
"Def, dengerin gue dulu!" Gio mengikuti Defan sampai ke rumah Defan. Sebelum Defan masuk ke rumah, Gio menahan tangan Defan agar supaya mau mendengarkan penjelasannya.
"Jangan sentuh gue, bangs*t.." Defan menepis tangan Gio dan malah kembali memukul Gio.
"Gue kecewa sama lo, lo lupa apa yang lo ucapin tadi sore?" seru Defan dengan marah.
"Def, gue kenal sama Vanka sudah lama sebelum dia masuk sekolah kita, dan kita sudah saling mencintai sejak itu." ucap Gio tapi justru semakin membuat Defan marah.
"Oh jadi udah pacaran sama dia, dan lo diam aja waktu gue bilang gue suka sama dia?" Defan menatap Gio dengan tajam.
"Lo pikir kalau gue tahu kalian udah pacaran, gue akan terus suka sama dia gitu??" Defan semakin marah dia sampai berteriak sampai membuat papa dan mamanya mendengar.
"Gue baru aja jadiannya, belum ada sebulan." Gio berkata jujur. Tapi perkataan Gio itu malah membuat Defan tidak terima.
"Oh beneran brengs*k lo.. Lo tahu gue suka tapi lo tembak dia, bagus,, lo emang brengs*k.." Defan kembali memukul Gio membuat wajah Gio lebam karena sudah tiga kali dipukul Defan tanpa membalas.
"Defan..."
"Gio..." mendengar keributan di depan rumahnya. Alfarezi dan Kimora keluar untuk melihat. Tapi siapa sangka ternyata keributan itu disebabkan oleh perkelahian anaknya dengan keponakannya.
Kimora memegangi Defan yang hendak memukul Gio lagi. Sementara Alfarezi membantu Gio berdiri. "Kamu nggak apa-apa kan Gi?" tanya Alfarezi.
"Nggak kok om," jawab Gio sembari mengusap darah di sudut bibirnya.
"Kamu apa-apaan sih Def? Gio itu saudara kamu kenapa kamu pukul dia sampai kayak gitu?" tanya Kimora dengan marah.
"Dia memang pantas dipukul ma, dan satu lagi, dia bukan saudara aku mulai sekarang.." perkataan Defan itu mengejutkan Alfarezi dan Kimora. Mereka tidak tahu apa yang terjadi antara Defan dan Gio. Kenapa Defan bisa berkata seperti itu. Sebelumnya mereka selalu baik-baik saja, tidak pernah bertengkar sama sekali.
"Apa maksud kamu Defan? Hubungan persaudaraan kalian tidak bisa diputuskan, dalam tubuh kalian mengalir darah yang sama." ucap Alfarezi mengingatkan anaknya.
"Kalau lo milih gue, lo tinggalin dia, tapi kalau lo pilih dia, jangan pernah sebut gue sebagai saudara lo!" ucap Defan memberi pilihan sulit untuk Gio.
"Defan, kamu kenapa?" tanya Kimora yang tidak paham apa yang membuat anaknya bisa berkata seperti itu.
Tapi tanpa mau menjawab pertanyaan mamanya. Defan masuk ke rumah begitu saja. Meninggalkan papa dan mamanya yang bingung dengan apa yang terjadi. Juga Gio yang bingung menentukan pilihan.
"Masuk dulu Gi, biar tante obatin luka kamu!" Kimora mendekati Gio yang terluka.
"Iya Gi, nanti kalau mama sama papa kamu lihat kamu terluka kayak gini, mereka pasti akan khawatir." ucap Alfarezi juga.
__ADS_1
"Nggak usah om, tante, Gio pulang aja," Gio menolak niat baik om dan tantenya. Bukan karena apa, tapi karena dia memang perlu banyak berpikir untuk menentukan keputusannya.
Gio pulang ke rumah dengan wajah yang terluka membuat papa dan mamanya kaget. Mereka yang sedang asyik nonton tivi, tiba-tiba kaget melihat anaknya pulang dengan wajah terluka.
"Gio, kamu kenapa? Kamu berantem lagi?" tanya Ines dengan khawatir.
"Kamu kenapa Gio?" sahut Shaka juga khawaitir melihat wajah anaknya yang lebam dan berdarah.
"Gio tadi jatuh pa, tapi nggak apa kok, Gio mau tidur dulu, capek.." Gio tidak mau lebih lama diintrogasi papa dan mamanya. Dia tidak ingin papa dan mamanya tahu kalau dia berantem sama Defan.
Apalagi mamanya, karena waktu itu mamanya juga tidak setuju dengan hubungannya dengan Vanka. Mamanya juga takut kalau dia dan Defan akan bertengkar karena wanita. Tapi waktu itu Gio meyakinkan kalau dia dan Defan tidak akan bertengkar hanya karena wanita.
"Tapi luka kamu harus diobatin dulu!" Ines menarik tangan anaknya untuk duduk dan dia mengambil obat merah untuk mengobati luka anaknya.
"Sampai kapan sih kamu akan terus bikin papa sama mama khawatir? Tidak bisakah kamu bikin papa sama mama berhenti khawatirin kamu?" gumam Ines sembari mengobati luka Gio.
"Maafin Gio ma, pa.." lirih Gio tidak tega melihat papa dan mamanya khawatir.
