
Gio dan Vanka ke toko pakaian. Gio ingin beli baju baru katanya. Dan tentunya masih bersama Dhanu dan Reza yang ribut sendiri setiap kali melihat kemesraan Gio dengan Vanka.
Sampai-sampai membuat Gio risi karena keributan mereka. Lalu Gio menyuruh mereka untuk main di TimeZone aja, daripada ribut mulu berdua. Dhanu dan Reza pun sangat antusias, mereka berlari dan berebut saat menukar koin.
"Yaelah, kayak anak kecil mereka." gumam Gio yang sebenarnya sudah biasa melihat tingkah konyol mereka.
"Mungkin itu sebabnya mereka belum punya pacar, tingkah mereka kayak bocah." ucap Gio lagi masih memperhatikan kedua sahabatnya yang saling berebut. Karena toko pakaian itu dekat dengan tempat bermain, jadi Gio bisa melihat dengan jelas kekonyolan kedua temannya tersebut.
"Tapi lucu tahu, mereka malah jadi diri mereka sendiri." sahut Vanka yang tersenyum, teringat dia dan Akila juga sering seperti itu. Saling berebut dan saling dorong, juga saling mengejek jika salah satu dari mereka menang.
Tidak peduli keributan seperti apa yang mereka buat, yang paling penting mereka merasa bahagia.
"Gue sama Akila juga sering gitu." imbuh Vanka masih dengan tersenyum.
"Kelihatan sih, kalian berdua memang kelihatan masih kayak bocah." ucap Gio dengan tersenyum dan melirik Vanka.
"Kita kan menikmato hidup bosku. Daripada berpura-pura jadi dewasa tapi malah bikin beban." jawab Vanka dengan santai yang dibenarkan oleh kekasihnya.
Ya, seharusnya remaja seusia mereka masih ingin-inginnya bermain dan bahagia. Tanpa harus memikirkan masalah percintaan. Tapi sayangnya, banyak remaja seusia mereka malah galau karena cinta. Dan lebih parahnya, tak sedikit yang menjadi depresi karena cinta, dan juga memilih jalan pintas saat putus cinta, yaitu bunuh diri.
Apalagi mereka orang-orang yang beruntung. Beruntung karena terlahir sebagai anak orang kaya. Jadi mereka tidak perlu bekerja hanya untuk mengisi perut mereka. Banyak remaja yang tak seberuntung mereka.
"Kita memang harus bersyukur, dan lebih lagi harus menikmati hidup kita, banyak diluar sana yang menginginkan hidup seperti kita." ucap Gio meraih tangan Vanka.
Meskipun wanita itu sering konyol. Tapi dia memiliki hati yang sangat baik, juga bisa berpikiran terbuka dan dewasa.
"Lo mau gue beliin apa? Baju? Tas? Sepatu? Atau apa?" tanya Gio kepada kekasihnya.
"Nggak ah, gue nggak mau apa-apa. Gue cuma mau seblak.." jawab Vanka dengan agak centil.
"Ntar beli di depan, kalau gitu kita tungguin mereka disitu yuk!" Gio menunjuk tempat duduk yang dekat tempat bermain. Mereka sengaja menunggu Dhan dan Reza.
"Van, emang bener lo lawan mama kemarin itu?" tanya Gio dengan hati-hati, takutnya dia membuat Vanka salah paham karena pertanyaannya.
"Sebelumnya gue minta maaf, iya gue lawan mama lo." jawab Vanka berterus terang.
Jawaban Vanka itu membuat Gio agak terkejut. Padahal dia bersikeras di depan mamanya membela Vanka dengan mengatakan kalau Vanka tidak mungkin seperti itu. Tapi faktanya, Vanka memang melakukan itu.
"Lo tahu itu mama gue?" tanya Gio sedikit menahan amarahnya.
"Tahu, bahkan sangat tahu."
"Tapi kenapa lo berani sama orang tua?" pertanyaan Gio yang membuat Vanka menjadi sedikit kesal.
"Lo nyalahin karena berani sama mama lo? Lo tahu nggak apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Vanka dengan sengit.
