Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
18


__ADS_3

Akila dan Vanka sedang bercanda saat berjalan menuju kelas mereka. Tanpa sengaja mereka bersenggolan dengan Marisa. Tentu saja Marisa langsung marah. Dia merasa jijik bersenggolan dengan Vanka dan Akila.


Menurutnya, Vanka dan Akila tidak selevel dengan dirinya yang terlahir dari keluarga kaya. Marisa menepuk lengannya yang secara tidak sengaja bersenggolan dengan Akila tadi.


"Punya mata nggak sih?" tanya Marisa dengan judesnya.


"Lo yang nabrak tapi lo juga yang marah? Bukan main." ucap Akila sembari menggelengkan kepalanya melihat kesombongan Marisa.


"Tuh kan baju gue kotor.." Marisa membuat Akila dan Vanka benar-benar geleng-geleng kepala.


Mereka baru pertama melihat orang seangkuh dan sesombong Marisa. Hanya bersenggolan dengan orang lain aja dia bisa jingkrak-jingkrang tidak karuan.


"Heh tahu nggak berapa harga baju Marisa?" tanya Icha.


"Berapa? Paling juga sama kayak punya kita, orang cuma seragam doang." Akila masih menahan amarahnya.


"Ini tuh bukan seragam biasa. Ini tuh Marisa pesan khusus kainnya bukan kayak punya lo," imbuh Icha.


"Bukan kayak punya gue sama lo, ya?" Akila tersenyum kecil. Ada gitu orang yang seperti Marisa dan teman-temannya.


"Lo??" Icha geram karena apa yang ucapkan Akila itu memang benar adanya. Sama aja itu mempermalukan dirinya sendiri.


"Udah yuk, nggak ladeni mereka, nggak penting." Vanka menarik tangan Akila melewati Marisa yang menatapnya dengan kesal.


Tapi, begitu Vanka melewati Marisa. Teman Marisa yang bernama Lika mengulurkan kakinya, membuat Vanka tersandung dan akhirnya jatuh.


"Van," Akila kaget dan berusaha membantu Vanka jatuh.


Vanka menepuk-nepuk roknya yang kotor. Sementara Akila sudah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia mendorong Marisa dan kedua temannya.


"Maksud kalian apa? Kalian ngajak ribut?" Akila bertanya dengan marah.


"Nggak usah sok belagu, lo lihat sendiri, temen lo baru aja berlutut di depan kita." ucap Icha yang semakin merangsang amarah Akila dan Vanka.


Akila tidak lagi bisa menahan amarahnya. Akila maju dan menarik rambut Icha, kemudian mendorongnya menjauh. Tentunya apa yang Akila lakukan membuat Lika dan Marisa tidak terima. Lika dan Marisa maju dan mengeroyok Akila.


Akan tetapi, Vanka memarik Marisa dan mendorongnya. Vanka mendekati Marisa dan menarik rambutnya.


"Aw,, aw, lepasin!" ronta Marisa tapi Vanka malah semakin erat menarik rambut Marisa.


"Brengs*k lepasin Marisa!" Icha mendekat dan menarik rambut Vanka juga.


Vanka lalu mendorong Marisa dan mulai berhadapan dengan Icha, satu lawan satu. Icha semakin menarik rambut Vanka. Tapi Vanka dengan satu tangan menahan tarikan tangan Icha. Kemudian tangan yang satunya memukul wajah Icha dengan cukup keras.


Icha yang kesakitan secara refleks melepaskan tangannya dari rambut Vanka. Melihat sorot mata Vanka yang menakutkan membuat Marisa tidak berani menolong Icha.


Sedangkan Akila berhasil mendorong Lika sampai terjatuh di depan Vanka. "Lo bilang gue berlutut di depan kalian. Sekarang gue kasih tahu apa itu berlutut." Vanka terus berjalan mendekat sementara Icha dan Lika semakin mundur dengan ngesot.

__ADS_1


"Kalau lo berani mendekat, gue bakal balas dendam." ucap Lika dengan gemetar. Dia terlalu takut melihat Vanka yang mengerikan. Bahkan wajah Icha juga bengkak karena pukulannya.


Tapi ternyata Marisa sangatlah licik. Dia berlari memanggil guru untuk menyelamatkan kedua temannya. "Itu pak, Vanka sama Akila membully Icaha sama Lika." adu Marisa kepada pak guru yang dia panggil.


"Kalian semua ikut saya ke kantor guru!" ucap pak guru tidak ingin mendengar penjelasan dari satu pihak.


Di kantor guru. Pak guru memarahi mereka berlima. Pak guru mengingatkan kembali kalau sekolah tempat menuntut ilmu bukan tempat ribut.


"Kalian tuh perempuan, tidak pantas bertengkar seperti ini." ucap pak guru lagi.


"Vanka tuh pak mulai duluan." adu Marisa lagi.


"Lah kok gue, lo yang mulai, gue mau pergi, lo malah jegal kaki gue. Segala bilang kalau gue sedang berlutut sama kalian. Gue nggak terimalah." ucap Vanka juga membela dirinya sendiri.


"Kamu Marisa, kamu tidak bosan selalu bikin ribut. Saya tidak peduli kamu anak orang kaya atau anak pejabat, saya pengganti orang tua kamu di sekolah ini." ucap pak guru yang seperti sudah jengah dengan tingkah Marisa.


"Dan kalian, ini peringatan terakhir, kalau kalian sampai bertengkar lagi, saya akan panggil orang tua kalian!" peringatan pak guru untuk Vanka dan Akila.


Setelah itu mereka dipersilahkan kembali ke kelas masing-masing.


....


