
Setelah mengatakan cinta kepada Ernes. Cintya mulai menghindari Ernes. Setiap kali bertemu dengan Ernes, dia akan selalu menghindar, atau kalau Ernes mengajaknya makan atau kemana, Cintya akan selalu beralasan. Padahal Ernes sendiri biasa saja setelah Cintya menyatakan perasaan kepadanya.
Sama seperti pagi ini ketika Ernes menyapa Cintya. Tiba-tiba Cintya mengatakan kalau dia sedang sibuk belajar, lalu pergi begitu aja.
Tapi Ernes menahan tangan Cintya. Dia sangat penasaran kenapa sikap Cintya berubah sekarang. Apa karena perusahaan papanya udah stabil jadi dia sudah tidak mau berteman dengannya.
"Lo kenapa Cin? Lo kenapa hindarin gue?" tanya Ernes tanpa basa basi.
"Gue,,, gue sibuk belajar, kan bentar lagi ujian." jawab Cintya beralibi.
"Kenapa nggak belajar bareng kayak kemarin-kemarin?" tanya Ernes lagi.
"Gue...."
"Kenapa? Sekarang perusahaan papa lo udah stabil dan lo udah nggak mau berteman sama si cupu lagi?" Ernes bertanya sembari tersenyum kecil. Kalau pun itu alasannya, Ernes akan menjauh dari Cintya.
"Bukan... Bukan gitu, gue... gue cuma malu aja sama lo." Cintya menundukan kepalanya.
Ernes memicingkan matanya mendengar jawaban Cintya. Dia terus menatap Cintya yang masih menundukan kepalanya tanpa berani menatap Ernes. Pada akhirnya Ernes paham apa yang dimaksud dengan malu.
Ya, itu pasti karena kejadian tempo hari. Cintya merasa malu karena pernyataan cintanya ditolak oleh Ernes. Akan tetapi, Ernes pura-pura tidak mengerti apa maksud Cintya.
"Malu kenapa?" tanyanya.
Cintya terdiam. Mulutnya masih enggan untuk mengeluarkan suara. Dia bingung bagaimana caranya mengatakan kepada Ernes kalau dia malu karena Ernes menolak cintanya tempo hari lalu.
"Malu berteman dengan gue?" tanya Ernes lagi karena Cintya masih belum mau menjawab.
"Bukan. Bukan itu Nes, tapi... tapi... tapi karena lo udah tolak cinta gue." awalnya Cintya ragu-ragu untuk mengatakan alasannya. Tapi dia tidak ingin membuat Ernes salah paham, lalu mengatakan yang sebenarnya dengan intonasi yang cepat.
Ernes tertawa oleh jawaban Cintya. Dia merasa konyol sih, kenapa juga coba harus malu. Kalau dia berani mengatakan perasaannya, harusnya dia juga udah pikirkan kemungkinan terburuknya dong.
"Kok ketawa?" tanya Cintya sedikit kesal.
"Habisnya lo konyol.." jawab Ernes masih dengan tertawa kecil.
"Kenapa harus malu? Bukannya ketika lo berani nyatain perasaan lo, lo juga udah mikirin hasil akhirnya? Kemungkinan terburuknya?" tanya Ernes sembari menatap Cintya.
"Atau jangan-jangan lo berharap yang lebih dari gue?" Cintya terhenyak mendengar pertanyaan terakhir Ernes. Dia menatap Ernes tajam.
"Jangan pernah berharap sama manusia!" lanjut Ernes.
"Segala sesuatu tidak bisa dipaksa harus sesuai dengan kehendak kita. Apalagi perasaan, saat lo berani bilang tentang perasaan lo, harusnya lo juga udah mikir kemungkinan terburuknya, yaitu ditolak." imbuh Ernes.
Bukan maksud hati untuk menyinggung perasaan Cintya. Tapi Ernes hanya ingin Cintya lebih bijak lagi dalam mengambil tindakan. Jangan terlalu berharap lebih kepada sesuatu atau seseorang yang belum pasti. Karena akibat dari berharap pada manusia kalau nggak bahagia ya sakit.