"Tapi harusnya, lo nggak boleh berani sama orang tua, apalagi itu mama gue, wajar kalau mama kemarin sangat marah." sahut Gio lagi semakin membuat Vanka geram.
__ADS_1
Vanka bahkan melepaskan genggaman tangan Gio. Dia merasa sangat kesal karena seolah-olah Gio menyalahkan dia karena berani melawan mamanya.
"Terus kenapa kalau dia mama lo? Apa itu artinya dia bisa seenaknya hina gue?" tanya Vanka dengan marah.
"Jangan hanya karena dia orang tua dan juga dia mama lo, dia bisa seenaknya ngatain dan hina gue." Vanka beranjak dari tempat duduknya.
Tentu saja itu membuat Gio kaget. Gio kembali meraih tangan Vanka tapi Vanka menepisnya. Vanka bahkan putar badan dan pergi meninggalkan Gio yang kaget dengan reaksi Vanka. Terlihat sekali Vanka marah.
"Hey, mau kemana?" tanya Gio meraih tangan Vanka.
"Lepasin! Gue mau pulang!" Vanka menepis kembali tangan Gio, tapi Gio kembali meraihnya lagi.
"Oke gue minta maaf kalau kata-kata gue buat lo marah! Gue cuma nggak mau lo berani sama orang tua. Bukan cuma ke mama gue, tapi semua orang tua." ucap Gio berusaha menahan Vanka.
"Lo pikir gue akan lawan mama lo kalau bukan karena mama lo yang keterlaluan?" Vanka bertanya dengan marah kepada Gio.
"Mending lo pulang, lo tanya mama lo, apa yang sudah dia katakan ke gue sehingga gue berani lawan dia!" Vanka menarik tangannya kemudian berlari meninggalkan Gio yang juga berusaha mengejarnya.
"Vanka! Van! Sayank!" seru Gio masih mengejar Vanka tapi sama sekali tidak Vanka dengerin. Dia terus berlari meninggalkan Gio yang tidak bisa berlari kencang karena kepalanya terasa pusing.
Dhanu dan Reza yang melihat itu langsung meninggalkan permainannya. Mereka berdua mengejar Gio yang berlari sempoyongan sembari memegangi kepalanya.
"Gio...." seru mereka berdua.
"Lo kenapa Gi? Vanka kemana?" tanya Dhanu setelah berhasil memegangi Gio.
"Lo kejar Vanka! Gue bawa Gio ke rumah sakit terdekat." ucap Dhanu sembari memapah Gio yang sudah lemas.
Reza menganggukan kepalanya, dia kemudian mengejar Vanka yang sudah berada di lantai dasar. Reza berlari supaya bisa mengejar Vanka.
Saat Dhanu memapah Gio turun. Dia bertemu dengan Aiko dan papanya. Melihat Gio yang seperti itu membuat Aiko dan juga Alfarezi menjadi khawatir.
"Gio kenapa Dhan?" tanya Aiko panik.
"Kepalanya sakit kak, katanya. Ini gue mau bawa dia ke rumah sakit terdekat." jawab Dhanu tak kalah panik.
"Kejar Vanka, Dhan!" Gio terus saja bergumam seperti itu disaat tubuhnya semakin lemas.
"Iya, Reza lagi berusaha kejar Vanka. Kita ke rumah sakit dulu, ya!"
"Lo bawa motor atau mobil?" tanya Aiko membantu Dhanu memapah Gio.
"Motor kak."
"Bawa ke mobil, om! Hubungi Defan suruh nyusul!" Alfarezi menggantikan Aiko memapah Gio.
"Kayaknya tak jauh dari Mall ini ada klinik juga kok om, kita bawa kesana aja, biar bisa langsung diberikan pertolongan pertama!" timpal Heksa.
__ADS_1
Alfarezi lalu membawa keponakan ke klinik yang tidak terlalu jauh dari Mall tersebut.
Sementara Reza masih berusaha mengejar Vanka sampai ke basement. Karena lari Reza yang cepat dari Vanka. Reza bisa mengejar Vanka sebelum Vanka masuk ke mobil.
"Van, Gio pingsan.." ucapan pertama yang Reza katakan, dia ingin membuat Vanka panik dan akhirnya tidak jadi masuk ke mobil.
