Love Story Anak Sekolah

Love Story Anak Sekolah
63


__ADS_3

FlashBack.


Dua tahun yang lalu, saat Gio masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Dia dan teman-temannya sangat suka sekali dengan balapan liar. Setiap malam, Gio dan teman-temannya selalu balapan dengan musuh yang berbeda setiap harinya.


Geng Gio memiliki musuh bebuyutan. Geng tersebut dari sekolah lain yang menamai geng mereka dengan nama Tiger. Persaingan antara geng Gio dengan geng Tiger tersebut bisa dikatakan sangatlah sengit.


Setiap kali mereka tanding balapan. Tensi kedua geng akan selalu memuncak. Karena kedua geng tersebut tidak ada yang mengenal kata kalah. Bagi keduanya, menang itu adalah hal yang utama bagi kedua geng anak muda tersebut.


Sore itu seperti biasa, Arina main ke tempat biasa kakak dan teman-temannya nongkrong. Tapi sayangnya, disana tidak ada siapapun selain Gio.


"Yang lain kemana Gi?" tanya Arina.


"Pulang, siap-siap, nanti malam kita akan tanding dengan geng Tiger." jawab Gio masih dengan kesibukannya mengotak-atik motornya.


"Gi, gue kok beberapa hari ini selalu mimpi aneh ya?" Arina menceritakan kegelisahannya kepada Gio.


"Gue kayak nggak mau pisah dari Aleno. Gue takut Gi kalau teringat mimpi gue.." imbuhnya.


"Rasanya gue nggak tenang banget." lanjutnya.


"Mimpi kan hanya bunga tidur, nggak usah terlalu dipikirkan!" Gio menanggapi curhatan Arina dengan santai.


"Gue takut kalau Aleno pergi, nanti gue sama siapa?" Arina ingin menangis, entah kenapa dia berkata seperti itu dan merasa sangat takut.


"Huss, ngomong apa sih? Jangan punya pikiran yang aneh-aneh! Lo juga masih punya gue, masih ada anak-anak juga." Gio menegur Arina yang ngomong dan punya pikiran yang tidak-tidak.


"Dimana kakak lo? Dia nggak kesini bareng lo?" tanya Gio tidak melihat Aleno bersama adiknya.


"Dia lagi sia-siap juga, katanya malam ini harus tampil cakep." jawab Arina yang juga merasa aneh dengan tingkah kakaknya hari ini.


Hari ini Aleno bertingkah konyol seolah dia ingin mendapatkan banyak perhatian. Dia juga berkata akan pergi jauh supaya orang-orang merindukannya. Awalnya Arina menganggap biasa saja perkataan Aleno tersebut. Tapi makan dipikir, pikiran Arina semakin gelisah.


"Padahal kakak lo udah cakep dari lahir." ucap Gio sembari tersenyum.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya teman-teman Gio datang ke basecamp mereka, termasuk Aleno. Dia datang dengan penampilan yang tidak seperti biasa.


Jika biasanya dia memakai kaos oblong dibalut dengan jaket jeans. Kali ini dia memakai baju rapi dan juga berdasi. Saat ditanya kenapa dia berpakaian tak biasa. Aleno menjawab dia ingin terlihat ganteng saat pergi.


"Pergi kemana?" Reza yang juga aneh dengan tingkah tak biasa Aleno.


"Ada deh, kepo lo.." tapi Aleno masih saja bercanda.


Maka, tibalah saat balapan dimulai. Defan, Gio dan Arga menjadi perwakilan dari geng Gio. Sementara geng Tiger juga mengirim 3 orang yang mereka pilih sebagai perwakilan.

__ADS_1


"Kalau kalah lagi jangan nangis!" ledek Defan dengan gaya tengilnya.


"Nggak usah banyak bac*t!!"


Setelah balapan di mulai. Para anggota geng mereka saling terlibat adu mulut, bahkan sampai ada yang akan menyerang karena terlalu emosi.


Dan ternyata balapan tersebut di menangkan oleh Gio. Gio lebih dulu sampai ke finish sebelum Defan, lalu disusul oleh salah seorang dadi geng Tiger.


Kemenangan tersebut adalah kemenangan geng Gio yang ketiga kalinya berturut-turut ketika menghadapi geng Tiger.


Dan kekalahan itu kekalahan geng Tiger yang membuat ketua geng tersebut menjadi murka. Kekalahan berturut itu sangatlah memalukan bagi geng Tiger. Dia meminta teman-temannya untuk menyerang anggota geng Gio.


Sepertinya mereka sudah mempersiapkan rencana itu dengan baik. Terbukti para anggota mereka langsung sigap ketika tahu mereka akan kalah. Juga, beberapa dari mereka ada yang membawa senjata tajam.


"Serang!!!" perintah ketua Tiger.


Keributan tidak bisa dihindarkan. Mereka terlibat saling baku hantam. Juga tak sedikit yang terluka karena sabetan benda tajam.


"Awas Gi.." Aleno berseru dan juga melindungi Gio ketika ketua geng Tiger diam-diam ingin menusuk Gio dengan belati yang dia sembunyikan dibalik jaketnya.


"Al..." Gio menahan tubuh Aleno yang semakin lemas. Ternyata Aleno berusaha melindungi Gio dari tusukan geng Tiger tersebut.


"Aleno..." seru Gio dengan menangis melihat keadaan Aleno.


Teriakan Gio tersebut terdengar oleh teman-temannya yang lain. Mereka berhenti melawan tapi kemudian berlari menyongsong Gio yang berusaha menggendong Aleno.


"Jangan lari kalian, brengs*k!!" seru Defan berusaha mengejar musuh yang telah melarikan diri.


