Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
88


__ADS_3

Aiko mencari Riska di kantor papanya. Sebelumnya, Riska mengirimi foto dirinya sedang makan bersama papanya Aiko. Tentu saja itu membuat Aiko sangat marah.


Dengan hati marah, Aiko mencari Riska di seluruh ruangan dikantor papanya. Dia sengaja tidak memberi tahu papanya terlebih dulu karena dia ingin nge-gep sendiri.


Aiko pergi ke ruangan papanya. Tapi kata sekertaris Alfarezi, Alfarezi sedang meeting. "Nggak mau tunggu di ruangan papa kamu aja, Ai?" Ardila sudah lama jadi sekertaris Alfarezi, dia kenal dekat dengan istri dan anak Alfarezi.


"Nggak usah tante. Aku cuma mau tahu, Riska dimana ya? Anak magang itu loh tan," tanya Aiko menahan emosinya.


"Oh, ada di lantai 3." Ardila tidak tahu jika Aiko ingin melabrak Riska. Karena setahu Ardila, Riska adalah teman Aiko.


"Makasih tante.." setelah mengucapkan terima kasih kepada Ardila. Aiko langsung bergegas mencari Riska kembali.


Sesuai informasi dari Ardila. Aiko mencari Riska di ruang karyawan dilantai 3. Begitu melihat Riska, mata Aiko berubah mengerikan. Aiko mendekati Riska yang sedang ngobrol dengan karyawan lainnya.


Tanpa ba bi bu, Aiko menjambak rambut Riska. "Dasar wanita murah*n." ucap Aiko dengan marah.


"Gue awalnya kasihan ya sama lo waktu papa gue cerita tentang kehidupan lo, makanya gue nggak minta papa gue buat tendang lo. Tapi lo malah ngadi-ngadi. Lo mau godain papa gue?" Aiko bertanya dengan marah. Bahkan dia semakin kencang menarik rambut Riska, membuat Riska berteriak kesakitan.


"Apa pacaran dengan papanya Heksa belum cukup buat lo? Kenapa masih mau godain papa gue?" tanya Aiko lagi semakin marah.


Tentu saja kejadian tersebut membuat kehebohan di tempat tersebut. Beberapa karyawan yang tahu jika Aiko anak dari bos mereka, tidak ada yang berani menolong Riska.


Tapi mereka yang belum tahu siapa Aiko. Mereka berusaha untuk menolong Riska. Bahkan ada yang mengatai Aiko gila. "Kamu siapa? jangan menggila disini!" ucap salah sayu karyawan yang belum tahu siapa Aiko.


Aiko menatap karyawan itu dengan tajam. "Kenapa emangnya? Ada masalah? Ini kantor papa aku, terserah aku mau apa disini. Ingat, aku tandai kamu." ucap Aiko yang sedang dilanda kemarahan.


Mereka yang tahu Aiko langsung menarik karyawan tersebut. Memperingatinya supaya jangan ikut campur daripada dia kehilangan pekerjaan.


Keributan tersebut sampai juga ditelinga Alfarezi. Alfarezi bergegas menuju TKP bersama dengan Ivan.


"Ai, lepasin sayank!" pinta Alfarezi menahan tangan Aiko yang masih menggenggam rambut Riska.


"Papa mau belain dia? papa punya hubungan khusus sama dia? papa kegoda sama dia?" tanya Aiko dengan sengit.


"Kamu bilang apa sih nak. Lepasin ya, papa nggak belain dia, kita bisa bicarain baik-baik!" pinta Alfarezi masih dengan lembut kepada anaknya.


"Non, lepasin dulu! Kita bisa bicarain baik-baik!" Ivan juga membujuk anak bos-nya.


"Ai," Alfarezi memeluk Aiko untuk meredam amarah anaknya. Dia tidak tahu apa yang membuat anaknya marah sampai sebegitunya.


Baru saat papanya memeluknya, Aiko mulai menangis dan luluh. Dia memeluk papanya sembari menangis. Jujur, Aiko sangat takut jika seandainya papanya tergoda oleh Riska yang jauh lebih muda daripada mamanya.