"Ya udah, kamu buruan tidur, udah makan belum?" tanya Shaka.
"Udah kok pa, Gio ke kamar dulu." Gio mencium pipi mamanya dan mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Muka lo kenapa Gi?" tanya Ernes menghentikan langkah Gio yang hendak masuk ke kamar.
Gio mengajak kakaknya masuk ke dalam kamarnya. Gio menceritakan semua yang terjadi bahkan tentang rencananya menyatukan Defan dan Chika lagi.
"Gue bingung kak, gue cinta sama Vanka, tapi gue juga sayang sama Defan." ucap Gio dengan sedih.
Pilihan yang dihadapi sangatlah sulit untuk memilihnya. Keduanya orang yang berarti untuknya. Tapi pilihan hanya ada satu, dan dia harus memilih.
"Pikirin dulu dengan baik! Kakak berharap lo nggak akan nyesel dengan apapun pilihan lo." Ernes tidak mau mencampuri urusan adiknya. Dia hanya memberi nasehat saja untuk adiknya.
"Tidur gih, udah malem." Ernes menepuk pundak adiknya dan beranjak hendak keluar dari kamar Gio.
"Oh ya, dapet salam dari Cintya." ucap Ernes lagi.
"Salam balik ya kak."
Setelah Ernes keluar dari kamarnya. Gio kembali memikirkan mana yang harus dia pilih, antara Defan atau Vanka. Tiba-tiba dia teringat kalau Vanka pasti menunggunya memberi kabar.
__ADS_1
Gio mengambil ponsel di jaketnya. Dan benar saja, ada begitu banyak pesan singkat dari Vanka, dan juga panggilan tak terjawab.
Akan tetapi, Gio tidak berniat untuk membalasnya. Dia meletakan ponselnya ke meja belajarnya. Sementara dia mulai merebahkan tubuhnya.
Tak selang berapa lama, ponselnya kembali berbunyi. Gio melihat nama 'My Dear' disana. Tapi tetap saja Gio tidak menerima panggilan itu, setelah itu dia mematikan ponselnya.
Sepertinya jawabannya sudah jelas. Gio memilih mengakhiri hubungannya dengan Vanka demi Defan.
Keesokan paginya.
Semalaman Vanka tidak bisa tidur. Dia memikirkan apa yang terjadi setelah Defan mengetahui hubungannya dengan Gio. Ditambah ponsel Gio tidak bisa dihubungi.
Vanka sengaja datang ke sekolah pagi-pagi. Dia menunggu Gio di parkiran sekolah. Setengah jam kemudian Gio tiba di sekolah.
Melihat wajah Gio yang bengkak membuat Vanka khawatir. Dia tahu pasti Gio dan Defan ribut besar tadi malam. Vanka pun mendekati Gio dengan khawatir. Karena Defan sudah tahu hubungan mereka, Vanka pikir tidak ingin lagi menyembunyikan hubungan mereka.
"Wajah lo?" tanya Vanka menyentuh wajah kekasihnya. Tapi Gio menghindar, dia menahan tangan Vanka yang hendak menyentuh wajahnya.
Tentu saja Vanka terkejut dengan tindakan Gio. Tapi, Vanka masih berpikiran positif. Mungkin Gio tidak ingin Vanka melihat wajahnya yang terluka dan menjadi sedih.
"Van, mungkin mulai sekarang kita jangan lagi dekat!" ucapan Gio tersebut tentu saja membuat Vanka terkejut.
"Apa maksud lo?" tanya Vanka masih berusaha menahan amarahnya.
"Maafin gue, gue nggak bisa terusin hubungan kita, kalau bisa lo buka sedikit hati lo buat Defan. Dia suka banget sama lo." ucap Gio yang membuat hati Vanka terluka.
"Gue harap lo ngerti, gue nggak bisa hancurin persaudaraan gue sama Defan, gue sayang sama dia."
"Cukup!" seru Vanka dengan marah.
"Siapa lo bisa atur-atur gue? Kalau lo nggak suka sama gue, yaudah, tapi jangan pernah lo atur-atur perasaan gue! Gue mau suka sama siapa aja itu lo nggak berhak atur!" ucap Vanka dengan menahan amarahnya. Hatinya terasa sangat sakit.
"Lo mau putus kan dari gue? Oke gue turutin mau lo, mulai hari ini kita putus. Jangan saling menganggu satu sama lain. Anggep aja kita nggak pernah kenal. Makasih untuk semuanya." ucap Vanka dengan hati terluka.
"Mencintai lo adalah kesalahan terbesar dalam hidup gue. Tapi gue bersyukur, gue belum sempat terjatuh terlalu dalam." Setelah itu Vanka berlari meninggalkan Gio. Vanka tidak bisa mengendalikan air matanya. Hatinya benar-benar sakit.
Bersamaan dengan percakapan Vanka dan Gio tadi. Defan berdiri tidak jauh dari mereka, dan mendengar semuanya, termasuk ucapan Gio yang memutuskan hubungannya dengan Vanka.
"Maafin gue, gue terpaksa lakuin ini.." gumam Gio seorang diri dengan sedih. Hati Gio juga merasakan sakit ketika melihat Vanka pergi dengan menangis.
__ADS_1