Sementara Gio dan beberapa yang tidak ikut mengejar membantu Gio membawa Aleno ke rumah sakit. Tak lama ambulans pun datang. Di dalam ambulans, suasana menjadi genting ketika Aleno meminta Gio untuk menjadi saudara kembarnya.


"Tolong... jaga..in adik gue, Gi! Dia... udah nggak.. punya siapa.. siapa.. lagi.." dengan nafas tersengal Aleno memohon agar Gio melindungi dan menjaga Arina.


"Iya gue janji bakal jagain Arina.." Gio tidak bisa menahan tangisannya.


"Ma.. makasih.. gue capek... ma...u tidur.." ucap Aleno lagi.


"Nggak Al, lo harus bertahan! Bentar lagi kita sampai rumah sakit..." Gio semakin tidak bisa menahan tangisannya.


"Al, lo nggak boleh tinggalin gue sendiri!" Arina juga tidak bisa melihat saudara kembarnya sekarat.


"Jaga... di..ri lo." setelah mengucap kata itu ke Arina, Aleno menjadi semakin lemah.


"Aleno, bangun!!" seru Arina tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia menjadi histeris tatkala Aleno tak sadarkan diri lagi.

__ADS_1


Sekitar sepuluh menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit terdekat. Aleno langsung dibawa ke unit gawat darurat.


Panik, cemas, gelisah menyelimuti hati Gio dan teman-temannya, termasuk Arina yang tak henti-hentinya menangis. Gio mendekati Arina dan memeluknya dengan erat.


"Aleno pasti baik-baik saja!" ucap Gio juga tidak bisa menahan kesedihannya. Apa yang menimpa Aleno tersebut karena Aleno melindungi dirinya.


"Gue takut Gio!!" Arina semakin tersedu.


"Ada gue.." Gio memeluk Arina kembi dengan sangat erat.


Bersamaan dengan itu, dokter dan perawat keluar dari ruangan gawat darurat tersebut. Dokter akhirnya menyampaikan kabar yang membuat Gio dan teman-temannya menjadi menangis. Dokter mengatakan bahwa Aleno tidak bisa diselamatkan.


Tangisan pun pecah seketika itu juga. Arina juga menjadi semakin histeris setelah mendengar kabar tersebut.


Setelah dokter pergi, mereka kemudian masuk untuk melihat jenazah Aleno. Tangisan tak bisa terkendali tatkala melihat tubuh Aleno yang terbujur kaku ditutupi oleh kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Bangun Al! Lo nggak bisa tinggalin gue sendirian! Bangun Aleno, bangun!!" Arina mengguncang-guncangkan tubuh Aleno. Serasa seperti mimpi, Arina tidak percaya jika saudara kembarnya harus pergi secepat itu.


"Kalau lo pergi, gue sama siapa Al? Kenapa lo tega tinggalin gue? Kenapa lo nggak ajak gue sekalian sama lo?" Arina masih belum bisa menerima kenyataan pahit tersebut.


Di pojokan, ada seseorang yang menangis tanpa suara. Dia adalah Gio. Gio merasa sangat bersalah atas kepergian Aleno. "Hiks... hiks.." Gio memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.


"Relain Aleno, Gi!" Reza mendekati Gio dan menguatkannya.


"Dia kayak gini karena lindungi gue, Za.." gumam Gio dengan masih terisak.


"Seharusnya gue yang mati, Za.." Gio tidak bisa mengendalikan amarahnya. Reza hanya memeluk Gio tanpa mengatakan apapun.


Keesokan harinya..


Pemakaman Aleno diiringi dengan tangisan oleh saudara dan teman-temannya. Kepergian Aleno yang mendadak itu membuat kesedihan yang mendalam dihati teman-temannya. Terutama bagi Gio.


Tangisan histeris Arina saat jenazah Aleno dimasukan ke liang lahat, membuat hati Gio menjadi berantakan. Di dasar hatinya, Gio menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian Aleno. Air matanya tidak bisa lagi dia bendung. Dia teringat saat Aleno berusaha melindunginya dari tusukan musuh.


"Jangan nyalahin diri lo sendiri!" ucap Defan yang melihat Gio seperti sangat terpukul sekali.


"Seandainya dia nggak lindungi gue, dia nggak bakal pergi, Def.." ucap Gio dengan menangis.


"Semua ini sudah takdir, Gi. Lo ingat semalam waktu dia bilang ingin pergi dengan keadaan ganteng? Mungkin itu cara dia berpamitan." Defan mengingat hal tak biasa yang dilakukan Aleno semalam.


Gio hanya terdiam. Dia masih belum bisa terima dengan kepergian Aleno yang mendadak. Gio kembali melihat Arina yang masih histeris tidak memperbolehkan jenazah kakaknya dikubur.


Gio maju dan memeluk Arina kembali. Di depan makam Aleno, Gio berjanji akan menjaga Arina. Gio janji akan memperlakukan Arina seperti adiknya sendiri, dia akan menjadi pengganti Aleno.

__ADS_1


Itu yang bisa Gio lakukan sebagai ucapan terima kasihnya karena Aleno sudah mengorbankan nyawanya untuk melindungi Gio.


Beberapa hari setelah itu, polisi akhirnya menangkap ketua geng Tiger yang telah menusuk Aleno sampai Aleno meninggal dunia. Polisi juga memperingati Gio dan gengnya supaya tidak lagi melakukan balap liar dan tawuran. Polisi tidak memenjarakan mereka karena mereka masih di bawah umur, tapi polisi tetap memantau mereka.


__ADS_2