
"Gimana Dhan?" Reza sangat penasaran dengan usaha Dhanu. Dia tahu rencana Dhanu yang akan menyatakan cinta kepada Arina.
Akan tetapi ketika melihat wajah lesu Dhanu. Reza jadi tahu dan bisa menebak jika Dhanu pasti ditolak oleh Arina. "Lo ditolak?" tanyanya.
Dhanu tersenyum kecil sembari memasukan tas ke dalam laci. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Tapi Dhanu tetap berusaha untuk tegar.
"Ya udah sih, cewek kan masih banyak, cari aja yang lain!" Reza mengingatkan supaya Dhanu tidak berlarut dalam kesedihan.
"Dhanu nembak Arin?" sahut Gio yang merasa senang juga.
"Yoi. Tapi kayaknya ditolak tuh, liat aja mukanya bete banget gitu." jawab Reza.
"Nggak usah nangis!" canda Reza sembari menoyor kepala Dhanu.
"Nggaklah, ngapain juga nangis. Gue nggak selemah itu, nj*r.." Dhanu mengelak, faktanya meskipun kecewa, Dhanu tidak menangis juga.
"Tuh kenapa muka lo jelek banget gitu?" tanya Reza lagi.
"Oh lupa, emang dari sononya udah jelek yak." Reza masih meledek Dhanu sembari tertawa.
Dhanu menoyor kepala Reza yang mengatai dia jelek. Tapi respon Dhanu tidak seperti biasanya. Kalau biasanya dia akan gencar memukul Reza saat diejek Reza. Tapi kali ini dia hanya menoyor kepala Reza pelan, lalu kemudian terdiam kembali.
"Kenapa sih lo? Udahlah, jangan dipikirin terus!"
"Iya Dhan, kan masih ada cewek lain.." sahut Gio lagi.
"Alasan dia nolak gue karena dia suka sama lo." ucap Dhanu yang membuat Reza dan Gio terkejut.
"Maksud lo apa sih?" Reza yang justru penasaran apa yang sebenarnya terjadi yang tidak dia ketahui.
"Jadi, alasan Arina nolak gue, karena Arina suka sama Gio." Dhanu kembali melanjutkan perkataannya. Dan, untuk kedua kalinya Reza terkejut.
Respon yang berbeda dari Gio. Dia memang sudah yakin jika Arina memiliki perasaan yang khusus kepadanya. "Gue udah punya Vanka, dan gue cinta banget sama dia." ucap Gio.
"Tapi katanya kalian dijodohin?"
"Ya. Tapi lo tenang aja, sebisa mungkin gue akan tolak perjodohan itu. Gue cinta sama Vanka, jadi lo nggak perlu khawatir!" Gio menepuk lengan Dhanu pelan. Dia mengisyaratkan agar Dhanu terus mengejar Arina.
__ADS_1
"Selama Gio nggak mau sama Arina, dia pasti akan oleng ke lo kok." sahut Reza juga menyemangati Dhanu.
"Kejar dia, gue yakin wanita nggak akan kuat dengan ketulusan.." imbuh Reza yang justru membuat kedua temannya heboh.
"Dengerin tuh, si pakar cinta!" olok Gio.
"Nj*r, kan emang gitu kenyataannya. Wanita tuh akan memilih lelaki dengan perhatian yang tulus, dibanding lelaki yang hanya modus.."
"Widih, teori lo bagus sih bro, tapi prakteknya kok masih jomblo yak.." giliran Dhanu yang mengolok Reza.
"Itu karena gue-nya aja yang males pacaran. Mending jomblo daripada nembak tapi ditolak." Reza terbahak setelah mengatakan kata ejekan kepada Dhanu.
"Anj*r, ledek aja terus!" Dhanu memukul lengan Reza dengan cukup keras. Sementara Reza tertawa dengan sangat puas.
"Sabar Dhan, besok tembak lagi, siapa tahu ditolak lagi.." giliran Gio yang mengolok-olok Dhanu. Kemudian terbahak bersama dengan Reza.
"Hah, bukan temen gue kalian." Dhanu kesal sendiri menghadapi kedua teman yang rese tersebut.
Itu baru Reza dan Gio, belum Defan dan Chika yang pasti tidak mau kalah mengolok-olok dirinya. Pagi itu Defan belum kelihatan batang hidungnya. Mungkin dia di kantin bersama pacarnya. Atau memang belum datang.
Tak lama kemudian Arina datang. Arina mendekati Gio dan mengatakan jika dia sengaja naik taksi karena ingin pulang bareng Gio. "Gue mau jenguk tante Ines." dalihnya.
