
Sepulang sekolah, Doni sudah menunggu Akila di depan sekolahnya. Doni tahu sekolah Akila dari pembantunya Akila. Doni sengaja menunggu di depan sekolah Akila, seorang diri.
Tujuan dia datang untuk menjemput Akila. Bukan ingin cari ribut dengan anak sekolah tersebut.
Bisa dikatakan, Doni ini cukup berani. Dia datang ke sekolah musuh tanpa membawa siapapun. Bukankah dia sedang mengantarkan dirinya sendiri ke kandang singa.
Doni duduk di motornya dengan sebatang rokok ditangannya. Tidak peduli dengan tatapan tajam siswa sekolah tersebut.
"Kil???" serunya ketika melihat Akila keluar dari sekolah tersebut bersama temannya, Vanka.
Akila kaget saat melihat Doni melambaikan tangan kepadanya. Akila lalu buru-buru menarik tangan Vanka, dia ingin melarikan diri dari Doni.
"Buruan Van! Donat ada disini!" ucapnya sembari terus menarik tangan Vanka.
Melihat Akila yang berlari, Doni pun mulai mengejarnya. Sementara Akila menjadi semakin panik karena Doni justru malah mengejarnya. Akila terus menarik tangan Vanka menjauhi Doni yang terus mengejarnya.
"Ah,," sampai akhirnya Akila dan Vanka hampir tertabrak Reza.
"Lo kenapa sih lari-lari? Untung nggak ketabrak kan? Uh,, motor gue lecet." bukannya menanyakan kondisi Akila dan Vanka. Reza malah mempedulikan sepeda motornya.
"Kil, kenapa lo lari sih?" tanya Doni yang akhirnya berhasil mengejar Akila. Sama seperti Akila dan Vanka, Doni pun ngos-ngosan.
Melihat musuhnya ada di sekolahnya. Reza pun membulatkan matanya. Dia terkejut dengan keberanian Doni. Apalagi dia datang seorang diri.
"Berani bener lo datang sendiri kesini?" tanya Reza mematikan motornya lalu turun dari motor tersebut.
"Gue kesini cari Akila, bukan cari ribut." Doni tidak mau menanggapi amarah Reza.
"Kalau lo gangguin Akila, itu sama dengan urusan gue, karena Akila adalah pacar gue." ucap Reza yang membuat Akila terkejut dengan mulut yang menganga.
Vanka dan Doni pun terkejut saat mendengar jawaban Reza.
"Bener Kil? Dia pacar lo?" tanya Doni yang hampir meledak amarahnya.
"Benerlah, masa nggak." Reza sengaja merangkul Akila, sengaja memancing amarah Doni.
"Bilang iya kalau lo mau nggak digangguin dia terus!" bisik Reza.
__ADS_1
Awalnya Akila tidak ingin berbohong kepada Doni. Akila tahu, jika dia menyinggung Doni. Doni tidak akan melepaskan Reza. Tapi Akila juga tidak mau terus-terusan diganggu Doni.
"...Iya." jawab Akila membuat Doni geram.
"Oke, oke," Doni menunjuk-nunjuk Reza dengan sorot mata dendam. Kemudian dia pergi dengan membawa dendam dihatinya.
Selepas Doni pergi, Akila sempat memarahi Reza karena sembarangan bicara. Tapi dia juga merasa salah karena ikutan berbohong.
"Gue takut dia akan mempersulit lo nantinya." ucap Akila pelan.
"Kalau dia mempersulit lo, lo bilang aja kalau kita udah putus," imbuh Akila. Dia tahu seperti apa Doni.
"Takut banget lo sama dia. Gue pacarin beneran juga lo." ucap Reza sembari kembali berjalan ke motornya.
"Lo nggak lihat muka dia tadi? Baru kali ini gue lihat dia frustasi, biasanya sok.." ada ketertarikan sendiri bagi Reza ketika melihat Doni marah seperti tadi.
"Lo mau bareng gue nggak?" tanya Reza.
"Nggak aja, gue bareng sama Vanka." setelah mendengar jawaban Akila. Reza pun meninggalkan Akila dan juga Vanka.
Bim bim..
Dari arah belakang, Desi menghentikan mobilnya ketika melihat Vanka dan Akila. Desi membuka kaca mobilnya dan meminta kedua temannya tersebut untuk masuk.
"Gue anter yuk!" ucap Desi.
Di dalam mobil tersebut juga sudah ada Febri dan Ira. Kelihatannya Desi sedang pedekate dengan Febri. Mereka terlihat semakin dekat sekarang.
