
Gio kembali membawa Vanka untuk menjenguk mamanya. Sebenarnya Ines sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Hanya saja dia perlu diawasi karena gejala dari penyakit mentalnya, terkadang membuat Ines melukai dirinya sendiri.
Shaka sudah membawa istrinya ke psikiater dan memang Ines harus benar-benar diawasi selama pengobatan. Dan Shaka lebih memilih meninggalkan semua pekerjaannya demi menunggu istri tercintanya.
"Hallo tante, gimana kabar tante?" tanya Vanka ketika memasuki kamar Ines.
"Baik." jawab Ines singkat.
"Gi, bisa nggak sih kalau jangan bawa dia ke rumah? Mama bukannya sembuh malah makin parah." ucap Ines kepada Gio.
"Emang penyakit mama ada hubungan apa dengan Vanka?" Gio selalu tidak suka bila ada orang yang bersikap seperti itu kepada kekasihnya. Apalagi, Vanka tidak ada sangkut pautnya dengan penyakit yang diderita oleh mamanya.
"Vanka kesini dengan niat baik, ingin jengukin mama, tapi mama malah kayak gini." imbuh Gio merasa tidak puas dengan apa yang mamanya katakan.
Sedangkan Vanka berusaha menarik tangan Gio pelan. Vanka tidak ingin Gio bertengjar dengan mamanya hanya demi membelanya. Biar bagaimanapun Ines orang tua Gio.
"Ada. Ada hubungannya sama dia. Setiap kali mama melihat dia, mama teringat betapa jahatnya mama dulu! Sama seperti dia yang sudah buat kamu dan Defan bertengkar." seru Ines tidak bisa menahan amarahnya.
"Ma! Mama jangan emosi kayak gini, nanti mama sakit lagi." Shaka mencoba menghentikan Ines yang kelihatannya sangat marah. Mungkin dia merasa kecewa karena anaknya berani memarahi dia.
Tapi dari jawaban Ines tersebut, Vanka jadi mikir apa yang pernah mamanya Gio lakukan dulu. Dan apa yang telah dia lakukan, perasaan Vanka tidak pernah melakukan apapun yang dituduhkan oleh mamanya Gio.
Dan untuk permasalahan Gio dengan Defan. Itu hanyalah salah paham dan sekarang sudah selesai. Defan sudah bahagia dengan pacarnya juga sekarang.
Atau jangan-jangan, dulu tante Ines memacari papanya Gio dan juga papanya Defan sampai mereka juga sempat bertengkar. Vanka mulai menerka-nerka. Apalagi Gio bilang kalau papanya hanya punya satu saudara yaitu papanya Defan.
Nah, apa mungkin?
Vanka memicingkan matanya, pikiran dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul secara bergantian.
"Biarin aja pa, biarin mama sakit dan kalau perlu mama mat*.." ucap Ines dengan emosi yang meluap.
"Mama ngomong apa sih!" Shaka tidak ingin mendengar perkataan yang sembrono dari istrinya.
"Sekarang kamu pilih Gio! Kamu milih mama hidup, kamu tinggalin dia atau kamu milih mama mat* kalau kamu nekad pacaran sama dia." Ines menjadi gila. Dia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Dia bahkan mengancam Gio untuk memilih pilihan yang sulit.
"Gio nggak akan milih. Gio sayang sama mama, tapi Gio juga cinta sama Vanka." jawab Gio tidak ngerti lagi dengan mamanya.
Jangankan Gio, Shaka saja tidak mengerti dengan istrinya. Entah kenapa, semenjak dekat kembali dengan tantenya Arina, Ines banyak berubah. Dia lebih sensitif dan juga pemarah.
"Kalau gitu silahkan tinggalkan rumah ini!" ucap Ines yang membuat Shaka dan juga Gio kaget bukan main.
__ADS_1
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Gio tidak menyangka mama akan mengusir dirinya. Gio juga merasa mamanya sudah banyak berubah sekarang.
