
Sebelum ke kelas, Vanka pergi ke toilet terlebih dulu. Dia ingin merapikan bajunya kembali. Tapi ternyata dia malah bertemu dengan Marisa dan teman-temannya.
Marisa kembali membuat keributan dengan Vanka. Dia sudah mendengar kabar jika ternyata Gio dan Vanka memang beneran pacaran, tapi sudah putus.
Meskipun begitu, Marisa masih marah kar'na ternyata musuhnya-lah yang bisa merebut hati lelaki pujaannya. Marisa benar-benar tidak terima.
"Eh, si munafik..." Marisa menjuluki Vanka sebagai wanita munafik.
Vanka sedang tidak ingin ribut. Dia tidak mengindahkan ejekan Marisa kepadanya. Dia melewati Marisa begitu aja.
"Heh.." Marisa mendorong Vanka sampai membentur dinding kamar mandi.
"Mau lo apa sih?" tanya Vanka dengan marah.
"Jauhin Gio!"
"Tanpa lo suruh pun gue juga udah jauhin dia. Kalau lo mau, ambil sana!" ucap Vanka mendorong Marisa lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Vanka beneran lagi tidak ingin ribut, apalagi meributkan hal yang berkaitan dengan Gio. Vanka benar-benar malas.
Marisa yang masih marah terus menggedor-gedor pintu kamar mandi yang ada Vanka di dalamnya. Tapi Vanka memilih untuk membiarkan Marisa teriak-teriak seperti orang gila diluar.
Begitu sudah tidak lagi terdengar suara diluar. Barulah Vanka keluar dari kamar mandi tersebut. Tapi, betapa kagetnya Vanka, begitu dia keluar. Marisa dan teman-temannya menyiram Vanka dengan air menggunaka ember. Basahlah seluruh badan Vanka.
"Mamp*s lo." seru Icha yang terlihat sangat bahagia, melihat Vanka basah kuyub.
Vanka menatap mereka bertiga dengan tajam. Kemudian Vanka menarik salah satu dari mereka bertiga. Dan ternyata Lika dan Marisa-lah yang tertarik oleh Vanka. Niat cuma tarik satu tapi dapat dua.
Vanka menarik baju mereka dan mendorong mereka ke dalam kamar mandi. Lalu Vanka mengangkat ember yang berisi air dan menyiramnya ke Lika dan Marisa.
Saat itu Icha tidak bisa berbuat banyak untuk menolong kedua temannya. Dia tidak mau ikutan basah, tapi juga tidak bisa meninggalkan temannya.
Lika dan Marisa berteriak karena kini tubuhnya juga basah kuyub seperti Vanka. "Lo gila..." seru Marisa.
"Kita sama-sama gila. Jadi jangan pernah lagi lakuin hal konyol kayak gini!" ucap Vanka kemudian keluar dari kamar mandi tersebut.
__ADS_1
Ketika dia keluar, tanpa sengaja bertemu dengan Chika. "Van, kenapa basah semua?" tanya Chika.
Tapi sesaat kemudian Chika paham, saat Marisa dan Lika keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sama seperti Vanka. Chika yakin jika mereka pasti habis bertengkar lagi. Marisa juga terlihat marah dan terus mengomel.
Chika lalu melepas jaketnya dan memberikan kepada Vanka. "Nih pakai jaket gue, jangan sampai masuk angin! Gue beliin baju di koperasi sekolah bentar." setelah memberikan jaketnya ke Vanka. Chika buru-buru keluar dari toilet dengan berlari kecil.
"Eh, nggak usah! Gue telep-" Vanka belum selesai bicara, tapi Chika sudah berlari terlebih dulu.
Vanka hanya bisa menunggu Chika yang katanya akan membelikan baju seragam untuknya. Vanka tersenyum kecil ketika melihat jaket Chika ada ditangannya. Vanka pun memakainya supaya tidak kedinginan.
Sementara Marisa dan Lika juga meminta Icha untuk membelikan mereka seragam baru. Tidak mungkin kan mereka akan pakai baju basah itu seharian.
"Marisa, gue harap ini terakhir kalinya lo bikin masalah ke gue. Kalau nggak, lo akan tahu akibatnya." ucap Vanka yang sebenarnya sudah capek terus-terusan bertengkar dengan Marisa seperti ini.
"Kalau lo mau Gio, ya lo kejar dia, bukannya malah bikkn masalah ke gue. Gue udah putus sama Gio, kalau lo mau, lo ambil aja, tapi kalau Gio yang nggak mau, ya jangan salahin gue." imbuh Vanka.
