suasana di kelas Vanka terasa seperti awan hitam yang datang tiba-tiba di tengah teriknya matahari. Gelap. Tangisan pecah dikala kabar duka itu datang. Vanka, Akila, dan Ira saling berpelukan sembari menangis. Kabar duka yang datang bagaikan petir yang menyambar di siang bolong.
Baru saja, pihak sekolah mengabarkan jika Desi telah berpulang untuk selamanya. Mendengar kabar tersebut, tentunya membuat Vanka, Akila, dan Ira menjadi kaget. Bahkan, kemarin Desi masih berangkat ke sekolah. Tapi kenapa kabar itu datang begitu cepat.
Ira segera mengkonfirmasi berita tersebut ke kakak perempuan Desi. Dan ternyata benar, Desi sudah berpulang untuk selamanya.
Masih belum jelas apa penyebab kematian Desi. Tapi, berita itu cukup mengagetkan ketiga temannya. "Semalam dia masih telepon gue, kita masih bercanda bareng, hanya saja dia bilang mau pergi, tapi nggak jelas mau pergi kemana." ucap Vanka dengan terisak.
Bukan hanya kepada Vanka. Ternyata Desi juga sempat berpamitan kepada Ira dan Akila juga lewat pesan singkat.
"Semenjak putus dari Febri, Desi emang agak aneh tingkahnya." ucap Ira kembali mengingat apakah ada yang ganjil dengan tingkah Desi belakangan ini.
"Apa sebelumnya dia punya penyakit yang parah?" tanya Akila masih memikirkan apa penyebab kematian Desi.
Ira menggelengkan kepalanya. Entah dia tidak tahu, atau memang Desi tidak punya penyakit yang parah. Ira tidak bisa menyembunyikan rasa kehilangannya. Diantara mereka bertiga, Ira yang paling lama mengenal dan berteman dengan Desi. Bisa dipastikan jika dia benar-benar kehilangan.
Bukan hanya mereka bertiga yang merasa sangat kehilangan. Akan tetapi, ada seseorang yang merasa sangat terpukul karena kehilangan sosok yang pernah dia cintai. Dia adalah Febri.
Memang, Febri tidak mengungkapkan perasaannya dengan tangisan. Tapi bisa dilihat raut wajah Febri yang begitu sangat terpukul.
Vanka mendekati Febri, lalu menepuk pundak Febri pelan. "Menangislah kalau lo mau nangis! Jangan ditahan!" Febri terdiam, dia masih mempertahankan citranya sebagai seorang lelaki di depan teman-temannya. Tapi, matanya tidak bisa menipu, dia sedih dan mungkin sangat sedih.
"Kita ke rumah Desi sekarang!" ajak Vanka dan Febri hanya menganggukan kepalanya saja.
Sekolah mengijinkan Vanka, Akila, Ira dan Febri untuk pulang terlebih dulu. Mereka berempat bersama dua perwakilan guru datang ke kediaman Desi.
Sesampainya di rumah duka, Desi baru saja selesai dimandikan. Tangisan kembali pecah ketika Vanka, Akila, dan Ira mendekati jasad Desi yang nampak cantik dalam tidur panjangnya.
Ira bertanya kepada kakaknya Desi, apa penyebab meninggalnya Desi. Kakaknya Desi malah kembali menangis histeris dan itu membuat suasana semakin mengharukan.
Kakaknya Desi melihat sosok lelaki yang terus menundukan kepalanya di depan jenasah Desi. Diam, dan hanya terus diam sembari menundukan kepalanya. Dia mendekati lelaki itu. "Lo Febri kan?" tanya kakaknya Desi.
Febri masih belum mau membuka suaranya. Dia hanya menganggukan kepalanya saja. Lalu kemudian kakaknya Desi memberi sebuah surat yang ditemukan di dekat mayat Desi.
