
Sementara Arina sedikit kecewa ketika tahu Gio sudah memiliki pacar. Bahkan Gio bisa langsung melupakan dirinya begitu bertemu dengan kekasihnya. Buktinya, Gio meninggalkan dia begitu saja setelah pacarnya muncul.
Arina tahu jika Vanka adalah pacar Gio, dari Dhanu dan Reza. Juga dari sikap Gio yang memeluk Vanka di depan umum tadi.
Arina juga terkejut, Gio sudah banyak berubah sekarang. Bukan lagi seorang lelaki dingin dan jaim. Dia terlihat seperti lelaki bucin sekarang.
Gio kembali ke kelas setelah mengantar Vanka ke kelasnya. Dia meminta maaf karena telah meninggalkan Arina tadi. "Sorry ya Rin, gue tadi nggak inget kalau ada lo." ucap Gio.
Arina menganggukan kepalanya sembari tersenyum kecil. "Tadi cewek lo?" tanyanya penasaran.
"Iya, tadi cewek gue. Nanti gue kenalin deh, dia orangnya humble kok." Arina terus memperhatikan Gio. Dia menemukan ada yang aneh. Bibir bawah Gio terlihat agak bengkak. Tadi bibirnya masih terlihat biasa saja.
"Wuih, bibir lo kok kayak bengkak, lo habis ngapain sama Vanka? Hayo ngaku!" ternyata bukan hanya Arina yang memperhatikan bibir Gio. Tapi juga Reza yang langsung ngeh.
"Iya ih, abis ngapain lo??" Dhanu juga ikutan kepo.
Gio seketika langsung memegangi bibirnya. Dan memang agak bengkak, itu karena tadi Vanka menggigit bibirnya. "Apaan sih, kepo kalian.." ucap Gio merasa sedikit malu.
"Anj*m, Vanka ternyata ganas juga.." ucap Reza dengan tertawa.
"Udah, yuk ganti baju!" Gio menenteng baju olahraganya.
Jam pertama di kelasnya adalah olahraga. Dan kebetulan jadwal itu sama dengan kelas Vanka. Hanya saja beda pengajar.
Dhanu dan Reza terus menggoda Gio terkait bibirnya yang bengkak. Mereka kepo apa yang telah Gio dan Vanka lakukan tadi. Tapi Gio terus menghindari pertanyaan itu dan meminta supaya Dhanu dan Reza tidak lagi kepo.
Arina tersenyum pahit mengetahui kenyataan bahwa Gio sudah memiliki pacar. Dan sepertinya Gio sangat mencintai kekasihnya itu.
Defan dan Chika yang baru sampai di kelas, kaget melihat Arina. "Arina?" gumam Chika.
"Eh Chika, Defan.. Kalian masih bersama? Langgeng banget ya kalian." Arina juga kenal Chika dan juga Defan.
Akan tetapi, baik Defan maupun Chika, mereka sepertinya tidak terlalu suka dengan kehadiran Arina kembali. Yang mereka takutkan sama. Takut Arina akan mengganggu hubungan Gio dan Vanka.
"Kapan balik?" tanya Chika masih bisa menyembunyikan rasa gelisahnya.
"Kemarin siang. Bukannya lo pindah ke luar negeri ya?" tanya Arina balik.
__ADS_1
"Gue nggak bisa jauh dari Defan, makanya gue balik.." Chika menggandeng tangan Defan sembari mencubit perut Defan pelan.
"Jangan melotot seperti itu..." bisik Chika kepada Defan yang terlihat sekali tidak suka dengan kembalinya Arina.
"Lo stay disini?" tanya Defan setelah ditegur oleh kekasihnya.
"Iya, lo lihat sendiri kan gue disini. Gue pindah di sekolah ini, dan gue stay di kota ini lagi." jawab Arina tidak sadar dengan tatapan tak suka dari Defan.
"Udah yuk, kita ganti baju, jam pertama kan olahraga." Chika menarik tangan Defan.
Setelah itu Chika menasehati supaya Defan jangan menunjukan rasa tak sukanya secara langsung. Dan juga, Chika penasaran kenapa Defan tidak suka dengan kembalinya Arina. Padahal dulu mereka juga baik-baik saja.
"Gue takut kembalinya dia akan menggangu hubungan Gio dengan Vanka. Lo masih ingat pesan terakir Aleno kan?" jawaban Defan itu membuat Chika teringat pada masa lalu.
"Gue juga sama. Gue takut hubungan Gio dan Vanka yang baik-baik saja ini akan menjadi kacau karena kehadiran Arina." ketakutan yang sama yang dirasakan Chika dan Defan.
"Apa kita kasih tahu Vanka pelan-pelan aja, gue yakin dia akan ngerti kok." imbuh Chika. Dia tahu Vanka orang yang berpikiran dewasa dan positif. Chika yakin Vanka akan menerima penjelasan itu. Dan tidak akan mengganggu hubungannya dengan Gio.
"Boleh, tapi biarin Gio yang jelasin ke Vanka. Kita tidak boleh terlalu dalam ikut campur ke dalam hubungan Gio. Itu kan privasi dia." Defan setuju dengan ide Chika. Akan tetapi, dia ingin Gio sendiri yang menjelaskan kepada Vanka apa yang sebenarnya terjadi.