Di kelas, teman-temannya bertanya. Kenapa wajah Icha lebam. Icha pun menjawab dengan marah, kalau itu perbuatan Vanka.


"Brengs*k bener tuh cewek," ucap Icha sembari memegangi pipinya yang lebam.


Gio sebenarnya juga kesal mendengar Marisa dan kedua temannya mengumpati pacarnya. Tapi Gio hanya bisa menahan amarahnya untuk menghindari kecurigaan.


"Nggak ada yang cari gara-gara, emang dasarnya dia aja yang gila." ucap Icha masih kesal.


"Tapi gue seneng banget, tadi dia sempat jatuh karena dijegal Lika. Ah, lo emang pinter.." ucap Icha lagi.


"Vanka jatuh?" Defan bertanya dengan cepat.


Gio juga kaget mendengar perkataan Icha. Gio hampir bereaksi sama seperti Defan. Untungnya dia masih bisa mengendalikan dirinya.


Sementara Defan langsung berlari keluar kelas. Bahkan dia tidak peduli dengan guru yang baru saja masuk ke kelasnya. Defan terus berlari kecil tanpa mempedulikan teriakan gurunya.


"Defan!!!"


Gio dan Chika menatap Defan yang terus berlari. Chika menghela nafasnya, mungkin sudah seharusnya dia melupakan Defan.


Tak lama setelah itu, Defan kembali ke kelas dengan wajah lega. Mungkin setelah dia melihat keadaan Vanka yang baik-baik saja, Defan merasa lega.


"Kamu darimana Defan, lari gitu aja tidak melihat bu guru?"


"Maaf bu, tadi kebelet banget, kalau nggak segera lari takutnya keluar disini." Defan menemukan jawaban yang pas sebagai alasan.

__ADS_1


"Ya sudah, silahkan duduk!" bu guru akhirnya mengizinkan Defan ikut pelajarannya.


Melihat wajah Defan yang lega. Gio pun juga merasa lega. Artinya Vanka baik-baik saja.


Tanpa Gio sadari, Reza yang duduk di sebelahnya sedari tadi memperhatikan Gio. Dari saat Gio mendengar Vanka jatuh sampai Defan yang kembali dengan wajah yang lega. Reza melihat jelas reaksi dan ekspresi Gio.


Juga sebelumnya, Reza tanpa sengaja pernah melihat Gio muncul dari halaman belakang sekolah. Tak lama kemudian Vanka juga muncul dari arah yang sama.


"Gi, jujur sama gue! Lo kenal kan sama Vanka?" tanya Reza pelan, takutnya jika Defan mendengarnya.


"Kenal, lo juga kenal kan?" tanya Gio balik.


"Nggak usah bohong sama gue, lo sama Vanka punya hubungan khusus kan?" Gio seketika menoleh, menatap Reza yang memasang wajah serius.


"Nggak usah ngaco!" Gio masih berdalih.


"Gue pernah lihat kalian dari halaman belakang sekolah berdua." lagi-lagi Gio kaget dibuatnya. Dia tidak menyangka jika Reza pernah mempergokinya.


"Lo masih sahabat gue kan?"


Cukup lama terdiam. Gio menghela nafasnya, lalu mengatakan semuanya kepada Reza. "Lo ingat wanita yang gue kenal lewat medsos dulu?" Reza menganggukan kepalanya.


Dulu Gio sempat cerita tentang wanita itu. Tapi Gio tidak lagi menceritakannya, jadi mungkin teman-temannya menganggap bahwa Gio dan wanita tersebut hanya didunia maya.


"Itu Vanka. Dan lo bener, gue sama dia memang udah pacaran seminggu yang lalu." ucap Gio yang tentunya membuat Reza terkejut.


"Kalau Defan tahu, pasti dia marah banget sama lo, dia suka banget sama Vanka." Reza takut terjadi sesuatu dengan persahabatan mereka jika Defan sampai tahu, sepupunya berpacaran dengan wanita yang dia sukai.


"Defan nggak pernah suka sama Vanka. Dia hanya kesepian setelah lost contact dengan Chika. Lo tahu Defan, lo tahu cerita cinta mereka, nggak mungkin secepat itu Defan jatuh cinta sama wanita lain." Gio menjelaskan.


"Gue sih juga mikir gitu. Gue yakin Defan sebenarnya hanya kecewa sama Chika, dia masih cinta sama Chika. Tau sendiri lah Defan kayak apa orangnya, gengsian dan emosian." ucap Reza sembari menatap Defan yang duduk tepat di depannya.


"Tapi meskipun begitu, dia baik banget orangnya. Beruntung gue punya sahabat kayak dia." imbuh Reza.


"Terus apa rencana lo selanjutnya?" tanya Reza lagi.


"Gue akan buat moment Defan bisa ngobrol dengan Chika, karena yang mereka butuhkan sekarang ini, ngobrol berdua dari hati ke hati." jawab Gio.


"Tapi dia nggak mau ngomong sepatah katapun sama Chika."


"Makanya lo bantuin supaya mereka bisa ngobrol berdua!"


"Oke, kita pikirin rencana dulu, jangan terburu-buru, biar kesannya kita tidak memaksa mereka."


"Setuju. Tapi yolong rahasiain tentang hubungan gue sama Vanka dari siapapun!" pinta Gio dan Reza menyetujuinya.


"Nanti kalau Defan dan Chika udah ngobrol, Defan akan menyadari jika dia sebenarnya tidak menyukai Vanka, jadi saat dia tahu hubungan gue sama Vanka, dia tidak akan sakit dan marah." lanjut Gio.

__ADS_1


"Oke."


__ADS_2