
Desi kelihatan lemas sekali, seperti tidak memiliki semangat sama sekali. Dia terlihat lesu dan tak bertenaga. Di kelas dia juga diam aja sepanjang pelajaran berlangsung. Sangat berbeda sekali dengan kebiasaan dia yang cerewet dan bersemangat.
Tentunya, perilaku tak biasa Desi itu menimbulkan pertanyaan bagi teman-temannya. Khususnya Ira yang memang sudah lama kenal dengan Desi.
Ira curiga jika Desi sedang patah hati. Pasalnya, beberapa waktu belakangan, Desi terlihat dekat dengan Febri. Tapi beberapa hari terakhir hubungan mereka nampak renggang. Mereka sudah tidak lagi berangkat dan pulang bareng. Bahkan terkesan perang dingin.
Hal itu disadari bukan hanya oleh Ira, tapi juga Akila dan Vanka. Mereka juga berpikiran sama seperti Ira. Menduga bahwa Desi sedang ada masalah dengan Febri.
Dugaan itu diperkuat ketika mereka ke kantin, tanpa sengaja bertemu dengan Febri yang sudah duluan berada di kantin. Desi dan Febri tidak saling sapa sama sekali. Padahal biasanya mereka langsung mojok berdua. Belum lagi tadi di kelas, mereja berdua juga tidak terlihat saling bicara.
Tapi, baik Vanka, Akila maupun Ira tidak ada yang berani bertanya langsung kepada Desi. Takutnya malah membuat Desi semakin sedih. Meskipun sebenarnya lebih sakit menahan masalah sendiri. Tapi mereka tetap menghargai privasi Desi, seandainya Desi belum mau cerita kepada mereka.
"Guys, sekali-kali lihat gue perform ngapa? Gue kan pengen waktu perform, temen-temen gue pada lihat!" ucap Akila membuka suara setelah cukup lama terjadi keheningan diantara mereka berempat.
"Masa iya Vanka terus yang lihat, kan bisen gue.." imbuh Akila dengan terbahak.
"Sialan lo." Vanka ikutan tertawa tapi sembari mendorong kepala Akila.
"Boleh tuh, gue juga bosen di rumah terus. Lo ikut nggak Des?" tanya Ira ke Desi yang masih diam saja.
"Woi..." Ira menyenggol lengan Desi dan membuat Desi kaget. Ternyata dia melamun sedari tadi.
"Lo kenapa sih, diem bae dari tadi? Lo sakit?" tanya Ira lagi.
"Cuma agak pusing aja sih." Desi memegangi kepalanya, tapi pandangannya tetap kosong.
"Ntar malam ikut nggak?" tanya Ira.
"Kemana emangnya?" Desi balik bertanya.
Ira pun menghela nafas dan memutar bola matanya. "Lihat Akila perform, daripada di rumah suntuk, sekalian nongkrong lah, semenjak lo punya cowok, lo nggak pernah nongkrong lagi ama kita." imbuh Ira yang kembali membuat Desi sedih.
"Lo kenapa sih Des? Lo lagi ada masalah sama Febri? Kayaknya kalian diem-dieman." Vanka mulai berani bertanya. Dia meraih tangan Desi dengan lembut.
Desi terdiam dan malah semakin bertambah sedih. Dia juga tiba-tiba menangis tanpa sebab, membuat teman-temannya bingung dan khawatir.
"Loh,, loh kok malah nangis?" tanya Akila yang juga bingung.
__ADS_1
"Kenapa Des? Cerita ke kita!" pinta Vanka yang juga khawatir dengan keadaan Desi.
"Gue putus sama Febri, dia ketahuan selingkuh." jawab Desi dengan tersedu.
Dan jawaban itu sekaligus membenarkan dugaan ketiga temannya. Jika Desi sedang ada masalah dengan Febri.
Bagi Vanka dan Akila yang sudah kenal dengan Febri lama. Mereka berdua tidak kaget dengan apa yang Desi katakan. Dari awal Akila juga sudah mengingatkan Desi, jika Febri adalah seorang buaya darat. Tapi saat itu Desi yang sedang dilanda asamara, tidak mau mendengarkan peringatan Akila.
Meskipun begitu, Akila juga tidak mau menyalahkan Desi karena tidak menghiraukan peringatannya. Dia paham jika Desi sedang kasmaran, jadi dia tidak akan mendengarkan perkataan orang lain.
"Udahlah jangan sedih lagi! Mending ntar malam kita nongkrong dan happy-happy!" sahut Akila mengingatkan supaya Desi jangan sedih lagi hanya karena lelaki buaya seperti Febri.
"Maafin gue, gue nggak dengerin peringatan kalian waktu itu." lirih Desi dengan terisak.
"Nggak apa kok, yang penting kan lo udah tahu sekarang." sahut Vanka juga menghibur Desi.
"Dia sebenarnya baik orangnya, hanya saja sifat playboy-nya itu yang bikin jengkel." imbuh Vanka.
Akila setuju dengan apa yang Vanka katakan. Memang benar, mengenai persahabatan, Febri orangnya baik banget, punya solidaritas sangat tinggi. Tapi jika mengenai perasaan, dia tidak bisa bertahan pada satu hati.