Dari kakaknya, teman-teman Desi tahu jika penyebab kematian Desi tersebut karena bunuh diri. Desi mengakhiri hidupnya dengan memakan banyak obat tidurnya. Selama beberapa hari, Desi memang sulit untuk tidur. Orang tuanya membawa Desi ke psikiater untuk konsultasi. Dan Desi dinyatakan mengalami depresi.
"Ini ditemukan disampaing jasad Desi." ucap kakaknya Desi sembari memberikan kertas tersebut.
__ADS_1
Febri menerimanya. Akan tetapi dia tidak langsung membukanya. Febri menyimpan kertas tersebut ke saku baju sekolahnya. Dia akan membacanya nanti.
Saat itu Febri hanya terus menundukan kepalanya. Tapi sesekali dia terlihat menyeka air matanya. Mungkin benar, kehilangan yang paling menyakitkan ialah kehilangan dia yang sudah tidak bisa lagi kita lihat. Kepergian untuk selamanya, menyisakan luka yang teramat dalam. Jangankan untuk bersua, untuk meminta maaf pun sudah tidak bisa.
Vanka yang duduk di samping Febri hanya bisa menguatkan dengan cara mengusap punggung Febri.
"Kuat! Gue yakin lo kuat!" ucap Vanka.
"Kita nggak tahu apa yang terjadi antara kalian berdua kemarin, tapi yang pasti, gue yakin lo orang yang kuat!" Akila yang biasanya selalu kasar ke Febri. Kali ini dia lebih menyemangati Febri. Yang dibutuhkan Febri adalah semangat.
"Makasih ya kalian selalu peduli sama gue.." ucap Febri pelan.
"Itu gunanya teman." sahut Vanka masih mengusap punggung Febri dengan lembut, bergantian dengan Akila.
"Meskipun lo sering rese, tapi lo tetep temen gue.." timpal Akila juga. Febri menganggukan kepalanya sembari tersenyum kecil.
Suasana semakin mengharukan disaat jenazah Desi dibawa ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Vanka, Akila, Ira dan Febri mengantar Desi sampai ke tempat peristirahatannya untuk selamanya.
Air mata kesedihan pecah begitu jenazah Desi di masukkan ke dalam liang lahat. Tangisan histeris mama dan papanya, juga kakaknya terdengar begitu menyayat hati.
Vanka, Akila, dan Ira selalu berpelukan untuk menguatkan satu sama lain. Pikiran mereka kembali kepada masa dimana mereka masih berempat dulu. Canda, tawa, suka, duka mereka lalui bersama.
"Kita juga nggak nyangka." Vanka dan Akila memeluk Ira dengan erat. Mereka berdua juga merasa sangat kehilangan sosok seorang sahabatnya yang baik dalam hidup mereka.
Masih teringat jelas dalam ingatan, dimana keempat remaja putri itu selalu pergi bersama. Desi orang yang paling receh diantara mereka berempat. Siapa sangka dia akan mengalami depresi dan pada akhirnya nekad mengakhiri hidupnya sendiri.
Kenangan demi kenangan terlintas di benak ketiga sahabatnya bersama dengan tumpukan tanah yang mulai menutupi tubuhnya kaku. Air mata semakin deras mengalir mengiringi kepergiannya.
"Hiks...hiks..." sementara Febri terus berusaha untuk kuat merelakan kepergian mantan kekasihnya ke sisi Sang Pencipta. Febri menghapus air matanya yang jatuh tanpa persetujuannya.
Setelah semua pelayat pulang, termasuk orang tua dan kakaknya Desi. Menyisakan Febri dan ketiga temannya yang masih belum rela meninggalkan Desi tertidur sendiri di pemakamannya.
"Desi... kenapa lo ninggalin kita? Kenapa lo tega ninggalin kita?" Ira menangis dengan memeluk nisan Desi.
"Kenapa lo tega..." Ira terus menangis sedari pagi sehingga tubuhnya menjadi lemas. Vanka dan Akila memapah Ira yang hampir pingsan.