Akila dan Vanka pun dengan senang hati ikut ke mobil Desi. "Heh buaya, gue lihat tiap hari lo nebeng Desi mulu." tanya Akila ketika melihat Febri sudah ada di dalam mobil Desi.
"Mereka lagi pedekate.." bisik Ira yang duduk disebelahnya.
"Oh, kita tunggu pajak jadiannya.." sahut Vanka. Sedangkan Febri dan Desi hanya tersenyum malu-malu.
Hanya saja, entah kenapa Akila tidak senang mendengar kabar tersebut. Akila memilih untuk diam dan tidak bertanya lagi.
Desi mengantar teman-temannya ke rumah masing-masing. Urut dari yang terdekat, yaitu Ira. Setelah itu Vanka, dan kemudian Akila menjadi urutan terakhir.
__ADS_1
Eh, nggak deng. Akila urutan ketiga sebelum Febri. Karena Febri sopir, jadi dia paling akhir pulangnya. Dan mungkin juga masih ingin lama berduaan dengan Desi.
Tapi tanpa mereka sangka. Chika terus membuntuti mereka dari sekolah sampai rumah Vanka. Chika penasaran dimana Vanka tinggal. Apa yang membuat Defan menyukai gadis itu, Chika ingin tahu lebih banyak tentang Vanka.
Chika hendak keluar dari mobil dan bertamu ke rumah Vanka. Tapi siapa sangka jika dari kejauhan dia melihat seorang lelaki yang dia kenal menghentikan motornya di depan rumah Vanka. Lelaki itu adalah Gio.
Chika mengurungkan niatnya keluar dari mobil. Dia melihat Gio dan Vanka yang ngobrol di depan gerbang rumah Vanka. Mereka terlihat begitu dekat.
Gio, sebenarnya belum pulang ke rumah. Dia sengaja mampir ke basecamp terlebih dulu. Setelah mendapat pesan singkat dari Vanka yang mengatakan bahwa Vanka sudah sampai rumah. Gio bergegas ke rumah Vanka.
"Pipi lo masih sakit nggak?" tanya Gio sembari memegang wajah Vanka.
"Masih agak sakit sih, tapi udah nggak apa-apa kok." jawab Vanka.
"Marisa beneran keterlaluan." ucap Gio dengan geram.
"Nggak apa kok, gue tahu dia lakuin itu karena cemburu. Dia cinta banget sama lo." perkataan Vanka tersebut membuat Gio menatapnya tajam.
"Lo cinta nggak sama gue?" tanya Gio sembari menatap Vanka tajam.
"Pertanyaan retoris." ucap Vanka. Tanpa dia harus menjawab pun, harusnya Gio tahu perasaan Vanka ke dia.
Gio tersenyum kecil. Dia memberitahu Vanka bahwa dia berhasil bikin janji dengan Chika dan Defan. "Semoga berjalan lancar ya yank, gue udah nggak kuat sembunyi-sembunyi kayak gini, apalagi kudu lihat lo dekat sama lelaki lain. Rasanya gue pengen hajar mereka semua." keluh Gio.
Saat itu posisi Vanka berdiri di depan gerbang, sedangkan Gio masih duduk diatas motornya.
Jadi dari posisi itu, Chika bisa melihat jelas kedekatan Gio dan Vanka, meskipun tidak mendengar apa yang mereka obrolin.
Tiba-tiba terlintas ide untuk merekam kejadian tersebut. Chika sengaja nge-zoom supaya Gio dan Vanka bisa terlihat jelas di videonya.
Bahkan ketika Gio pamit dan mencium kening Vanka, itu terekam dalam video tersebut. Chika kaget sekaligus senang. Ternyata Vanka sudah memiliki pacar. Itu artinya Defan akan menyerah untuk mengejar Vanka.
Chika buru-buru mengirim video tersebut ke Defan. Tanpa pikir panjang, Chika mengirim video tersebut. Chika tidak mempertimbangkan dampak setelah video itu dilihat Defan. Chika tidak memikirkan akhir dari hubungan Defan dan Gio setelahnya. Yang Chika pikir hanya bagaimana caranya supaya Defan ilfil dan menjauhi Vanka.
Setelah Gio pergi, Chika juga ikutan melajukan mobilnya. Padahal awalnya dia ingin turun dan berbincang dengan Vanka. Tapi setelah dia melihat kejadian itu. Chika merasa tidak perlu lagi berbincang dengan Vanka. Karena setelah ini, Defan pasti akan segera menjauhi Vanka.
"Hanya gue yang mencintai Defan dengan tulus." gumamnya seorang diri.
__ADS_1