
Gio meminta Vanka untuk menunggunya di depan komplek perumahan tempat tinggalnya. Dan Vanka nurut dong, dia menunggu Gio dengan sabar.
Tak lama, Gio turun dari mobil papanya. Dia langsung berlari ke mobil Vanka yang terparkir di pinggir jalan dekat komplek tempat tinggalnya. Gio masuk ke mobil Vanka dengan sedikit manyun.
Vanka yang penasaran akhirnya bertanya. "Kenapa manyun gitu? Belum sarapan lo?" tanya Vanka sembari menjalankan mobilnya perlahan.
"Lo bareng papa lo kan? Tapi kenapa harus kesini, nggak langsung ke sekolah aja?" tanya Vanka lagi. Dia merasa ada yang aneh dengan Gio pagi ini.
"Gue kan mau ketemu dan bareng sama lo." jawab Gio dengan lemas. Tidak seperti biasanya yang terlihat semangat ketika bertemu dengan dirinya.
"Kalau lo nggak seneng ketemu gue, kenapa lo kesini?" perkataan Vanka tersebut seketika membuat Gio menoleh.
"Kok gitu ngomongnya?" tanya Gio menatap Vanka.
"Habisnya lo aneh. Lo nggak kayak biasanya yang seneng banget kalau ketemu sama gue." jawab Vanka tanpa melihat Gio karena dia fokus mengemudi.
"Ternyata cewek yang dijodohin ke gue oleh mama itu Arina." Vanka sempat terkejut mendengar perkataan Gio. Untungnya dia masih tetap fokus mengemudi.
"Terus?"
"Gue bingung-"
"Ngapain bingung? Lo hanya perlu tinggalin gue dan pilih Arina, dengan begitu lo bisa disebut anak yang berbakti." sahut Vanka tanpa mau mendengarkan perkataan Gio sampai selesai.
Gio membulatkan matanya ketika mendengar Vanka mengatakan hal yang membuatnya kecewa. Bisa-bisanya Vanka dengan mudah menyuruh Gio buat tinggalin dia. Apa Vanka tidak tahu seberapa besar cinta Gio untuknya.
"Bukan bingung untuk memilih, karena gue udah pilih lo, gue tolak perjodohan itu. Yang gue bingung disini, kenapa mama bisa cepet banget berubah, padahal gue yakin, waktu pertama ketemu sama lo, mama suka banget sama lo." sebenarnya yang menjadi pertanyaan Gio adalah kenapa mamanya bisa begitu cepat berubah.
"Lo tolak perjodohan itu?" Vanka bertanya kembali kepada Gio. Dia ingin memastikan bahwa apa yang dia dengar itu bukanlah salah dengar.
"Hmm, gue milih lo." Gio menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Terus mama lo gimana?"
"Mama ya tetap kekeh, gue harus sama Arin, tapi kan cinta tidak bisa dipaksa, gue nggak cinta sama Arin."
"Gue jatuh cinta sama wanita lain, wanita yang suka marah tapi dia lucu, suka ngambek tapi ngangenin, wanita yang bawel tapi gue suka, wanita yang galak tapi baik hati dan cantik, wanita itu ada di sebelah gue, dia lagi nahan senyum manisnya." ucap Gio sembari menatap Vanka yang berusaha menahan senyum dan berpura-pura fokus dengan jalanan di depan. Padahal dia sangat gugup.
"Meskipun mama atau siapapun kekeh buat jodohin gue. Gue juga bakal kekeh menolak, kalau bukan lo, gue nggak mau." imbuh Gio yang semakin membuat Vanka salah tingkah.
"Lo tahu kan gue lagi nyetir, jadi jangan gombalin gue, kalau gue nggak fokus nanti bahaya!" Vanka masih belum berani menatap Gio.
"Gue serius, kalau mama masih tetap mau jodohin gue, mendingan gue kabur dari rumah.."
"Kabur kemana? Jangan sembarangan!" Vanka tidak setuju dengan ide gila Gio. Meskipun dia berharap Gio tidak menerima perjodohan itu, tapi Vanka juga tidak mau Gio bertindak sembrono. Dia masih kecil, kemana dia harus pergi. Lagipula itu akan semakin membuat mamanya membenci Vanka, karena berpikir Vanka yang membujuk Gio untuk meninggalkan rumah.
"Penolakan lo itu udah buat mama lo sedih, apalagi kalau lo kabur dari rumah, lo akan semakin membuat mama lo sedih." Gio seketika menatap Vanka. Dia benar-benar kagum dengan kebaikan hati yang dimiliki oleh Vanka.