Meskipun Aiko melihat betapa besar cinta orang tuanya. Tapi di dalam hatinya ada ketakutan juga, apalagi Riska memiliki kecantikan yang tidak dapat dipungkiri. Juga umur yang lebih muda dari mamanya.


Alfarezi menuntun Aiko ke ruangannya. Dan meminta Ivan untuk membereskan kekacauan tersebut. Sepanjang menuju ruangannya, Alfarezi sama sekali tidak melepaskan pelukannya ke anaknya.

__ADS_1


Alfarezi mendudukan Aiko di sofa yang ada di dalam ruangannya. Dia berjongkok di depan anaknya dan mengusap air mata Aiko.


"Jangan nangis dong, Ai! Papa jadi sedih.." ucap Alfarezi sembari mengusap air mata Aiko.


"Anak papa nggak boleh sedih!" Alfarezi juga mengecup kening Aiko.


"Ada apa? bilang sama papa!" Alfarezi masih sangat lembut kepada anaknya. Dia memang sangat menyayangi anak-anaknya.


"Papa janji sama Aiko, jangan pernah khianati mama!" ucap Aiko dengan air mata yang masih membasahi pipinya.


"Kok ngomong gitu, ada apa emangnya?" Alfarezi merasa aneh kenapa tiba-tiba Aiko bilang seperti itu kepadanya.


Aiko menunjukan chat dari Riska kepada papanya. Alfarezi membulatkan matanya. Dia menjadi gugup dibuatnya. "Kenapa papa kayak kaget? jadi ini benar? Papa makan siang sama dia?" tanya Aiko dengan marah.


"I..iya.. tapi itu tidak seperti yang kamu pikirkan, nak!"


"Jadi papa khianati mama? Papa jahat, Aiko benci sama papa!!" Aiko marah kemudian mendorong papanya.


"Dengerin papa dulu!" Alfarezi menahan tangan Aiko yang hendak pergi.


"Iya papa makan siang sama dia, tapi itu karena dia yang maksa ikut waktu papa akan meeting dengan papanya Heksa. Kamu tahu sendiri kan, dia pacar papanya Heksa?" Alfarezi menjelaskan kepada anaknya supaya anaknya tidak salah paham.


"Papa nggak akan khianati mama kamu. Percaya sama papa! Kamu bisa tanya om Ivan atau om Boy, ada om Boy juga." mendengar nama Boy. Aiko menjadi tenang. Karena diantara Ivan dan Boy, yang tidak pernah takut sama papanya hanyalah Boy.


"Pa, tolong tendang Riska dari kantor papa! Aiko takut, dia nggak akan menyerah." Alfarezi menganggukan kepalanya. Dia mengehela nafas karena anaknya percaya kepada dia. Dan Alfarezi meminta Ardila untuk memberhentikan Riska.


Alfarezi tidak mau mengambil resiko lagi. Dia tidak mau mengecewakan anak dan istrinya. Dia juga seorang lelaki biasa, yang kemungkinan juga bisa tergoda.


****


Selama beberapa hari kedekatannya dengan Gio. Arina banyak sekali berubah. Dia sudah bukan Arina yang kalem, baik lagi. Sekarang dia menjadi orang yang memiliki mulut pedas.


Berulang kali dia kena marah Gio, tapi tetap aja Arina tidak berubah. Dia sekali berlindung di belakang Ines saat mereka bertengkar.


Awalnya Gio biasa aja. Tapi lama kelamaan dia muak juga. Sampai pada siang itu, Gio memarahi Arina yang telah menghina Dhanu di depan umum. Arina berlagak sombong karena Dhanu menyukai dia.


Meskipun Gio masih diam-diaman dengan Dhanu, tapi Gio sangat tidak suka dengan cara Arina menghina Dhanu di depan banyak orang. Gio marah kepada Arina, bahkan dia tidak mau mengantar Arina pulang. Gio membiarkan Arina pulang sendiri naik taksi.


"Kalau lo masih seperti itu, mending lo jangan deket sama gue!" ucap Gio sebelum meninggalkan Arina di jalanan yang tidak jauh dari sekolah mereka.