Selanjutnya, demi memberi kesempatan kepada Dhanu. Reza dan Gio memilih untuk keluar dari kelas. "Gue mau ke kelas Vanka dulu ya, kangen banget anj*r gue sama dia." ucap Gio.
"Emang dasarnya lo aja yang bucin.." Reza mendorong Gio, kemudian merangkul Gio keluar dari kelas.
Di depan kelas, mereka bertemu dengan Marisa dan teman-temannya. Seperti biasa, Marisa menyapa Gio dengan gaya yang centil. "Hallo my prince.." sapanya.
"Hallo my queen." tapi justru Reza yang menjawab sapaan Marisa. Bahkan Reza juga mencubit pipi Marisa membuat Marisa menjadi heboh.
"Ish, najis banget..." berulang kali Marisa menyeka pipi bekas cubitan Reza.
"Gue sapa Gio, bukan lo.." bentak Marisa sangat kesal kepada Reza.
"Mau kemana my honey?" tanya Marisa dengan genit.
Akan tetapi, sepertinya Gio sudah terlalu malas meladeni Marisa. Semakin dia menolak, semakin Marisa tidak tahu diri. Makanya, Gio lebih memilih tidak memperdulikan dia.
__ADS_1
"Gio ih mau kemana sih?" dicueki Gio tidak membuat Marisa kendor. Dia malah menggandeng tangan Gio dengan tidak tahu malu.
"Lepasin nggak!" pinta Gio.
"Nggak mau." Marisa tidak mau melepaskan tangan Gio. Dia malah mengikuti langkah Gio, dan tidak jadi masuk ke kelas.
Gio berusaha menarik tangannya. Tapi Marisa semakin erat memeluk tangan Gio. "Jangan bikin gue marah! Gue nggak mukul wanita.." ucap Gio dengan sengit.
"Gokil emang si Gio, udah punya cewek masih ada aja yang ngejar-ngejar!" Reza bergumam di sebelah Gio yang berusaha melepaskan tangannya.
Disaat Gio dan Marisa saling tarik menarik. Tiba-tiba Vanka muncul dan menarik rambut Marisa. "Aw...aw.." Marisa merasakan sakit ketika rambutnya ditarik oleh Vanka. Dan tanpa sadar dia melepaskan tangan yang menahan paksa tangan Gio.
Marisa memegang tangan Vanka yang menjambak rambutnya. "Lepasin nggak! Sakit tahu!" omel Marisa dengan terus berusaha menahan tangan Vanka supaya tidak semakin kencang menarik rambutnya.
"Tahu sakit juga? Gue kira rasa sakit lo udah hilang bareng sama rasa malu lo." Vanka melepaskan jambakannya tapi dengan kasar mendorong kepala Marisa.
"Apa lo beneran nggak laku lagi sih Mar? Sampai lo nggak mau lepasin Gio, orang Gio juga nggak mau sama lo." Vanka memarahi Marisa yang selalu saja mengganggu kekasihnya.
"Kalau lo masih gangguin Gio lagi, gue bukan hanya jambak rambut lo, tapi gue patahin kaki lo!" ancam Vanka yang sudah sangat geram dengan Marisa yang tidak tahu malu.
"Sebelum janur kuninhg melengkung, Gio masih milik bersama." ucap Marisa benar-benar sudah putus urat malunya.
"Dasar bocah prikk lo.." Vanka tak habis pikir dengan Marisa.
"Lo bilang milik bersama?" tapi tiba-tiba terlintas ide untuk membuat Marisa semakin kesal.
"Emang lo bisa kayak gini ke Gio?" tiba-tiba Vanka mencium bibir Gio dengan banyak teman-temannya.
"Wow..." bahkan Reza pun merasa terkejut dengan apa yang Vanka lakukan.
Tidak terlalu lama, Vanka melepaskan ciumannya. Dia menatap Marisa dengan ekspresi wajah yang menghina. "Nggak bisa kan? Itu karena dia hanya milik gue. MILIK GUE!" Vanka menegaskan kepemilikannya.
"Iya, gue hanya milik lo.." Gio membalas ciuman Vanka. Belum juga kembali sadar, Gio sudah membuat teman-temannya kembali melongo.
Cukup lama!
"Anj*r emang, dikira dunia milik berdua kali yak," gerutu Reza yang tidak menyangka jika Gio akan membalas ciuman Vanka. Di depan banyak orang lagi.
__ADS_1
Sedangkan Marisa yang tidak kuat melihat pertunjukan tersebut, lebih memilih pergi dengan perasaan terluka. Jangan dicium Gio, dia pegang tangan Gio aja langsung ditepis oleh Gio.
"Dasar jal*ng tak tahu malu." meskipun Gio yang mencium Vanka, tetap saja Vanka yang dia benci dan dia umpat.