Vanka juga sangat terkejut mendengar perkataan mamanya Gio. Vanka pun berusaha untuk menjadi penengah. Dia meminta Ines untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Apalagi hanya masalah sepele sebenarnya.
"Maaf tante, sebaiknya tante tenangin diri aja dulu. Tante pikirkan ulang perkataan tante barusan!" ucap Vanka.
"Diam kamu!!! Kamu tidak punya hak buat ngomong disini!" Ines membentak Vanka. Dan itu menyulut amarah Gio. Sampai pada akhirnya Gio memilih untuk pergi dari rumah.
"Kalau itu mau mama, oke, Gio pergi dari rumah ini. Gio nggak ngerti lagi sama mama, tapi Gio berterima kasih karena mama udah lahirin dan rawat Gio." perkataan Gio itu kembali membuat Shaka dan Vanka kaget.
"Silahkan, tapi kamu tidak boleh bawa uang sepeser pun. Mama mau lihat, sampai kapan kamu akan bertahan sama dia." ucap Ines yang membuat Shaka benar-benar kecewa kepada istrinya.
Gio meletakan dompet dan juga kunci motornya di atas meja. Gio tidak membawa apapun kecuali ponsel dan baju yang dia pakai.
"Gi kamu jangan dengerin mama. Mama tidak bermaksud usir kamu, mama hanya marah saja sama kamu." tentunya Shaka menahan anaknya untuk pergi. Dia tidak akan membiarkan anaknya melangkahkan kakinya dari rumah.
"Iya Gio, lo jangan kayak gini! Kasihan mama sama papa lo." Vanka juga ikut membujuk Gio. Vanka sungguh tidak ingin semua ini terjadi.
"Maafin Gio ya pa, kalau Gio punya banyak salah sama papa, Gio belum bisa jadi anak yang berbakti." ucap Gio setelah kemudian Gio keluar dari kamar tersebut dengan menarik tangan Vanka.
Langkah demi langkah tidak akan pernah Gio sesali. Dia keluar dari rumah mewah itu dengan yakin. Shaka berlari menahan anaknya, akan tetapi Gio tetap kekeh pada pendiriannya. Dia akan keluar dari rumah tersebut sesuai keinginan mamanya.
Shaka mendengar sesuatu yang pecah dari kamarnya. Buru-buru Shaka berlari untuk melihat istrinya. Sedangkan Gio tidak peduli sama sekali. Dia terus menggenggam tangan Vanka dan keluar dari rumah tersebut.
Gio membawa Vanka ke sebuah taman yang tidak jauh dari komplek perumahannya. Disana barulah Gio melepaskan amarahnya. Terlihat jelas Gio sangat kecewa dengan apa yang mamanya katakan.
Berulang kali Gio memukul pohon yang ada di dekatnya sampai tangannya berdarah. Untuk menenangkan Gio yang sangat emosional, Vanka memilih untuk memeluknya daripada menasehatinya. Karena Gio sedang emosi sekarang, dia tidak akan bisa mencerna nasehat apapun.
Pelukan Vanka perlahan meredam amarah Gio. Gio juga memeluk Vanka. Dia tahu mungkin dia telah menakuti Vanka. Karena dia belum pernah emosional seperti itu di depan Vanka. Gio juga mencium kening Vanka dengan lembut.
"Maafin gue karena udah bikin lo takut.." lirihnya.
Vanka mendongakan kepalanya. Tangannya menyentuh lembut wajah Gio. Tanpa berkata, Vanka hanya terus menatap Gio dengan tersenyum manis sambil mengelus pipi Gio menggunakan ibu jarinya.
"Diobati dulu yuk tangannya! Nanti infeksi." setelah Gio mulai melunak, barulah Vanka membujuk supaya tangan Gio mau diobati.
Gio menganggukan kepalanya. Lalu kemudian Vanka membawa Gio ke klinik terdekat.
"Lo beneran mau pergi dari rumah?" tanya Vanka.
