
Gio mengajak Vanka ke rumah Defan untuk menjenguk kakeknya yang sudah beberapa hari di rumah Defan. Semenjak mamanya sakit dan sering sekali ribut dengan Gio. Kakeknya lebih memilih tinggal di rumah di rumah Defan, karena kakeknya ingin mencari ketenangan.
Bersama Chika mereka pergi ke rumah Defan sekalian main. Kunjungan tersebut bukan yang pertama bagi Vanka. Terakhir dia ke rumah Defan beberapa hari yang lalu, saat dia bersama kakak dan orang tuanya melamar Aiko.
"Dunia ini sempit ya?" gumam Chika dengan tersenyum.
"Hmm, kita berempat akan jadi saudara kalau nggak putus." ucap Vanka.
Tukk!
Gio memukul pelan kening Vanka. Dia tidak setuju dengan perkataan Vanka. Yang dia inginkan, mereka bisa langgeng sampai kapanpun. Bahkan sampai menikah.
"Lo pengen kita putus?" tanya Gio dengan kesal.
"Iya. Siapa yang mau sama cowok pemarah kayak lo, pakai segala pukul kening, kan sakit." jawab Vanka tidak kalah kesal.
Gio bukannya takut malah tertawa dan langsung memeluk Vanka. "Maaf, maaf, abisnya lo ngomongnya gitu. Pesimis banget jadi orang." ucapnya masih dengan tertawa dan memeluk Vanka lebih erat lagi, karena Vanka meronta-ronta.
"Bukan pesimis, tapi kita kan tidak tahu ke depannya kayak gimana. Siapa tahu gue tergoda sama lelaki lain, kan nggak tahu.." ucap Vanka yang semakin membuat Gio kesal.
"Coba bilang sekali lagi? Gue cium lo di depan Defan dan Chika.." ancam Gio.
Vanka mendorong Gio menjauh. Dia malu karena dilihatin Defan sama Chika. Juga karena mereka berada di depan rumah Defan. Takutnya nanti dilihat sama orang tua Defan dan kakek mereka.
"Pacaran kok ribut mulu.." ucap Defan dengan tersenyum juga dengan menggandeng tangan Chika.
"Tau tuh," sahut Chika ikutan tersenyum.
"Ya mau gimana, dia nyebelin banget jadi cewek, tapi gue cinta." Gio menggandeng tangan Vanka dan mengikuti Defan, masuk ke dalam rumahnya.
"Tau orang nyebelin, malah lo cintai, emang demen cari perkara lo." Vanka mencubit pinggang Gio pelan.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh Kimora dan juga Virsha. Bahkan Kimora meminta assisten rumah tangganya untuk menyiapkan kue yang enak untuk Vanka dan juga Chika.
"Ya ampun tante seneng banget kalian main kesini, tante jadi nggak kesepian lagi." ucap Kimora yang sehari-harinya hanya di rumah saja.
"Kak Aiko kemana, tan?" tanya Vanka.
"Belum pulang, tapi kayaknya ke rumah kamu deh, biasanya jam segini sudah di rumah."
__ADS_1
Vanka, Kimora dan Chika mengobrol seperti layaknya teman seumuran. Kimora orang yang cerdas, dia bisa mengikuti gaya anak seumuran Vanka dan Chika. Jadi Vanka dan Chika merasa nyaman banget cerita, curhat ke Kimora.
"Andai aja mamanya Gio kayak tante, aku pasti seneng banget. Sayangnya, tante Ines nggak suka sama aku." ucap Vanka sedih. Dia sangat iri melihat kedekatan Chika dengan Kimora.
Kimora meraih tangan Vanka dengan lembut. "Kamu yang sabar ya! Tante Ines itu sebenarnya baik banget kok orangnya, hanya saja belakangan ini mentalnya sedang bermasalah. Tante yakin, setelah sembuh, dia pasti akan menyayangi kamu, karena tante Ines itu sayang banget sama Gio." ucap Kimora yang agak bisa membuat hati Kimora tersentuh.
"Iya Van, lo yang sabar ya! Tante Ines pasti akan menyayangi lo." timpal Chika juga membesarkan hati Vanka.
Vanka tersenyum kecil sembari menganggukan kepalanya. Dia juga berharap seperti itu. Berharap Ines akan menerimanya dengan baik. Dan bisa sedekat seperti Chika dengan Kimora.
"Tante Kimora juga sayang sama kamu, cantik." Kimora menyentuh pipi Vanka dengan lembut.
"Makasih tante." ucap Vanka sebelum Kimora memeluknya.
Sementara Gio dan Defan sedang ngobrol dengan kakek mereka. Virsha menanyakan kondisi Ines kepada Gio. "Mama kamu udah sembuh?" tanya Virsha.
"Udah mendingan kek, mama sekarang juga udah nggak pernah marah-marah lagi. Dia berjanji akan dukung apapun yang membuat Gio bahagia."
"Bagus kalau gitu. Mama kamu itu sebenarnya sayang banget sama kamu. Tapi entah kenapa dia bisa berubah seperti itu. Kakek aja sampai nggak ngerti lagi sama dia. Itu sebabnya kakek ingin tinggal di rumah om Alfa, bukan karena tidak peduli dengan mama kamu, tapi kakek butuh ketenangan, diusia seperti kakek ini sangat tidak baik jika terus mempunyai pikiran yang tidak-tidak."