"Gue nolak cinta lo bukan karena gue nggak suka sama lo. Tapi karena memang hati nggak bisa dipaksa. Gue lebih nyaman berteman sama lo, daripada harus berpura-pura mencintai lo hanya untuk membuat lo seneng. Itu akan jauh lebih sakit saat lo tahu kebenarannya." ucap Ernes lagi sebelum Cintya salah paham.
"Tapi gue mau maksa lo terima cinta gue. Dan juga nggak berharap lo terima cinta gue, gue hanya ingin mengatakan apa yang gue rasain aja." sanggah Cintya.
"Lo berharap Cintya.." bantah Ernes.
__ADS_1
"Kalau lo nggak berharap, lo nggak akan hindarin gue setelah penolakan itu. Karena lo kecewa dengan jawaban gue, makanya lo hindarin gue dengan alasan malu." ucap Ernes yang membuat Cintya seketika terdiam.
"Terus gue harus gimana?" lirih Cintya.
"Bersikap biasa ke gue seperti sebelum-sebelumnya! Kita bisa kembali berteman kalau lo masih mau berteman sama gue." ucap Ernes menyeringai.
"Masih dong, gue masih mau berteman sama lo. Cuma lo yang tulus ke gue." Cintya berlari kecil mengikuti langkah Ernes yang sudah mendahuluinya.
"Oh ya? Kalau gitu traktir gue dong!" canda Ernes yang membuat Cintya tertawa.
"Hayuk,, lo mau makan apa aja biar gue yang bayar!" tantang Cintya sembari menepuk pundak Ernes. Dia akhirnya bisa bersikap biasa lagi ke Ernes tanpa harus memikirkan rasa malunya akibat penolakan Ernes.
Ernes dan Cintya kembali seperti biasa. Mereka bercanda dan bergurau serta tertawa bersama.
****
Malam hari.
Defan mengajak Chika untuk makan malam bersama orang tua dan kakaknya di sebuah restoran yang cukup mewah di kota itu. Kimora sengaja mengajak Chika turut serta karena ingin menjalin hubungan yang lebih erat dengan kekasih anaknya tersebut.
Kimora selalu mendukung apa yang anak-anaknya inginkan, selama itu baik untuk mereka. Dia tidak mau memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya.
Kimora mempelakukan Chika dengan sangat baik. Membuat Chika kembali merasakan kasih sayang seorang ibu.
"Makan yang banyak Chika!" ucap Kimora dengan sangat lembut.
"Iya tante.." Chika menganggukan kepalanya.
"Nanti kalau gue gendut gimana?" tanya Chika dengan tersenyum. Dia hanya bermaksud menggoda Defan.
"Mau lo gendut, mau lo kurus, gue tetep cinta sama lo, cinta gue tulus ke lo." ucap Defan yang di dengar oleh papa dan mamanya juga kakaknya.
"Wuihhh, si Defan tuh pa, pinter banget ngegombal." seru Aiko yang tidak menyangka jika adik lelaki satu-satunya itu jago ngerayu.
"Nggak usah mengiri lo!" olok Defan kepada kakaknya.
"Nggak, gue menganan kok.." jawab Aiko konyol.
"Mama juga makan yang banyak!" Alfarezi tidak mau kalah romantis dari anaknya. Dia bahkan menyuapi istrinya di depan anak-anaknya dan juga pacar anaknya.
"Ih papa...." Aiko yang menggerutu karena hanya dia yang tidak membawa pasangan. Rakha sedang ada project baru jadi tidak bisa ikut makan malam bersama keluarganya.
Awalnya Aiko juga tidak mau ikut, tapi karena dipaksa mamanya, jadinya Aiko mau pergi makan malam bersama.
"Tahu gini Aiko di rumah tadi.." ucapnya merasa kesal.
"Jangan, jangan iri, jangan, jangan iri, jangan iri dengki!" Defan menyanyikan lagu untuk mengolok kakaknya.