"Harus. Gue harus salahin lo kenapa lo ganjen sama Gio. Kalau gue nggak bisa dapetin Gio, orang juga nggak boleh miliki dia." ucap Marisa menatap Vanka dengan serius.
Vanka tahu, cinta Marisa ke Gio itu sangatlah besar. Tapi namanya cinta, tidak bisa dipaksa atau diatur. Jika Gio tidak mencintai Marisa, ya itu juga bukan salah Vanka.
Setelah Chika kembali ke toilet dengan membawa seragam baru untuk Vanka. Vanka pun mulai ganti baju dan kembali ke kelas.
Vanka mengembalikan jaket Chika dan menyerahkan beberapa uang kertas ke Chika. "Thanks ya, dan ini buat ganti uang seragam." ucap Vanka.
"Nggak usah Van, lo simpen aja!" Chika tidak mau menerima uang ganti dari Vanka.
"Ya udah thanks." ucap Vanka lagi lalu meninggalkan toilet.
Chika mengikuti Vanka, dia berkata ingin ngobrol sama Vanka dan mengenal Vanka lebih dekat. Tentu saja Vanka kaget mendengar ucapan Chika tersebut.
Bukankah beberapa hari lalu, dia masih tidak menyukai Vanka. Tapi kenapa dia sekarang bersikap sangat baik ke Vanka. Apa ada maksud lain dibalik kebaikannya itu.
"Chik, sorry gue panggil nama aja ya." Vanka meminta izin untuk memanggil Chika dengan nama saja tanpa 'kak'.
"Iya." Chika menganggukan kepalanya. Lagipula dengan memanggil nama. Chika merasa lebih akrab dengan Vanka.
__ADS_1
"Chik, kalau lo mau ngomongin Defan, sorry, gue nggak ada hubungan apapun dengan Defan. Jadi kalau lo minta gue buat lepasin Defan, gue aja nggak jerat dia, bagaimana gue bisa lepasin dia?" lanjut Vanka.
"Van," tiba-tiba Chika memeluk Vanka yang ada di sampingnya.
"Van, thanks banget ya, karena rencana lo dan Gio, gue sama Defan balikan sekarang." ucap Chika masih memeluk Vanka.
"Gue ingin dekat sama lo, karena gue beneran ingin berteman sama lo." imbuh Chika.
"Gue juga minta maaf karena udah bikin hubungan lo sama Gio berantakan." Chika berkata dengan sedih, dengan masih memeluk Vanka.
"Iya, gue maafin lo kok." ucap Vanka yang membuat Chika merasa senang dan lega.
"Masalah gue sama Gio, itu bukan salah lo kok. Gue aja yang terlalu berharap sama dia. Gue nggak sadar diri, gue bagai pungguk merindukan bulan." ucap Vanka melanjutkan kembali langkahnya setelah Chika melepaskan pelukannya.
"Jangan ngomong gitu, Gio tuh sebenarnya sangat mencintai lo." ucap Chika menjadi juru bicara Gio.
"Chik, kalau lo emang serius pengen berteman sama gue, tolong, jangan bahas dia lagi! Gue sedang berusaha move on dadi dia, jadi please, hargai perasaan gue!" ucap Vanka yang masih belum mau membahas apapun tentang Gio.
Karena Chika tidak mau membuat Vanka marah. Chika pun akhirnya berhenti membahas tentang Gio di depan Vanka. Dia berpikir masih ada banyak waktu lagi. Yang terpenting, dia bisa dekat dengan Vanka terlebih dahulu.
"By the way, selamat ya Chik, akhirnya lo bisa balikan sama Defan lagi." Vanka tidak lupa memberi selamat untuk Chika.
"Itu semua juga karena ide berlian lo."
"Kalau gitu jangan lupa traktirannya."
"Beres dong, nanti minggu pagi kita main bareng ke pantai, gue yang bayar semua."
"Wah seru tuh, gue boleh ajak temen-temen gue nggak?"
"Ajak aja semua, gue yang bayar, anggep aja pajak jadian." ucap Chika.
Mungkin dengan tamasya itu akan lebih banyak membuat moment untuk Vanka dan Gio. Chika berharap hubungan Vanka dan Gio kembali seperti kemarin-kemarin.
"Oke, gue kasih tahu temen-temen gue dulu. Sampai ketemu lagi nanti waktu istirahat." Vanka dengan wajah bahagia berjalan menuju ke kelasnya.
__ADS_1
"Oke." ucap Chika juga merasa senang. Mereka berpisah di depan kelas Vanka, karena kelas Chika berbeda dengan kelas Vanka.