Dan, benar saja sesuai dugaan Reza. Vanka mengurungkan niatnya masuk ke mobil. Dia menjadi panik saat ini.
"Gio pingsan?" tanyanya mengkonfirmasi.
"Iya, Dhanu sedang berusaha membawanya ke rumah sakit terdekat. Dia berusaha kejar lo, tapi kepalanya pusing, dia minta gue buat kejar lo sebelum pingsan." Reza sedikit memberi bumbu kepanikan supaya Vanka mau menemui Gio lagi.
Meskipun Reza tidak tahu ada masalah apa antara Gio dan Vanka. Yang jelas, dia ingin membuat pasangan itu kembali bersatu.
"Kita kesana!" Vanka balik arah, dia menarik tangan Reza mengajaknya ke tempat dimana Gio di bawa oleh Dhanu.
Saat Vanka dan Reza kembali tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Gio yang dipapah oleh om-nya. Melihat keadaan Gio tersebut, Vanka menjadi sangat panik.
"Gio! Lo harus kuat, kita ke rumah sakit sekarang!" ucapnya sembari menangis.
Gio yang sudah sangat lemah, tapi begitu mendengar suara Vanka. Dia mulai membuka matanya dengan lemah. "Van? Jangan tinggalin gue!" lirihnya.
"Nggak, nggak akan. Gue nggak akan tinggalin lo! Kita ke rumah sakit sekarang!" Vanka ikut ke mobil Alfarezi bersama dengan Aiko. Alfarezi melajukan mobilnya ke kkinik terdekat. Yang paling penying Gio mendapatkan pertolongan terlebih dahulu.
Tapi kata dokter, Gio tidak kenapa-napa. Hanya sarafnya yang terluka yang tegang sehingga membuat dia merasa pusing dan lemah. Juga jahitan di kepalanya yang kembali terbuka.
"Om Alfa anterin pulang ya?"
"Nggak usah om, aku bareng sama Vanka kok. Vanka yang anterin aku pulang." Gio menolak ajakan Alfarezi, karena Gio masih ingin bersama dengan kekasihnya lebih lama lagi.
Alfarezi dan lainnya pamit duluan setelah membayar administrasi klinik tersebut, menyisakan Defan dan Chika. Sementara Vanka dan Gio masih menunggu Dhanu yang mengambil mobil Vanka di parkiran mall.
"Maafin gue ya kalau gue udah singgung lo?" ucap Gio lagi.
"Iya nggak apa-apa. Gue paham kok." Vanka tidak lagi mau membahas masalah itu.
Defan kemudian menceritakan apa yang Vanka alami. Meskipun Defan tidak percaya tantenya seperti itu, tapi Defan percaya bahwa Vanka tidak bohong.
"Mama bilang gitu ke lo? Kenapa lo nggak bilang ke gue?" tanya Gio yang terlihat sangat kecewa dengan apa yang dilakukan mamanya.
"Gue nggak mau lo berantem sama mama lo hanya untuk bela gue. Gue nggak perlu dibela, gue bisa bela diri gue sendiri. Gue cuma pengen lo tetep hormat sama mama lo, seperti yang lo bilang dia orang tua lo." jawaban Vanka itu membuat Gio tidak bisa berkata lagi. Dia benar-benar beruntung bisa memiliki wanita sebaik dan setulus Vanka.
Gio menarik Vanka ke dalam pelukannya. "Ini yang membuat gue nggak mau kehilangan lo, yang membuat gue sangat mencintai lo." ucapnya sembari mengecup kening Vanka.
Defan dan Chika tersenyum melihat kemesraan Gio dengan Vanka. Defan kemudian juga memeluk Chika dan mengecup keningnya. Sama seperti Gio yang merasa beruntung memiliki Vanka. Defan juga sangat bersyukur bisa memiliki Chika, wanita yang mencintai dia dengan tulus dan apa adanya, yang sabar menghadapi temtramennya yang tidak stabil.
Cintailah pasanganmu dengan apa adanya. Bukan dengan ada apanya. Karena setiap manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan supaya bisa saling melengkapi satu sama lain.
__ADS_1