Defan tidak mau mengganggu privasi orang meskipun itu privasi sepupunya sendiri. Karena setiap orang berhak menjaga privasi masing-masing.
....
Jam perlajaran pertama kelas Gio dengan kelas Vanka sama yaitu olahraga. Guru masing-masing kelas meminta murid-murid di kelas Gio untuk bertanding basket melawan kelas Vanka.
Pertama, murid perempuan dulu. Vanka dan Ira masuk ke dalam tim yang mewakili kelasnya. Sementara lawannya ada Marisa di dalam tim lawan. Tentunya pertandingan itu akan semakin seru.
"Yukk semangat, yang menang akan dapetin hatinya Gio..." seru Dhanu dengan konyol bahkan sambil terbahak.
Vanka seketika membulatkan matanya sembari menatap Gio. Gio pun jadi gelagapan karena tatapan tajam Vanka. Gio mendorong kepala Dhanu berulang kali karena sembarangan bicara.
"Jangan melotot seperti itu! Bukan gue yang bilang tapi Dhanu. Kalau bagi gue, kalah atau menang, lo tetaplah kesayangan gue.." Gio menjelaskan kepada Vanka di depan teman-temannya dan teman-teman Vanka, bahkan di depan guru olahraga mereka.
"Cie..." teman-temannya pun bersorak sorai mendengar gombalan Gio ke Vanka.
"Semangat sayank!" ucap Gio lagi yang membuat Vanka menggigit bibir bawahnya menahan senyum.
__ADS_1
Pertandingan itu cukup sengit. Marisa berulang kali berusaha membuat Vanka jatuh. Tapi Vanka tetap bisa bertahan. Bahkan Gio tidak menyangka jika kekasihnya itu memiliki fisik yang cukup kuat. Dia tidak mudah jatuh meskipun kerap sengaja didorong oleh Marisa. Dan yang paling membuat Gio kagum, Vanka cukup baik main basket-nya. Gio tidak pernah tahu sebelumnya.
"Lo dukung mana Gi?" tanya Reza dengan iseng.
"Vanka-lah.." jawab Gio tanpa ragu.
"Jadi lo khianati kelas kita?" tanya Reza lagi.
"Brisik lo!" omel Gio yang kesulitan menjawab pertanyaan Reza.
Saat Vanka berhasil menambahkan angka untuk kelasnya, Gio berseru seperti seorang pendukung yang menyemangati jagoannya. "Vanka, i love you..." seru Gio yang semakin membuat gaduh.
"I love mendadak, Jovanka...." Reza berseru tak mau kalah dari Gio. Hanya saja teriakan Reza itu membuat Gio menatapnya dengan tajam. Gio juga menoyor kepala Reza yang sembarangan bicara.
"Kenapa sih Gi? Gue kan ceritanya juga pendukung Vanka.." Reza membela dirinya.
"Lo dukung si Markisa aja noh!!" sahut Gio kembali menoyor kepala Reza.
"Marisa nj*r, Markisa pala lo peyang.." gantian Reza yang mendorong kepala Gio karena sembarangan mengganti nama orang.
"Ya itulah pokoknya.."
Di suatu tempat, Arina yang belum memiliki seragam tidak ikut olahraga bersama teman-teman barunya. Dia menunggu di bangku yang tidak jauh dari lapangan basket tersebut.
Senyumannya terasa pahit tatkala melihat Gio yang sangat berbeda dengan Gio yang dulu, yang selalu dingin kepada siapapun. Sekarang Gio terlihat bucin kepada Vanka.
"Apakah cuma hanya wanita itu dia bisa jadi orang yang berbeda?" gumamnya seorang diri.
Karena sebelumnya dia masih bisa melihat kedinginan di wajah dan sikap Gio kepadanya. Tapi sangat berbeda jika di depan Vanka. Gio akan berubah menjadi lelaki ceria dan sangat bucin.
Arina terus memperhatikan Vanka. Dia ingin tahu apa yang dimiliki wanita itu sehingga bisa membuat kulkas berjalan bisa jadi hangat dan ceria, bahkan bucin.
Dulu, Arina selalu berkata jika wanita yang bisa mencairkan kedinginan Gio itu pastilah orang yang special dan beruntung. Dari dulu Gio sudah terlihat sangat menyayangi mamanya dan menghargai seorang wanita. Jadi wanita yang bisa mendapatkannya pasti akan sangat dicintai dan dihargai bahkan dilindungi oleh Gio.
"Kenapa wanita itu bukan gue?" gumam Arina lagi dengan tersenyum pahit.
Harus diakui, sudah sejak dulu Arina suka kepada Gio. Kedinginan lelaki itu justru membuatnya tergila-gila. Kebaikan lelaki itu juga yang membuat Arina selalu ingin mendapatkan hatinya.
__ADS_1
Setelah sekian lama dia memendam perasaannya. Ternyata orang lain yang bisa mendapatkan hati dan cintanya. Wanita itu pasti orang yang sangat beruntung, karena banyak wanita yang mengejar Gio sebelumnya. Dan hanya Vanka yang mampu mendapatkan hatinya.