"Iya." Gio hanya menjawab singkat.
__ADS_1
"Terus mau kemana? Ke rumah Defan?" tanya Vanka lagi.
"Nggak, ntar pasti papa atau kakek nyariin kesana."
"Terus?" Vanka tahu jika orang tua Defan satu-satunya saudara yang Gio miliki dari papanya. Karena mamanya tidak punya siapa-siapa.
"Kayaknya gue ke kost Dhanu aja. Mama dan papa nggak akan mengira kalau gue kesana." Vanka sebenarnya merasa kasihan kepada Gio.
Selama ini dia hidup dengan kemewahan. Tapi kali ini dia harus melepaskan semua itu. "Kenapa nggak dirumah aja sih?"
"Nggak. Kalau mama masih belum mau terima hubungan kita, gue nggak akan pulang." Gio kekeh dengan pendiriannya.
Gio kemudian mengantar Vanka pulang dengan naik taksi. Lalu dia pergi ke kost-an Dhanu.
Sementara di rumah, Shaka sempat marah dengan istrinya yang menurutnya sangat keterlaluan. Tapi ketika melihat Ines juga tertekan setelah mengusir Gio. Shaka pun berhenti memarahi Ines.
Tapi Shaka masih penasaran, kenapa Ines sampai bertindak seperti itu.
"Kata Rania, aku harus ancam Gio seperti itu supaya Gio tidak lagi membantah aku. Dia bilang, Gio pasti akan takut kalau aku ancam seperti itu, soalnya dari kecil Gio tidak pernah hidup susah." Ines menjelaskan bahwa ternyata itu semua karena bujukan dari Rania.
"Kayaknya kamu harus membatasi hubungan kamu dengan Rania deh, ma!" ucap Shaka yang memang sejak melihat perubahan Ines, dia tidak suka istrinya terlalu dekat dengan Rania.
"Dia nggak salah, pa. Gio-nya aja yang terlalu tergila-gila dengan Vanka." Ines saja belain Rania, dengan mengatakan jika ide itu tidak sepenuhnya salah.
"Nggak salah?? Dia bujuk kamu supaya usir anak kamu sendiri, nggak salah kata kamu?" Shaka hampir emosi dibuatnya.
"Kan niatnya cuma ancem Gio aja."
"Kalau sampai anak aku kenapa-napa diluar sana, aku akan bikin perhitungan ke dia, dan juga ke kamu!"
"Kok aku?"
"Karena kamu seorang ibu yang tega usir anak kamu sendiri. Coba kamu pikir, mau tidur mana Gio sekarang? Iya kalau dia ke rumah Defan, kalau nggak? Siapa tahu dia malah tidur diemperan toko, kedinginan, kelaparan."
"Stop pa!! Stop!" meskipun dia telah mengusir Gio tapi Ines tidak bisa mendengar sesuatu yang buruk tentang Gio.
"Cari Gio pa! Bawa Gio pulang! Kalau dia mau marah sama mama, biarin dia marah, asal dia tetap dirumah!" pinta Ines yang tidak tega membayangkan hal buruk terjadi pada anaknya.
"Cariin Gio pa! Cariin Gio!" Ines tak kuasa menahan tangisannya. Dia terlalu cepat menyesali keputusannya.
"Iya nanti aku cariin, yang penting kamu tenang dulu! Minum obat kamu!" Shaka memberi Ines obat penenang yang diresepkan dari dokter. Setengah jam kemudian Ines tertidur pulas, efek dari obat penenang yang dia minum.
__ADS_1
Shaka kemudian menelepon Gio tapi Gio tidak mau menerima. Mengirim pesan juga tidak dibalas oleh Gio.
"Apa sih maksud Rania? Awas aja kalau anakku kenapa-napa, aku akan bikin perhitungan ke dia." Shaka kembali emosi. Dia kembali menghubungi anaknya tapi tetap nihil. Gio sama sekali tidak mau menerima telepon dari papanya. Sepertinya dia sudah benar-benar marah.