"Iya kek, Gio paham kok.. Gio mewakili mama minta maaf ya sama kakek." Virsha memeluk Gio dengan erat.
****
Sudah beberapa hari Arina tidak ke sekolah. Tapi dia justru malah datang ke rumah Gio. Arina penasaran apakah Ines beneran membatalkan perjodohannya dengan Gio.
Kondisi Arina tidaklah baik-baik saja. Itu terlihat dari raut wajah Arina yang nampak pucat dan penampilan yang agak berantakan. Arina terlihat seperti orang yang lama tidak tidur. Wajahnya benar-benar terlihat sangat pucat.
"Tante..." panggil Arina ketika Ines sedang menyiram tanaman di halaman depan rumahnya.
Kegiatan itu biasanya dilakukan oleh papa mertuanya. Tapi karena papa mertuanya tidak ada, Ines yang menggantikannya untuk mengisi kekosongannya.
"Arina?" Ines menoleh karena merasa namanya dipanggil.
Ines melihat penampilan Arina yang berantakan dengan wajah yang pucat pasi. "Kamu sama siapa Rin?" tanya Ines.
"Kamu sakit? Masuk dulu yuk!" Ines merasa iba melihat penampilan Arina tersebut. Dia mengajak Arina untuk masuk ke dalam rumah. Tidak lupa meminta pembantunya untuk membuatkan minuman untuk Arina.
"Kamu kenapa Rin? kamu sakit?" tanya Ines lagi.
__ADS_1
Tapi Arina tidak menjawab, dia langsung memeluk Ines sembari menangis. "Tante, maafin aku kalau aku punya salah ke tante. Tapi jangan batalin perjodohan aku sama Gio, jangan tante!" ucap Arina sembari menangis dan memeluk Ines.
Ines akhirnya paham maksud kedatangan Arina ke rumahnya. Ines merasa kasihan, tapi dia lebih sayang anaknya sendiri. "Rin, tante minta maaf, tapi keputusan tante sudah bulat. Maafin tante! Tante hanya ingin membahagiakan anak tante." ucap Ines tapi dia tetap memeluk Arina.
Arina semakin menangis setelah mendengar jawaban dari Ines.
Kebetulan Gio baru saja pulang dadi rumah Vanka. Dia masuk bersama Lina, psikiater Ines yang tidak sengaja bertemu di depan rumahnya.
Gio melihat Arina yang sedang menangis sembari memeluk mamanya. Dia pun bertanya kenapa Arina datang ke rumahnya padahal dia tidak masuk ke sekolah beberapa hari.
"Jangan pengaruhi mama gue dengan kesedihan lo!" ucap Gio agak kesal juga, karena Arina terus memohon supaya perjodohannya dengan Gio tidak dibatalkan.
"Arina? Dia Arina?" tanya Lina tiba-tiba. Dia terus menatap Arina yang masih menangis dan memeluk Ines.
"Iya, tante Lina kenal?" tanya balik Gio.
"Iya, dia pasien tante." jawab Lina yang membuat Gio kaget.
"Arina, dengerin miss Lina! Kamu jangan seperti ini, karena bisa membuat kamu sakit seperti dulu lagi!" Lina mendekati Arina dan berusaha memisahkan Arina dengan Ines.
Ines menatap Lina yang sedang membujuk Arina. Hanya dengan tatapannya saja, Lina tahu apa yang dipikirkan Ines. "Dia pasien aku juga." ucap Lina.
Entah dengan metode apa yang digunakan oleh Lina. Tak lama kemudian Arina melepaskan pelukannya ke Ines, dan beralih memeluk Lina.
Lina menghubungi Rania, dan meminta Rania untuk menjemput Arina di rumah Gio. Tak lama kemudian Rania sampai di rumah Gio. Rania meminta maaf karena kegaduhan yang dibuat oleh Arina. Setelah itu dia membawa Arina pulang dengan rasa malu yang tak bisa diungkapkan.
Sedangkan Gio dan Ines masih terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi. Sampai akhirnya Lina menceritakan semuanya kepada Ines dan Gio.
Jadi sebenarnya Arina sudah lama mengalami gangguan jiwa. Akibat dari kehilangan kedua orang tuanya secara bersamaan. Awalnya hanya mental saja yang terganggu, tapi setelah saudara kembarnya juga meninggal, jiwa Arina ikutan terganggu.
"Dia sempat dirawat di rumah sakit jiwa. Tapi nggak tahu kapan dia keluar, setelah itu dia datang lagi ke aku beberapa hari yang lalu dengan gejala yang sama." Gio dan mamanya benar-benar terkejut mendengar penjelasan Lina.
Jadi, selama ini yang katanya Arina ke luar kota atau ke luar negeri itu, sebenarnya itu karena Arina di rawat di rumah sakit jiwa.
Gio tidak habis pikir jika ternyata Arina mengalami itu semua.
Dan satu hal yang membuat Ines bersyukur. Dia sudah lebih dulu membatalkan perjodohan itu sebelum semuanya terlambat. Sebelum dia menyesal seumur hidupnya.
"Gi, tante minta kamu jangan jauhi Arina setelah tahu semua ini! Dia butuh pelukan dan support!" ucap Lina.
__ADS_1
"Gio akan selalu mensupport dia tante, karena kematian saudara kembarnya itu ada kaitannya dengan Gio. Gio akan berusaha membantu dia agar bisa sembuh." Gio merasa harus membantu Arina sembuh. Demi hutang nyawanya kepada Aleno.