Aiko sedang gabut. Rakha sedang mengerjakan tugas akhirnya. Aiko pun memutuskan mengunjungi perusahaan papanya. Sudah sangat lama, Aiko tidak pernah datang ke perusahaan papanya. Itu membuat para karyawan papanya banyak yang tidak tahu siapa dia. Kecuali karyawan yang sudah lama bekerja di perusahaan papanya.
Ketika Aiko hendak masuk ke kantor papanya. Tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang lelaki bertubuh gagah dan juga ganteng. Tapi kelihatannya dia agak lebih tua dari Aiko.
"Maaf, maaf, aku nggak sengaja." ucap lelaki itu dengan cukup ramah.
"Nggak apa-apa kok, aku yang hati-hati." ucap Aiko sembari menepuk-nepuk celananya yang agak kotor akibat terjatuh.
"Kenalin aku, Heksa," ucap lelaki itu memperkenalkan diri.
"Aku Aiko, pak.." Aiko bingung mau memanggil lelaki itu dengan sebutan apa. Akhirnya dia memutuskan memanggil lelaki itu dengan sebutan 'pak'. Sebutan itu cukup umum.
"Jangan panggil pak dong, kayaknya umur kita cuma beda beberapa tahun aja. Panggil aja kakak!" pinta lelaki yang terlihat cukup mewah jika dilihat dari fashion-nya.
"Kamu kerja disini?" tanya Heksa lagi.
Aiko hanya menganggukan kepalanya saja. Dia bingung mau jawab apa. Kalau dia bilang anak dari pemilik perusahaan, disangkanya dia sombong. Jadi Aiko memilih berpura-pura jadi karyawan papanya.
__ADS_1
"Pasti anak magang?" tanya Heksa lagi, karena menurutnya, Aiko terlihat masih kecil. Lagi-lagi Aiko menganggukan kepalanya saja.
"Kebetulan kalau gitu, bisa anterin aku ke ruangan pak Alfarezi? Aku mewakili papa aku buat gantiin dia rapat dengan bos kamu." ucap lelaki itu lagi.
"Iya bisa. Silahkan." ucap Aiko mempersilahkan Heksa berjalan lebih dulu.
"Aku kenal sama pak Alfarezi kita pernah bertemu beberapa kali, tapi aku baru pertama kali ke perusahaannya, eh, malah ketemu bidadari. Tahu gitu aku kesini kemarin-kemarin." ucap Heksa lagaknya seperti seorang playboy. Karena baru pertama kali bertemu, dia sudah menggombali Aiko.
Aiko masih tidaj berkata. Dia hanya terdiam mendengar cerita Heksa tentang dirinya sendiri. Heksa seperti ingin menjelaskan dirinya kepada Aiko. Bahkan Heksa juga mengajak Aiko bertemu setelah pulang dari kerja.
Tapi dengan sopan Aiko menolak ajakan tersebut. "Kenapa? Kamu sudah punya pacar?" tanya Heksa sedikit lancang. Mereka baru saja kenal tapi dia sudah kepo aja tentang Aiko.
"Iya." jawab Aiko masih dengan sopan.
"Putusin aja! Lalu pacaran sama aku, aku bisa beliin apapun yang kamu mau. Aku akan kasih uang jajan ke kamu setiap bulannya." bisik Heksa yang membuat Aiko agak geram.
"Maaf pak, bisa lebih sopan nggak?" Aiko mulai geram.
"Ini ruangan pak Alfarezi, silahkan masuk!" ucap Aiko sembari membuka pintu ruangan papanya.
Sebelumnya, sekertaris papanya sudah memberitahu jika papanya ada di dalam ruangannya. Jadi Aiko bisa langsung membuka pintu ruangan papanya, tapi pastinya dia mengetok pintu dulu. Takutnya dia dikira tidak memiliki sopan santun.
Saat pintu terbuka. Alfarezi terkejut melihat putrinya datang ke kantornya, apalagi bersama Heksa. Yang Alfarezi tahu, lelaki itu adalah anak dari kliennya.
"Ai, tumben ke kantor papa?" tanya Alfarezi yang tentunya membuat Heksa membulatkan matanya. Dia ternyata salah menduga, wanita itu bukanlah anak magang di perusahaan manufaktur tersebut, melainkan anak dari pemilik perusahaan.
"Jadi Aiko ini anaknya pak Alfarezi?" tanya Heksa.
"Iya, ini putri sulung saya, pak Heksa kenal Aiko?" Alfarezi mengerutkan keningnya, darimana Heksa kenal dengan Aiko.
"Iya, kita baru aja kenal, tadi nggak sengaja kita bertabrakan." jawab Heksa yang merasa tidak enak telah mengatakan hal yang tak pantas kepada Aiko.
"Maafin aku ya, Ai. Aku nggak tahu kalau kamu putrinya pak Alfarezi." ucap Heksa.
"Nggak apa-apa kok, kak. Tapi lain kali jangan kayak gitu!" ucap Aiko mengingatkan Heksa supaya lebih sopan kepada orang lain. Apalagi kepada orang yang baru dia kenal.
"Iya." tapi sepertinya Heksa tertarik kepada Aiko. Dia terus menatap Aiko dengan tersenyum senang.
__ADS_1