Alfarezi dan Kimora hanya tertawa kecil melihat putri sulungnya menggerutu dan manyun. Alfarezi lalu menyodorkan makanan ke mulutnya. "Nggak udah manyun, nih papa suapin!" ucap Alfarezi.
Aiko dengan senang membuka mulutnya. Dia merasa sangat senang karena papanya masih sangat perhatian kepadanya. Meskipun dia sudah bukan anak kecil lagi, tapi papanya selalu memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Emm, papa emang yang paling the best.." ucap Aiko.
"Jadi mama enggak?" Kimora merasa cemburu.
"Mama iya dong, mama dan papa paling the best pokoknya." Aiko berdiri dan memeluk papa dan juga mamanya.
Melihat itu, Chika menjadi sedih. Dia teringat akan sosok almarhum kakak dan almarhum mamanya. Chika sangat merindukan mereka berdua.
Sakit itu ketika kita merindukan orang yang sudah tidak bisa lagi kita lihat dan tidak bisa lagi kita sentuh.
"Kenapa?" tanya Defan yang melihat kesedihan Chika.
"Gue kangen sama kakak dan mama.." lirih Chika.
Defan pun langsung menarik Chika ke dalam pelukannya. Dengan lembut mengecup puncak kepala Chika. "Doain mereka ya, supaya mereka tenang disana, dan mendapat tempat yang layak disisiNya." ucap Defan menguatkan kekasihnya.
"Makasih.." Chika menganggukan kepalanya sembari membalas pelukan Defan.
Setelah itu mereka kembali melanjutkan makan malam dengan menyenangkan. Pada kesempatan itu juga, Defan meminta bantuan mamanya supaya mau menasehati tantenya, agar tidak melarang Gio berpacaran dengan Vanka.
Defan tahu mamanya dan tantenya sangatlah dekat. Siapa tahu setelah mamanya menasehati tantenya. Tantenya bisa berubah pikiran.
"Kasihan Gio ma." ucap Defan.
"Padahal awalnya tante Ines tuh suka banget sama Vanka, tapi semenjak Defan dan Gio bertengkar karena merebutan dia, tante Ines jadi melarang Gio berpacaran dengan Vanka." lanjut Defan.
"Mama bantuin ngomong ke tante Ines ya! Kan biar bagaimana pun itu juga karena kesalahan aku." imbuh Defan berharap mamanya mau membantu.
Kimora sempat saling pandang dengan suaminya. Mereka teringat pada kejadian di masa lalu yang hampir sama dengan kisah yang Defan ceritakan. Dan Kimora paham apa yang ditakutkan oleh Ines.
"Kamu coba bujuk Ines! Aku lihat Gio juga sangat mencintai pacarnya." ucap Alfarezi.
Kimora menganggukan kepalanya. "Aku coba." jawab Kimora.
"Anak jaman sekarang kalau cinta bener-bener pakai hati." gumam Alfarezi.
"Oh jadi kamu kalau cinta sama aku nggak pakai hati?" sahut Kimora dengan melotot.
"Kalau nggak pakai hati kenapa bisa ada Aiko dan Defan?" tanya Kimora semakin melotot.
"Kalau aku ya pakai hati dong, bukan hanya pakai hati, tapi juga jiwa dan raga aku. Kalian adalah nyawa aku." ucap Alfarezi bermaksud membujuk istrinya yang salah paham dengan perkataannya.
"Halah.." Kimora sudah cemberut aja.
"Jangan gitu dong sayank, dilihatin anak-anak tuh. Kamu kan tahu sendiri kalau aku cinta banget sama kamu." bujuk Alfarezi yang membuat anak-anaknya juga Chika tertawa.
"Kalau gitu, aku mau kamu gendong aku!" permintaan konyol Kimora.
"Akh... turunin pa!" dengan cepat Alfarezi membopong istrinya di depan anak-anaknya.
"Katanya minta digendong." ucap Alfarezi sembari membopong Kimora sampai ke tempat parkir mobil mereka. Dan banyak orang yang melihatnya, tapi Alfarezi melenggang begitu saja, diikuti oleh anak-anaknya yang tersenyum senang melihat keromantisan orang tuanya.
__ADS_1