"Ira.. lo jangan terlalu tertekan, ingat kesehatan lo!" tegur Akila ketika Ira terus menangis dan lemas.
__ADS_1
"Ra, gue nggak mau kehilangan temen lagi, jadi plis lo yang kuat!" ucap Vanka dengan air mata yang berderai.
Mendengar perkataan Vanka, Ira seperti dipecut berulang kali. Dia mulai bangkit, lalu kemudian memeluk Vanka dan Akila. Meskipun dia kehilangan sahabat terbaiknya, tapi dia masih memiliki dua sahabat yang sama baiknya seperti Desi.
"Maafin gue! Gue nggak kepikiran kalau gue masih punya kalian." ucap Ira memeluk kedua sahabatnya dengan sangat erat.
"Janji, kalau kita nggak boleh pendam perasaan kita sendiri! Kita harus saling berbagi supaya kita tidak merasa berat dalam menjalani hidup ini!" pinta Vanka yang tidak lagi mau kehilangan teman terbaiknya untuk kedua kalinya.
Mereka bertiga akhirnya berjanji untuk saling berbagi masalah dan mencari solusi bersama. Saling merangkul dan menguatkan satu sama lain. "Kita bukan lagi teman, tapi saudara." ucap Vanka lagi. Setelah kemudian mereka kembali berpelukan.
Tak lama kemudian, mereka bertiga meninggalkan makam Desi. Menyisakan Febri yang masih terdiam di depan makam Desi.
"Kita pulang dulu ya Feb!" pamit Akila.
"Ya." suara Febri sudah terdengar serak, mungkin karena dia menahan tangisannya.
Vanka menatap gundukan tanah yang terdapat jasad sahabatnya penuh dengan bunga. Vanka menatap nisan bertuliskan:
Nama: Desi Rahmawati
Lahir: 02 Desember 2004
Wafat: 18 Desember 2021
'Selamat jalan kawan, lo akan selalu menjadi sahabat terbaik kita. Kita sayang sama lo. Semoga lo bahagia dan tenang di sisi Sang Pencipta. We love you, Desi Rahmawati, sahabat terbaik yang pernah kita punya.'
Setelah Vanka, Akila, dan Ira meninggalkan pusara Desi. Hanya tersisa Febri yang masih tidak bergeming dari tempatnya. Febri mengambil surat yang diberi oleh kakaknya Desi tadi.
Kata demi kata menusuk ke dalam hati Febri. Tangannya tanpa sadar meremas tanah yang masih merah di depannya. Hatinya serasa ikut pergi bersama dengan kepergian Desi.
"Maafin gue!" baru saat itu, Febri menangis sejadinya. Dadanya bahkan terasa sesak karena tidak mampu menahan sakit yang tiba-tiba menyergap ke dalam hatinya. Air mata tumpah membasahi wajahnya, dan juga kertas yang dia genggam.
Kata maaf yang selalu dia ucapkan. Kata maaf yang sudah tidak bisa lagi di dengar oleh Desi. Dan maaf yang sudah tidak mungkin bisa dia terima. Desi memang telah pergi, tapi dia pergi membawa sebagian hati dan juga rasa bersalah untuk Febri. Febri sudah tidak bisa lagi menerima maaf dari Desi.
Dua jam berlalu. Febri sadar, jika tangisannya tidak akan bisa mengembalikan Desi kembali. Dia memeluk nisan yang bertuliskan nama Desi dengan masih menangis.
"Selamat jalan, semoga lo tenang dan bahagia di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Gue pamit, besuk gue jenguk lo lagi." ucap Febri sebelum meninggalkan pusara Desi.
__ADS_1
Langkahnya terasa berat ketika meninggalkan pusara Desi. Tapi dia harus terus berjalan, seperti hidup yang harus terus berjalan. Life must go on.
Selamat jalan, Desi Rahmawati..