Meskipun mamanya sudah menghinanya, tapi Vanka masih saja memikirkan tentang perasaan mamanya. Sesuatu yang membuat Gio sangat enggan melepaskan wanita sebaik Vanka. Walau dia nampak bar-bar, tapi hatinya sangatlah baik. Itu yang membuat Gio semakin cinta.
"Mundur gimana? gue harus duduk dibelakang gitu?" tanya Gio dengan bingung.
"Bisa nggak lo mundur dikit? Ganteng lo kebablasan soalnya. Anj*r, bikin saingan gue makin banyak aja." ucap Vanka dengan manyun. Tapi perkataan itu malah membuat Gio terbahak.
"Nggak nyangka gue, ternyata lo bisa ngegombal juga. Gue kira cupu ternyata suhu, anj*r..." seru Gio kegirangan.
Gio mengira selama ini Vanka adalah wanita yang cukup cuek dan dingin. Tapi siapa sangka dia bisa ngegombal juga. Gio klepek-klepek dibuatnya.
Sesampainya di sekolah, Gio mengajak Vanka untuk ke kantin terlebih dulu. Tadi Gio hanya sarapan sedikit, jadi dia ingin sarapan lagi di kantin dengan ditemani oleh kekasihnya.
"Van, sekarang gue suka banget makan cuma sama telur dadar, sama kayak lo." ucap Gio yang mulai terbiasa dengan makanan kesukaan Vanka.
"Ah, lo emang bisanya ikut-ikut aja."
__ADS_1
"Orang emang enak."
"Pagi Gio.. " Marisa yang baru datang ke kantin, langsung mendekati Gio dan merangkulnya. Marisa tidak peduli dengan tatapan tajam Vanka yang ada di depan Gio.
Vanka merasa kesal karena Marisa berani menggoda pacarnya. Vanka menepis tangan Marisa yang ada di pundak Gio. "Jangan caper sama cowok orang!" ucap Vanka dengan melotot.
"Markisa! Jaga sikap lo di depan cewek gue!" seru Gio yang jengkel dengan sikap Marisa yang tidak tahu malu.
"Marisa Gio..Bukan Markisa..." Marisa menegur Gio yang salah memanggil namanya.
"Ya itu, siapa aja boleh. Gue cuma mau bilang, jangan bersikap berlebih ke gue, hargai perasaan cewek gue!" pinta Gio pelan tapi dengan menatap tajam.
"Mar, emang nggak ada cowok lain ya selain Gio? Lo kan cakep yak, pasti banyak cowok yang naksir sama lo, jangan gangguin Gio ya! Dia milik gue, dan hanya boleh jadi milik gue!" Vanka memperingati Marisa dengan santai tapi nada suaranya cukup dalam, dia bukan seperti memperingati, tapi lebih ke menekankan.
"Cuma pacaran kan? Masih bisa putus." jawab Marisa dengan keras kepalanya.
"Kalau pun gue putus sama Vanka, gue juga nggak akan terima lo, Markisa! Jadi tolong jangan gangguin gue terus, gue risih!" seru Gio yang hampir kehilangan kesabarannya. Beruntung Vanka menarik tangannya supaya dia bisa mengendalikan amarahnya.
Tanpa berkata lagi, Gio menarik tangan Vanka dan membawa Vanka pergi dari kantin tersebut. Gio tidak mau terbawa emosi karena keras kepalanya Marisa.
Saat Gio dan Vanka hendak keluar dari kantin. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Arina yang juga baru tiba di kantin. Tapi tanpa menyapa dan tanpa memandang Arina, Gio melewati Arina begitu saja, dengan masih menggenggam tangan Vanka.
Arina menatap Marisa yang juga terlihat kesal sembari memandang Gio dan Vanka. Lalu dia kembali menatap dan terus memperhatikan Gio dan Vanka yang sedang bergandengan tangan dan semakin menjauh.
"Gio, tangan gue sakit!" keluh Vanka karena Gio terlalu kencang menarik tangannya.
Gio pun berhenti, dia meraih kedua tangan Vanka dan meniupnya dengan lembut. "Maafin gue," ucapnya sembari terus meniup tangan Vanka.
Vanka menatap Gio dengan tersenyum. Dia benar-benar merasa jadi wanita yang paling bahagia. "Malu dilihat banyak orang.." lirih Vanka yang membuat Gio tersenyum.
Gio lalu kembali menggenggam tangan Vanka tapi dengan lebih lembut. Mereka berjalan melewati begitu banyak siswa yang iri melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
Dari kejauhan Arina juga menatap kemesraan Gio dengan Vanka dengan kesal. Arina ingin sekali berada diposisi Vanka saat ini. Dimana dia bisa dicintai oleh lelaki sebaik dan setampan Gio. Lelaki yang sudah lama dia dambakan. Lelaki dingin yang membuatnya tergila-gila.