Gio tahu Arina pasti akan mengadu ke mamanya. Dan benar saja, Gio diomeli oleh mamanya karena meninggalkan Arina pulang sendirian.


"Kamu tinggalin Arina dijalanan?" tanya Ines dengan marah. Dia baru saja ditelepon oleh Arina yang mengadu kepadanya.


"Kamu harus minta maaf ke Arina!" pinta Ines.

__ADS_1


Akan tetapi, Gio tidak mengindahkan perkataan mamanya. Dia berjalan begitu saja melewati mamanya, dan naik ke kamarnya. Bahkan ekspresi Gio seperti orang yang bodo amat.


"Gio.... Gio..." seru Ines tapi Gio tetap tidak mempedulikan teriakan mamanya.


Gio masuk ke kamarnya. Dia merasa sangat lelah. Setelah meletakan tas di meja belajarnya. Gio melempar dirinya ke atas kasur yang masih tertata rapi. Matanya menatap langit-langit kamar, tapi sesaat kemudian dia memejamkan matanya.


Sejujurnya, Gio sangat merindukan Vanka. Wanita yang masih belum bisa dia lupakan. Bahkan foto wanita itu masih utuh di dalam galeri foto di ponsel milik Gio.


Ketika Gio merasa kangen, dia akan membuka galeri foto di ponselnya dan mencari foto Vanka. Ada begitu banyak foto kenangan mereka disana. Kenangan yang mungkin tidak bisa Gio lupakan. Kenangan yang begitu indah bersama wanita yang belum bisa dia lupakan sampai detik ini.


Seperti saat ini, Gio membalik tubuhnya. Dia mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Gio membuka-buka galeri foto di ponselnya. Senyumnya melebar ketika menemukan sebuah foto dirinya bersama Vanka. Foto yang diambil saat mereka sedang gabut di rumah Vanka saat mereka masih pacaran.


Foto yang menurut Gio sangat indah. Dimana mereka saling menatap penuh cinta dan foto tersebut diambil dari samping. Sungguh foto yang sangat indah. Sejoli yang sedang jatuh cinta.


"Gue kangen.." lirih Gio dengan wajah sedih. Dia tahu jika mungkin itu tidak akan bisa terulang lagi.


Gio terus membuka galeri foto sampai dia tertidur dengan masih memakai seragam dan sepatu. Cukup lama dia tertidur. Dia terbangun karena telepon dari Arina.


"Siapa sih?" gumamnya dengan mata yang masih lengket.


"Hah..." Gio tidak mau menerima telepon Arina, dia membiarkan ponselnya terus berdering.


Di saat makan malam.


Arina tidak pernah menyerah. Dia mendatangi rumah Gio saat Gio bersama keluarganya sedang makan malam.


"Malam tante.." sapa Arina dengan percaya diri.


"Hai, malam juga Arin. Udah makan belum? kita makan bareng yuk!" ajak Ines.


"Kebetulan aku belum makan tante."


"Hadeh, kesini cuma mau minta makan." ucap Gio yang tentunya membuat Arina sakit hati, dan juga membuat Ines marah.


"Gio!!" seru Ines.


"Jaga ya mulut kamu!" omel Ines.


"Kamu kemana Gio?" sahut Shaka saat melihat Gio bangkit dari tempat duduknya.


"Ke kamar pa, udah kenyang." ucap Gio.


"Oh, iya ma, aku udah berusaha pendekatan dengan Arina, tapi ternyata aku nggak bisa suka sama dia. Jadi aku mau mama batalin perjodohan kita, aku masih sekolah, dan bisa cari jodoh sendiri." ucap Gio membuat Ines dan juga Arina kaget bukan main.


"Oh, satu lagi. Tolong, bilangin ke wanita yang kata mama baik ini, supaya jangan sombong, tolong bilangin ke dia untuk jaga mulutnya! Jangan sembarangan kalau ngomong!" setelah itu Gio berjalan meninggalkan meja makan tanpa bantahan sepatah katapun dari Arina dan Ines yang masih kaget dengan keputusan Gio.

__ADS_1


__ADS_2